Seimbang

Seimbang
Bab 27. Mari menikah!


__ADS_3

Pak Burhan beristirahat di dalam rumah ditemani Bu Melati. Eric pergi menemui pacar barunya. Sedangkan Dania dan Riki duduk di depan teras menikmati langit malam yang cerah tanpa mendung yang bisa melihat bintang terlihat menyebar memenuhi langit gelap itu.


" Kamu udah tenang?" Dania menatap dalam wajah Riki. Riki kembali menyenderkan kepalanya di bahu Dania dengan manja. Dania juga mengusap wajah tampan itu dengan tangan putihnya.


" Udah! semuanya berkat bantuan Kamu dan keluarga. Terimakasih!" Ucap Riki tulus dari hatinya.


" Sama sama. Tapi ngomong-ngomong takdir itu lucu ya?"


" Lucu gimana? " Riki memiringkan kepalanya.


" Kamu cuma dikasih perhatian aja udah seneng banget. Aku penasaran loh, Dulu setiap pergi lewat di kawasan perumahan elit, Aku selalu berharap bisa punya rumah besar kayak gitu kayaknya bahagia banget bisa beli apapun tanpa nabung dulu, setiap hari makan enak. Tapi Aku sekarang sadar gak semua yang berkilau itu indah." Dania kembali menatap langit.


" Aku sekarang bersyukur punya keluarga yang pengertian. Jujur sih Aku agak sombong sekarang. "


" Sombong?" Tanya Riki tak paham.


" Akhirnya Aku punya sesuatu yang Kalian orang kaya gak punya. Hehe maaf ya jangan tersinggung!"


Riki tak tersinggung justru setuju dengan ucapan Dania. Siapa yang tak mau hidup mewah seperti dirinya. Padahal rumah mewah tak seindah kelihatannya, didalamnya seperti neraka.


Dari jauh Bu Jumi masih saja tidak menyerah, mencari cara untuk membuat perkara. Mungkin hidup Bu Jumi terasa sepi saat tak membuat ulah sehari saja.


" Ehm. Pacaran muluk Dan, kapan nikahnya?" Tanya Bu Jumi dengan nada mengejek.


" Eh, Bu Jumi darimana Bu malem malem begini? Dapet jatah ronda ya? " Dania tak kehilangan akal balik mengejek Bu Jumi.


" Enak aja kalo ngomong." Jawab Bu Jumi tak terima.


" Punya Pacar kaya kalo gak di nikahin buat apa Dan, lagian gak seimbang sih sama Kamu. Kamu kan orang miskin!"


" Hahaha. " Dania justru tergelak mendengar ucapan Bu Jumi, membuat Bu Jumi heran.


" Kok ketawa? "


" Habisnya Ibu lucu banget sih." Kelakar Dania lagi.


" Lucu gimana?" Tanya Bu Jumi dengan nada tak suka itu.


" Gini ya Bu Jumi, apa untungnya buat Ibu? Mau Dania nikah atau enggak? Bu Jumi kalo Dania nikah mau kasih uang amplop berapa sih? Sepuluh ribu? D


Dua puluh? Ahh atau jangan jangan numpang makan aja, tapi amplopnya kosong?" Ucapnya berani melawan hinaan Bu Jumi yang semakin menjadi.


" Kamu ini kurang ajar sama orang tua. Gak diajarin sopan santun ya! Dasar! "


Dania tak ada niat untuk memperpanjang masalah menarik tangan Riki untuk masuk kedalam rumah. " Ayo Ky, orang sinting kok di ladenin! "

__ADS_1


Riki mengikuti Dania meninggalkan Bu Jumi yang sedang marah marah.


" Hey Dania, Ibu belum selesai ngomong ya! Cih malah masuk!" Ucap Bu Jumi, Dania tak menggubris justru menutup pintu rumah.


Lagi lagi Bu Jumi tak bisa membuat malu keluarga Pak Burhan. Bukannya lega rasa iri dan dongkol semakin menumpuk. " Awas ya, Aku laporin ke Pak RT kalo kalian kumpul kebo!" Ucap Bu Jumi tak menyerah.


Riki terdiam mendengar ucapan Bu Jumi. "( Jangan-jangan Dania kepikiran kata kata si Ibu rese tadi)"


Riki menggegam jemari Dania dengan lembut.


" Dania ayo kita nikah!" Ucapnya penuh keyakinan. Dania melihat sesaat wajah Riki yang tulus itu.


" Kamu nglamar Aku atau gimana ini?"


" Iya, Aku nglamar Kamu, Aku gak mau pulang lagi. Aku pengen tinggal disini sama Kalian." Ucapnya lagi.


" Riki, Aku ikut apa mau mu saja. Nikah sekarang, besok,lusa, minggu depan Aku siap." Ucap Dania meyakinkan Riki kapanpun dan bagaimanapun Dania akan menunggunya.


Riki tersenyum, hatinya tenang sekali saat Dania mengucapkan kata itu.


