Seimbang

Seimbang
Bab 33. Masih ingat dengan Dani?


__ADS_3

Masih ingat dengan Dani? Tukang bully yang sering mengganggu Riki di Sekolah waktu SMA. Dani selalu mengganggu Riki tanpa tahu alasannya apa.


Kehidupan Dani sekarang berubah drastis, Ayahnya terbukti bersalah dan di Penjara.


Dani harus menjadi tulang punggung, mencari nafkah untuk Ibunya Mila dan kedua adiknya Ratna dan Elsa.


Dani hidup sebagai tukang bersih bersih di Sebuah Kantor. Sayangnya Kantor itu sedang mengadakan pengurangan karyawan dan Dani termasuk dalam list itu.


" Maaf Dani, mulai hari dengan sangat terpaksa Kamu Saya berhentikan. Sebagai gantinya, Perusahaan akan memberikan uang pesangon." Ucap Pak Direktur beberapa tahun yang lalu.


Kala itu Dani hanya bisa menerima keputusan itu karena banyak juga yang mengalami hal yang sama.


Uang pesangon yang diberi digunakan Dani untuk modal usaha. Dan tiba saatnya Dani datang ke Perusahaan penjualan milik Riki.


" Mudah-mudahan Perusahaan ini mau bantu buat masarin dagangan Aku." Ucap Dani penuh harap.


Dani membawa map berisikan deskripsi tentang produknya itu. Dengan tekad yang tinggi, Dani berharap produknya bisa diterima oleh Perusahaan dan diperjual belikan.


Dani melihat Perusahaan itu berdiri megah di pinggir jalan, bersih dan bertingkat semakin menambah citra baik di gedung itu.


" Selamat Pagi! Ada yang bisa kami bantu? " Tanya Emil petugas Resepsionis yang berjaga.


" Pagi Bu, Saya mau daftarin keripik Saya. Mau minta bantu pasarin!" Ucap Dani.


" Oh, silahkan duduk dulu Pak, dan bisakah Bapak menunjukkan dokumen agar Atasan Kami lebih mudah untuk mengeceknya?"


Dani menyerahkan map kuning itu pada Emil, dan duduk menunggu dikursi yang telah di sediakan.


Emil mencoba menghubungi Luna, karena Riki belum datang ke Kantor.


" Emil : Selamat pagi Bu, ini ada customer baru yang mau ikut kerjasama. Baiknya bagaimana ya Bu?"


" Luna : Tanyakan dulu, mau ditinggal dan mengantri atau bersedia menunggu kedatangan Riki Mil, "


" Emil : Oh, baik Bu, Saya tanyakan terlebih dulu."


Emil menutup gagang suara itu dengan tangannya. Dan kembali berbicara pada Dani.


" Maaf Pak, karena Pimpinan Kami belum datang, Bapak bisa meninggalkan berkas dan mengantri. Tapi jika Bapak bersedia menunggu Pimpinan Kami datang, maka berkas Bapak akan segera diproses."


Dani terlihat berfikir sejenak kemudian memutuskan.


" Saya tunggu saja Bu, lagipula Saya tak ada kerjaan."


" Baiklah Pak, Saya akan konfirmasi ke Ibu Luna."


Emil kembali membuka gagang suara itu dan berbicara pada Luna.


" Emil : Bu, Beliau bersedia menunggu!"

__ADS_1


" Luna : Baiklah,"


Emil menutup sambungan telepon dan kembali pada pekerjaannya.


"


Riki telah datang memasuki Kantor dengan tampilan yang gagah rupawan.


Security juga membantu membuka pintu untuknya.


" Selamat Pagi Pak Riki! " Sapa Security itu.


Riki hanya tersenyum mengangguk kembali melangkah.


Riki lebih dulu datang ke Resepsionis untuk mengisi daftar hadir.


Emil memberitahu jika ada seseorang yang menunggunya.


" Pak, ada customer baru yang ingin bekerja sama." Ucap Emil.


Dani ternganga saat melihat Riki datang dan Emil menyebutnya dengan sebutan "Pak".


" Jadi ini Perusahaan milik Riki?" Dani malu sekali dan mengurungkan niatnya .


" Mau kemana Pak? ," Tanya Emil ketika melihat Dani akan pergi.


" Ehm, maaf Saya tidak jadi." Ucap Dani lirih. Riki mengenal jenis suara itu dan menarik bahunya.


Riki tak salah lihat memang itu Dani, orang yang sangat membenci dirinya kini datang untuk bekerjasama.


