Seimbang

Seimbang
Bab 14. Belanja bareng!


__ADS_3

Riki membuka ponselnya melihat gps menuju tempat yang Dania kirim.


"Ah! Sekitar 10 menit. Wah deket dari Kantorku ternyata."


Riki senang sekali ternyata Kantor tempat Dania berkerja tak jauh dengan Kantor miliknya. Riki sudah membayangkan akan mudah bagi mereka jika makan siang bersama.


Terlihat Dania sedang berdiri dipinggir jalan sedang sibuk bermain ponsel.


"Ekhem. Ekhem. Sendirian aja Mbak?"


Goda Riki membuka kaca mobilnya.


" Hehe iya nih Bang, culik aku dong!"


" Sini! Sini! Masuk!"


Pasangan freak ini memang ada saja tingkahnya. Sikap random mereka itu justru membuat hubungan mereka menjadi awet dan langgeng.


"Ayo kita cari baju dulu, Terus kita cari makan!"


Ucap Riki bersemangat memutar kunci mobilnya.


"Tapi kalo lama? Kita makan siang aja Ky, nanti Aku cari baju sendiri. Aku gak mau kalo Kamu telat."


Dania ingat jam makan siang hanyalah satu jam saja. Dan waktu itu tak cukup untuk membeli baju.


Wanita adalah makhluk yang rumit. Mereka akan berlama lama jika memilih pakaian. Padahal Mereka hanya membeli satu stel saja.


"Gak papa Dan, aku temenin, nanti di Kantor ada temen kepercayaanku yang handle kok." Ucap Riki santai.


"Nanti kalo kamu dimarahin? Kalo dipecat?"


"Dania Sayang! Siapa yang berani pecat Aku? Aku kan Bosnya."


Dania menggaruk kepalanya. Akhirnya pasrah menurut. Dania sudah mengenali watak Riki yang keras kepala itu.


"Kita berhenti di depan toko itu aja!"


Dania menunjuk ke Toko biasa yang letaknya dipinggir jalan.


" Ihh. Masak kesitu? Janganlah! Aku ajak kamu ketempat lain ya!"


Riki mengemudikan mobilnya ketempat yang Ia maksud. Riki membawa Dania ke sebuah butik ternama.


"Riki, disini kan mahal banget."


"Gak papa. Nanti aku yang bayar!"


"Jangan Riki! aku gak mau ngrepotin kamu."


Riki berdecis, memegang pipi Dania dan menatapnya matanya.


"Udah deh jangan bawel! Ikut aja oke!"


Riki menggandeng tangan Dania mesra. Diajaknya Kekasih hatinya masuk kedalam Butik itu.


"Selamat siang Pak. Ada yang bisa Kami bantu?" Sapa Penjaga Toko pada Riki.


"Tolong! keluarkan setelan baju formal yang terbaik."


"Baik Pak! Kalo boleh Kami tahu untuk siapa baju itu Pak?"


"Tentu saja untuk Pacar tercinta Saya."


Dengan bangganya tangan Riki menunjuk pada Dania. Dania salah tingkah mencubit tangan Riki.

__ADS_1


"Auhh. Sakit tauk!" Rintih Riki mengusap tangannya sendiri.


Dania mengikuti Penjaga Toko itu membawa pada beberapa setelan yang sudah tergantung rapi di sebuah rak.


Semuanya sangat terlihat bagus. Desain sederhana tetapi terlihat mewah itu membuat mata Dania tak bisa berkedip.


Dania tertarik pada setelan berwarna coklat susu, tangannya memegang setelan itu. Dania penasaran melihat bandrol harganya.


" Astaga. Satu juta?" Dania meletakkan baju itu kembali dan memundurkan langkahnya.


"Kenapa Kak? Apa Kakak gak suka?"


Tanya Penjaga Toko melihat ekspresi Dania.


"Eh bukan! Anu!"


Riki mengetahui itu langsung saja mengambil baju itu kembali bersama pilihan yang lain.


"Mbak.. tolong bungkus semuanya!"


"Baik Pak , silahkan bayar dikasir!


Riki ingin membayarnya semua barang belanjaan itu. Tapi Dania menarik tangannya. "Riki! Kamu gila ya? Harganya mahal banget tau! Kita pindah aja!"


"Eh, Ratu arang! Jangan bikin aku malu ya! Aku ini CEO di Perusahaan. Masak belanja kayak gini aja gak mampu. Udah diem jangan bawel! Kamu duduk manis aja disitu!"


Riki mendorong tubuh Dania untuk duduk disebuah kursi tunggu yang sudah disediakan pihak Toko.


Dania hanya bingung dan heran. Matanya tak berhenti menatap kasir, ingin tahu jumlah nominal belanja Riki.


"Pak, totalnya Lima juta dua ratus tujuh puluh ribu rupiah?"


