
" Dania!!"
Suara Eric dari dalam rumah melihat Dania datang. Ia nampak terburu buru ingin memberi tahu kabar bahagianya. Tapi Eric harus menunda niatnya itu karena masih ada Riki.
" Apa Kak Eric? " Tanya Dania santai menutup pintu mobil.
" Kamu dari mana aja sih? Kok baru pulang? " Eric kesal sekali dengan Dania yang tak memberi kabar padahal sudah ada alat komunikasi.
" Hehe..maaf lupa. Aku tadi diundang makan malam di rumah Riki Kak. "
Eric memiringkan bibirnya menatap sang Adik dengan wajah sebal.
" Kamu ini punya hp buat apa sih? Jual aja buat beli seblak. "
" Ya kali mau bikin perut kembung apa? Mau makan seblak seharga hp. "
Riki hanya terdiam tak berani menyela.
Kakak, Adik ini sedang asik berbincang tanpa mengajak dirinya.
" Eh..Riki maaf gak kelihatan Ky, masuk Ky, " goda Kak Eric.
" Kak, Riki Segede ini gak kelihatan juga? Besok beli gih kacamata kuda!" ucap Dania.
Eric melepaskan sendalnya ingin melempar ke arah Dania. Dania langsung kalang kabut meninggalkan Eric diluar.
" Sini Lo! Jangan kabur!" Tantang Eric mengejar Dania masuk kedalam.
Riki hanya tertawa dan mengikuti Mereka masuk.
*
" Ibu! Kak Eric tuh! " Dania berlari bersembunyi di balik badan Ibu Melati.
" Eh apa sih? Udah dong! Eric! " Panggil Ibu Melati halus memberi isyarat agar Eric berhenti mengejar.
" Iya deh Bu, iya. Dan, nanti gue mau cerita sesuatu. Oke! " Eric mengangkat kedua alisnya itu.
" Hemh. Iya oke oke. " Ucap Dania yang paham kode dari Sang Kakak.
" Kamu dari mana Sayang? "
" Dari rumah Saya Bu, maaf gak pamit dulu. Tadi Saya lupa kasih kabar." Pertanyaan Ibu Melati langsung dijawab oleh Riki. Sebagai laki laki yang bertanggung jawab, secara jantan Riki akan memberi penjelasan pada Bu Melati.
" Oh, gitu. Jadi artinya Kalian udah makan? "
Riki dan Dania menggeleng secara bersamaan. Bu Melati menatap heran.
" Loh katanya tadi makan malem? Kok belum makan? "
Dania dan Riki saling menatap tidak mungkin jika harus menceritakan kejadian sebenarnya.
" Ibu! Ini kan nasinya masih banyak jadi Kita makan aja ya? Kan kalo sayang kalo nasinya dibuang."
Dania segera duduk tanpa menunggu persetujuan dari Bu Melati.
" Riki, mau makan Nak?" Tanya Bu Melati menyiapkan piring untuk Riki.
" Boleh Bu, "
Dania dan Riki makan dengan lahap. Sayur asem, ikan asin dan sambel trasi adalah kombinasi sempurna untuk mengisi isi perut dan tenaga yang telah habis.
Mereka makan malam bersama ditemani Bu Melati.
__ADS_1
Riki rindu sekali dengan masakan Bu Melati yang dulu pernah Ia cicipi.
Riki merasa takjub dengan masakan sederhana ini.
" Boleh nambah gak Bu? " Tanya Riki.
" Astaga! Tentu boleh. Habiskan saja Nak Riki!"
Bu Melati mengambilkan nasi dan sayur asam lagi. Dania senang melihat Riki sangat lahap.
Riki sampai tak bisa berdiri, perutnya terasa penuh dan sesak.
" Dan, Aku pulang dulu ya? Udah malem gak enak sama tetangga. "
" Iya! Hati hati ya! "
Riki pulang dengan perut yang kenyang itu. Bahkan masih sendawanya keluar rasa asam. Lambung Riki bekerja terlalu keras karena harus mengolah banyak makanan.
*
*
Sebelum menemui Kak Eric, Dania mandi dahulu.
Melihat Kak Eric sengaja menunggunya diruang tamu.
" Ada apa Kak? " Tanya Dania.
" Hehe. Kamu tahu gak? "
Jawab Dania langsung padahal Eric belum selesai bicara.
" Enggak!"
" Hehe. " Jawab Dania meringis.
" Aku diterima jadi pacarnya Nila Dan,"
Dania tak menyangka dengan ucapan Kakaknya.
