
Bu Melati sampai melempar karung tempat arang itu ketika melihat Dania menangis.
" Kamu kenapa Nak?" Tanya Bu Melati.
Eric memarkirkan motornya dengan benar agar tak jatuh, membuka helm untuk dirinya sendiri dan juga suka rela membantu Dania.
" Ini ada apa Eric?" Tanya Bu Melati.
Eric hanya menggeleng,
" Sayang, sini ayo kita duduk dulu!" Ajak Bu Melati, Mereka duduk ditepi kursi didepan teras.
" Ibu! Hiks hiks!" Dania kembali menangis mulutnya mendadak kaku tak bisa berucap.
" Sayang! Tenang! Ambil nafas dan hembuskan perlahan!" Ucap Bu Melati mulutnya memberi contoh pada putrinya, Dania mengikuti gerakan bibir itu dan merasakan sedikit lega pada nafasnya.
" Ibu, tadi Ibunya Riki datang! Dia suruh Dania buat putus sama Riki, besok Riki mau tunangan sama orang lain. Huaaaaa. Hiks. Hiks. Ibu! Hati Dania sakit sekali ! Padahal kemarin Ibu Atmika menyetujui hubungan kami, tapi kenapa sekarang sekarang berubah!," Dania memeluk erat tubuh Bu Melati.
Eric dan Ibunya hanya saling lempar pandang, " Sayang, tidak apa-apa! Sabar ya!" Ucap Bu Melati mengusap kepalanya. Eric ikut merangkul dari belakang. " Dan, kita sama kok tadi Kakak juga dapet undangan dari mantan Kakak si Nila, kita harus kuat," ucap Eric memberikan semangat. Dania menoleh "Serius kak?" Tanya Dania.
" Eh, ingusmu tuh, lap dulu!" Gelak Eric, Ibu Melati ikut terkekeh, Dania reflek mengelap wajahnya dengan baju. Kini baju kerja mahal itu penuh dengan ingus dan air mata.
" Bodo amat! Baju ini Riki yang beliin!" Ucap Dania, semakin semangat untuk membuat baju itu kotor.
" Copot Dan! Beli yang baru. Eh Bukannya Lo udah gajian?" Tanya Eric.
Dania membuka matanya lebar, dan menepuk dahinya.
" Ya ampun kakak, hari ini aku gajian! Tapi malah lupa udah pulang duluan! Huaaaa!" Dania kembali menangis, dan Eric justru tertawa sampai terjungkal.
" Dasar punya adek satu kok bloon banget! Lo mau kerja dibayar uang atau kerja bakti sih Dan. Hahahah." Seloroh Eric. Bu Melati kini ikut tertawa, dan Dania masih sebal sendiri.
Dania lupa akan sakit hatinya malah bergantian sedih memikirkan gaji yang belum diambil.
Bu Jumi sedang lewat didepan Rumah menguping pembicaraan Dania yang putus dengan pacarnya.
" Hahaha! Kasian gak direstuin ya!"
Ucap Bu Jumi merasa hari ini akan berhasil mempermalukan keluarga ini.
" Bu, gabut apa gimana?" Tantang Eric.
" Makanya kalo orang miskin tu cari yang miskin biar seimbang!" Ucap Bu Jumi lagi, tapi kali ini Bu Jumi tak berlama-lama dan langsung pergi begitu saja.
" Ah, coba aja kalo gak buru-buru, bakal aku hina terus Keluarga itu," celetuk Bu Jumi berlalu.
*
*
Para Karyawan Baksoro sedang mengantri mengambil slip gaji, tapi Bu Tina tak melihat Dania sejak tadi.
" Dy, kok Dania gak ada sendiri ya!" Tanya Tina pada Dion.
" Eh, serius? Coba tak tanya sama Lina dulu kak!" Dion berlari ke lantai bawah, untuk mencari Lina.
__ADS_1
" Lina!" Ucap Dion memanggil, untungnya Lina belum pulang dan masih terlihat hendak berjalan keluar.
" Ya, Pak Dion ada apa?" Tanya Lina.
" Dania, kok gak ambil slip gaji sendiri?" Tanya Dion, tapi reaksi Lina juga kaget seperti dirinya.
" Loh? Iyakah Pak? Saya kira Dania udah ambil duluan,. soalnya tadi saya cari ke ruang kerjanya udah gak ada!" Ucap Lina.
" Dania udah pulang?" Tanya Dion.
" Mungkin sih Pak, Saya juga gak tahu!" Jawab Lina ragu.
" Oke yaudah! Silahkan kamu pulang! Makasih ya!" Ucapnya sambil berlalu.
Dion kembali ke ruang Tina, dan memberitahu hal ini pada Kakaknya itu.
" Dania udah pulang Kak!" Ucap Dion.
" Loh! Emang gak mau gajian? Tapi gak papa deng, Kakak tetep transfer hari ini, masalah slip besok juga bisa!" Ucap Tina santai.
