
Riki memikirkan sesuatu hal yang ganjil. Ada yang mengganjal hatinya saat itu.
" Aku kok kok pengen ngomong apa ya? "
Riki mulai berfikir ingin mengatakan sesuatu pada Dania.
" Astaga! Janjiku sama Mama! "
Riki berlari mengejar Dania. Mobil nya yang masih terlihat belum meninggalkan parkiran.
"Tok. Tok. Tok." Riki mengetuk kaca mobil. Lina melihat Riki kembali menyenggol tangan Dania.
" Eh Riki tuh! "
Dania membuka kaca pintu mobil.
" Apa Ky? "
" Mama mau ketemu sama Kamu. Nanti Aku jemput ya? "
Dania membuka matanya lebar.
" Sekarang? "
" Iya lah! Aku janjinya sore ini. "
Dania sadar belum pernah sekalipun bertemu dengan Mamanya Riki.
" Boleh! Aku tunggu di Kantor apa dimana?"
" Oke! Tunggu Aku di Kantor aja ya! "
Dania kembali menutup pintu kaca. Pak Gito mengemudikan mobilnya. Suasana sore yang ramai membuat jalanan macet. Hingga baru setengah jam kemudian Dania dan Lina bisa sampai di depan Kantor.
*
Sesampainya di Kantor Dania sudah disambut oleh Bu Tina. Senyuman sumringah Bu Tina melebar melihat Dania datang membawa kabar baik.
" Selamat Dania, Kamu lolos!" Ucap Bu Tina penuh rasa bangga. Dania menatap Lina tak mengerti. Lina memiringkan kepalanya.
" Kan tadi Aku udah bilang! Selamat ya! "
Lina jalan terlebih dahulu. Dania masih membatu.
"Ayo Kita masuk! " Ajak Bu Tina.
Dania mengikuti Bu Tina berjalan saat akan masuk ke ruang kerja karyawan kontrak Bu Tina memanggilnya.
" Dania! "
Dania menoleh. " Kenapa Bu? "
" Sini! Masuk ke ruangan Saya! " Perintah Bu Tina tak mungkin ditolak Dania.
Dania memasuki Ruangan Bu Tina.
Bu Tina menyiapkan sesuatu dari dalam meja.
" Ini untukmu Dania! "
" Apa ini Bu?" Dania masih belum menerima hadiah itu dan hanya menatapnya.
" Ini kartu pengenal kamu dan Id Card karyawan tetap! Silahkan terima! Saya sudah tahu kinerja Kamu hari ini. Selamat bergabung Dania! " Bu Tina Mengucapkan kata-kata itu tanpa rasa ragu. Mata Dania berkaca kaca. Rasa senang yang tak bisa Ia ungkapkan justru membuat air matanya keluar karena terharu.
__ADS_1
" Ibu! Ini serius? Saya bahkan baru kerja satu hari? " Tanya Dania masih tak percaya hal ini bisa terjadi.
" Tentu saja! Saya tak mau menunda pengangkatan karyawan untukmu. Saya juga gak mau kehilangan Kamu Dania! "
Dania tertunduk lemas tak menyangka akan mendapatkan ungkapan yang membuat hatinya tersentuh.
" Dania Kamu gak papa? " Tanya Bu Tina khawatir.
" Ah tidak apa apa Bu, Saya senang sekali terima kasih banyak. Bu, bolehkah Saya memeluk Ibu? "
Bu Tina melihat Dania dan mengangguk. Dania tentu saja langsung memeluk Bu Tina. Tangisnya semakin pecah karena rasa senangnya itu. Coba saja jika Bu Melati dan Pak Burhan ada disini menyaksikan semuanya.
" Hiks. Maafkan Saya Bu, air mata saya netes ke baju Ibu. Huhuhu." Dania mencoba mengusap baju Bu Tina dengan tangannya.
Bu Tina justru melihat itu tertawa.
" Dania, Kamu lucu sekali! Sudah nangisnya? Sekarang Kamu boleh pulang!"
" Sekali lagi Saya ucapkan terimakasih banyak yang sebesar-besarnya." Dania membungkukkan badannya dan meninggalkan ruang kerja Bu Tina.
Bu Tina sangat kagum melihat sikap sopan santun Dania yang jarang dimiliki oleh pemuda jaman sekarang. Tiba tiba Bu Tina teringat dengan sang Adik. Kira-kira siapakah adik Bu Tina itu??
*
*
Riki saking gembiranya langsung tancap gas menuju Kantor kerja Dania. Riki menunggu Dania di luar. Dan berdiri menyenderkan badannya di mobil.
" Riki!! " Dania berlari membentang kedua tangannya. Riki dengan sigap menangkap tubuh Dania. Riki mengangkat tubuh Dania sehingga membuatnya melayang. Sungguh pemandangan yang indah saat kedua pasangan itu sedang romantis.
