
Suasana sore yang hangat, lampu penerangan jalan mulai menyala. Ditambah lagi outlet dan kedai makanan street food mulai bersiap untuk berjualan.
Riki tertarik pada sebuah Toko bunga yang akan tutup. Bucket besar bunga mawar berwarna merah menyala itu seakan melambai padanya untuk dibeli.
" Ahh, mungkin Dania akan suka jika Aku beli ini untuknya!" Riki keluar dari mobil dan memasuki toko bunga itu.
" Cantik!" Puji Riki.
" Maaf Kak, boleh saya ambil bunga ini?" Tanya Riki pada florist itu.
" Silahkan Kak! Mau seperti ini atau dibungkus dulu?" Tanya Florist itu.
" Begini saja! Berapa?" Tanya Riki menyerahkan kartu kreditnya itu.
Florist itu sepertinya terbiasa membawa alat mesin EDC di saku baju perlaknya.
" Terimakasih Kak, silahkan datang kembali!" Ucap Florist.
Sepertinya Florist itu tak menyangka akan mendapatkan rejeki di toko yang sudah tutup Ia juga senang. Bagaimana tak senang ketika ingin menutup tokonya florist itu mendapatkan pelanggan kaya seperti Riki. Jika orang lain akan menawar harga, Riki tak perduli dan langsung membayarnya.
" Harumm!" Riki mengendus bunga mawar itu, aromanya mengingatkan pada Dania.
Riki bersiap menunggu Dania di luar Kantor dan tak lupa mengirim foto mawar itu pada Dania.
Riki tak tahu jika Dania tak ada di Kantor,dan masih ada diperjalanan.
Dion ingin pulang, tapi justru melihat Riki berdiri sendirian membawa bunga mawar besar. Dion tak tahu jika itu Riki pacarnya Dania. Kemarin saat melihat Dania sedang berciuma, Ia tak begitu melihat wajah Riki dengan jelas.
" Maaf Pak, sedang menunggu siapa?" Tanya Dion.
" Oh, tidak! Saya sedang menunggu Dania pacar Saya." Ucap Riki.
Riki melihat wajah Dion, seperti tak asing. Dan memutar kedua bola matanya berusaha mengingat wajah ini.
" Apakah Kita pernah bertemu!" Tanya Riki karena tak bisa mengingat dimana.
" Ya! Kita satu SMA, Saya Dion Cakra Baskoro." Kata Dion menyodorkan tangannya.
" Oh!" Jawab Riki menerima tangan Dion. Riki langsung tahu jika Dion ini mantan kekasihnya Dania.
" Kau sudah lama kembali?" Tanya Riki ketika dulu Dania pernah bercerita jika Dion ke luar negeri.
" Baru dua hari." Kata Dion.
" Sedang apa Kau disini?" Tanya Riki mulai mengubah intonasi tak suka.
" Haha, tenanglah. Sepertinya Kau tahu masalaluku dengan Dania ya?" Kata Dion.
" Jangan berbelit katakan saja! Ada urusan apa Kau datang kemari?" Ucap Riki masih mencerca Dion.
__ADS_1
" Apa kekasihmu tak bercerita jika Aku lah pemilik Perusahaan ini?" Jawab Dion bangga.
" Deg."
" Apa! Kau sedang tak bercanda kan?" Kata Riki tak percaya.
" Oh tentu saja tidak. Baskoro adalah nama Perusahaan ini dan Kau tak lupa kan Nama panjangku!" Ucap Dion.
Riki semakin geram ketika tahu Perusahaan Baskoro sedang naik daun sekarang dan Dania tak pernah bercerita tentang ini padanya.
" Kau jangan coba merebut Dania dariku!" Ucap Riki.
" Yah tentu saja. Tapi bukan salahku jika Dania bisa goyah dan berpaling darimu!" Ucap Dion berani.
Riki meletakkan bunga mawar itu diatas mobil, dan menarik kerah baju Dion. Mereka akan saling bergulat sekarang!
" Cih, Kau sendiri yang meninggalkannya dan sekarang ingin merebutnya kembali?"
" Kenapa Kau harus takut? Apakah Dania hanya menjadikanmu pelampiasan?" Ucap Dion.
" Apa kau bilang?" Ucap Riki semakin tersulut emosinya.
