
Riki menginap dirumah Dani, tidur beralaskan tikar tipis. Tanpa kasur, dan hanya bantal dan guling. Keras! Tak seempuk kasur rumahnya.
" Kenapa rasanya damai banget!" Ucap Riki sendu, bunyi ayam berkokok serta bunyi Seseorang sedang menyapu halaman.
" Eh, udah bangun?" Tanya Dani dari kandang ayam.
" Iya! Maaf ya ngrepotin!" Ucap Riki malu, saat pemilik rumah sudah sibuk, justru Ia baru bangun tidur.
" Gak papa. Santai! Maaf ya alas tidurnya gak kayak dirumahmu!" Ucap Dani menyesal.
" Eh, gak papa! Aku malah yang makasih banget kamu mau di repotin!" Ucap Riki tak ingin membuat Dani sungkan padanya.
Bu Mila keluar membawa nampan berisi teh hangat dan pisang rebus.
" Nak, Riki silahkan!" Ucap Bu Mila.
" Yah, jadi ngrepotin Ibu deh!" Ucap Riki.
" Gak kok, Ibu malah seneng! Akhirnya Dani punya teman lagi!" Ucap Bu Mila.
Riki hanya menjawabnya dengan senyuman tipis.
Bu Mila ingat saat pertama kali jatuh miskin semua orang menghina, mencemoohnya. Apalagi itu semua karena Suaminya ketahuan korupsi, dan semua asetnya di sita. Semua orang yang dulu dekat dengannya semua menjauh, seakan jijik dengan keluarganya yang sekarang. Tak ada yang mau membantu, meminjam uang. Mereka menutup pintu rapat-rapat ketika Bu Mila dan keluarganya datang.
Tapi ada hikmah dibalik itu semua, siapapun manusianya janganlah sombong, dan tetaplah rendah hati. Karena semua akan hilang dalam sekejap jika Tuhan berkendak mengambilnya.
" Kamu, gak kerja Ky?" Tanya Dani melihat sudah siang.
" Gak Kayaknya! Males!" Jawab Riki.
" Jangan gitu!" Ucap Dani,
Selesai memberi makan ternak duduk disamping Riki.
" Sakit hati emang berat, tapi miskin dan bangkrut lebih berat Bro!" Ucapnya.
" Tapi Gue gak ada semangat sama sekali Dan," jawab Riki, kini menyenderkan kepalanya di bahu kursi.
" Gak boleh gitu lah! Lo harus semangat, sukses! Kejar terus Dania!" Ucap Dani lagi, tapi matanya tertuju pada jari kelingking Riki.
" Loh? Udah tunangan?" Tanya Dani.
Riki baru sadar, kini melihat jarinya.
" Argh. Sial!" Riki mencoba melepaskan cincin itu dari tangannya.
__ADS_1
" Kenapa susah banget!" Riki masih berusaha melepaskan cincin sempit itu seakan tak ingin lepas dari jarinya.
" Kenapa dilepas? Kemarin kamu udah cerita, tunangan sama anak sahabat Mama kamu kan? Coba cari belangnya dulu! Nanti kalo gak srek masih bisa di gagalin kan!" Ucap Dani tenang.
Riki kali ini mendapatkan petuah yang sama, mencari kejelekan Luna agar bisa menggagalkan pernikahannya.
" Apa bisa? Kalo tetep gak gagal gimana?" Tanya Riki pada Dani.
" Ya, berarti dia jodoh kamu lah!" jawab Dani santai lagi.
" Cuih, ogah! Luna tu gak sepolos itu tauk!" Ucap Riki tak sudi jika menikah dengan Luna.
" Kenapa? Dia cantik kan?" Tanya Dani ingin tahu kenapa Riki sangat membenci wanita itu,
" Dan, dia tu licik, kemarin aja masukin obat perangsang ke minuman Gue! Apa gak gila!" Cebik Riki sebal.
Dani semula duduk santai, kini mengangkat tubuhnya " Seriusan? Nekat bener tuh cewek!" Ucap Dani ikut merasa kesal.
" Ya kan ? Mana ada cewek baik kayak gitu?" Ujar Riki,
" Iya, tapi Lo tetap harus kerja. Sumpah miskin tuh gak enak!" Ucap Dani lagi.
" Lo ngusir gue ya Dan, " Ucap Riki sedih, mengira Dani tak ingin Ia berlama-lama dirumahnya.
