
Dania masih termangu, berpapasan dengan Riki tadi pagi membuatnya lesu. Harapan untuk tetap bersama kini terpaksa terhenti! Tembok besar menghalangi, strata sosial yang berbeda membuatnya harus memupus jauh-jauh harapannya.
" Tok ,tok, tok."
Suara pintu diketuk mengejutkannya. Dania bangkit melihat siapa itu.
" Dania mau makan siang?" Tanya Dion langsung, padahal pintu belum dibuka sepenuhnya.
" Eh, Pak Dion. Em.. saya belum laper Pak!" Jawaban yang akhirnya keluar dari mulut Dania, setelah hanya beberapa detik dia berfikir untuk mencari alasan menolak ajakan Dion.
" Ini udah siang lho! Gak baik buat kesehatan perut, kalo kamu gak makan. Nanti kalo kena magh gimana?" Ucap Dion tak menyerah. Dania mengulas senyuman kaku dari mulutnya, sedikit canggung. "Bagaimana ini?" Batinnya.
" Dania , ayollah!" Ajak Dion lagi.
Akhirnya Dania berjalan walau tak sesuai dengan hatinya.
Kini Dion yang senang, Mereka berjalan keluar dan Mereka akan makan siang. Wajah Dania masih terlihat sedih,
"( Dan, apa waktu kita putus kamu juga sesedih ini?)" Tanya Dion dalam hatinya melihat Dania saat ini sangat menyayat hati kecilnya.
" Dania? " Ucapnya.
" Iya Pak ? Gak jadi?" Ujar Dania masih berharap agar Dion membatalkan ajakannya ini.
" Hahaha, apa sih kamu kok tegang banget sih, slow Dan." Dion justru terkekeh melihat Dania tegang dan kini Dania sadar kenapa harus setegang ini pada Dion orang pernah membuatnya tersenyum.
" Hehe iya ya! Okedeh Pak. Kita mau makan apa?" Tanya Dania dengan nada bicara yang lebih santai.
Dania kini berjalan mengikuti Dion, merentangkan tangannya.
" Hah!" Menghela nafas pendek.
" Kak, gimana dulu kehidupan Kakak di Luar Negeri?" Tanya Dania mengingat Dion beberapa tahun merantau untuk mencari ilmu di Negeri orang. Pasti ada cerita seru yang bisa di dengar.
" Sulit! Karena aku harus kuat, mau berangkat aja udah diputusin!"
" Deg." Kata-kata Dion langsung menghujam jantung Dania.
Dania terdiam.
Dan Dion sadar, Dion sengaja mengatakan hal itu pada gadis ini tapi ada alasan dibalik itu semua.
" Tapi aku kan harus kuat, demi keluarga! Aku sampai disana belum punya teman Dan, untung aja aku fasih bahasa Inggris. Jadi aku asal aja ajak ngobrol orang asing! Ada yang lucu!" Ujarnya sengaja memancing perhatian Dania.
__ADS_1
" Apa?"
Yaps Dania terpancing dan bertanya.
" Aku pernah coba akrab sama Cowok dan tahu gak masak dikira aku homo! Mana aku langsung ditembak lagi!"
" Hahahaha." Dania reflek tertawa entah tapi di buat-buatnya, seketika mulutnya tak bisa mengatup karena cerita yang dianggap sangat lucu olehnya.
" Terus gimana Kak?" Tanya Dania ingin tahu kelanjutannya.
" Ya aku tolak lah! Gila apa!" Ucap Dion pasti. Meskipun sedang patah hati, Dion tak ingin terjerumus dijalan yang salah.
"Kirain diterima! Wkwkw!" Ledek Dania. Dion akhirnya lega bisa melihat senyuman manis itu di bibir Dania, beberapa hari ini Dania terlihat murung. Meskipun Dania agak sebal ternyata saingannya bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki.
" Kak makan disini aja ya!" Dania menunjuk di toko penjual mie ayam.
Dion tak menolak, justru langsung duduk di bangku yang sudah disediakan.
" Pak, dua ya?" Ucap Dion pada Penjual.
Di sela menunggu Dania sibuk melihat ponselnya, masih berharap apakah Riki tak akan pernah menghubungi dirinya lagi sekarang.
