Seimbang

Seimbang
Bab 32. Kecurigaan Riki!


__ADS_3

" Riki : Haloo Dan, Kamu kemana aja sih Aku telepon gak diangkat? "


" Dania : Maaf Ky, Aku lagi dirumah sakit."


Riki langsung duduk mendengar kata Rumah Sakit.


" Riki : Siapa yang sakit Dan, Kamu sakit?" Tanya Riki mulai khawatir pada Dania.


" Dania : Bukan Aku,tapi Ayah. Tadi.."


Dania menceritakan semuanya pada Riki.


Riki mendengar cerita Dania ikut geram.


" Riki : Dan, Aku matiin dulu ya, sebentar lagi Aku susul Kamu kesana!"


" Dania : Oke, hati-hati."


Riki menutup telepon dan segera keluar dari kamar. Riki merasa ini adalah ulah Nani.


Nani duduk di ruangtamu, seakan tahu Jika Riki akan keluar dari kamarnya.


" Kenapa Kamu melihat Nenek seperti itu?" Tanya Nani melihat tatapan Riki yang tajam.


" Ini ulah Nenek kan? " Tanya Riki langsung tanpa basa-basi menyerang Nani.


" Ulah? apa maksudnya? Nenek gak paham sama ucapanmu? " Elak Nani bohong, padahal Ia senang rencananya berhasil.


" Tidak! " Riki tahu tak mungkin jika Nani akan mengaku. Riki memilih keluar dan pergi.


" Riki mau kemana? " Tanya Nani, Riki pergi tak berpamitan padanya.


" Bukan urusan Nenek! "


" Brakk."


" Dasar, lihat aja Riki. Semakin Kamu membangkan, akan Ku buat keluarga itu semakin hancur!" Sungut Nani semakin berniat mengganggu keluarga Dania.


Riki menyetir mobil menuju Rumah Sakit. Sesekali tangannya mengepal. Ancaman Nani benar terjadi.


" Sial, Aku yakin ini ulah Nenek." Ujar Riki, sepanjang jalan hanya mengumpat. Jalanan yang sepi membuat Riki langsung menancapkan gas diatas rata rata.


" Nguengggggg."


*


Dania kembali ke ruang UGD. Kebetulan Pak Burhan sudah bisa dibawa pulang tanpa harus rawat inap.


" Dan siapa? " Tanya Eric melihat Dania kembali.


" Riki Kak, Dia mau kesini!" Dania kembali duduk.


" Ayah udah boleh bawa pulang Dan, apa kita pesen taksi? " Tanya Eric.


" Katanya tadi Riki mau kesini, kenapa gak tungguin Riki aja. Kasiann kalo sampai kesini udah gak ada orang!" Ujar Bu Melati ikut menyela.


Dania dan Eric setuju, dan menunggu Riki datang.


Riki berlari ke UGD langsung mencari keluarga Pak Burhan.

__ADS_1


" Dania! " Riki melihat Dania sedang menunggunya.


" Sini! Ayah ada disini! " Dania menarik tangan Riki, dan membawa Riki bertemu dengan Pak Burhan.


" Ya ampun Pak, kok bisa sih jadi kayak gini? " Riki melihat perban di kepala Pak Burhan, Riki bahkan sampai menangis.


" Eh, Nak Riki, jangan nangis! " Pak Burhan mengusap air mata Riki.


Bukan tanpa alasan Riki menangis, Dia merasa bersalah mungkin saja hal ini terjadi karenanya.


" Ky, Aku sebagai anak ngrasa durhaka banget ini." Ucap Eric ketika melihat Riki.


" Kenapa emang Kak? " Tanya Dania.


" Ya, lihat! Riki saking sedihnya sampai nangis, lah kita aja yang anak kandungnya malah gak nangis! Apa gak durhaka " Seloroh Eric.


" Bluk. Bluk. Bluk." Dania justru memukul tangan Eric


" Aw.. aw. Aw. Sakit Dan!" Rintih Eric


" Lagian, orang lagi sedih malah bercanda terus Kakak nih." Sungut Dania.


Mereka masih saja bisa tersenyum meski sedang dilanda musibah.


Perawat datang memberi obat dan surat izin pulang.


" Ini obat untuk Pak Burhan, jangan lupa dua hari lagi kontrol untuk melepas jahitan ya Bu," ucap Perawat itu menyerahkan kantung obat.


