Seimbang

Seimbang
Bab 31. Malangnya Pak Burhan!


__ADS_3

Luna masih tak percaya Riki akan mengusirnya dengan cara yang sangat tidak terhormat.


" Ichh... Untung gak ada yang lihat! "


Luna masuk kedalam mobilnya dan pergi dari rumah Riki dengan hati yang kesal.


Nani keluar dari kamarnya melihat Luna sudah tak ada dan Riki akan menaiki tangga.


" Luna mana Ky ? Tanya Nani.


" Pulang! " Jawab Riki cuek.. sekarang Riki mulai membenci Nani. Nani tak seperti dulu lagi yang bisa mengerti perasaan Riki.


" Riki! Kamu gak makan? " Tanya Nani melihat Riki kembali masuk kedalam kamarnya.


" Enggak! " Jawaban Riki tenggelam karena pintu kamarnya kembali tertutup.


" Dasar, Aku gak bisa diem aja. Akan ku buat perhitungan pada gadis itu."


Nani mengambil ponsel dan menelepon Seseorang untuk mencari informasi mengenai Keluarga Dania.


" Kamu cari info tentang wanita yang bernama Dania. Bagaimanapun caranya Saya akan bayar lebih." Nani mematikan telepon memberi titah pada Anak buahnya bernama Romi.


Sudah dua jam Riki tak keluar dari kamarnya. Nani masih terdiam menunggu kabar dari informan kepercayaannya si Romi.


" Klunting"


Nani melihat layar beberapa foto masuk ke kotak pesan.


" Oh jadi Dia anak seorang pedagang pinggir jalan? Ayam bakar 99?" Nani melihat beberapa foto kiriman itu dengan seksama.


" (Nani : Cepat Kamu bakar kedai itu, SEKARANG!) "


" ( Romi : Siap Bu! )"


*


*


Pak Burhan sedang duduk menunggu pelanggan yang belum datang. Rasa pegal di kakinya membuat Pak Burhan meluruskan kakinya itu duduk dibawah beralasan tikar.


" Ah lega sekali!" Ucap Pak Burhan merasakan tegang di kakinya berkurang.


Romi sedang mencari celah agar bisa membakar Kedai itu. Sayangnya kedai Pak Burhan dekat dengan permukiman warga.


" Aku kasih peringatan aja deh. "


Romi menyiapkan bom molotov dan bersiap melemparnya.


" Srakk."


" Eh apa ini?" Pak Burhan tak siap justru terkena ledakan bom molotov itu. Asap mengepul kedai Pak Burhan tergeletak bersimbah darah.


Eric datang berniat untuk membantu tapi kepulan asap itu membuat Eric berlari.


" Loh jangan jangan kedai Ayah kebakaran." Ucap Eric khawatir.


Eric mencoba mencari Pak Burhan walaupun jarak pandangnya terhalang asap.

__ADS_1


" Ayah! Ayah dimana?"


Eric melihat Pak Burhan pingsan dan kepalanya mengeluarkan darah.


" Ayah..astaga! Bangun Ayah! Tolong! Tolong!!" Eric mencari pertolongan pada warga sekitar.


" Loh ada apa ini Mas Eric? " Tanya Mas Paijo dan Mas Roni yang datang terlebih dahulu.


" Ayah Mas, gak tahu pas dateng udah kayak gini." Ucap Eric sedih.


" Pantesan Saya kayak dengan suara ledakan. Ternyata dari kedai Ayo kita bawa ke Rumah Sakit! Pakai mobil Saya Mas!" Mas Paijo membantu Eric mengangkat Pak Burhan.


" Saya kasih kabar sama Dania dan Ibu Melati dulu ya Mas!" Mas Roni pergi kerumah Eric untuk memberitahu hal ini pada keluarga dirumah.


" Terimakasih ya Mas." Eric langsung ikut masuk kedalam mobil. Memangku Pak Burhan. " Ayah kuat ya! Kita akan kerumah sakit!" Eric tak berhenti mengusap wajah Pak Burhan sesekali Eric mengecup kening Ayahnya.


*


Dania sedang menonton acara TV bersama Bu Melati. Dan mendengar suara langkah kaki orang datang terdengar buru buru.


" Tok. Tok. Tok."


" Siapa itu Dan? "


" Coba Aku lihat dulu Bu," Dania berdiri membuka pintu.


" Eh Mas Roni ada apa?" Tanya Mas Roni seperti habis berlari. Mas Roni sedikit mengatur nafasnya yang tersendat-sendat.