Dania baru datang, dan saat keluar dari mobil melihat Riki sudah bersiap akan memukul Dion.
" Riki! Stop!" Dania berlari dan melerai mereka berdua.
" Dia yang mulai duluan Dan," ucap Riki, Dania langsung membungkukkan badannya pada Dion. Dion mengibaskan kerah bajunya yang kusut karena Riki meremasnya keras.
Lina tak mungkin menolak langsung mengganti tugas Dania bertemu dengan Bu Tina.
" Saya permisi dulu!" Dion pergi tapi Riki masih saja tak terima. Riki menatap tajam Dania.
" Kenapa Kamu gak pernah bilang? Kamu rahasiain semua ini sejak kapan?" Cerca Riki pada Dania.
" Aku minta maaf, bahkan Aku baru tahu kemarin jika Dion adalah pemilik Perusahaan ini Riki. Aku belum sempat untuk mengatakan semuanya. Aku minta maaf. " Dania memeluk Riki menyadari jika Ia tetap salah.
" Aku takut!" Ucap Riki.
Riki membalas pelukan Dania.
" Jangan takut! Aku takkan berpaling!" Dania menyakinkan Riki takkan ada yang berubah meski Dion telah kembali.
" Terimakasih." Ucap Riki.
Riki kembali meraih bunga mawar itu dan memberikannya.
" I love you Dania!" Ucap Riki.
" Woah indah! Ilove u too Riki!"
__ADS_1
" Emuacchh." Riki mengecup manja bibir Dania dan mereka saling memeluk merekatkan badannya.
Lina sudah selesai melaporkan pada Bu Tina langsung melihat Riki dan Dania.
" Ya ampun gak sopan banget deh!" Celetuk Lina.
Dania langsung mendorong badan Riki, dan meringis malu.
" Maaf Lin, kelepasan!" Ucap Dania.
" Aku pulang dulu ya! Kalian hati-hati!" Ucap Lina pergi ke tempat parkir kantor mengambil motornya.
" Eh, Ky," panggil Lina.
" Apa Lin?" Tanya Riki.
" Jagain tuh pacarmu, lupa gak bawa dompet. Oh ya salam ya buat oppa Eric! Hihi." Nila tersipu malu dan melanjutkan langkahnya.
" He? Siapa tadi? Oppa Eric?" Riki ikut bergidik saat mendengar sebutan aneh itu.
" Haha, aku bakal punya kerjaan baru Ky, jadi Mak comblang!" Ucap Dania.
" Oh, aku paham sekarang! Tapi kapan Mereka ketemu?" Tanya Riki dan membuka pintu mobilnya, Dania harus berjalan menuju sisi sebelah mobil.
" Brakk."
Dania langsung menceritakan kejadian tadi saat pertama kali Eric bertemu dengan Lina.
" What? Aneh aja ketemu pertama langsung suka gitu?" Tanya Riki tak percaya jika cinta akan datang secepat itu. Riki sendiri tak pernah merasakan hal seperti itu. Dulu ketika bertemu dengan Dania, Riki selalu sebal karena Dania ikut campur urusan pribadinya. Hanya saja sekarang Riki malah cinta mati pada Dania.
" Ya, emangnya kamu! Kalo mereka bisa gak salah dong Ky," jawab Dania membela Kakaknya.
" Tapi apa kamu gak takut Kak Eric kecewa lagi? Biarin Mereka saling kenal dulu lah, biar tahu sifat satu sama lain." Ucap Riki peduli pada keduanya.
Apalagi Mereka sangat dekat dengan Dania bagaimana jika hubungan mereka tak berjalan dengan baik dan bisa memutuskan ikatan yang dekat itu.
" Iya juga sih ya! Ah biarin mereka aja sih. Asal baik aku dukung aja Ky,"
Dania dan Riki asik berbincang, tapi mobil Nani sengaja memepet mobil Riki agar berhenti.
" Sial ngapain lagi sih Nenek!" Ketus Riki berusaha menyeimbangkan mobilnya.
" Awas Ky hati-hati! Mendingan kamu ngalah deh Ky, " Dania memengang seatbelt dengan kencang.
"Tin, tin, tin, "
" Riki, berhenti!!!" Nani berteriak dari kaca mobil yang dibuka. Memberi titah pada Riki agar berhenti.
" Riki Awas!!!!"
__ADS_1
" Ahhh."
To be continued....