
Jam terus berjalan, dari detik ke menit. Waktu satu jam terasa singkat bagi Riki.
" Kamu masuk aja gak papa! " Ucap Riki melihat Dania ragu untuk meninggalkannya.
" Kamu tunggu Aku disini ya!" Ucap Dania sebenarnya tak tega meninggalkan Riki tapi saat ini Dania punya tanggung jawab yang harus dijalani.
" Iya! Aku mau disini aja! Semangat kerjanya Dania."
Padahal yang butuh semangat dirinya sendiri. Tapi justru Riki malah menyemangati Dania.
" I LOVE YOU.. " Dania membentuk kedua tangannya simbol hati dan memberi ciuman tangan kissbye pada Riki.
Riki membalas kissbye Dania.
" Dasar ada ada aja tingkahmu Dan,"
Riki menutup pintu mobil, menghidupkan mesin agar AC tetap menyala. Riki juga mengatur kursi seat agar lebih nyaman digunakan untuk tidur.
Karena dinginnya AC membuat bibir Riki menjadi kering.
" Haduh cari minum dulu lah."
" Brakk."
Riki keluar dari mobil mencari minuman dingin untuk sekedar membasahi bibir dan tenggorokannya.
Riki duduk di depan mini market membuka tutup botol itu dengan tangannya.
Anggoro dan Angel sedang menarik uang cash di ATM, Riki melihat Papa nya sedang bermesraan dengan wanita lain.
" Bugh." Riki melayangkan bogem itu dan mengenai pipi Anggoro.
" Achh." Rintih Anggoro, menoleh siapa yang telah berani memukulnya itu. Matanya membuka lebar ketika tahu jika ternyata itu Riki.
" Gimana? Masih kurang?" Tantang Riki bersiap memukul Anggoro lagi.
" Kamu udah gila ya Ky, ini Papa mu sendiri." Anggoro tak menyangka Riki akan berani seperti ini.
" Ya! Riki udah gila. Bahkan saking gila nya. Riki udah gak sabar pengen bunuh Papa sekarang! "
"Bugh. Bugh. Bugh."
Riki semakin kalap menghujami pukulan ke muka dan tubuh Anggoro. Anggoro masih saja menahan diri. Tak berani membalas karena mengakui dirinya bersalah.
Riki mengeluarkan segala rasa emosi dan kecewanya itu. Tak perduli jika harus dipenjara.
" Stop berhenti!" Angel berusaha melerai tapi justru wajahnya ikut terkena pukulan Riki.
" Bugh. "
" Ahh. " Setelah mendapatkan pukulan itu Angel menjauh tak ingin kedua kalinya terkena.
" Gila ni anak udah macem kemasukan setan aja sih." Ucap Angel memegangi pipinya yang sakit.
Riki mulai tenang , setelah puas memukuli Anggoro. Wajah Anggoro babak belur, sudut bibirnya juga mengeluarkan darah.
" Ini semua gak sepadan sama sakit hati nya Mama! Riki gak akan tinggal diam! "
__ADS_1
Riki seringai mengacungkan jari tengah dan pergi.
" Kamu gak papa Mas?" Angel membantu Anggoro berdiri.
" Gak papa." Ucap Anggoro tangannya mengusap darah yang mengalir di bibirnya.
" Kamu kok diem aja sih Mas?"
" Gak tahu! Aku gak bisa aja buat bales Riki. Lagian Aku juga salah. Kita pergi aja. "
Angel dan Anggoro pergi ke Hotel lagi. Bukannya berpisah Anggoro justru merasa tak kapok.
*
Riki membuang botol minum ditangannya, melepaskan kancing baju yang semakin membuatnya merasa sesak.
"Hah! Kenapa Aku harus memiliki Ayah seperti Dia Tuhan!!" Riki berteriak memandangi langit. Merasakan hidupnya yang tak seimbang itu.
Riki berjalan tanpa melihat depan, menunduk lesu. Harusnya Riki senang bisa melampiaskan emosinya itu pada Anggoro. Hanya saja ada perasaan menyesal dari hati kecilnya.
" Aku cuma pengen keluarga Kita seperti yang lain. Hiks. Kenapa?? Kenapa gak bisa? Apa susahnya Ma, Pa? Kita punya segalanya, Harmonis gak mahal, perhatian juga gak mahal, tetapi kenapa Kita gak punya! " Ucap Riki dengan sejuta kesedihan yang menumpuk.
Riki kembali masuk ke mobil. Menunggu Dania datang untuk mengobati hati nya.
*
*
" Hem, Sabar ya Ky. Dua jam lagi Aku pulang! " Ucap Dania sesekali melirik mobil Riki dari kaca lantai dua.
Dania mau tak mau harus tetap fokus walaupun fikirannya di bagi dua, antara memikirkan pekerjaan dan Riki Kekasihnya. Rasa iba dan sayangnya bergemelut menjadi satu.