" Wahh selamat ya Kak! Tuh kan! Bener kata Dania. Tembak dulu baru tahu. "
" Iya..makasih ya sarannya..nih buat beli seblak! " Eric menyodorkan uang sepuluh ribu. Dania merasa sedang diremehkan oleh Eric.
" Ya kali Kak, sepuluh ribu! " Ketus Dania.
" Harga seblak berapa emang? "
Dania berfikir sejenak kembali mengingat harga normal seblak.
" Delapan ribu! "
" Nah, ini Kakak kasih sepuluh ribu. Sisa dua ribu buat parkir. Kurang perhatian apa coba? "
Eric memaksa Dania menerima uang itu. Dania melotot dan meledak.
" Ih Kakak!!"
Eric berhasil mengerjai Dania membalas perlakuan Dania tadi padanya.
" Bwelkk. 1-1. "
" Brakk." Eric menutup pintu kamarnya sebelum Dania berhasil mengejarnya.
__ADS_1
Meskipun Dania sebal. Uang sepuluh ribu itu Dia masukkan ke dalam saku.
" Lumayan buat bayar ojek tinggal nambahin sepuluh ribu. "
Ibu Melati sudah beristirahat dikamar. Dania lupa memberitahu jika Dirinya diangkat sebagai Karyawan tetap.
" Ah. Lupa! Yah, Ibu udah tidur. Ayah belum pulang! Besok aja deh."
Dania juga merasakan pegal di semua badannya. Aktivitas yang biasa Ia lakukan hanya tidur sedangkan hari ini pertama Ia bekerja. Tubuhnya belum terbiasa dengan aktivitas baru ini.
" Kretek..kretek" suara itu terdengar dari bunyi tulang Dania yang sedang diregangkan.
" Ehh leganya! " Rintih Dania merasakan tubuhnya yang rileks. Dania akhirnya ikut beristirahat seperti yang lain.
**
Riki kembali kerumah, tapi baru saja membuka pintu, sudah di sapa dengan suara keributan.
" Kamu ngaku gak? " Pekik Atmika.
" Apa sih maksudnya? " Elak Anggoro.
" Kamu selingkuh lagi kan? " Tuduh Atmika lagi setelah mencium arom parfum asing itu.
" Enggak! " Jawab Anggoro tak mau mengaku.
" Bohong! Jujur aja atau Aku pergi! " Atmika mulai mengancam lagi. Tapi Anggoro tak mau mengaku. Sebenarnya Atmika akan memberi kesempatan lagi jika Anggoro mau terbuka dan jujur apa kekurangan dirinya.
Riki baru berusaha memaafkan Papanya. Tetapi sudah dibuat kecewa lagi.
Atmika memang istri yang kuat. Mungkin air matanya sudah habis. Kali ini Atmika sudah muak. Berkali kali Anggoro diberi maaf tapi tetap mengulangi.
"Klunting."
Suara ponsel Anggoro berbunyi. Atmika langsung mengambil alih. Atmika menggeser icon hijau untuk mengangkat telepon. Tak lupa juga mengatifkan pengeras suara.
" Halo Sayang! Kapan transfer! Kok belum nyampe sih? "
Terdengar suara wanita genit menagih uang tagihan hasil kencan dengan Anggoro. Kali ini Anggoro tak bisa mengelak lagi.
" Nut." Atmika langsung mematikan telepon sepihak.
" Masih gak mau ngaku?" Tanya Atmika lagi. Anggoro tak berani menatap wajah sangar Atmika. Tak ada jawaban dari mulutnya itu. Kali ini habislah sudah nasib pernikahan Anggoro.
" Kamu mau kemana Atmika?" Anggoro melihat Atmika membawa tas besar dan seperti ingin pergi jauh.
" Mama mau kemana? " Tanya Riki jua.
" Riki! " Ucap Atmika halus padanya.
" Maafkan Mama! Mama akan pergi menenangkan fikiran. Kamu dirumah baik baik ya Sayang."
" Tapi Ma, "
Atmika tetap pergi tak perduli lagi dengan ucapan Riki yang belum selesai.
Anggoro hanya tertunduk. Nafas Riki mulai memburu dan melempar semua barang yang ada didepannya.
" Puas kan sekarang! " Ucap Riki tanpa menyebut nama Papanya itu. Tapi tentu saja Anggoro merasa jika Riki sedang berbicara dengannya.
" Arghhh." Riki kembali mengamuk didalam kamar.
" Brakkk."
__ADS_1