"Oke." Riki menyerahkan kartu debit tanpa limit itu pada Kasir.


Kini tangan Riki telah penuh dengan barang belanjaan. Dania masih diam terpaku.


"Hey! Kok diem?"


"Kamu gak salah belanja segini banyaknya?"


"Enggak kok. Kenapa? Masih kurang?"


"Eh buset! Ni anak ! Jangan ngadi ngadi deh Ky. Mataku hampir mau copot waktu denger nominal segitu banyaknya."


"Gak usah lebay deh Lo Dan, ini belum seberapa Lo kalo udah kerja bakal berhubungan dengan uang yang lebih banyak lagi. Jadi anggep aja ini sebagai latihan."


"Eh iya ya! Aku kalo kerja bakal ketemu uang banyak lagi. Nanti kalo aku pingsan gak kuat gimana Ky?"


" Aduhh Dania. Belum juga kerja masak Lo udah gila!"


Riki memegang dahi Dania melihat pacarnya sedang berceloteh tak jelas itu.Wajar saja ini adalah pengalaman Dania pertama kali berbelanja dengan nominal sebanyak itu. Bukannya Riki pelit tapi Dania selalu menolak jika diajak berbelanja ditempat yang mahal dan memilih pergi mencari makan atau ketempat yang tidak harus mengeluarkan uang banyak.


"Ayo, Kita cari makan!" Riki dan Dania keluar dari butik dan masuk kedalam Restoran.


"Aku maunya makan mie ayam Riki!"


Dania tak cocok dengan makanan mahal. Menurutnya mengapa harus merogoh uang banyak untuk sekedar mengisi perut.


"Oke kita cari warung mie ayam!"


Mereka keluar dari Restoran itu dan pergi mencari penjual mie ayam.


Dania dan Riki menyusuri jalan depan Ruko. Sengaja meninggalkan mobilnya di parkiran Butik tadi. Berjalan bersama, menikmati suasana jam makan siang.


Ada segelintir orang yang menatap dengan tatapan merendahkan dan menggunjing pasangan itu.

__ADS_1


"Lihat deh! Yang satu pakai jas yang satu masih sibuk cari kerja. Kasian banget cowoknya mana ganteng lagi."


"Iya yah! Gak seimbang banget!"


Dania menoleh kearah kumpulan Gadis itu. Mereka menatap sinis. Dania menunduk dan melepaskan tangan Riki.


"Kenapa kok dilepas?"


"Gak papa! Kamu jalan dulu aja!"


"Loh? " Riki sadar jika Dania berubah karena mendengar ucapan Para gadis itu.


"Hey, Kenapa kali? Biarin aja sih! Lagian cewek kan wajibnya emang dinafkahin. Sekalipun kamu pembantu kalo Aku udah cinta mati gimana? Mereka itu cuma iri karena masih jomblo."


Riki senagaja mengeraskan suaranya agar Para Gadis itu mendengarnya.


Tatapan tajam mereka berubah dengan rasa malu, Mereka juga pergi meninggalkan tempat duduk padahal belum sempat memakan makanannya.


"Nah kan pergi!" Ucap Riki puas. Kata katanya bisa membuat Mereka pergi.


Dania masih terdiam dan tak mau menatap Riki.


"Kamu gak malu? Tanya Dania tanpa menatap.


"Enggak tuh! Dan, gue laper. Noh ada tukang mie ayam! Kesana yuk!"


Riki menarik tangan Dania kencang diajaknya ke tempat Penjual mie ayam.


Dania kembali tersenyum melihat Riki tak perduli dengan ucapan mereka. Untuk apa? Hanya membuang waktunya saja. Padahal Riki masih tetap sama mencintai Dania tanpa alasan.


*


Dania dan Riki duduk dan memesan dua mangkuk mie ayam.


Riki meletakkan ponselnya diatas meja. Menunggu, pesanannya datang.


Riki menatap wajah Dania yang bahagia ketika masuk ke warung biasa ini. Padahal Riki bisa membawanya ketempat yang lebih bagus dan nyaman.


"Kenapa?"


Dania sadar jika Riki tak berhenti menatap wajahnya.


"Kamu bahagia Dania?"


"Ya! Tentu saja. Riki boleh Aku ambil kerupuk dan pangsit?"


"Cihh, kalo perlu bakal Gue beli warung mie ayam ini sama grobaknya juga. Bagaimana?"


"Hahahaha. Dasar sombong banget Lo!"


Dania terkekeh melihat tingkah Laki laki sombong didepannya ini.


"Drtt."


"Drtt."


"Drtt."


Sorot lampu ponsel itu menyala Dania melihat nama perempuan di layar ponsel milik Riki.


"Dia siapa Ky?"


Tanya Dania menyelidik meminta penjelasan Riki segera.


To be continued!!

__ADS_1


__ADS_2