
Renata kembali memasukkan ponselnya. Kemudian berjalan kembali ke Kantornya.
Sesaat Renata lupa mengunci layar ponselnya itu dan terlihat tulisan nama kontak "Dion".
*
Langit Amerika tepatnya di Los Angeles.
Dion mendapatkan kabar dar Renata, jika ternyata Dania berhasil masuk di salah satu Perusahaan miliknya.
" Dania tunggu Aku!" Ucap Dion.
Dion sudah rindu dengan Dania sang mantan kekasih. Walaupun ada rasa kecewa saat Dion tahu Dania telah mendapatkan pengganti dirinya.
Dion masih terpaku memandang langit.
" Padahal Aku pergi jauh ke Negeri orang agar bisa seimbang dengan yang lain, tapi Aku justru kehilangan cinta pertamaku." Ucap Dion sedih, karena jauh, Dania memutuskan hubungan Mereka.
" Good morning Sir, can I help you?" ( Pagi Tuan, ada yang bisa Saya bantu?)" Tanya seseorang di dalam telepon.
" Yes, I need a breakfast." ( Ya! Saya ingin sarapan!)
" Ok, hold on. Wait a minute." (Baik, tunggu untuk beberapa waktu)
Dion menutup telepon itu dan menunggu di kamar Apartemennya. Dion sudah gatal ingin segera kembali ke Indonesia. Hanya saja Dion masih harus mengurus beberapa keperluan di sana.
*
*Flashback kenangan masalalu Dion dan Dania*
Dion sudah jatuh cinta pada Dania sejak pandangan pertama saat berlangsungnya MOS.
" Cantik banget! " Puji Dion saat melihat Dania menggunakan topi dari bola yang dibelah menjadi dua bagian.
Dania sedang jalan jongkok mengitari lapangan.
" Nama Saya Dania Azahra, Saya anak bungsu dari dua bersaudara, hobi Saya menulis dan menyanyi."
Dania sedang memperkenalkan dirinya didepan kelas. Dion semakin kagum atas sikap Dania yang berani itu.
Hingga akhirnya Mereka dekat karena Dion menolong Dania saat lupa membawa dompet untuk membayar.
" Ini sekalian Bang!"
Dion membayar jajanan milik Dania.
" Terimakasih ya Kak, besok Aku ganti" Ucap Dania ketika Dion menolongnya.
" Wah, Aku maunya berkali lipat lho." Goda Dion sengaja.
" Eh, berapa Kak? " Tanya Dania lagi.
" Hehe enggak kok becanda. Gak usah diganti. Gantinya pakai nomer WhatsApp aja." Dion menyerahkan ponselnya agar Dania bisa mengisi nomer diponselnya.
" Oh, oke." Dania mengetik nomernya itu.
" Makasih ya! Namaku Dion, jadi kita impas ya! " Dion pergi, akhirnya berhasil mendapatkan nomor Dania.
__ADS_1
Setiap hari Mereka saling memberi kabar dan bertukar cerita hingga satu bulan kemudian Dion dan Dania resmi jadian.
*
"Drtt."
" Drtt."
" Drtt."
Lamunan Dion ke masalalu buyar saat melihat ponselnya berbunyi.
" Dion : Halo Kak?"
" Bu Tina : Halo, Kamu kapan jadi ke Indonesia? "
" Dion : Nanti siang, Aku berangkat Kak, kenapa udah kangen ya?" Goda Dion pada Kakak perempuannya itu.
" Bu Tina : Hahah ya Aku rindu saat melihat Kamu menangis memintaku untuk membeli balon, dan satu lagi kebiasaan lucumu yang sudah SMA tapi mandi dengan air hangat."
Dion merasa malu saat Tina mengungkit kebiasaan anehnya itu.
" Dion : Kakak, sekarang aku udah berubah!"
" Bu Tina : Ya , bagus lah. Kalo belum berubah Kakak akan menggodamu sampai berubah." Ucap Tina lagi.
" Dion : Kak, Aku beres-beres dulu."
" Bu Tina : Oke! Nanti kabari jika akan berangkat!"
" Dion : Siap! "
Dion menepuk bahu Jackson anak buahnya yang selalu membantu dirinya di Amerika.
" Don't forget me Sir, i Will miss u Verry much." ( Jangan lupakan aku Tuan, aku akan sangat merindukanmu)" ucap Jackson memeluk Dion.
" Of course. I Will come back again." ( Aku akan datang kembali)"
" Really? I Will waiting for you. Goodbye Sir. Be careful! " ( Benarkah? Aku akan menunggumu, selamat tinggal Tuan, hati hati dijalan." Jackson melambaikan tangan ketika Dion mulai memasuki Bandara.