" Ada apa Dania? Lo kok kelihatannya seneng? Tapi matamu? "
Dania tersenyum dan menghapus sisa air matanya.
" Seriusan? Wah selamat Sayang!"
Riki kembali membekap tubuh Dania secara lembut ikut bahagia atas kabar ini. Hari mulai gelap Riki akan membawa Dania pulang untuk bertemu dengan Atmika.
" Dan, masuk yuk! Mama udah nungguin! "
" Oke!"
Mereka masuk kedalam mobil. Dania masih sibuk bercermin membenarkan makeupnya yang luntur karena menangis.
" Aku benerin makeupku dulu ya! "
" Iya! Tenang aja. " Riki menginjak gas datar agar Dania punya waktu membenarkan makeupnya.
*
*
Langit yang berwarna ungu itu menandakan hari mulai gelap. Atmika sedang bersiap menunggu kedatangan Riki dan Dania.
" Nunggu siapa sih Kak? " Tanya Siska melihat kecemasan pada wajah Atmika.
" Nunggu Riki! Dia mau bawa pacarnya kesini."
Siska tak lagi bertanya hanya menoleh sinis, menanggap remeh atas tindakan Atmika.
"( Oh jadi udah mau dikenalin. Haha siap siap aja Aku bakalan jatuhin mentalnya)" ucap Siska dalam hatinya dengan tekat jahatnya itu.
"Jeglek."
__ADS_1
Atmika berlari mendengar suara pintu mobil yang terbuka.
" Sore Mah!" Riki mencium pipi Atmika. Dania berjalan ragu ragu mengikuti Riki dari belakang.
" Kok baru pulang Sayang! "
" Iya kan tadi jemput Dania kerja dulu. Mah kenalin ini pacarku Dania!"
Dania langsung menjabat tangan Atmika. Jujur saja Atmika merasa kagum melihat senyum manis Dania itu. Atmika juga mengakui jika Dania adalah salah satu tipe idealnya juga.
" Wah cantik ya! Kamu pacarnya Riki? Tolong marahi Riki! Kalian sudah lama pacaran tapi baru kali ini Riki membawa mu kemari kan? "
Dania tersenyum dan ingin menjawab tapi tiba-tiba Tante Siska datang dan..
" Ya paling Riki malu. Kan pacarnya miskin!"
Riki geram sekali mendengarkan ucapan Tantenya itu. Riki ingin mendekat tapi Dania menariknya.
" Ststs gak papa! "
Dania tahu jika hal ini akan terjadi apalagi Riki anak orang berada. Tapi Dania tak menyangka jika Tante Siska yang membenci dirinya, bukan Atmika.
" Udah yuk masuk! " Ajak Atmika pada Riki dan Dania.
Riki menatap sinis wajah Sang Tante. Ingin sekali rasanya Riki menyumpal mulut itu dengan kain pel.
Siska melipat kedua tangannya melihat Dania dengan tatapan merendahkan.
" Wah bajunya mahal. Pasti Riki juga kan yang beliin?"
" Deg."
Kali ini ucapan Tante Siska mulai mengganggu hati nurani Dania. Memang benar baju Dania, Riki yang belikan.
Atmika sadar wajah Riki menjadi merah padam. Bukan karena malu, melainkan karena menahan rasa marah.
" Siska! Tolong cuci piring kotor di dapur!"
Siska terkejut dan tak terima. Siska ingin menjawab dengan alat indera perasa itu. Tetapi seakan mengatup lagi ketika melihat Atmika.
Atmika menatap tajam Siska memberikan kode tak perlu melawan dan lakukan saja.
" Cihh."
Benar saja Siska tak berani melawan langsung menghentakkan kakinya menuju dapur.
"Nah emang pantes kan jadi Pembantu. Dasar udah numpang gak tahu diri."
Ucap Riki mengumpati Tantenya.
" Hey! Gak boleh kayak gitu sama Tantemu sendiri! " Dania tak mau Riki bersikap durhaka pada Siska.
Atmika, Riki dan Dania sedang makan malam bersama. Riki melihat Papa nya belum pulang.
" Papa belum pulang Ma? "
" Belum! Udah makan dulu yuk."
" Hahaha dasar wanita rendahan sok jual mahal. Hahaha. Aku menang lotre.
hahaha." Anggoro melangkahkan kaki. Mulutnya berguman tak jelas.
Semua mata tertuju pada suara itu. Lihat! Anggoro pulang dalam keadaan mabuk berat. Dan menyingcing sepatunya.
__ADS_1
" Papa!!! " Pekik Riki yang malu melihat sosok Papa nya.