
Rossi seperti orang kaya yang lain. Sedang bersantai dan duduk melihat acara TV, ditemani dengan camilan dan secangkir susu hangat. Tak perlu risau masalah keuangan karena sudah mengalir deras ke nomer rekening.
" Luna, tumben sekali kamu berolahraga?" Tanya Rossi melihat Luna sedang berlari di treadmill sejak tadi.
Luna mengelap air keringatnya dengan handuk kecil yang tersampir di pundaknya.
" Gak papa Ma, pengen aja." Jawabnya singkat, padahal Luna sengaja beraktivitas berat agar tak menjadi janin di rahimnya.
Rossi duduk dan mengambil majalah, acara Tv cukup membuatnya bosan, hingga akhirnya terdengar suara mobil yang datang.
" Eh siapa itu?" Tanya Rossi bangkit dari tempat duduknya, melihat Atmika sudah membuka pintu sendiri tanpa harus Rossi membukanya.
" Atmika! Kapan kau datang!" Ucap Rossi.
Rossi memeluk erat tubuh sang sahabat, tentu saja Atmika membalasnya dengan tangan terbuka.
" Bagaimana kabarmu Rossi? Kau tambah cantik saja?" Puji Atmika.
" Dan, Kau sekarang malah terlihat seperti ABG?" Puji balik Rossi.
" Tante!" Luna menyalami tangan Atmika, tapi raut wajah Atmika seperti malas. Hanya saja Ia tak mau membuatnya Rossi curiga, dengan susah payah Atmika mengulas senyuman di bibirnya itu.
" Luna tolong bikinkan minum untuk Tante Atmika!" Titah Rossi pada Luna.
Tanpa menjawab Luna langsung pergi ke dapur untuk membuatnya.
" Ada apa Atmika? Kenapa kau kemari?" Tanya Rossi.
" Jelas aku merindukanmu, tapi aku tak bisa lama-lama. Ibu mertuaku kemarin kecelakaan." Ucap Atmika, Rossi menutup mulutnya yang menganga itu.
" Astaga! Aku baru tahu! Maafkan Aku Atmika, sungguh aku baru tahu sekarang!" Ucap Rossi merasa bersalah, bertambahlah rasa benci Atmika pada Luna, bagaimana bisa Ia tak memberitahu pada ibunya perihal ini. Padahal Ia tahu tentang kecelakaan yang dialami Nani.
" Jadi langsung ku katakan saja Rosii, ini aku memang terkesan mendadak. Tapi aku akan merencanakan acara pertunangan untuk Riki dan Luna besok. Jadi tolong kalian hadir jam empat sore." Ucap Atmika dengan nada tak ikhlas. Berharap tak pernah mengatakan ini. Tapi janji tetaplah janji dan harus ditepati. Luna keluar membawa minuman, lihat gadis licik itu merasa telah memenangkan hati Riki sekarang. Apalagi acara pertunangannya akan segera berlangsung.
" Eh! Kenapa mendadak sekali! Apa kau serius?" Tanya Rossi.
" Ya! Meskipun terdengar seperti tak tulus. Tapi ku harap ini yang terbaik. Baiklah! Aku pulang dulu! Jangan lupa ya Rossi. Kabari suamimu!"
" Emuacchh."
Atmika mengecup pipi kanan dan kiri Rossi itu dan pergi lagi. Atmika bahkan tak sudi untuk meminum minuman yang Luna buat untuknya.
*
*
Cerah, dan cerah, Riki tak berhenti membayangkan kisah cintanya akan berjalan mulus. Bertunangan dengan Dania adalah tujuannya dan menikah dengan Dania juga termasuk dalam cita-citanya.
__ADS_1
Bodohnya Riki justru tak mencoba menghubungi Dania dan percaya saja atas ucapan Atmika. Riki tak tahu jika Ibunya justru memutuskan hubungannya.
" Dania, akhirnya!" Ucap Riki senang.
Mulutnya tak berhenti bersenandung, Emil yang masuk untuk memberi laporan sampai merasa bingung dengan tingkah Atasannya itu.
" Sepertinya suasana Pak Riki sedang bagus dan cerah!" Cetusnya. Tapi Emil tak berhenti untuk menyapa atau bertanya lebih dalam lagi.
Setelah Riki membaca dan menandatangani, Emil pergi.
*
Dania harus semangat, meskipun rasa semangat sudah patah, Ia tetap profesional untuk mengerjakan semuanya, apalagi hari ini tepat sebulan Ia berkerja dan nanti sore akan mendapatkan gaji pertamanya.
" Aku WhatsApp Kakak, aja deh." Ucap Dania mencoba menghubungi Eric.
"Tik, tik, tik,"
" Dania : Kakak nanti jemput aku ya! Please!"
