
Riki melajukan mobilnya menuju kantor Polisi, Atmika tak ingin banyak bertanya. Takut akan membuatmu Riki tambah membenci dirinya. Atmika hanya melihat jalanan, dan mengikuti kemanapun Riki pergi.
Setelah itu Riki masuk ke halaman Kantor Polisi.
"Brak."
Riki menutup pintu mobil, berjalan menuju ke dalam Kantor.
" Selamat Siang Pak Riki!" Mari ikut saya ke Ruang penyidik.
Riki mengikuti Pak Jaka anggota Kepolisian yang sudah datang menyapanya.
Riki duduk dikursi yang telah disediakan, dan Pak Jaka masih sibuk mengotak atik komputer. Tangan Paka Jaka berhenti.
" Pak, apakah ini mobil saat digunakan pada hari kejadian?" Tanyanya.
Riki berdiri, dan mendekat. Melihat dilayar komputer itu dengan seksama. Atmika itu mengekori Riki. Karena dia lah yang ada disana saat itu, tentu lebih baik jika dirinya juga ikut melihat.
" Ah iya Pak!" Jawabnya tanpa Ragu.
" Ibu tidak salah kan?" Tanya Pak Jaka lagi.
" Tidak Pak, karena saat itu saya yang mengantar Ibu!" Ucap Atmika lagi. Tak salah karena dialah saksinya.
Pak Jaka mangut-mangut dan mempercepat durasi video.
" Nah ini Pak Riki, mobil yang sudah menabrak Ibu Nani." Ucapnya. Menunjukkan video mobil kijang bewarna abu-abu.
" Wah, Mereka langsung lari ya Pak?" Tanya Riki,
" Iya Pak, benar sekali! Dan saat ini anak buah kami sedang melakukan pengejaran!" Ucap Pak Jaka.
" Jadi saat ini silahkan tunggu kabar dari kami ya Pak!" Tutupnya lagi.
" Baik Pak, kami akan tunggu kabar baik dari Bapak!" Ucap Riki lagi.
Atmika mengusap tangannya, gemetar. Saat kembali melihat kejadian naas itu di dalam rekaman cctv. Riki sadar tak tega melihat Atmika ketakutan.
Tangannya mengusap bahu ibunya, dan menggenggam tangannya agar lebih tentang. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tapi tindakannya membuat Atmika haru.
" Kami boleh pulang Pak?" Tanya Riki,
" Tentu! Silahkan!" Jawab Pak Jaka. Riki dan Atmika berjalan keluar, dan tangan Riki senantiasa menggenggam jemari ibunya itu.
" Mama mau kemana? " Tanyanya.
" Mama mau kerumah sakit! Hari ini Nenek pulang!" Ucap Atmika dengan menunduk. Semula Riki ingin pergi menggunakan taksi, tapi melihat kondisi sang Ibu akhirnya Dia memilih untuk mengantarkan Atmika ke Rumah Sakit.
" Ayo Riki antar!" Ajak Riki datar.
Atmika hanya mengangguk.
Kini mereka berpindah tempat menuju Rumah Sakit.
Riki tak banyak bicara bahkan hanya diam. Atmika memainkan jari kukunya. Rasa bersalah semakin tertumpuk, mulutnya gatal ingin menceritakan alasannya tapi ia ingat pesan Luna.
Atmika dan Riki memarkirkan mobilnya tapi melihat Anggoro sudah menunggu di depan pintu masuk.
__ADS_1
" Sayang kamu ngapain disini?" Tanya Atmika melihat Anggoro berdiri disini.
" Kita udah pulang Atmika! Kenapa kamu lama banget!" Cebik Anggoro sedikit kesal menunggu Atmika tak kunjung datang.
" Maaf Pa, tadi kita ke Kantor polisi dulu!" Ucap Riki menjawab pertanyaan Papanya.
" Loh , kamu gak ke Kantor? Kok Mama sama kamu?" Tanya Anggoro.
" Papa tanya aja sama Mama. Riki mau balik ke Kantor dulu!" Tapi Atmika menarik tangannya.
" Kamu pakai mobil Mama aja! " Ucapnya memberikan kuncinya mobilnya. Riki tak bisa menolak, ini akan mempersingkat waktunya.
Riki tak menjawab, dan Anggoro merasa ada yang janggal.
" Riki Kenapa Ma?" Tanya Anggoro ke Atmika.
" Hem!" Atmika menunduk lesu.
" Hey! Kenapa Sayang!" Tanyanya lagi.
" Jadi.." Atmika menceritakan semuanya dan sukses membuat Anggoro pusing.
