Seimbang

Seimbang
Bab 66. Dania sakit?


__ADS_3

Tubuh Dania menggigil, baju basah dan udara yang dingin apalagi jika bukan karena tadi Ia melewati air hujan tanpa pelindung.


Dion mengambil payung di ruang kerjanya,


" Ayo Dan!" Ajaknya.


Dania dan Dion menyebrangi jalanan basah, melewati serbuan air hujan yang menerpa.


" Sabar ya!" Ucap Dion.


Dania hanya mengangguk, bibirnya berwarna biru dan bergetar.


Dion melajukan mobilnya cepat agar Dania bisa mengganti bajunya.


" Dania? Kenapa basah?" Tanya Bu Melati,


" Tadi main hujan-hujanan Bu," jawabnya enteng, Dania masuk rumah badannya tak berhenti bergetar.


" Makasih ya Nak Dion, masuk dulu!" Ucap Bu Melati, Dion melepaskan sepatunya, masuk kedalam rumah.


Cukup lama Dania menggunakan baju basah, dan itu mampu membuat Dania sakit demam.


" Ibu!" Rintih Dania. Bu Melati melihat wajah merah putrinya itu, tangannya menyentuh kening Dania.


" Astaga, panas!" Ucap Bu Melati.


" Sini, Sayang!" Ajaknya lagi.


Bu Melati mangajak Dania masuk kedalam kamar, dan melucuti semua pakaiannya. Mengganti dengan baju kering yang hangat.


" Sayang kamu nakal sih! Ngapain mandi hujan?" Sesal Bu Melati. Dania hanya tersenyum, dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Selimut tebal itu memeluknya sekarang.


" Kamu istirahat dulu ya! Ibu ambil kompres dulu!" Ucap Bu Melati pergi.


" Dania kenapa Bu? " Tanya Pak Burhan,


" Demam Yah, ini mau Ibu kompres!" Ucap Bu Melati.


" Dion minta maaf ya Bu, gak bisa jaga Dania!" Ucap Dion menyesal.


" Eh ini bukan salah kamu Nak Dion, jangan seperti itu." Ujar Bu Melati tak enak, sudah baik Dion mau mengantarkan anaknya sampai dirumahnya. Padahal kondisi bajunya basah itu bisa membuat basah isi mobil miliknya. "Nak, ini teh hangat, ibu mau kompres Dania dulu ya!" Ucap Bu Melati.


Dion mengangguk, dan melihat Bu Melati berjalan menuju kamar Dania, ingin rasanya Ia masuk dan melihat kondisi Dania, tapi Dion sadar diri. Dia belum pantas untuk melakukan itu sekarang.


" Nak, udah makan?" Tanya Pak Burhan.


" Udah Pak, tadi siang hehe!" Jawab Dion jujur.


" Bapak gak jualan?" Tanyanya kemudian.


" Enggak dulu! Tapi nanti kalo hujannya berhenti kita lihat dulu Nak," Ucap Pak Burhan lagi.


Dion nyaman sekali berada dirumah Dania, Pak Burhan pintar mencari topik pembicaraan. Membuat Mereka berbincang cukup lama, hingga akhirnya hujan reda.


Eric datang dengan motornya, masih menggunakan jas hujan. Eric berhenti didepan teras, mencopot satu persatu.


" Eh, Dion udah lama?" Tanya Eric melihat Dion sudah duduk diruang tamu.

__ADS_1


" Lumayan Kak." Jawab Dion singkat. Eric ikut duduk diatas sofa berdekatan dengan Dion Cakra.


" Gimana Dania?" Tanyanya.


" Baik! Tapi sekarang lagi sakit!" Ucap Dion.


Eric semula duduk santai, jadi mengangkat tubuhnya.


" Kok bisa?" Tanyanya.


" Jadi tadi...." Dion menceritakan semuanya pada Eric.


Eric mengepalkan tangannya,


" Ini keluarga kok gak ada habisnya ganggu Dania, aku gak terima kalo Mereka terus bikin Dania resah kayak gini! Sungut Eric.


Dion hanya tersenyum, apakah ada hal lain yang harus Ia katakan. Dion tak ingin mengompori Eric, tak mau juga memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut perhatiannya.


" Dy, kamu cinta sama Dania?" Ucap Eric tiba-tiba. Dion melirik, mengangkat kedua alisnya itu.


" Kalo cinta cepetan nikahin Dania!" Ucap Eric lagi,


" Nikah tu gampang Kak, tapi Dania nya gimana? Aku diajak nikah sekarang juga ayok!" Jawab Dion pasti. Eric tersenyum puas. Menepuk bahu Dion.