" Oke! Maaf Riki, Aku harus lupain Kamu dulu."
Dengan jurus tekad yang bulat serta semangat yang tinggi Dania segera menyelesaikan pekerjaannya.
Fikirannya yang bercabang terpaksa harus Ia buang salah satu terlebih dahulu.
Sejenak Ia tak menghiraukan Riki lagi. Hingga waktu dua jam telah berlalu.
*
Dania membereskan meja kerjanya. Lina juga telah siap untuk pulang.
" Ayo pulang bareng Aku Dan!"
" Kamu bawa mobil? " Tanya Dania melihat kemarin Lina juga dijemput ojek online.
" Bukan mobil! Motor Dan, doain biar bisa beli mobil. Nanti setiap hari Aku jemput deh."
" Widih mau jadi Go car online Lo!" Celetuk Dania membuat Lina mendorong badannya.
" Hahaha kampret deh Lo. Tapi kalo hasilnya lumayan boleh juga sih. Hihihi." Ujar Lina tanpa merasa tersinggung.
Lina ternyata sangat cocok berteman dengan Dania sikap Mereka yang sama sama suka ngomong ceplas-ceplos dan blak blakan itu terlihat nyambung.
Setelah Lina pergi Dania pergi menyusul Riki.
__ADS_1
Dania makin terkejut melihat Riki semakin berantakan.
" Ya ampun Riki? Kok makin ancur sih?" Ucap Dania.
Baju Riki sobek, jasnya juga terlepas. Kancing baju bagian atas hilang, rambut yang makin acak acakan.
" Apalagi mata Kamu, bengkak banget malah kaya Kak Eric. Kamu kenapa? "
Riki hanya menoleh dan menyenderkan kepalanya di stir mobil.
" Tadi Aku habis berantem sama Papa, Aku pukulin wajahnya sampai bonyok. Harusnya Aku seneng, tapi sesak banget dadaku Dan, hiks."
Dania duduk jongkok didepan Riki memegang tangannya yang kekar itu dengan lembut.
" Sayang! Aku tahu Papa mu buat salah..tapi bagaimanapun juga Dia juga Papa kandungmu. Jelaslah Kamu ada rasa bersalah. Itu normal. Kalo gak ada rasa bersalah, itu namanya Kamu Psikopat tahu! Aku juga gak mau pacaran sama Psikopat." Ucapan Dania itu tak sungguh sungguh. Hanya saja Dania tak mau Riki melakukan hal yang lebih nekat lagi dari ini.
" Kamu jangan gitu lah Dan, Aku tambah down nih." Ucap Riki lemas dengan suara semakin mengecil.
" Kamu bisa bawa mobil sampai rumah gak?" Tanya Dania tak yakin dengan kondisi Riki seperti ini.
" Bentar ya Aku telepon Kak Eric dulu."
Dania menghubungi Eric agar datang kesini untuk menggantikan Riki menyetir.
" Dania : Haloo Kak Eric? "
" Eric : Ya Dan, Kenapa gak betah kerjanya mau risegn? "
" Dania : Kak Eric doanya jelek banget sih."
" Eric : Hehe bercanda Dan, serius amat! Kenapa Adikku sayang? "
" Dania : Ieuhh. Apaan sih? Kak bisa kesini gak? "
" Eric : Kamu kecelakaan ya Dan, ngaku deh. Kakak kesana sekarang ya! Tunggu! "
" Dania : Eh, buset punya Kakak satu begini amat prasaan. KAK ERIC!!!! DENGERIN dulu lah! "
Barulah Eric diam mendengarkan Dania berbicara.
" Dania : Tolong! Dateng ke Kantorku. Ini bukan karena Aku. Tapi karena Riki. Ada sesuatu hal yang gak bisa Aku ceritain sekarang. Jadi Aku minta tolong sama Kak Eric buat kesini ya!"
" Eric : Oh gitu, yaudah sekarang Kakak kesana, tunggu sekitar lima belas menit ya! "
" Dania : Oke. Makasih ya Kak! "
Sesuai dengan ucapannya Eric tiba didepan Kantor Dania 15menit kemudian.
" Kenapa nih? " Tanya Eric melihat Riki duduk lemas. Dania membisikkan menceritakan semuanya pada Eric.
" Kasihan banget Riki." Ucap Eric tulus.
" Nah, tolong Kakak naik mobil sama Riki. Aku bawa motor!"
" Kamu hati-hati ya Dan, duluan aja nanti Kakak ikutin dibelakang."
Dania menurut lebih dulu berjalan dan Kak Eric mengikutinya.
__ADS_1
" Dania ada apa ini?" Tanya Pak Burhan bersiap untuk berjualan. Melihat Mereka bertukar posisi dan tampilan Riki acak acakan.