
Atmika sedang menunggu suaminya menjenguk Ibu Mertuanya.
Riki tak berhenti mengusap tangan Atmika, memberikan ketenangan pada Mamanya.
Hari ini Riki sampai lupa tak menghubungi Dania, dan tentu saja itu membuat Dania semakin berfikir negatif.
" Mah, yang nabrak Nenek tanggung jawab gak?" Tanya Riki.
" Astaga! Iya Ky, mama malah lupa..yang nabrak malah kabur!" Atmika menepuk dahinya kencang, saking gugup dan panik membuatnya lupa tentang pelaku penabrakan.
" Yaudah Ma, Riki ke kantor polisi dulu!"
Riki pergi meninggalkan Atmika, Ia akan melaporkan kejadian tabrak lari ini pada Polisi.
" Awas aja, Gue bakal cari orang yang udah nabrak Nenek!" Ucap Riki.
Dania semakin risau,
" Hem, tapi kok dari kemarin Riki gak hubungin aku ya?" Ucap Dania badannya bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti kursi kerja yang sengaja Ia gerakkan.
Dania kembali melihat dari pantulan kaca meja kerjanya, kalung pemberian Riki beberapa bulan yang lalu.
" Riki! Apa lagi apa kamu sekarang?" Ucapnya. Dania membuang arah matanya memandangi foto mereka di wallpaper ponselnya.
Eric juga sama halnya dengan Dania, Ia merasa bersalah ketika melarang Riki untuk berhubungan dengan adiknya lagi.
" Aduh, kalo mereka putus gara-gara Aku gimana ya?" Guman Eric.
" Aku ngomong sama Dania aja deh,"
Eric segera menelepon Dania, dan mengatakan yang tejadi kemarin.
" Eric : Hallo Dan?"
" Dania : Iya kak, kenapa kangen sama Lina?" Celetuk Dania menggoda kakaknya itu.
" Eric : Ya elah, ni anak! Udah gak patah hati Lo? Gue kalo kangen tinggal telpon sendiri lah! Ngapain susah-susah telpon dan dengerin suara cempreng Lo ini!" Balas Eric.
" Dania : Haha, iya deh percaya yang udah move on dari si ikan Nila, wkwkwk!"
Eric merasakan lega dihatinya mendengar gurauan dari Dania,
" Riki : Dan, gue mau ngomong sesuatu!"
Eric mengubah intonasi serius pada ucapannya. Dan Dania sadar akan hal itu,
" Dania : apa Kak?"
" Eric : Kakak, minta maaf! Kemarin udah marah-marah sama Riki, terus Kakak juga larang Riki buat hubungin Kamu lagi. Misal dari kemarin Dia gak telvon. Ya, itu karena Kakak yang suruh. maaf ya!"
Dania tertegun, pantas saja Riki sampai hari tak juga mengabari, itu semua karena Eric yang melarang.
" Dania : Oh, gitu! Iya kak gak papa, Dania tahu kakak kayak gini karena Sayang sama Dania, Aku gak marah kok kak. Makasih ya udah jujur."
" Riki : iya, maafin kakak ya. Yaudah Kakak kerja dulu! Kamu hati-hati.
" Nut."
Setelah Eric mengatakan hal itu, Dania sedikit lega, tapi juga masih merasa khawatir. Riki bukan tipe Orang Yang akan menurut 100%, dan pasti Dia akan berusaha menghubunginya.
" Apa karena Riki ngrasa bersalah banget ya! Sampai dia gak berani! Atau mungkin ada masalah lain?"
Dania menimbang mana yang cocok untuk situasinya saat ini.
" Tok, tok ,tok."
__ADS_1
" Masuk." Ucap Dania.
Lina membuka pintu dan masuk, Dania menunggu apa yang akan Lina katakan.
" Dan, Lo disuruh ke ruangan Pak Dion!" Ucap Lina.
" Sekarang?" Tanya Dania.
" Iya lah! Ada apa ya?" Tanya Lina
" Ya mana Gue tau, Lo gak dikasih tau kenapa Gue disuruh kesana?"
" Enggak woy! Nanti kasih tahu ya!" Ucap Lina kepo, menggelayut di bahu Dania.
" Ieuh, rahasia dong!"
Dania justru meledek Lina, Lina hanya bisa gigit jari. Andai saja Ia bisa ikut masuk ke ruangan Pak Dion.
" Tok , tok , tok"
" Masuk!" Titah Dion.
Dania masuk, melihat banyak boneka beruang berwarna pink diatas meja.
" Dania kamu ingat ini?" Tanya Dion.
Dion berjalan ke arah Boneka itu dan membelai bulu halus yang memenuhi seluruh tubuhnya.
" Maksud Bapak?" Tanya Dania tak mengerti.