*
*
Dion akhirnya pergi meninggalkan Bandara, membuka dompetnya.
Ada foto jaman dahulu saat Dia dan Dania saling bertukar foto.
Dania dengan lesung pipinya itu tersenyum manis seakan sedang menatap dirinya.
" Dania akankah Kau kembali padaku?" Ucap Dion pada dirinya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan selama 17jam dan satu kali transit Dion telah sampai di Jakarta Indonesia.
" Dion ! " Ucap seorang Bapak Tua paruh baya dari titik penjemputan.
" Ayah! " Dion berlari dan memeluk sang Ayah Baskoro. Tina juga menemani Ayahnya itu menjemput sang Adik yang telah lama berjuang di Negeri orang.
__ADS_1
" Aduh, Anak Ayah makin tinggi dan tampan, bagaimana pasti kau sangat lelah?" Ucap Baskoro mementingkan kesehatan anaknya.
" Tidak Ayah! Rasa lelahku hilang ketika bertemu dengan Ayah dan Kakak."
Mereka berpelukan dan pulang bersama.
*
Dion menaiki mobil diantar Sopir pribadinya.
" Ini semua berkatmu Dion, Kita bisa sukses dan menikmati kehidupan yang sangat layak." Ujar Bu Tina mengakui usaha Dion yang berhasil.
" Ah ini semua Dion lakukan untuk Kalian semua. Bagaimana kabar Ibu kak?" Tanya Dion.
" Ibu ada dirumah ditemani Bi Tinah. Dia pasti sudah menunggumu disana!"
Bu Mira ibu Dion mengalami lumpuh dan tidak bisa berjalan, sepanjang hari hidupnya hanya di atas tempat tidur.
Dulu keluarga Dion jauh dari kata mampu, Pak Baskoro hanya seorang kuli panggul di Pasar dan Ibunya sakit sakitan akibat tekanan darah tinggi.
Hidup Dion sangat kekurangan. Bahkan salah satu alasan Dion tak pernah mengajak Dania berkencan adalah keterbatasan ekonomi.
Dion bertekad untuk mengubah nasib keluarganya dan itu membuahkan hasil sekarang.
" Dion?" Ucap Bu Mira melihat suara pintu kamarnya terbuka.
" Iya Bu, ini Dion!" Dion memeluk tubuh Ibu Mira yang masih terbaring lemah.
" Anak Ibu akhirnya pulang, bagaimana kabarmu Nak!" Tanya Bu Mira mengusap wajah Dion lembut.
"Baik Bu, Ibu bagaimana sekarang? Sudah membaik?" Tanya Dion lagi.
" Ya, sudah tak sakit lagi. Semenjak obat yang Dion beli." Ujar Ibu Mira.
Senang rasanya ketika semua Keluarga memperhatikan kesehatannya. Terutama Dion sampai berkorban.
" Ayok kita makan, Bi Inah udah masak tumis kangkung kesukaanmu Dion." Ajak Tina.
Tina masih ingat masakan kesukaan Dion yaitu tumis kangkung.
" Ayo kita makan siang disini saja Kak. Dion mau Ibu ikut makan juga." Ucap Dion.
" Loh Kamu serius? " Tanya Tina memastikan permintaan sang Adik
" Dion kamu gak jijik sama Ibu? "
Tanya Mira tak enak jika Dion harus makan ditempat seperti ini.
" Jijik? Ibu lupa? Ibu adalah surganya Dion. Buat apa Dion punya banyak uang tapi tak bisa menghargai orangtunya sendiri. Sia sia Dion sekolah jauh-jauh Bu," ucap Dion tak ingin Ibunya berfikir macam itu.
" Baiklah jika itu maumu Dy." Ucap Ibu Mira setuju. Bu Tina langsung memanggil Bi Inah untuk menyiapkan makan siang. " Bi, tolong siapkan makan di Kamar Ibu ya!"
" Baik Non," Bi Inah pergi ke dapur untuk memindahkan makanan.. Tapi terlebih dahulu menata tikar diatas lantai.
Semua terharu mendengar ucapan Dion tadi. Bi Inah langsung menyiapkan makan siang disana dibantu Bu Tina juga ikut serta menata makanan.
Dion juga menyuapi sang Ibu, dan makan sepiring berdua.Dion rindu sekali masa masa seperti ini. Saat kesederhanaan bisa membuat hati mereka tenang.
__ADS_1
Dion memang anak yang berbakti pada kedua orangtuanya. Akankah cintanya kembali???
To be continued....