" Yah gak gitu Bro! Boleh banget Lo disini, tapi tanggung jawab harus jalan dong!" Dani menepuk bahu Riki itu.
" Boleh! Mandi sana!" Titah Dani.
Dani mengambilkan handuk, dan memberikan pada Riki.
Riki membersihkan dirinya di kamar mandi.
Dani berlanjut, menata barang dagangan ke dalam box. Adiknya Elsa dan Ratna akan berangkat ke Sekolah.
" Kak, uang sakunya mana?" Tanya Elsa.
Dani mengeluarkan uang Lima ribu, dan memberikan uang itu padanya.
" Kok cuma lima ribu?" Ptotes Elsa.
" Loh kan emang biasanya segitu!" Ucap Dani.
" Kak, hari ini jatuh tempo pembayaran uang wisata, Elsa harus bawa delapan ratus ribu!" Desis Elsa sedikit kesal, Karena Dani tak juga melunasi, hingga akhirnya Elsa ditegur oleh gurunya.
" Aduh! Sekarang ya! Kakak belum punya!" Ucap Dani menyesal. Sudah dipastikan mata Elsa menjadi berkaca-kaca. Riki keluar dari kamar mandi, tak sengaja mendengar pembicaraan Mereka, Riki mengambil dompet disaku, dan menarik beberapa lembar uang seratus ribu.
__ADS_1
" Ini buat kamu!" Ucap Riki pada Elsa.
" Jangan Ky, " tolak Dani melarang Elsa untuk menerima.
" Gak papa! Aku bisa bantu! Elsa nanti kamu gak bisa ikut acara wisata loh, ambil!" Ucap Riki lagi.
Elsa tak lagi mendengarkan Kakaknya, menerima uang itu ditanganya. Kini raut wajah Elsa seketika menjadi ceria kembali.
" Terimakasih banyak ya kak, semoga rejeki Kakak lancar terus!" Elsa mencium tangan Riki, dan pamit terhadap ibu dan Dani Kakaknya.
" Hati-hati ya Elsa!" Ucap Dani.
Dani merasa tak enak, Riki mengeluarkan uang sebanyak itu untuk adiknya.
" Ky, itung bon ya? Kalo ada uang aku ganti!" Ujar Dani.
" Gak usah! Aku bilang aku bisa bantu, ya aku bantu Dan. Udah gini deh! Biar impas, itu buat bayar sewa aku nginep dirumah kamu, Oke!" Ucap Riki santai dan kini menaikan alis sebelahnya.
" Ky, rumah gue reot kayak gini biaya sewanya mahal amat! Enakan Lo tidur di Hotel!" Cebik Dani, tak terima jika harga sewa rumahnya semahal itu.
" Udah! Gak usah dipikirin! Gue berangkat dulu ya!"
Riki tak menggubris, tak masalah baginya mengeluarkan uang untuk keluarga Dani yang mau menerima dirinya.
*
*
Riki mengeluarkan ponselnya, ingin memesan ojek online. Ini kali pertamanya berdiri dipinggir jalan menunggu ojek. Siapa yang tidak melihat ke arah Riki. Ada Laki-laki tampan sedang berdiri dipinggir jalan raya, meskipun tak memakai minyak rambut. Rambut berantakan itu jutsru semakin membuat Riki mempesona.
Akhirnya Riki menaiki motor ojek itu. Menggunakan helm murah, rambut poni yang keluar membuat Riki semakin tampan.
Tak sengaja saat berhenti di lampu merah, dari lawan arah Riki melihat Dania juga naik ojek yang sama dengannya.
" Dania?" Ucap Riki. Matanya tak henti menatapnya. Dania memang sangat cantik.
" Riki?" Ucap Dania.
" Kok dari arah sana? Pakai ojek juga lagi?" Tanyanya heran, rumah Riki bukan dari sana arahnya. Mengapa Riki bisa muncul dari sana?
Riki dan Dania saling tatap, tapi mulut mereka mengatup. Dania justru membuang arah mukanya, tak lagi menatap Riki. Tapi Riki masih setia melihat wajah Dania hingga memutar penuh lehernya itu.
" Dania! Aku bakal rebut kamu lagi!' ucap Riki penuh tekad, kali ini ia akan mendengar nasehat dari Dani dan Pak Burhan, mencari kekurangan Luna secepatnya.
Riki sampai di Kantor dan membayar sejumlah uang, baru melangkahkan kaki, matanya sudah disuguhi sesuatu.
__ADS_1
" APA INI!"