Dania menerima kantung obat itu. Dan Mereka pulang.


" Udah semua? " Tanya Riki


Mereka pulang menggunakan mobil Riki. Sepanjang perjalanan Riki hanya diam membuat Dania khawatir.


" Ayah istirahat ya!" Dania membantu Pak Burhan turun dari mobil dan mengantarkan ke kamar.


" Makasih ya Ky, udah mau nganterin Ayah!" Ucap Eric.


Mereka duduk diteras menemani Riki hingga Dania kembali.


Dania kembali keluar setelah mengantar Ayahnya.


Eric segera bangkit dan pergi.


" Dania udah dateng, Gue cabut dulu ya!"


Eric meninggalkan Riki bersama Dania,


Dania mengusap wajah Riki lembut.


" Kamu kenapa Sayang! " Tanya Dania.


" Aku gak papa kok!" Jawab Riki bohong.


" Tapi wajahmu kok kayak gitu! Kamu kayak mikirin sesuatu?" Tanya Dania tak percaya.


" Bener Sayang! "


Riki tak mau mengatakan praduganya tentang ulah Nani. Riki takut dibenci keluarga Dania. Riki tak mau kehilangan Dania dan keluarganya.

__ADS_1


" Aku minta maaf masalah omongan Nenek tadi!" Ucap Riki yang belum sempat meminta maaf pada Dania secara langsung.


Dania terdiam dan tersenyum lagi, meskipun rasanya sakit Dania juga berusaha menyembunyikannya.


" Gak papa, Nenekmu benar kok, Aku orang miskin. Meskipun Aku gak matre. Itu karena Nenek belum kenal sama Aku kan?"


Riki semakin merasa bersalah, padahal Nani sudah sangat membenci Dania. Riki hanya saja tak mau memberitahu Dania tentang hal itu.


" Kamu tahu gak? Aku beruntung banget punya pacar kaya Kamu Dan, " Riki menyentil pelan hidung Dania.


Mereka mungkin saja mendapatkan tentangan dari Nani tapi nyatanya cinta Mereka lebih besar.


Riki akan berusaha melindungi Dania dan keluarganya.


" ( Maaf Dania, Aku belum bisa jujur. Aku gak bakal rela kalo Nenek sampai celakain Kamu)" ucap Riki dalam hati mengusap rambut Dania halus.


Sebaliknya Dania juga memiliki rahasia di hati kecilnya.


" ( Aku sebenarnya sakit hati Riki, tapi gak papa, Aku kuat demi Kamu tetap berhubungan baik sama Keluarga mu.)"


*


*


Romi anak buah Nani sedang mengawasi Riki dari balik pohon. Romi juga memfoto Riki yang sedang bersama dengan Dania.


" Send."


Romi mengirimkan foto itu pada Nani.


Nani sedang makan malam melihat layak ponselnya menyala.


Nani membuka pesan dar Romi melihat foto kiriman darinya.


" Ah jadi Riki kerumah Wanita itu?" Ucap Nani marah.


" Ibu, biarkan saja. Riki sudah besar. Jangan ikut campur!" Anggoro sadar jika Nani sedang merencanakan sesuatu.


" Kamu mau punya menantu yang miskin?" Tanya Nani.


" Apa ruginya Bu,? Yang penting Riki cinta? " Ucap Anggoro datar.


" Cinta apanya? Bisa saja wanita itu hanya ingin harta Riki saja."


" Ibu! Tolong berhenti! Atau Riki akan membenci ibu, seperti Dia membenciku.


Anggoro tak mau Nani sampai harus mengotori tanganya hanya karena ikut campur.


Anggoro bangkit dari meja makan. Sedangkan Nani semakin marah saja.


" Kenapa tak ada yang mau mendukungku?" Ucap Nani sedih.


" Tenang Nenek! Aku akan ada mendukung Nenek." Ucap Siska ingin mencari muka pada Nani.


" Sungguh! Kau tak bohong!" Tanya Nani pada Siska.


" Sungguh. Riki adalah keponakanku satu satunya. Jadi Aku ingin Riki bahagia." Ujar Siska mengada ada. Justru Siska melakukan ini agar Riki tak merasa bahagia.


Siska justru tahu, jika Riki sangat bahagia dengan Dania. Niat Siska adalah untuk membuat Riki hancur.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2