" Jadi Riki gak tahu kalo dia tunangan sama Luna? Ya ampun Atmika jelas aja Riki marah!" Sesal Anggoro tak menyalahkan Riki. Tapi kali istrinya memang keterlaluan.
" Aku minta maaf, aku gak ada pilihan!" Pungkas Atmika menyesal.
" Yaudah kita bahas dirumah, ayo pulang. Aku jemput Mama dulu!" Anggota menitip Nani diruang dalam,. Mereka pun menggunakan kursi roda dan menuju Lobi.
" Mama udah sehat?" Tanya Atmika pada Leli.
" Udah Sayang! Maaf ya ngrepotin Kalian!" Ujar Nani.
" Ibu, ini salah Atmika tak bisa menjaga Ibu!" Ucap Atmika juga menyalahkan dirinya.
" Kenapa malah saling ngaku salah sih, penjara penuh dong ini!" Ucap Anggoro menyela, akhirnya Nani dan Atmika berhenti,dan tergelak.
Mereka pulang dengan bahagia, apalagi Nani sekarang sudah sehat dan bisa pulang kerumah.
Riki melajukan mobilnya cepat, dan kini sudah sampai didepan Kantornya.
Riki melihat Luna berlari, dan memegang perutnya.
" Kenapa tu si Nenek sihir?" Ucap Riki heran tapi tetap melanjutkan langkahnya.
" Ahh, kenapa kok mual banget sih!" Keluh Luna tiba-tiba mulutnya ingin muntah,
Luna ingin sarapan membuka nasi yang masih hangat, dan seketika Luna merasa mual dengan baunya.
" Hoekk." Luna tak bisa menahan lagi.
Suaranya membuat Emil datang.
" Ibu Luna kenapa? Masuk angin?" Tanya Emil.
" Gak tau ini Mil, mual banget. Hoekk!" Luna tak berhenti, badannya sampai lemas.
" Pulang aja ya Bu, biar di antar Pak Riki!"
__ADS_1
Emil menuju ruang kerja Riki untuk memberitahu. Emil mengetuk pintu pelan
" Tok, tok, tok,"
"Masuk!" Titah Riki.
" Apa ?" Riki Langsung bertanya,
" Pak, Ibu Luna sepertinya sakit, dan sepertinya harus pulang!" Ucap Emil.
" Ya suruh pulang aja. Kenapa kamu kesini?" Tanya Riki.
" Bapak kan tunangannya!" jawab Emil lagi.
Riki mengehela nafas kasar, memandang Emil dengan tatapan tajam.
" Hem! Emil! Kamu banyak kerjaan gak?" Tanyanya.
" Eh, enggak Pak saya lagi kosong!" Jawab Emil.
" Oke, silahkan kamu antar Luna. Saya banyak kerjaan! Bisa kan?" Ucap Riki mencoba bersabar, walaupun mulutnya ingin mengumpat.
" Eh baik pak!" Emil pergi dengan rasa penasaran, mengapa Riki sangat tak perduli dengan tunangannya sendiri, padahal Luna sedang sakit sekarang.
" Pak Riki kok jahat banget!" Ucap Emil kesal.
Emil kembali menyusul Luna, dan membantunya berjalan.
" Bu, ayo saya antar! Pak Riki gak bisa!"
Luna tak menjawab hanya terdiam, dan menurut ketika Emil memapah tubuhnya.
Riki melihat semua berkas , banyak yang menganggunya hari ini, dari Mamanya,Luna, Emil dan kali ini adalah Dania.
Dania masuk kedalam fikirannya tiba-tiba. Riki tak kuat lagi. Tak bertemu dengan Dania membuatnya lemas.
" Dania aku kangen!" Ucapnya sendu, memandangi langit atap kantornya.
Riki mencoba melepas cincin di jari manisnya itu, perlahan.
" Srakk."
Cincin itu akhirnya bisa terlepas dari jari manisnya.
" Klunting."
Riki melempar cincin itu ke atas meja yang terbuat dari kaca.
" Ahh, gimana ini!" Riki mengusap wajahnya kasar, tak bisa menahan lagi.
Riki membuka Foto kenangannya bersama Dania. Dan foto mereka masih memenuhi dinding.
Riki ingin menyerah. Tapi bagaimana jika Dion melangkah lebih maju dari ini merebut Dania dari genggamannya.
" Dania apa Lo mau pergi? Ahh gue harus tanya sendiri sekarang!" Riki tak ingin memutuskan sendiri, lebih baik bertanya langsung pada Dania.
Riki menyelesaikan pekerjaannya, dan nanti jam dua belas akan datang ke Kantor Dania untuk memastikan.
__ADS_1
Riki memarkirkan mobilnya saat matanya tertuju pada seseorang?