Dion mendekati Tina, dan mengobrak abrik meja kerjanya.
" Hey! Cari apa sih!" Ketus Tina.
" Slip gajinya Dania mana?" Tanya Dion ternyata mencari slip gaji itu.
" Ini!" Ucap Tina memperlihatkan slip itu.
" Srakk." Dion menarik slip itu dan kini berpindah ditangannya.
" Mau di anterin dong, dadah Kakak!" Ucap Dion,
" Dasar! Tau aja ada peluang langsung diembat!" Sungut Tina pada Dion yang sudah tak ada didepannya.
*
*
Dion langsung membawa mobilnya menuju Rumah Dania, Ia melihat slip itu dan tak sabar untuk mengantarkannya sendiri.
"Ah, rumahnya masih sama!" Ucap Dion melihat rumah Dania tak ada yang berbeda, sederhana tapi bisa membuat mata teduh dan nyaman.
Dion sengaja memarkirkan mobilnya diluar dan bukan di halaman.
" Eh, siapa itu?" Tanya Pak Burhan.
Dion masuk ke halaman rumah, berjalan menghampiri Pak Burhan yang sedang mengamati dirinya.
" Selamat sore Pak Burhan!" Sapa Dion
" Loh, kok tahu nama Saya? Maaf adek ini siapa ya?" Tanya Pak Burhan tak lagi mengenali wajah Dion.
" Yah saya jadi sedih, bapak udah gak inget sama Saya! Padahal dulu saya sering main kesini!" Ucap Dion lesu.
Pak Burhan merasa tak enak, akhirnya berusaha mengingat kembali. Bu Melati keluar mendengar ada suara asing yang datang, saat melihat wajah tampan Bu Melati langsung bisa mengenalinya.
__ADS_1
" Ya ampun! Nak Dion apa kabar?" Sapa Bu Melati, Pak Burhan akhirnya ingat sekarang.
" Astaga, Nak Dion maafkan Bapak! Kamu berbeda sekali dengan brewok tipismu itu!" Ucap Pak Burhan.
Dion hanya tersenyum dan segera menyalami tangan Bu Melati dan Pak Burhan secara bergantian.
" Ayo masuk Nak! Loh tapi kamu jalan kaki?" Tanya Bu Melati.
" Mobil Dion ada diluar Bu, itu disana!" Ucap Dion menunjukkan mobilnya.
" Nak, bawa masuk aja! Nanti halangin orang lewat!" Ujar Pak Burhan.
" Oh, ya Pak, saya bawa masuk aja!" Jawabnya. Dion keluar memarkirkan mobilnya kedalam halaman.
Pak Burhan dan Bu Melati menunggu Dion, Mereka bertiga masuk bersamaan.
" Loh siapa ini Bu?" Tanya Eric yang baru selesai mandi, mengusap rambut basahnya dengan handuk.
" Tuh kan gak cuma Bapak, Eric aja pangling!" Ucap Pak Burhan tak sadar jika itu adalah Dion.
" Ah, Kak Eric masak udah lupa!" Ucap Dion.
Eric langsung sadar ketika mendengar Dion berbicara. "Plak." Eric menyapa dengan timpukan di tangan Dion.
" Lo Dion Cakra? Buset tambah ganteng aja Lo! Hahah sorry Dy gue agak lupa kita kan udah lama banget gak ketemu!" Ucap Eric mengusap tangan Dion.
Dion senang sekali, meskipun sempat lupa keluarga ini masih saja ramah dan hangat pada dirinya.
" Gimana kabar Lo Dy?" Tanya Eric
" Baik kok Kak! Dania ada kak?" Tanya Dion.
" Ada kok! Bentar ya gue panggilin dulu!"
Eric beranjak memanggil Dania, kini hatinya lega "( Nah, untung Dion datang disaat waktu yang tepat! Jadi Dania bisa move on cepat dari Riki!)" Ucapnya dalam hati.
" Tok, tok, tok,"
" Dan, Dania!" Panggil Eric.
" Apa ?" Jawab Dania dari dalam tanpa membuka pintu.
" Itu ada tamu, tapi Dion bukan Riki!"
" Kriett." Mendengar kata Dion, Dania langsung membuka pintu.
" Dion?" Tanyanya.
" Iya! Cie enak banget sih hidup Lo Dan, baru juga diputusin udah dapet gantinya aja!"
" Apaan sih kak?" Dania keluar dari kamarnya, di ikuti Eric. Bu Melati juga membawa nampan berisi teh hangat dan Pak Burhan sudah duduk menemani Dion.
" Selamat Sore Pak Dion, ada perlu apa ya?" Sapa Dania juga membungkukkan badannya memberi hormat pada Dion.
Kini Eric, Pak Burhan dan Bu Melati saling menatap,
__ADS_1
" Pak Dion?" Ucap Mereka serempak.