
" Dan? Hey! "
Lina menggoyangkan siku Dania. Dania sadar dan menoleh.
" Siapa ? Kamu kenal? "
" Iya! Dia cowokku! " Jawab Dania singkat, Lina langsung mencari laki laki itu dan melihat sedang berjalan dengan wanita lain.
" Yang disebelahnya siapa itu? "
Dania hanya menggeleng pelan. Dia bahkan juga tak tahu Riki sedang berjalan dengan siapa.
" Kamu gak tanya langsung? "
" Apa gak papa ? "
" Loh dia beneran pacar Kamu kan? Ya gak papa lah. Kecuali kalo kamu ngaku ngaku." Ucap Lina agak mengejek.
" Eh ya kali. Aku ngaku ngaku. Udah ah biarin aja. " Dania tak mau salah sangka lagi. Bisa saja itu salah satu client Riki.
" Nanti Aku tanya dirumah aja Lin, " ucap Dania lagi. Lina tahu hati temannya sedang tidak baik baik saja. Lina melihat Dania sibuk mengaduk es teh manis yang gulanya sudah larut itu.
" Yaudah kalo mau Kamu gitu. "
Riki dan Luna sedang makan siang bersama. Sebenarnya Riki ingin sekali mangajak Dania. Hanya saja Dania memberi kabar jika sedang terjun di lapangan. Riki harus menelan kenyataan pahit terlebih lagi Luna terus saja memaksa mengajak makan siang bersama.
" Lun jauh banget sih? Di deket Kantor kan banyak Restoran."
Luna hanya menatap dengan kedipan genit. Riki makin tak mengerti dengan sikap wanita satu ini.
" Aku mau nyoba makan shusi disana Riki. Temani Aku lah! "
Riki memasang wajah heran menatap Luna.
" Ya Kamu ajak pacarmu lah! "
" Gak mau! Aku gak punya pacar. Jadi Aku ajak kamu aja ya ya? "
Ucap Luna tangannya memegang tangan Riki dan menunjukkan wajah imutnya.
Riki menepis tangan Luna dengan kasar.
" Gak usah pegang tangan juga lah. Oke Aku temenin tapi hari ini aja! Besok Aku mau nyusul Dania. " Ucap Riki ketus pada Luna. Riki ingin menunjukkan rasa tidak nyamannya itu secara terang-terangan. Tapi sepertinya Luna tak perduli justru niat Luna semakin tinggi untuk membuat Riki goyah.
Riki dengan berat hati mengikuti langkah Luna. Sebisanya Riki tak mau beriringan dengan Luna. Saat tiba tiba Riki melihat punggung Wanita tercintanya menggunakan baju yang kemarin Ia beli kemarin.
" Eh kayak Dania bukan sih? "
Riki menghentikan langkahnya dan masuk ke sebuah Restoran itu.
" Sayang! " Riki memanggil Dania berharap tak salah lihat.
Dania menoleh, melihat Riki sudah berdiri dibelakangnya.
" Riki? "
Lina menatap Riki dengan tatapan tajam, tak suka.
__ADS_1
" Kamu makan disini? "
" Iya ." Jawab Dania singkat dan mengenalkan Lina pada Riki.
" Ini temanku Riki, namanya Lina!"
Riki menyodorkan tangannya tapi Lina tak menggubris. "Kenapa? Apa Saya membuat kesalahan? " Tanya Riki melihat sikap Lina yang acuh.
" Kamu udah puas selingkuhnya?" Tanya Lina tanpa basa basi pada Riki.
" Ha? Siapa yang selingkuh?"
Riki justru bingung mendengar perkataan Lina.
Luna tak sadar jika Riki tak lagi mengikutinya. Sesaat Luna berbicara sendiri.
" Riki Kamu suka shusi jenis apa? "
" Riki?"
Luna menoleh tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
" Loh kemana Riki? "
Luna melihat dari kaca yang tembus pandang itu. Riki sedang menemui seorang wanita didalam.
" Riki ngapain sih kesana. Ishh!" Luna mencari Riki dan ikut masuk ke dalam Restoran.
" Riki Kamu kok ningalin Aku?" Sungut Luna ingin kembali memegang tangan Riki. Secepatnya Riki langsung menghindari.
