
Riki sekuat tenaga, mengumpulkan sisa semangat yang masih Ia punya. Fokus mengendarai mobil,
" Dania, kenapa?" Ucapnya sendu.
Dikantor, Atmika datang untuk melihat Riki, hatinya tak tenang dan menyusul putranya ke sini.
" Selamat Pagi Bu, " sapa Emil.
Atmika melihat Emil masuk ke Kantor, bersamaan dengan dirinya. Melihat Emil baru datang Atmika menghentikan langkahnya.
" Emil kamu darimana?" Tanya Atmika.
" Tadi saya habis nganter Ibu Luna, Bu!" Jawab Emil.
Atmika menatap intens,
" Luna? Kenapa dia?" Tanyanya.
" Tadi mual terus Bu, dan saya anter pulang!" Jawab Emil.
" Oh, gitu. Riki ada?" Tanya Atmika mengalihkan topik lain.
" Saya gak tahu Bu, saya juga baru datang!" Jawab Emil.
" Kriett."
" Itu dia Bu!" Ucap Emil melihat Riki datang.
Atmika segera mendekati putranya itu, Riki hanya acuh, dan tetap saja berjalan.
" Riki, kamu dari mana?" Tanyanya.
Riki tak menjawab hanya mengencangkan kelopak matanya, tanda jika dirinya sedang marah besar pada ibunya.
" Riki! Maafkan Mama!" Ucap Atmika lagi,
" Ma, stop! Sekarang Mama puas kan lihat Riki hancur kayak gini!" Ucap Riki putus asa, menatap nanar Atmika.
"Sekarang Dania benci sama Riki Ma, ketemu Riki aja Dania udah gak mau!" Sesal Riki lagi.
Atmika terdiam, tak ada yang bisa ia katakan.
" Tolong, Mama pergi! Atau Riki gak akan pulang kerumah selamanya!"
" Brakk."
Riki menutup pintu kencang, Atmika harus melakukan sesuatu. Tak ingin Dania salah paham pada Riki, walaupun tak bisa bersatu setidaknya mereka harus berpisah secara baik-baik.
" Aku harus ketemu sama gadis itu," ucap Atmika berniat menemui Dania.
Atmika menuju Kantor Dania, menunggunya di luar.
Atmika sadar, masih dua jam lagi waktu Dania bekerja sampai akhirnya waktu bekerja berakhir.
" Dan, itu Mamanya Riki ada di luar!" Ucap Lina memberitahu Dania.
__ADS_1
" Eh, serius?" Tanya Dania.
Dania berdiri, melihat langsung dan benar saja Atmika sedang berdiri menunggunya.
" Haduh, ada apa lagi ya!" Tanyanya.
" Gak usah di ladenin. Kamu pulang aja!" Ucap Lina acuh, Lina takut Mama nya Riki akan menyakiti Hati Dania lagi.
" Nanti biar aku yang ngomong!" Ketus Lina lagi.
Dania tak menjawab.
Dania tak bisa konsen, rasa penasaran semakin tinggi. Mengapa Atmika harus datang ke Kantor lagi, apakah ada sesuatu yang akan dikatakan, ataukah ingin memarahi Dania lagi. Semua itu terus berputar di otaknya.
Waktu dua jam terasa singkat , Dania agak ragu melangkahkan kakinya untuk keluar Kantor. Tapi orang yang tak merasa bersalah takkan merasa takut bukan.
Dania berpura-pura tak melihat, terus saja berjalan hingga akhirnya.
" Dania!" Panggil Atmika.
" Eh , Tante! Ada apa?" Jawab Dania basa-basi.
" Bisa bicara sebentar!" Ucapnya.
" Boleh, dimana Tante!" Tanya Dania.
" Didalam mobil aja bisa?" Jawab Atmika.
Dania masuk kedalam mobil itu , dan juga Atmika.
" Dania, maaf jika Tante terus saja menganggu mu!" Ucap Atmika.
" Dania, dari lubuk hati Tante yang terdalam, Tante minta maaf yang sebesar-besarnya. Tante bener- bener gak tahu harus gimana lagi!" Ucap Atmika putus asa. Dania bisa melihat itu di matanya, rasa sedih yang amat dalam. Dania mengusap tangan Atmika lembut.