" Kamu hubungi lah, jangan cuma nunggu!" Celetuk Dion, tepat sekali menebak isi fikiran Dania.
" Hehe apaan sih Kak. Sok tau deh!" Sangkal Dania, malu rasanya Dion bisa menebak apa yang sedang Ia fikirkan.
" Hehe enggak ah! Ups!" Dania keceplosan dan segera menutup mulutnya.
" Hahaha. Nah kan bener!" Gelak Dion lagi, Dania kini salah tingkah dan menutup wajahnya yang memerah itu.
Dion akan tetap bersabar, bisa melihat Dania tersenyum sudah lebih cukup bagi dirinya.
Dania menyantap mie ayam itu dengan lahap. Tak terfikirkan lagi rasa galaunya tergantikan rasa mie ayam yang nikmat dicampur dengan saus, sambal dan kecap.
" Habis!" Dania menghabiskan satu mangkuk mie ayam tanpa sisa dan tentu saja Dion melihat itu dengan membentuk mulutnya menyerupai huruf O.
" Kamu kalo lagi sakit hati bahaya ya Dan?" Ucapnya.
" Hehe, lebih baik makan kan Kak, daripada nangis." Dalih Dania.
Dion dan Dania membayar masing-masing , tapi Dion langsung membayar dua mangkuk.
" Udah dibayar neng!" Ucap penjual ketika Dania menyodorkan uang.
__ADS_1
" Oh, iya Pak!" Dania meletakkan uang itu kedalam dompet.
" Makasih ya Kak!" Ucapnya tak lupa.
" Iya! Sama-sama."
Dania dan Dion kembali ke Kantor, saat di perjalanan tak sengaja Riki yang baru datang melihat Dania dan Dion sedang berjalan berdua.
Riki melihat Dania bahagia sedang bergurau dengan Dion. Sakit hatinya kini, tak ada harapan lagi.
" Prok. Prok.prok."
Riki bertepuk tangan, keluar dar mobilnya itu berjalan mengarahkan kakinya pada Dania dan Dion.
"Bagus banget! Udah sukses ya lupain aku!" Ucap Riki ketus.
" Kamu ngapain disini?" Tanya Dania.
" Kamu jahat Dan!" Ucap Riki.
Dania tersenyum kecut,
" Terus kalo kamu gimana?" Tanyanya sinis pada Riki." Tentang pertunangan yang tiba-tiba, kamu gak pernah hubungin aku? Kamu kemana aja Ky? sekarang kamu dateng nyalahin aku? Aku disini yang menderita Ky, AKU! Bukan kamu!" Cerca Dania lagi.
Riki kemudian merubah wajah marahnya menjadi datar. Yang Dania katakan tak ada yang salah. Riki terlalu percaya pada Atmika dan tak pernah menghubungi Dania. Hingga akhirnya salah paham terus berjalan hingga membesar seperti ini.
" Aku dijebak Mama! Aku gak tahu karena awalnya Mama bilang kita akan tunangan! Tapi ternyata Luna yang datang! Aku gak tahu Dan! Sumpah aku gak tahu!" Ucap Riki mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Dania terdiam, ternyata memang Riki tak tahu mengenai pertunangan ini.
" Udah Ky, sekarang gak ada artinya lagi!" Dania pergi tak mau mendengarkan penjelasan Riki lagi, Riki mengikuti Dania, menarik tangannya.
" Dan, ku mohon!" Pinta Riki lagi.
Dania tak menjawab, ia Bingung percuma saja untuk apa meneruskan hubungannya yang sama sekali tak mendapatkan restu.
" Ky, lepasin!" Pinta Dania. Tapi Riki enggan melepaskan tangan itu dan Dion jadi ikut turun tangan membantu Dania,
" Makasih Kak!" Dania berlari menuju kantornya, Riki tak bisa mengejar karena tak ingin membuat keributan di dalam kantor orang lain.
" Lo pergi!" Usir Dion.
Riki hanya tertunduk lesu, sesekali melihat kearah pintu. Berharap Dania menemuinya lagi.
__ADS_1
Tapi tak ada tanda-tanda Dania akan keluar, Riki melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua.
" Dania kamu jahat!" Ucapan terakhir Riki disana dan kini kembali ke Kantor nya lagi.