
Terik matahari telah bersembunyi, warna langit biru sedikit demi sedikit memudar. Dania sedang merapikan meja kerjanya siap untuk pulang.
" Dan, mau bareng gak? " Tanya Lina mendekati Dania.
" Hehe maaf ya Lin, Aku dijemput sama Riki." Ucap Dania, sebenarnya merasa tak enak karena terus saja menolak ajakan Lina.
" Iyadeh iya, yang punya ayang mbeb." Ucap Lina agak kesal tapi tak sampai merasa marah.
" He, maaf ya Lin. Kamu gak pulang bareng pacarmu?"
Lina agak terlihat lesu ketika mendengar Dania berkata seperti itu.
" Aku gak punya pacar, udah lama banget malahan."
" Seriusan? Wah maaf Aku beneran gak tahu." Ujar Dania merasa bersalah.
Lina memang sedang single, bukannya tak ingin menjalin sebuah hubungan dengan orang lain. Hanya saja sepertinya rejeki lebih dekat dengannya daripada perihal jodoh. Sudah tiga tahun Lina menjomblo. Tapi belum ada laki-laki yang mendekati dirinya.
" Yaudah, duluan dulu ya! " Ucap Lina pergi.
" Oke. Hati-hati." Dania segera menyusul keluar. Dan lihat!
Mobil Riki sudah terparkir disana.
" Sore pangeran arang! Sarangheo." Ucap Dania manja. Riki tersenyum, rasa takutnya hilang sesaat melihat Dania bisa terlihat ceria lagi.
" Mau jalan jalan dulu gak? " Tanya Riki yang tak ingin langsung pulang.
" Boleh, Kemana ya!" Tanya Dania masih belum menemukan tempat tujuan Mereka.
Riki mulai terfikir akan mengajak Dania pergi ke sebuah Mall.
" Ke Mall yuk ngadem!" Ucap Riki mulai mengutarakan niatnya itu.
" Ke Mall? " Dania agak tak suka jika pergi kesana. Riki pasti kalab akan membelikan sesuatu untuknya. Ia tak mau menghamburkan uang Riki.
" Iya, muter aja Dan, janji deh Kita gak belanja. Nyari yang murah aja ya. Oke!" Seakan bisa menebak isi fikiran Dania, Riki langsung berjanji tak akan membuang uang lagi, membeli barang yang tak terlalu penting.
"Bener ya! Nanti kalo Kamu bohong Aku marah." Ucap Dania lagi.
" Siap, Putri arang. Promise (janji)" ucap Riki berjanji dan menunjukkan jari kelingkingnya. Dania tersenyum dan mengaitkan telunjuk Mereka satu sama lain.
*
*
Ditempat lain Eric berencana mengajak Nila untuk ke rumah. Eric ingin mengenalkan sang kekasih pada kedua orangtuanya.
" Nil, Kita kerumahku yuk!" Ucap Eric.
__ADS_1
" Ngapain?" Tanya Nila dengan nada datar.
" Loh, Ayahku kan lagi sakit, dan Aku juga mau ngenalin Kamu ke Mereka dong." Ucap Eric.
Nila terlihat malas dan memutar kedua bola matanya itu. Nila sebenarnya tak memiliki rasa cinta yang tulus. Nila dulu sempat berfikir jika Eric adalah anak orang berada nyatanya Eric hanya orang biasa.
" Aku gak ada waktu Ric, Aku ada janji sama temen." Ucap Nila cuek. Nila sama sekali tak perduli dengan keadaan orang tuanya.
" Kamu kok gitu? Itu kan Ayahku, Kamu gak peduli? " Ucap Eric kecewa.
" Ya, lain kali aja. Aku mau pergi dulu! Bye! " Ucap Nila pergi tak perduli.
Eric ingin memaksa tapi apa gunanya jika Nila sama sekali tak ada niat tulus dalam hatinya itu.
" Kamu jahat Nil, padahal rencananya Aku mau serius sama Kamu." Ucap Eric.
Eric akhirnya pulang dengan perasaan kecewa, tapi itu tidak penting karena Orangtuanya lebih dari segalanya.
*
*
" Cih, Ku kira anak orang kaya, ternyata cuma orang biasa, nyesel banget Aku nerima cinta Eric. Mana gak pernah ajak Aku makan di tempat yang mahal lagi. Gak seimbang banget sama tipe ku." Gerutu Nila di jalan. Sifat asli Nila sebenarnya matre dan hanya mengincar uang Eric saja.
" Ahh, aku mendingan ketemuan aja sama Bule yang chat Aku di aplikasi pencarian jodoh pasti Dia lebih tajir."