" Kakak percaya sama Kamu! Tolong jangan kecewain kami sekeluarga ya!" Ucap Eric lagi, kali ini Dion hanya menjawab dengan anggukan lagi.


Dikamar Dania masih merintih, matanya terpejam tapi mulutnya tak berhenti bersuara.


" Riki, kamu jahat! Hehe!" Ucapnya.


Bu Melati mengusap air mata Dania yang keluar, tak perduli dengan air matanya sendiri.


" Riki, aku udah ikhlas, kamu semoga bahagia! Aku gak tahu harus sedih apa seneng!" Ucap Dania lagi.


" Dania, maafin Ibu!"


Bu Melati memeluk tubuh putrinya yang masih panas itu, hanya kehangatan dan saling pengertian ini yang bisa Ia berikan pada Dania.


Bu Melati tak lupa memberikan obat penurun panas, menggoyangkan tubuh Dania pelan.


" Sayang minum obat dulu!"


Dania menurut membuka mulutnya.


Bu Melati dengan sabar memasukkan obat itu, dan memberinya air mineral.


" Anak pinter!" Pujinya.


Dania kembali tertidur, dan setelah meminum obat dia juga berhenti mengigau lagi.


" Krieet."


Ibu Melati menutup pintu dan Eric sedang duduk sendirian di ruang tamu.


" Eh anak bujang udah pulang!" Sapanya pada Eric.


" Iya dong!" Jawab Eric menerima ciuman hangat dipipinya.


" Dion kemana?" Tanya Bu Melati tak melihat Dion lagi.

__ADS_1


" Pulang Bu, udah malem katanya. Gimana Dania Bu?" Tanya Eric.


" Udah mendingan kok!" Jawab Bu Melati.


" Bu, Eric mau nikah ya?"


Bu Melati membuka matanya lebar.


" Sama siapa?" Tanyanya.


" Hehe besok aku kenalin deh!" Ucap Eric tersenyum mengandung rahasia.


* Flashback beberapa waktu lalu*


Beberapa hari ini Eric sudah dekat dengan Lina. Sebenarnya dari hari kemarin Eric diam-diam mengajak Lina kencan dan bertemu.


Seperti sore ini Eric menjemput Lina di Kantor.


" Eric ; Lina aku udah ditempat biasanya!"


" Send"


" Ah Kak Eric udah sampai! Aku keluar dulu deh!" Ucap Lina.


Lina jalan mengendap, jangan sampai Dania tahu.


" Kakak!" Ucap Lina senang.


" Kita mau sampai kapan main kucing-kucingan terus Lin!" Sungut Eric.


" Hehe aku takut Dania gak setuju sama hubungan kita Kak!" Ucap Lina takut.


" Enggak dong Lin, besok kita jujur ya! Please!" Pinta Eric.


Lina masih berfikir, ingin berkata ya atau tidak.


" Kakak yang ngomong ya?" Ucap Lina akhirnya.


" Oke siap sayang!" Ucap Eric senang.


Lina dan Eric sudah resmi menjalani hubungan, tapi tentu saja secara sembunyi. Ini semua karena permintaan Lina. Dia tak enak dengan Dania. Takutnya jika Dania tak mau memiliki kakak yang usianya tak jauh dengan dirinya. Padahal Dania sangat senang. Tapi namanya isi hati orang tidak ada yang tahu jika tak di ungkapkan.


Lina pulang diantar Eric, memegang pinggulnya yang kekar itu. Tapi baru saja berjalan sudah turun hujan. Lina dan Eric menepi untuk berteduh.


" Ini !" Eric menyerahkan jas hujannya pada Lina, dan membantu Lina mengenakan jas itu. Lina baru kali ini mendapatkan sikap perhatian dan lembut dari seseorang.


Mereka berpandangan cukup lama, dan itu membuat Eric kehilangan akalnya.


" Emuacchh." Eric mengecup bibir Lina manja, disaksikan derasnya air hujan.


Cukup lama mereka melepaskan birahinya.


" Lina ayo nikah!" Ucap Eric, tangannya menyentuh wajah Lina manja.


Lina mengangguk cepat menerima lamaran Eric yang mendadak ini.


" Emuacchh.. emuacchh. Emuacchh."


Eric yang senang menghujaminya banyak ciuman, dan Lina tanya menerima serangan itu.

__ADS_1


__ADS_2