" Bukan!" Jawab Dani mengelak.


" Jangan bohong! Kamu Dani kan? Ada apa? Katanya mau kerjasama? " Tanya Riki lagi.


Dani menatap Riki dengan perasaan campur aduk. Antara malu dan berharap entah lebih penting yang mana.


" Riki! Apa Kamu masih mau bekerjasama denganku? Setelah dulu Aku suka sekali menganggu Kamu!"


Tentu saja Riki ingat, bagaimana sikap Dani dulu. Tapi Riki lebih ingat lagi pesan Dania jangan menyerang musuh yang sudah tumbang, bantulah Dia bangkit maka Kamu lah pemenangnya.


" Ya Aku masih ingat. Dan Kau tinggal minta maaf kan? " Ucap Riki memberikan kesempatan untuk Dani.


" Apa masih bisa? " Tanya Dani lesu.


" Tentu saja. Tuhan Maha pemaaf dan Aku hanyalah umatnya Dani! " Riki menepuk bahu Dani.


" Ayo kita duduk!"


Riki dan Dani duduk di ruang tunggu, Dani menangis, Dia malu sekali tapi juga merasa lega karena Riki mau memberikan kesempatan.

__ADS_1


" Aku minta maaf, Aku dulu iri padamu. Aku gak ingin Kau sampai menyaingi kepopuleranku di Sekolah." Ucap Dani. Akhirnya sekarang Riki tahu alasan Dani dulu membencinya.


Riki tersenyum


" Sekarang apa tujuanmu kesini? Kau ingin meluncurkan produk apa? Makanan atau kebutuhan sandang?"


Dani mulai mengutarakan niatnya, Emil juga menyusul dan memberikan Map milik Dani tadi. Riki membuka Map itu dengan seksama.


" Baiklah, besok Kau bisa membawanya kesini! " Ujar Riki setuju jika produk Dani akan bekerjasama dengan Perusahaannya.


" Wah terimakasih Riki! Aku berhutangbudi padamu."ucap Dani


Sakingnya Dani memeluk Riki, dan dibalas Riki dengan mengusap bahunya.


" Sekarang Aku pulang dulu. Terimakasih untuk semuanya Riki. Pantas saja sekarang Kau menjadi sukses!" Dani mulai mengerti orang baik akan mendapatkan hal baik pula.


Riki kembali masuk ke ruangan. Ia mulai mengotak atik laptop kerjanya yang dari kemarin belum di sentuh.


Riki sebenarnya sedang tidak fokus mengingat kejadian yang menimpa Pak Burhan.


" Sebenarnya Siapa yang udah bikin Pak Burhan sampai celaka. Kenapa?" Riki tahu dari dulu keluarga Pak Burhan tak memiliki musuh. Tapi kenapa sekarang Mereka diganggu?


" Jangan-jangan ini ulah Nenek?"


Tapi Riki tak memiliki bukti untuk menuduh itu. Pak Burhan dan keluarganya sudah memaafkan tapi tidak untuk Riki.


" Awas saja. Kalo sampai terbukti ini ulah Nenek, Gue gak akan tinggal diam."


" Kriett."


Luna masuk ke ruang kerja Riki tanpa mengetuk pintu dan itu membuat Riki marah padanya.


" Hey! Apa Kau tak pernah belajar sopan santun hah! " Sentak Riki tapi Luna justru tak perduli dan duduk di meja kerja Riki.


" Kamu, jangan kurang ajar! " Riki ingin mendorong tubuh Luna, tapi Luna membuat badannya semakin berat enggan pergi.


" Kamu, jangan galak- galak dong sama Aku? " Luna membelai dasi Riki menggoda Riki dengan tatapan manja.


" Kamu ngapain Lun, minggir!" Sentak Riki lagi.


" Kamu kenapa sih milih Dia dan bukan Aku aja? Aku lebih kaya, cantik, pastinya lebih dari segalanya." Luna meraih wajah Riki yang melihat ke arah lain.


Luna benar benar sudah gila sekarang.


Luna justru semakin berani meraih tangan Riki , memberi perintah tangan Riki untuk memegang wajahnya itu.


Riki tahu ini hal yang sia-sia jika Ia lawan sama kerasnya. Riki mulai diam menunggu serangan Luna, untuk menunggu lengah.


Perlahan Luna mendekatkan wajahnya itu dan mencoba merekatkan bibir keduanya.

__ADS_1


Dan akhirnya..........


to be continued....


__ADS_2