" Besok Kita kerumahku lagi ya! Kita minta restu sama Papa! "


Dania membalas dengan anggukan pelan. Riki memeluk tubuh Dania, dan dibalas dengan usapan punggung lembut dari Dania.


Riki masuk kedalam Kamar Kak Eric dan Dania masuk ke kamarnya sendiri. Riki tak mau berbuat macam-macam, meskipun setan di fikirannya mendorong untuk menyelinap ke Kamar Dania.


" Dasar, jangan ya Ky, Lo harus sabar. Lo harus inget, Pak Burhan udah baik banget. Jadi jangan kecewain Dia." Riki mencoba memejamkan matanya dan mulai berfikir jernih.


Dania tak bisa tidur memikirkan rencana Riki ingin meminta restu pada Papa nya.


" Gimana ya? Aku kok agak ragu. Mamanya Riki kan gak ada dirumah. Dan hubungan Riki lagi renggang. Tapi kalo Aku tolak, Riki pasti sedih banget." Ucap Dania berkata pada diri sendiri.


" Hem udahlah! Demi Riki Aku harus berani entah bagaimanapun hasilnya nanti." Dania menata guling dan bantalnya, membuka selimut bersiap untuk tidur.


Pagi harinya saat semua masih terlelap, suara pintu terdengar di ketuk keras dari arah luar.


"Tok. Tok. Tok."


Bu Melati sedang masak di dapur dibuat kaget dengan suara pintu itu.


"Ya tunggu sebentar! " Ucap Bu Melati mencuci tangannya dulu yang kotor.


"Buka hey! Kalian jangan mesum di dalam."


Suara itu terdengar seperti Bu Jumi dan beberapa orang laki laki.

__ADS_1


"Bu Jumi tenang Bu! Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin." Ucap Pak Toha yang menjabat sebagai RT.


" Tenang gimana Pak! Mereka pasti lagi mesum di dalam." Ucap Bu Jumi semakin meninggikan suaranya.


" Ada apa ini Pak RT? " Tanya Bu Melati bingung melihat banyak orang datang kerumahnya.


" Jadi begini Bu, kata Bu Jumi Dania bawa laki laki yang belum sah kerumah. Apakah itu betul?" Tanya Pak Toha baik baik.


" Iya Pak! "


" Tuh kan, bener kata Saya Pak RT,"


" Tapi Pak, Mereka tidak tidur bersama. Riki tidur dikamar Eric ko." Ucap Bu Melati membela.


" Alah bohong! Maling mana ada yang mau ngaku! Kita arak keliling kampung aja Pak RT. Biar tahu rasa! " Ucap Bu Jumi bersemangat untuk mempermalukan keluarga ini.


" Bu Jumi, tenang dulu. Kita gak boleh main hakim sendiri. Kita harus buktikan Dania beneran sekamar tidak dengan pacarnya!"


" Bapak boleh cek ke kamar, " Bu Melati mempersilahkan masuk merasa tak bersalah, Bu Melati juga tak merasa takut.


" Awas minggir! " Bu Jumi mendorong Bu Melati sampai menepi di pinggiran pintu. Membuka pintu kamar Dania dengan paksa.


" Brakk."


Terlihat Dania tidur sendiri. Dania terbangun dan duduk. "Kenapa sih ? Eh Bu Jumi ngapain gak sopan banget?" Sungut Dania melihat Bu Jumi sudah berdiri didalam kamarnya dengan berkacak pinggang.


" Mana pacar Kamu itu?"


" Pacar siapa? " Tanya Dania ketus.


" Ada apa Bu, masih pagi kok udah ribut? " Eric keluar dari pintu kamarnya disusul Riki dari belakang.


" Nah ini pacarnya Dania beneran tidur sama Eric Bu, Bu Jumi udah salah sangka." Ucap Pak RT berbalik menyalahkan tindakan Bu Jumi.


" Bisa aja tadi Mereka udah pindah sebelum Kita masuk Pak." Elak Bu Jumi mencoba mencari celah.


" Bu Jumi ini udah gak benar, pagi pagi bikin masalah dirumah orang. Terlebih lagi Ibu Jumi udah nuduh sembarangan. Nanti Saya laporkan ke Polisi atas tindakan pencemaran nama baik sama tuduhan lho." Ancam Pak Burhan yang mulai berani berbicara.


Bu Jumi menelan silvanya sendiri, takut mendengar ancaman Pak Burhan itu, apalagi melihat raut wajah Pak RT seperti akan menerkam Bu Jumi.


" Yaudah Saya pulang dulu! Awas! " Bu Jumi membelah badan Eric dan Riki dengan tangannya. Keluarga itu benar benar tak habis fikir. Mengapa Bu Jumi harus repot-repot melakukan hal seperti ini.


" Padahal pagi pagi gini minum teh sama pisang goreng nikmat banget, eh malah sarapan rasa malu tiada tara." Ucap Eric hampir ingin tergelak tapi sengaja Ia tahan karena tak mau menimbulkan masalah baru.


Pak Burhan merangkul tubuh Bu Melati, kejadian ini telah berkahir dan tak akan terjadi apapun.

__ADS_1


__ADS_2