Seimbang

Seimbang
Bab 25. Menghibur Riki!


__ADS_3

Riki sedang tak baik baik saja, tertidur tanpa ganti baju. Bahkan Riki masih mengenakan jasnya kemarin.


Kata sembab Riki mengurangi keceriaannya hari ini.


Sinar matahari yang masuk dari jendela menyilaukan matanya.


"Emhh. " Riki mulai terganggu karena panas matahari mulai menyengat.


Riki melihat jam dinding, jarum jam mengarah ke pukul 8. Hari ini Riki malas sekali pergi ke Kantor.


" Ahh udah jam segini! Hah! "


Riki sadar sudah telat baginya untuk datang ke Kantor.


"Drtt."


" Drtt."


"Drtt."


" Luna calling! "


" Riki : Halloo? Apa Luna?" Tanya Riki dengan nada malas.


" Luna : Kamu gak datang ke Kantor? "


" Riki : Enggak. Aku izin dulu ya! "


" Nutt. "


Riki tak berniat untuk mengatakan banyak hal, langsung mematikan telepon dari Luna.


" Ih..Riki tega banget. Belum juga Aku ngomong."


Luna masih tak menyangka, belum ada jawaban dari mulutnya, tetapi Riki sudah mematikan telepon.


Riki seperti enggan meninggalkan kamar. Tapi Riki baru sadar akan suatu hal.


" Astaga! Gue lupa! Dania kan udah kerja sekarang. Duh, Dia berangkat sama siapa ya!" Riki melempar selimut nya itu dan meninggalkan kamarnya yang masih berantakan.


Tante Siska memandang remeh.


" Lihat tu bocah macem gembel aja penampilannya."


Siska tak berniat menyapa Riki.. percuma saja Ia bertanya. Riki tak akan menjawab.


*


*


Pagi tadi Dania bangun menyiapkan segala baju formalnya dan yang lain. Masih sama dengan yang Riki belikan tempo hari.


Dania memeluk tubuh Bu Melati yang sedang masak di dapur.


"Ibu!" Ucap Dania pelan.


" Kenapa Nak? Laper ya! Tunggu ya sebentar lagi matang kok."


Bu Melati tak tahu jika Dania ingin memberi kabar bahagia.


" Bukan Bu!"


Dania membalikkan badan Bu Melati dan mengatakannya dengan percaya diri.


" Ibu tau gak? Kemarin Aku di tes langsung terjun ke Lapangan. Dan Aku lolos Bu?"


Ibu masih tak paham bukankah dari awal Dania sudah lolos dan bisa bekerja disana.

__ADS_1


" Ya kalo gak lolos gak mungkin diterima kan Dan?"


Dania mengecap bibirnya.


" Bukan gitu Bu,! "


" Terus?" Ibu menatap Dania ingin tahu apa maksudnya.


" Aku lolos dan sekarang udah resmi jadi karyawan tetap Bu."


" Ha??" Ibu ternganga, matanya langsung berkaca kaca.


Dania kembali memeluk tubuh Bu Melati, Mereka sedang bahagia disana.


" Ibu gosong! " Dania melihat kepulan asap dari penggorengan. Dan ayam mulai berubah menjadi setengah gosong.


" Hahaha." Dania dan Bu Melati kembali tertawa. " Ini jelek banget ayamnya Bu." Dania mengangkat ayam goreng itu. Terlihat hitam pekat seperti ayam bakar.


Pak Burhan keluar dari kamar mandi melihat istri dan anaknya sedang menertawakan sesuatu.


" Kalian rame banget ada apa sih?"


"Ayah! Tau gak Dania udah diangkat karyawan tetap loh! "


" Serius ? Itu beneran Dan? "


Dania mengangguk setuju. Pak Burhan kembali memeluk mereka berdua.


" Akhirnya Anak Ayah berhasil. Duh Ayah jadi terharu." Kali ini air mata Pak Burhan yang keluar.


Mereka seperti tokoh Teletubbies yang sedang berpelukan bersama di dapur kecil, membuat tubuh Mereka saling berhimpitan.


" Loh kok Aku gak diajak? " Sungut Eric melihat keluarganya tak mengajaknya juga.


" Sini sini anak bujang Ayah! "


Pak Burhan melambaikan tangannya mangajak Eric ikut serta. Eric ikut berpelukan tanpa tahu alasannya.


" Hehe. Adikmu lolos dan sekarang udah resmi jadi karyawan tetap Ric."


Eric langsung mendekati Dania.


" Ya ampun selamat Dania Sayang. Akhirnya." Eric tak kalah histeris mengangkat tubuh Dania dan mencium pipi Dania.