" Yes! Oke Aku tahu Mall itu. Nah gini dong! Main tuh ke Mall. Jangan ke Pasar malam aja." Nila segera pergi menggunakan taksi menuju Mall tempat Mereka bertemu. Sudah beberapa hari ini Nila bermain aplikasi itu mencari jodoh orang Barat yang terkenal banyak uang. Nila juga mengubah rasa cintannya untuk orang lain tak lagi untuk Eric seorang.
*
*
Dania dan Riki memasuki sebuah Mall yang mewah. Riki tak melepaskan tangan Dania dan berjalan mengelilingi Mall besar itu.
" Padahal hari Senin, tapi kok rame banget ya Ky, " ucap Dania melihat Mall itu ramai dengan pengunjung.
" Kamu lupa ya Dan, sekarang kan tanggal awal bulan. Ya jelas Mereka pergi belanja dong. Nikmatin hasil kerja Mereka selama sebulan." Ucap Riki.
" Eh, iya ya. Maklum Ky, awal bulan ini kan Aku baru mulai kerja dan belum gajian juga." Ucap Dania, raut wajahnya sedih ucapan Riki sepertinya agak menyinggung dirinya. Riki langsung sadar dan berusaha menebus kesalahannya.
" Beli itu yuk." Riki menarik tangan Dania dan menunjukkan Counter penjual ice cream.
" Boleh, tapi jangan yang mahal" decis Dania mengingatkan sang pacar.
Riki tak menjawab, dan langsung melihat daftar menu yang ditempel.
" Kamu mau rasa apa?" Tanya Riki.
" Astaga Ky, ini harganya gak salah?" Tanya Dania yang melongo melihat daftar harga. Harga satu corn ice cream sebanyak Duapuluh lima ribu itupun hanya satu rasa. Jika memilih tiga rasa harganya juga lebih mahal lagi.
__ADS_1
" Kak, tolong rasa vanila strawberry sama mix keju ya?" Ucap Riki yang sudah memutuskan pesannya. Riki tahu rasa ice cream kesukaan Dania.
" Riki, Kamu gak dengerin Aku ya!" Sungut Dania ketika Riki justru jadi memesan. Riki berbisik lirih mendekatkan bibirnya di telinga Dania.
" Kamu sadar gak? Kita udah berdiri disini, apa gak malu kalo gak jadi beli!"
Dania melirik ke arah penjual itu. Memang agak sebal ketika Dania justru mengkomplain harga ice creamnya.
" Iya deh iya! " Ucap Dania akhirnya merasa kalah.
" Totalnya Tujuh puluh lima ribu Pak," ucap penjual itu. Riki memberikan uang seratus ribu. " Kembaliannya ambil aja Mbak." Ucap Riki.
Wajah penjual semula kusut menjadi cerah, bagaimana tidak? Riki telah merelakan uang sebanyak Duapuluhlima ribu untuk Dirinya.
" Gila sih ice cream segini aja mahal banget!" Ucap Dania yang masih saja menggerutu.
" Ya namanya di Mall Dan, biaya sewa tempat aja udah mahal. Jual harga murah ya rugi lah." Ucap Riki.
" Lah Kamu malah nekad beli, ini sih bisa beli ice cream lima kalo di minimarket." Celetuk Dania mulai menyalahkan Riki lagi.
" Hey! Mau ditaruh dimana harga diriku, tampilan pakai baju jas rapi, beli ice cream seharga Dua puluh lima ribu aja mundur. Kamu mau dikira Aku CEO gadungan? " Ucap Riki mulai sebal dengan Dania.
Dania menoleh, wajah Riki memang berubah. " Hehe maaf Sayangku. Iyadeh Aku makan ni ice cream."
Dania menjilati ice cream itu.
" Woahh. Enak banget! Gak rugi sih ini beli mahal-mahal.," Dania mulai semangat menjilati ice cream itu lagi. Kini Riki tak jadi marah dan raut wajahnya berubah menjadi senang melihat Dania sangat menghargai pemberiannya.
Di tempat yang sama Nila bertemu juga dengan bule itu tepat dibelakang Dania dan Riki sedang duduk menikmati Ice cream.
Tangan Nila sedang dipegang mesra oleh Bule itu. Nila terlihat bahagia. Bule Inggris itu menawarinya untuk berbelanja.
Dania ingin mengabadikan momen lucunya itu menfoto ice cream dan Riki bersama.
" Riki, Aku mau foto. Mau ikut gak?" Tanya Dania tangannya sudah memegang ponsel.
" Boleh!" Ucap Riki.
Riki merapikan rambutnya dan Dania menggeser icon camera.
" Cekrik." Dania telah mengambil foto layar depan dengan Riki. Tak Sengaja Nila dan Bule itu ikut masuk dibelakang Dania.
" Oke, Aku bikin story WhatsApp dulu ya!" Dania langsung mengunggah foto itu.
" Eh, Apa ini!" Ucap Eric sampai membuka matanya lebar.
Eric langsung kaget ketika melihat story WhatsApp Dania.
To be continued....
__ADS_1