" Itu Pak Burhan kena bom, sekarang dibawa kerumah Sakit!" Ucap Mas Roni dengan wajah paniknya itu.


" Sama Mas Eric tadi."


Ibu Melati mendengar kata Mas Roni berlari, tubuhnya terhuyung hampir pingsan tapi Dania menangkap tubuhnya.


" Ibu! Ibu yang sabar ya. Ayo kita cari Ayah sama Kakak." Dania berusaha tenang meskipun kakinya terasa lemas.


" Ayah gimana ini Dan, Ayo kita susulin ke rumah Sakit!"


Bu Melati menahan dirinya agar tetap kuat. Ia ingin segera menemui Pak Burhan.


Dania mengeluarkan motor dan mencari ke rumah sakit terdekat, Mereka tak lupa memakai helm sebagai pelindung kepala.


Dania menancapkan gas motornya sedikit diatas rata rata. Dania takut jika Bu Melati tiba tiba jatuh pingsan.


" Drtt."


" Drtt."


" Drtt."


Dania merasakan ponselnya bergetar menepikan motornya.


" ( Eric ; Halo Dan! Kamu dimana?)"


" ( Dania ; Aku dijalan Kak, gimana Ayah?) "


" ( Eric : Ayah udah sadar, kepalanya dijahit lima. Kamu sama Ibu?)"

__ADS_1


Bu Melati mengambil alih ponsel Dania, Beliau terus saja menangis.


" ( Bu Melati : Eric, gimana Ayah?)"


Eric tahu jika Bu Melati merasa khawatir.


" ( Eric : Ibu, kesini aja ya! Biar Ibu lega. Kita ada dirumah Sakit Damai.)"


" ( Bu Melati : Iya iya sekarang Kita kesana ya! )"


Bu Melati mematikan telepon dan mengajak Dania untuk melanjutkan perjalanan.


" Ayo kita susul Dan, Mereka ada di Rumah Sakit Damai." Ibu Melati kembali duduk di jok belakang. Dania kembali memutar gas motornya.


*


*


" Minum dulu Yah." Erik memberikan segelas teh hangat pada Pak Burhan. Teh itu Eric beli dari Warteg didepan Rumah Sakit. Pak Burhan menyeruput teh itu. Kepalanya yang pening mulai membaik saat meminum teh manis.


" Ayah udah enakan?"


" Udah kok. Cuma agak pusing aja!"


Pak Burhan memegangi kepalanya.


" Ayah!!" Ibu Melati berteriak halus melihat suami duduk di tempat tidur UGD. Kepalanya juga dibalut perban. Baju Pak Burhan darah mengalir meninggalkan noda di baju Pak Burhan.


" Ayah!! " Susul Dania ikut memeluk tubuh Pak Burhan.


" Kok bisa sih Yah, bagaimana ceritanya? " Tanya Bu Melati, Eric dan Dania ikut menyimak ingin tahu kronologinya.


Pak Burhan menceritakan awal mula kejadian hingga Dia tak sadarkan diri ketika sadar, sudah ada di Rumah Sakit.


" Ya ampun, iseng sekali orang itu." Ucap Bu Melati tak menyangka.


Eric yang mendengar ikut geram, tak terima karena orang itu sengaja mencelakai Ayahnya.


" Ayah lihat mukanya gak? Atau sesuatu yang bisa buat petunjuk? ' tanya Eric tak ingin membiarkan orang itu lepas.


" Enggak Ric, waktu itu Ayah duduk diatas tikar, jadi gak kelihatan dan tau tau bomnya udah ada disebelah Ayah."


Bu Melati tak mau memperpanjang masalah ini. " Udah Ric , yang penting Ayah selamat!" Eric tak mau hanya diam saja tak setuju dengan Bu Melati.


" Gak bisa gitu dong Bu, ini udah bahaya banget."


" Iya Bu, bener kata Kak Eric. Kita tetep harus lapor Polisi." Dania sependapat dengan Eric. Takut orang itu akan membuat ulah lagi.


Dania kembali merasakan ponselnya bergetar melihat siapa yang telah menelepon. Sayangnya saat ingin diangkat justru sambungannya terputus.


" Ya ampun. Panggilan tak terjawab dari Riki. Banyak banget!" Ucap Dania kaget. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Riki.


Dania izin keluar mencari tempat untuk menelepon Riki kembali.


" Halo Riki!!"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2