" Ya ampun ini Luna, Dania! Kan kemarin Aku udah bilang. "
Riki mendekati Dania dan mengenalkan Luna padanya.
" Luna, ini Dania, pacarku! Dan maaf Kakak Lina jangan salah paham dulu lah! Dania udah Aku jelasin kemarin kok. Memang Dania belum tahu Luna itu yang mana. Ya kan Sayang?"
Dania mengangguk dan kali ini Lina merasa tak enak, sudah salah sangka dan bertingkah tak sopan.
" Oh maafkan Saya. Saya hanya.."
Riki memotong perkataan Lina yang menggantung.
" Gak papa.. slow. Justru Saya senang. Dania akhirnya punya teman yang perhatian. "
Dania masih melirik Luna. Luna sadar mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah. " Halo Dania senang bertemu! " Luna juga menyodorkan tangannya. Dania menerima jabatan Luna dengan ekspresi ramah juga.
" Maaf ya udah salah sangka! "
" Gak papa kok. Semua orang juga ngiranya begitu. Em. Kalian lagi makan? " Tanya Luna basa basi.
" Iya! Mau gabung? "
" Oh. Terimakasih. Tapi hari ini Aku sedang ingin makan sushi!"
Luna berjalan meninggalkan Mereka.
" Kamu mau disini Riki? "
__ADS_1
" Iyalah! Kamu makan sendiri aja! Aku mau sama pacarku. " Riki mengaitkan tangannya dileher Dania. Dan kepala Mereka bertemu.
" Ya ya deh! Aku duluan ya! Bye Dania! "
Luna meninggalkan Mereka dengan perasaan gemuruh dihatinya. Luna tak menyangka akan bertemu Dania disini dan menghancurkan rencananya.
Lina peka jika Luna sangat menyukai Riki. Tapi ketika melihat tingkah Riki, Lina yakin, Riki sangat mencintai Dania.
" Riki Kamu kok jauh banget cari makan siang? "
" Iya ! Luna terus aja maksa Aku. Kamu sih gak bisa di ajak makan siang bareng. Jadi Aku gak punya alasan buat nolak Dia. "
" Iih kok jadi salahku? "
" Gimana lancar? " Tanya Riki ingin tahu hasil kerja Dania hari ini.
" Aku hari ini udah dapet pelanggan. Seneng banget deh! "
" Selamat!! "
Riki ingin memeluk Dania dan mengecup keningnya. Tapi Dania mendorong badannya.
" Ehh. Tuh! " Dania memberi kode ada Lina yang sedang melihat. Lina menutup matanya dengan tangan.
" Aku udah tutup mata nih! "
" Hahaha! " Dania dan Riki tertawa. Lina memang teman yang pengertian. Tapi Dania tetep menolak dan menggeleng.
Akhirnya Riki tak jadi melakukan celebrasi pada Pacarnya yang sukses mendapatkan pelanggan.
Riki menyerobot minuman bekas Dania. Meminum bekas sedotannya juga. Dania hanya pasrah karena hal itu sudah biasa Riki lakukan. Berkali-kali Dania melarang tapi Riki tak pernah mendengar.
" Kamu gak makan?" Tanya Dania melihat Riki tak memesan makanan.
" Kamu udah mau pergi kan? " Tanya Riki berbalik.
" Iya! Aku lima menit lagi balik ke Kantor! "
" Nah! Jadi biarkan Aku memandang wajahmu sampai puas Dania Azahraku! "
" Wkwkw apaan sih lebay deh. " Dania terkekeh bahkan Lina ikut geli mendengar ucapan Riki.
" Kamu gak lapar? "
" Enggak! Lihat Kamu aja Aku udah kenyang hehe."
" Ahh. Emang Aku makanan apa! "
" Bukan. Kamu cintanya Aku! " Riki tersenyum geli mendengar ucapannya sendiri.
" Dasar! Eh udah jam nih. Ayo Lin! "
Dania bangkit dari kursinya. Riki tak bisa menahan kepergian Dania dan mengizinkan Dania pergi.
" Hati-hati ya! Bye! "
Dania tanya membalas lambaian Riki. Lina tak perlu merasa khawatir dengan Luna melihat cinta Mereka yang begitu besar. Walaupun ada ulat bulu yang gatal mengganggu
__ADS_1