Seimbang

Seimbang
Bab 56. Ketabahan Dion!


__ADS_3

" Jadi Pak Dion ini adalah Atasan Dania!" Jawab Dania.


Eric, Bu Melati, Pak Burhan masih terpaku.


" Dunia sempit banget prasaan!" Ucap Eric tak menyangka, Perusahaan Baskoro adalah milik Dion Cakra.


" Iya yah! Kok kamu gak pernah ngomong sih Dan," tanya Bu Melati juga.


Dania bahkan tak mengira jika Dion akan datang dan membuat heboh rumahnya.


" Sudah-sudah berhenti menyalahkan Dania! Mungkin Dania juga baru tahu jika Perusahaan itu milik Dion.


Jadi Nak Dion ini Atasannya Dania, ada perlu apa datang kemari Nak?" Tanya Pak Burhan.


Dion mengeluarkan sesuatu dari sakunya itu.


" Saya mau nganter slip gaji Dania Pak. Dania ini!" Ucap Dion tangannya menyerahkan slip gaji itu.


" Wah, terimakasih Pak, tapi tadi udah masuk kok di rekening saya gajinya!" Ucap Dania.


" Loh, kalo udah masuk kok masih galau di kamar? Keluar lah shopping, atau beli seblak." Cibir Eric.


" Ish, biarin lah Kak, Dania juga baru tau sekarang kalo gajinya udah masuk!" Protes Dania membalas cibiran Eric.


" Kalian masih sama ya! Suka ledek-ledekan!" Ucap Dion sambil tersenyum.


Mereka akhirnya mengobrol diruang tamu, Pak Burhan izin tak bisa berlama-lama karena harus berjualan. Dengan mudah Dion berbaur pada keluarga yang sudah tak asing lagi baginya.


*


Dania hendak pergi keluar untuk membeli baju baru, ia tak mau lagi memakai baju pemberian Riki, itu akan membuatnya terbayang-bayang dan susah melupakan Riki.


" Lo mau kemana Dan?" Tanya Eric


" Mau ke Toko cari baju kerja Kak!" Jawab Dania.


" Lah tadi gak bareng sama Dion? Kan lumayan gak perlu jalan jauh?" Ucap Eric mengingat Dion baru pergi beberapa waktu lalu.


" Enggak! Dania mau pergi sendiri aja." Ucap Dania datar, Dania mengambil sepatu di rak. Dan berpamitan pada Bu Melati.


" Eh jangan lupa mie ayam tiga mangkok!" Ucap Erik berteriak.


" Banyak amat!" Protes Dania.


" Kan buat Ibu satu, aku dua dong." Ucap Eric mengangkat satu alis kirinya.


Eric tahu meskipun Dion pernah mengisi hati Dania tetap takkan mudah untuk mengisi kembali,


Dania berangkat sendiri, menyusuri jalan, ternyata Dion berhenti di kedai Pak Burhan sengaja ingin mengobrol lebih lama lagi.


" Loh Dania mau kemana?" Tanya Pak Burhan melihat anak gadisnya berjalan sendirian.

__ADS_1


" Eh, Pak Dion masih disini?" Tanya Dania melihat Dion duduk disamping Ayahnya.


" Iya! Kangen sama ayam bakar 99. Kamu mau kemana?" Tanya Dion melihat Dania menggunakan kaos Rib dan rok tutu setinggi lutut itu. "(cantik!)" Puji Dion dalam hati.


"Ini mau ke depan Pak! Misi. Ayah aku keluar dulu ya!" Pamit Dania.


" Aku anter ya Dan!" Tawar Dion.


" Em, gak usah Pak nanti ngrepotin!" Jawab Dania. Dion menggerakkan kedua tangannya, " Enggak kok! Aku juga mau jalan ke depan! Pak ini uangnya!" Ucap Dion.


" Eh gak usah Nak, bawa aja!" Titah Pak Burhan.


" Jangan Pak! ini rejeki gak boleh ditolak!" Ucap Dion tegas. Akhirnya Pak Burhan mengalah, " Baiklah Nak Dion bapak terima ya! Terimakasih banyak!" Ucap Pak Burhan.


Dania terus berjalan sengaja menghindari Dion.


Dion menyalakan mesin mobilnya itu dan pergi mengejar Dania.


" Sett."


" Dan, ayo masuk!" Ajak Dion.


Dania hanya menoleh, melihat Dion sampai seperti ini akhirnya Ia tak tega.


" Hem, baiklah! " Dania membuka pintu mobil dan masuk.


" Nah gitu kan pinter! " Puji Dion senang.


" Siap Tuan Putri!" Goda Dion.


Akhirnya Dion mempunyai waktu untuk berdua dengan Dania, hal yang selalu menjadi mimpinya agar terwujud.


