
"Selamat pagi Pak Dion!" Sapa Dania.
Dania sudah bertekad untuk biasa saja. Karena bagaimanapum Dion adalah Pimpinannya sekarang. Masalah masalalu biarlah berlalu.
" Pagi Dania, datang sendirian?" Tanya Dion, melihat Dania berangkat sendiri.
" Iya Pak, mari Pak!" Jawab Dania.
Dania terus berlalu, dan Dion menatap bahu Dania. Masih banyak hal yang ingin Dion katakan, tapi sepertinya Dania tak ingin.
" Kamu banyak berubah Dania, senyuman manis yang dulu selalu terpancar kini menghilang." Ucap Dion sedih. Saat semua dalam genggamannya tapi justru Dania tak bisa.
" Lina!!" Dania langsung merangkul badan Lina, " Hay, siap bertempur hari ini. Aku bakalan jadi bodyguard buat Kamu. Aku gak akan biarin Dia datang lagi." Ucap Lina berapi-api.
" Hehe, terimakasih Lina. Tapi emang berani lawan orang miskin itu?" Ucap Dania lagi.
"Yah berani lah, kita orang miskin jangan mau ditindas, siapa yang mau jaga kalo bukan kita sendiri!" Ucap Lina.
Lina tahu melawan orang seperti itu tidak akan mudah, tapi Lina sudah bertekad untuk membantu Dania.
Tina datang ke Kantor saat mengetahui Dion sudah ada ditempat itu lagi.
" Dasar! Kamu sampai ninggalin Aku demi siapa sih?" Celetuk Tina tanganya menarik telinga Dion.
" Hehe apa sih Kak, habisnya Kakak lama!" Ucap Dion beralasan.
" Heleh, Dion tadi itu masih jam 6, dan kamu udah siap pakai jas. Terus Kakak masih mandi, waktu keluar dari kamar mandi kamu udah gak ada!" Umpat Tina. Dion justru tersenyum kecut karena merasa sia-sia usahanya pagi ini.
Dania justru tak menggubris dirinya.
" Gimana masih mau coba?" Tanya Tina ingin tahu.
" Gak tahu Kak, kayaknya dia udah gak ada niat buat balikan!"
" Dugh." Tina menepuk bahunya.
" Auwh apa sih!" Keluh Dion melihat Tina malah menepuk bahunya.
" Kamu gak usah galau cari yang lain aja." Ucap Tina menyemangati Dion.
Jika bisa Dion sudah melakukannya sejak dulu. Hanya saja hatinya masih teguh pada Dania seorang.
"Mau kemana? " Tanya Tina melihat Dion pergi.
" Ststs. Rahasia!" Telunjuknya di letakkan di depan hidung.
" CKc dasar!" Tina langsung menutup pintu, tak menghiraukan Dion, memberi leluasa pada Dion untuk berkeliling.
*
*
__ADS_1
Hari masih pagi tapi sinar matahari mulai menyengat, Dion pergi keluar untuk membeli minuman dingin penyegar dahaga
" Aku masih ingat Dania suka sekali dengan Boba rasa strawberry. Aku coba beli aja lah." Dion ingat dan juga sedih, dulu Dion ingin sekali membelikan minuman itu pada Dania. Hanya saja dulu Dion tak memiliki uang. Jangankan untuk membeli Boba. Dion lebih sering tak membawa uang saku.
Dion mencari penjual Boba ada banyak outlet yang berjejer, bukannya pelit tapi Dion ingin memajukan usaha menengah bawah juga.
Untuk menghindari kecurigaan yang lain, dan juga keseimbangan sosial, Dion juga membeli untuk yang lain.
" Pak tolong saya mau borong semuanya!" Ucap Dion.
Penjual itu tampak berbinar dengan semangat 45 langsung membuatkan pesanan. Dion duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Ini Pak!" Ucap Penjual itu. Semua minuman dikemas rapi.
" Berapa Pak?" Tanya Dion.
" Totalnya Tujuh ratus ribu Pak!" Ucap penjual itu. Dion langsung membayar sejumlah uang dan juga melebihi beberapa lembar.
" Maaf Pak, ini kelebihan!" Ucap Penjual itu ingin mengembalikan uangnya.
" Gak usah Pak, buat Bapak aja. Anggep aja dapet rezeki!" Dion langsung membawa beberapa minuman itu.
*
*
" Selamat Siang Pak Dion," ucap beberapa karyawan. Dion langsung menaruh kantung plastik berisi minuman itu.
" Ini Boba silahkan ambil satu-persatu." Titah Dion. Dion melirik kearah ruang kerja Dania. Ingin rasanya Ia masuk dan mengantarkan sendiri minuman itu. Tapi tak mau menimbulkan gosip miring yang akan mempengaruhi reputasi Dania.