" Emuacchh. Emuacchh. Emuacchh."


"Kakak. Nanti makeup ku luntur tahu!" Dania ingin melepaskan diri tapi tak kuat melawan tenaga Eric.


" Ibu! Tolong! " Dania mulai mengadu agar Bu Melati mau menolongnya.


" Hahahaha. Kalian ini! " Pak Burhan dan Bu Melati justru bahagia melihat kedua anaknya yang akur. Pak Burhan justru mengecup kening Bu Melati. Sungguh keluarga yang bahagia.


Selepas sarapan Dania langsung pergi bekerja. Sebelum memesan ojek online. Dania melihat Drive pesan masih kosong. Tidak ada pesan masuk dari Riki.


" Pesanku kok belum dibaca Riki ya?" Dania mulai khawatir sejak semalam Riki tak memberi kabar padanya.


Jam menunjukkan pukul 6.15 menit. Dania tak mau terlambat, akhirnya memesan ojek online. Selang sepuluh menit ojek pesanan datang menghampirinya.


Riki sudah tiba dirumah Dania melihat jam ditangannya itu.


"Hah! Telat lagi! Dania udah berangkat!"


Tentu saja saat Riki datang sudah jam sepuluh.


" Haha. Goblok banget!"


Riki mulai sadar sejak kepergiannya dari rumah saja sudah jam sembilan dan tiba disini memang seharusnya jam sepuluh.

__ADS_1


"Dania Aku butuh Kamu!" Ucap Riki mulai rindu dengan Dania. Hanya Dania yang bisa membuat hatinya tenang.


Riki berniat untuk menyusul Dania ke Kantornya.


*


Dania sudah sibuk sebagai karyawan tetap. Menerima telepon dari customernya kemarin. Dania juga akan bertemu lebih intens untuk membahasnya.


" Wah bagus banget!" Ucap Dania melihat ruang kerjanya yang baru. Hal yang tak pernah Dania bayangkan menjadi karyawan tetap secara cepat pula. Mungkin ini balasan dari Tuhan karena sikap sabarnya selama ini.


" Terimakasih banyak ya Tuhan."


Ucap Dania lirih tak melupakan peran yang Maha Kuasa sehingga Dia bisa ada disini.


Dania sedang menyalin berkas di Komputer. Menulis beberapa tata letak bangunan yang lain. Dania juga akan mengambil beberapa projek baru lagi.


Ia akan membantu membuat sukses Perusahaan ini karena telah memberinya kepercayaan.


Tak terasa saatnya jam makan siang. Dania pergi keluar untuk mencari makan. Matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir.


"Loh kayak mobil Riki?"


Dania melihat kanan kiri untuk menyebrang, memastikan apakah itu Riki atau bukan.


"Tok."


"Tok."


"Tok."


Dania mengetuk kaca mobil itu.


"Srakk." Kaca mobil terbuka betapa terkejutnya Dania melihat penampilan Riki sangat berantakan.


" Riki? Kamu kenapa? "


Dania membuka pintu mobil dan duduk disebelahnya.


" Hiks hiks." Riki justru kembali menangis.


" Riki? Are you okey?" Tanpa disuruh Dania memeluk erat tubuh Riki menepuk bahunya dengan penuh pengertian.


" Hiks hiks. Mama pergi lagi Dan, semalem Mama sama Papa ribut lagi."


Dania mulai mengerti permasalahan yang sedang Riki alami.


" Sabar ya Ky,"


Riki masih menangis mencurahkan isi hatinya yang membuat dadanya sesak.


" Udah makan belum?"


Riki hanya menggeleng pelan.


" Tunggu ya! Aku beli makanan dulu."


" Gak usah! Aku gak laper!"


Dania tetap saja berjalan mencari makanan, Ia tahu Riki pasti belum mengisi perutnya pagi ini.


Beberapa saat Dania kembali dan membawa bubur ayam.


Dania membuka bubur itu. Dan menyuapi Riki.


" Hak!" Dania menyodorkan bubur itu ke mulut Riki. Riki sebenarnya malas tapi karena Dania, Ia jadi semangat.


" Pinter ih anak bontot." Seloroh Dania menimbulkan senyuman dari bibir Riki.

__ADS_1


" Hehe. Kamu jangan kayak gitu. Nanti Aku cinta mati loh." Dania tersenyum manis lebar. "Ya Kamu tanggung sendiri lah perasaan Kamu itu. Kok Aku yang disalahin." Ucap Dania.


Riki menatap Dania dengan tatapan yang beruntung. Wanita ini telah mengubah moodnya yang sedang jelek menjadi lebih baik sekarang.


__ADS_2