" Send."
" Eric : oke adik manja!"
" Ish, apa sih Kakak!" Sungut Dania sambil tersenyum.
Dania tahu ini akan jadi kesempatan bagi Dion untuk mengantarnya pulang, jadi Dania tak mau hal itu terjadi dan memilih menghubungi Eric
" Dion! Sepertinya ada yang salah dengan otakmu!" Ketus Tina.
" Hehe, jika salah tolong benahi Kak. Jangan hanya marah-marah saja." Tantang Dion dengan cengengesan.
Tina bersiap melempar dokumen tebal itu kearahnya. Dan Dion langsung gelagapan. " Kakak jangan! Gila ya!" Ucap Dion.
" Kau yang gila! Kenapa dari tadi mulutmu hanya tersenyum! Jijik sekali aku melihatnya!" Ketus Tina lagi.
" Kakak ,aku sedang bahagia! Dania sudah putus dengan pacarnya. Dan sekarang aku punya kesempatan besar!" Ucap Dion.
Tina mengubah ekspresi wajahnya menjadi penasaran, mendekati sang Adik yang duduk di sofa.
" Eh, kenapa bisa putus?" Tanya Tina.
" Jadi..." Dion menceritakan semuanya yang sudah Ia lihat tadi.
" Ya ampun. Jahat sekali! Padahal Dania adalah anak yang baik. Ah, memang Dania tak pantas mendapatkan keluarga seperti itu! Rebut dia Dion kita buat Dania bahagia!" Ucap Tina ber api-api.
Tina memang ipar yang baik. Jika saja Dania berjodoh dengan Keluarga Dion betapa Ia akan dijadikan Ratu oleh keluarga itu. Sayangnya hati tidak ada yang bisa memaksa bukan!
__ADS_1
*
*
Tanpa Siska dan Luna tahu, Riki telah melaporkan tindakan tabrak lari iri pada Polisi. Meskipun mereka menggunakan jasa orang lain, tapi Polisi bisa dengan mudah melacak keberadaan orang itu. Mereka langsung menyisir tempat dan cctv untuk mengetahui nomor plat mobil itu.
Biarlah Luna dan Siska mengalami kemenangan sesaat, tibalah besok mereka akan menerima karmanya.
Roy mantan Luna sedang berdiam diri, Ia masih terbayang wajah sang mantan.
" Luna! Bahkan desahanmu masih terngiang di telingaku!" Ucap Roy.
Roy bisa menebak jika Luna pasti hamil, dia beberapa kali menembakkan cairan putih miliknya itu kedalam, kecuali jika Luna meminum obat kontrasepsi.
"Jika kau hamil, dengan senang hati aku akan menikahi mu Luna."
Roy adalah mantan Luna, bahkan mereka saling mencintai. Sayangnya Roy bukan anak orang kaya, dia hanya anak orang biasa. Meskipun Ayahnya seorang pegawai Negeri.. tapi menurut Luna dia tetap tak seimbang dengan keluarganya yang pengusaha.
Padahal Keluarganya tidak menentang hubungan Mereka, bahan Rossi sangat setuju. Tapi sifat gengsi Luna lebih tinggi daripada rasa cintanya itu.
*
Eric dengan motornya, duduk diemperan jalan menunggu adikya keluar. Ia ingin bertemu dengan Lina sekalian, tapi ketika melihat mata sembab Dania, Eric mengurungkan niatnya itu.
" Udah?" Tanyanya.
" Udah kok Kak, kakak mau kemana?" Tanya Dania.
" Enggak ada. Nih helm!" Eric menyodorkan helm itu.
Dania menggunakan helm itu. Dan mereka pulang.
Diperjalanan Eric sesekali melihat Dania dari kaca spion.
" Dan, ada apa?" Tanya Eric.
" Hiks, hiks, " Dania tak menjawab memeluk erat tubuh Eric.
Eric menghentikan laju motornya dan menepi, turun dari motor mengusap butiran kristal yang turun deras dari mata adiknya.
" Kakak, aku cerita dirumah aja. Malu!" Ucap Dania. Mereka memang berhenti di pinggir jalan. Dan banyak orang melihat ke arahnya.
" APA LO LIHAT-LIHAT! GUE COLOK NIH MATANYA!" Hardik Eric pandangan remeh itu juga menyakiti hatinya sebagai Kakak.
Dania meskipun menangis, tersenyum haru. Kakaknya benar-benar melindungi dirinya sepenuh hati. Eric melanjutkan perjalanan dengan sedikit menaikkan gas motornya agar cepat sampai.
Bu Melati heran melihat kedua anaknya pulang bersama.
__ADS_1
" Loh Dania Kenapa??"
To be continued...