" Tolong nanti yang lain diantar ya!" Ucap Dion.
Lina mendengar suara ribut diluar, tertarik untuk melihat apa yang terjadi.
" Eh apa ini? Kalian dapet darimana?" Tanya Lina. "Dari Pak Dion, nih kamu ambil satu. Jangan lupa kasih ke Dania juga." Titah salah satu temannya.
Semua sudah mengambil jatah masing-masing, Dania sudah bersiap akan pergi untuk terjun ke lapangan.
Lina melambai, memberi kode pada Dania.
" Apa?" Tanya Dania
"Nih!" Lina memberi satu cup minuman itu.
" Acara apa nih? " Tanpa ragu Dania langsung meminum boba itu.
" Biasa Pak Bos Dion." Ucap Lina melirik Dania. Dania bisa tahu jika Lina sedang menatap wajahnya. Seakan tahu sedang memikirkan sesuatu.
" Kenapa lihatin Aku kayak gitu?" Tanya Dania.
" Hehe, aku tahu loh!" Pancing Lina padahal Dia hanya menebak.
__ADS_1
" Aa-paan?" Tanya Dania gugup.
" Kamu ada rahasia kan sama Pak Dion?" Tanya Lina lagi.
" Rahasia apaan? Udah yuk berangkat!" Dania menarik tangan Lina.
Lina malah semakin semangat untuk menggodanya.
" Dania jujur aja deh!"
Dania tak menjawab dan terus melangkah.
Dion melirik dari bilik tembok, lega akhirnya Dania bisa meminum boba yang memang diperuntukkan untuk dirinya.
*
Bukan Lina namanya jika langsung diam tanpa diberitahu. Lina terus saja mendesak Dania. Bahkan Lina sampai tak memberi waktu Dania untuk bernafas lega.
" Hah! Oke aku kasih tahu. Tapi kamu bakalan percaya apa enggak. Itu urusan Kamu ya!"
Bagaikan seperti anak anjing, Lina duduk dan menatap Dania antusiasme, mendengar segala yang akan Dania katakan.
" Jadi!!!"
Dania menceritakan kisah masalalunya itu pada Lina.
" Ha? Jadi Pak Dion cinta pertama kamu waktu SMA? Gila sih! Ku kira Pak Dion jatuh cinta pandangan pertama sama kamu." Lina langsung menghempaskan tubuhnya di bahu kursi mobil.
" Keren Lo Dan, emang enak ya jadi orang cantik. Kasih tau caranya dong buat gaet CEO. Jadi pengen berguru sama Kamu aku!" Celetuk Lina terdengar sungguh-sungguh.
" Plak." Dania mencolek pipi Lina, mana ada suhu, bahkan seumur hidupnya Dania baru menjalin hubungan dengan dua orang. Dulu Dion bukanlah orang berada seperti sekarang. Dan siapa sangka justru dirinya akan menjadi bawahan sang Mantan sekarang.
" Kamu cantik tahu. Sangat cantik. Masih jomblo karena belum ketemu aja sama jodohnya!" Dania tak mau Lina merasa seperti itu. Dania memberi Lina petuah. Meskipun Lina beranggapan jika hidupnya mujur, nyatanya tidak demikian! Dania harus menerima penolakan dari keluarga Riki sendiri dan Lina juga tahu akan hal itu.
" Lo kenapa diem Dan?" Tanya Lina, Dania terlihat murung sekarang.
" Jujur aku iri, mereka teman seangkatan bisa sukses! Aku masih jadi karyawan aja belum lama." Ucap Dania.
" Ya elah, baru tadi gembor-gembor kasih semangat, mana kata bijaknya udah kayak motivator. Eh sekarang malah mlempen. Macem kerupuk plastik yang lupa dikaretin!" Celetuk Lina. Ternyata Dania tak sesuai dengan ucapannya.
" Hahaha, dasar Lo Lin, bikin gue klepek-klepek tau gak! Coba Elo cowok! Gue nikahin deh." Goda Dania memeluk Lina.
" Idih, terus Riki mau Lo lempar kemana?" Tanya Lina justru menanggapi halu an Dania.
" Gini, Lo Gue taro di jantung, nah Riki dihati Gue. Pas kan! " Ucap Dania asal.
" Toell." Lina mengeplak lirih kepala Dania.
" Ngaco Lo, kayak populasi manusia punah aja! Ada berjuta-juta umat kalo gue cari juga banyak yang antri tauk!" Sungut Lina.
Ada saja tingkah dua sahabat ini. Pak Gito yang ada didepan ikut tertawa mendengar obrolan mereka yang diluar logika. Tapi hal itu justru membuat Pak Gito tak pernah mengantuk saat mengangtarkan duo cerewet ini.
__ADS_1