Dania melihat pemandangan disepanjang jalan, Ia sebenarnya merasa canggung. Baru saja mendapatkan gelar single, Ia sudah dekat dengan laki laki lain. Ia malah terkesan seperti wanita murahan. Walaupun kenyataannya Dia lah yang diputuskan secara sepihak.


"Ini bukan Dan!" Tanya Dion, melihat sebuah toko lumayan besar.


" Iya Pak! Makasih ya udah repot-repot mau anterin saya!" Ucap Dania, ketika ingin keluar dari mobil, Dion menarik tangannya.


" Mau aku temenin belanja?" Tanyanya.


" Eh? Tapi lama lho Pak!" Jawab Dania.


" Gak papa kok!" Ujar Dion santai.


Akhirnya Dania mengizinkan lagi Dion untuk menemaninya berbelanja. Melihat sebuah baju tak ber merk itu tapi memiliki kualitas yang tak kalah bagus.


" Ini bagus!" Ucap Dion ketika Dania memilih setelan formal berwarna peach, " Iyakah Pak? Apa cocok untuk kulit saya?" Tanya Dania.


" Dan, ini kan bukan di Kantor jangan panggil Pak lah!" Protes Dion tak nyaman.


" Hehe maaf, iya deh Kak."

__ADS_1


" Deg."


"(Sial Kenapa lagi nih jantung!)" Guman Dion kesal, tangannya kini memegangi dadanya. Dion melihat Dania sedang sibuk berbelanja. Ingin rasanya Dia membayar semua itu, tapi Dion tahu, Dania tak akan menyukainya.


" Dan, beli Boba yuk!" Ajak Dion lagi


Dania memutar kedua bola matanya, dan sejenak berfikir. Dania kemudian menekan dagunya dengan telunjuk tangannya.


" Boleh! Tapi aku yang traktir ya!" Ucap Dania.


" Widih, boleh tuh, yuk!" Ucap Dion setuju. Mereka berjalan mencari penjual Boba, dan beberapa meter ada penjual minuman itu.


Dania jadi teringat dengan Riki, kini air matanya kembali terjatuh.


" Hiks hiks hiks."


Dion tak sadar jika Dania sedang menangis, Dion justru sedang menikmati suasana malam yang penuh dengan sinar lampu berwarna.


Dion menoleh ke belakang melihat Dania sudah berderai air mata.


" Dania kamu kenapa?" Tanya Dion.


" Hiks, hiks, Kak aku keinget sama Riki, ini gajian pertama kali. Padahal Riki dulu suka beliin aku sesuatu. Harusnya aku bales kebaikan dia dulu, baru putus. Jadi aku tuh biar lega hatiku kak, biar gak ganjel!" Ucap Dania sambil terisak. Dion memeluk tubuh Dania, mengusap lembut rambutnya.


" Besok pasti ada waktu buat itu Dan, kamu tunggu aja." Ucap Dion menenangkan, Dion tak ingin terburu-buru untuk mengisi hati Dania, biarkan itu mengalir apa adanya. Bagi Dion bisa seperti ini saja sudah lebih dari cukup.


*


*


Riki pulang dari kantor melihat rumahnya sedang di dekorasi, acara pertunangan akan berlangsung dengan sangat meriah.


" Wah, Mama keren banget! Padahal acaranya mendadak tapi udah bisa cari cepet juga!" Puji Riki atas kerja sama Atmika. Hal itu tentu saja sangat mudah bagi orang yang banyak memiliki uang.


" Eh, Anak Mama pulang!" Sapa Atmika.


Riki tersenyum sumringah, memeluk Atmika mereka berjalan menuju ruang tengah. Ruangan itu kini telah disulap menjadi aula tempat pertunangan akan digelar.


" Sayang! Besok acaranya kan jam empat sore. Kamu cuti dulu ya!" Pinta Atmika.


" Iya Mah, besok aku cuti kok. Riki masuk ke kamar dulu ya!"


Riki menaiki tangga dengan berdendang, Atmika justru menitikkan air mata, dan buru-buru dihapusnya.


" Aku harus kuat! Lagian Luna juga gadis yang baik, dia anaknya Rossi, sahabatku sendiri." Ucap Atmika.


Atmika mengatur segala persiapan itu sendiri, di bantu oleh pihak penyelenggara.


Anggoro sedang menemani Nani di Rumah Sakit sekarang.


Atmika sengaja melarangnya Riki untuk pergi ke Kantor karena takut tak sengaja bertemu dengan Dania, lebih baik Riki dirumah agar Atmika bisa mengawasinya.

__ADS_1


" Loh Ma? Kok tulisannya?" Ucap Riki melihat nama di papan yang sedang dihias.


__ADS_2