" Dulu! Waktu itu, sepulang extra kita lagi jalan, ada pasar malam dan penjual boneka, aku inget kamu lihatin Boneka Segede ini, aku gak bisa lupa! Matamu hampir melotot mau keluar. Dan waktu kita lihat harganya! Kamu bilang mahal, dan akhirnya kita jalan lagi. "
Ah Dania baru ingat tentang kejadian itu, matanya mengikuti Dion yang berjalan mengitari Boneka itu.
Kali ini Dion melangkah mendekati Dania berdiri dalam jarak kurang satu meter darinya.
" Pak, maaf tapi itu udah lama sekali! Dan bapak bisa cari yang lebih baik sekarang!" Ucap Dania.
Dion tahu Dania takkan mudah untuk Ia rebut, setelah Riki menggantikan posisinya yang dulu kosong. Tapi Dion takkan menyerah.
Dion bersimpuh di hadapan Dania, mengeluarkan cincin dari sebuah kotak.
" Dania ,maukah kau menikah denganku?kita ukir kenangan baru lagi!" Ucap Dion.
Dania hanya membulatkan kedua matanya, tak mengira Dion langsung melamar tanpa menunggu aba-aba.
" Em, maaf Pak, Saya sedang banyak pekerjaan! Permisi!"
Dania langsung berlari dari ruang kerja Dion, wajahnya merah merona, mesti jantungnya berdegup biasa. Wanita mana yang tidak meleleh mendapatkan pengakuan romantis seperti ini.
" Dania lihat saja, kau akan goyah!" Ucap Dion percaya diri.
*
*
Siska merasa sesak perutnya penuh dengan minuman keras itu, susah payah Luna memapah bandannya ke Apartemen.
" Berat banget sih Tante!" Ucap Luna.
" Hehe, syukurin Lo dasar kakak gak berguna!" Celetuk Siska tak jelas karena sedang mabuk berat.
" Brukk."
Akhirnya Luna berhasil membawa Siska sampai ketempat tidur. Nafasnya agar tersengal-sengal karena lelah membawa tubuh yang lebih besar dari badannya.
__ADS_1
" Aku mau kasih peringatan ke Tante Atmika ah! Siapa tahu dia lupa"
Luna langsung mengambil ponselnya, dan mengirim pesan pada Atmik.
" Tuk, tuk, tuk."
" Luna : Halo Tante, Jangan lupa ya sama Janjinya!"
"Send."
Amika membaca pesan dari Luna membuang nafsunya kasar.
" Atmika : Apa gak bisa ditukar dengan yang lain Lun?"
" Luna : Tidak Tante! Atau mau ku bongkar kalo Tante kerjasama sama Aku? Biar Riki semakin marah?"
" Atmika : jangan! Baiklah Tante akan penuhi maumu.
Luna akhirnya tak lagi khawatir, Atmika akan menuruti apa maunya.
"Sejak kapan, Luna sifatnya seperti ini?" Ucap Atmika memonolog dirinya sendiri.
" Sayang! Kau ingin jenguk Ibu?" Tanya Anggoro yang keluar dari ruang ICU.
" Boleh!" Atmika berdiri dan Anggoro berdiri di depan pintu.
Atmika melihat Nani terbaring lemah, banyu alat yang dipasang di wajah dan tangannya.
Atmika berjalan mendekat, mengusap tangan Nani lembut,
" Ibu, maafkan Aku tak bisa menjagamu!"
Atmika kembali menangis,
Jauh di Negara orang, Choky sedang menunggu kabar dari Atmika.
" Kenapa Atmika tak ada kabar?"
Choky sudah menunggu pesan, ataupun telepon dari Atmika, karena kemarin Atmika bilang, ingin segera berpisah dengan suami laknatnya itu.
Tapi Choky tak tahu jika Atmika tak jadi berpisah dan kini sudah berbaikan dengan Anggoro bahkan akan melanjutkan pernikahan Mereka sekarang.
Choky adalah warga asli Indonesia, hanya saja dia bekerja sebagai tour guide bagian traveling,
*Flashback pertemuan Choky dengan Atmika*
Atmika sedang menangis ditepi jurang, memeluk diriny sendiri.
Timbulah niat aneh dalam hatinya untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat dari sana.
Atmika sudah bersiap tapi Choky, menangkap tubuhnya.
" Sett."
" Lepaskan! Aku ingin mati saja!" Atmika memberontak, tapi Choky tak mendengarkan ucapannya.
Choky memeluk kencang badan Atmika dan mengajaknya ketempat yang jauh dari tebing.
Choky adalah teman lamanya, sebenarnya Choky memiliki rasa dengan Atmika, hanya saja Choky harus kecewa ketika tahu Atmika memiliki Kekasih.
Hubungan gelap itu berawal saat Atmika sedang mabuk berat, dan Choky yang tak sengaja justru melakukan hubungan panas itu. Akhirnya Atmika bisa membuka hatinya, sifat Choky yang tulus dan halus, membuat Atmika justru ikut berselingkuh dari Anggoro.
"Eh?"
Seru Atmika ketika melihat ponselnya berdering.
__ADS_1