" Tante apa ada sesuatu?" Tanyanya peka.
Atmika menoleh, hangat sentuhan Dania menenangkan hatinya.
" Jadi kemarin Tante dan Nenek mau ketemu dan minta maaf sama kamu, tapi ditengah jalan Nenek ditabrak orang dan harus dibawa ke Rumah Sakit! Dan kami butuh donor darah saat itu juga, saat itu Luna lagi check up di rumah Sakit yang sama. Luna bersedia donorin darahnya tapi dengan syarat, dia tunangan sama Riki, Karena keadaan Nenek darurat, Tante tak ada pilihan lagi! Tante minta maaf! Hiks"
Penjelasan panjang itu ditutup dengan Isak tangis Atmika yang pecah,
Dania kini mengerti, ternyata Keluarga Riki tak membenci dirinya.
" Apa Riki tahu semua ini Tante?" Tanya Dania.
Atmika hanya menggeleng.
" Jadi Dia gak tahu alasan Tante?" Tanya Dania lagi.
Dan Atmika tetap menggeleng.
Untuk sesaat mereka berdua terdiam.
" Dania tolong jangan benci Riki! Benci Tante saja! Ini semua salah Tante bukan salah Riki. Tante egois! Hiks."
__ADS_1
" Tante ,Stop!" Dania memeluk tubuh Atmika, mengusap punggungnya.
" Tante, gak papa! Jangan salahin diri sendiri! Mungkin Riki bukan jodoh buat Dania! Dania juga janji gak akan benci Riki dan Tante!" Ucap Dania, meskipun tak dipungkiri hatinya semakin hancur karena sekarang harus merelakan Riki pergi dari hidupnya.
" Terimakasih Dania! Maafkan Tante!" Ucap Atmika lagi.
Setelah berbicara cukup lama, Dania keluar dari pintu mobil Atmika, melambaikan tangannya ketika Atmika pergi.
Sesak, dan lega rasa yang tak seimbang itu Ia rasakan bersamaan.
Lega karena ternyata Atmika tak membencinya. Sesak, karena kini Ia harus melupakan Riki dari hidupnya.
"Srashh"
Hujan datang tiba-tiba. Dania justru membentang kedua tangannya, entah mana air hujan dan mana air matanya, semua terlebur menjadi satu.
Dion membuka jaketnya berlari ke arah Dania.
" Hey! Kamu gak tahu hujan apa!" Ucapnya.
Dania tersenyum masam.
Kini Dion tahu, wajah manis ini ternyata sedang menangis.
Dion menutup badan Dania yang basah itu, untuk diajak berteduh.
" Hiks, hiks." Kini suara tangis Dania terdengar setelah Mereka masuk kedalam Gedung.
" Minum?" Ucap Dion menyerahkan air mineral.
" Makasih Kak!" Dania menerima itu dan meminumnya.
" Kamu diapain lagi?" Tanya Dion, mengira Atmika menyakiti hati Dania lagi.
" Gak kok Kak! Tante gak gitu! Cuma bilang alasannya aja. Tapi aku sekarang gak papa Kok! Jawab Dania santai.
" Gak papa kok nangis!" Protes Dion.
" Hehe, aku cuma relain hatiku biar lupain Riki sepenuhnya Kak!" Ucap Dania tersenyum dan menangis.
Dion mengusap tangan Dania lembut, dan Dania kini menatap wajah tampan itu ada banyak hal ingin Dion katakan dari mulutnya itu.
" Dan, ayo kita berjuang kayak dulu lagi. Kita ulang masa-masa waktu kita berdua! Aku janji gak akan sakitin kamu kayak keluarga Riki lakuin sekarang!" Ucapnya tulus.
" Kak tapi aku!"
" Ststs! Dion menutup mulutnya dengan telunjuknya, tak ingin Dania melanjutkan kata-katanya.
" Aku akan bantu kamu buat lupain Riki Dan!" Lanjut Dion lagi.
Dania berfikir sesaat, bolehkah menerima cinta dari orang tak Ia cintai, bahkan menjadikannya pelampiasan secara terang-terangan. Tapi melihat Dion justru rela jika memang harus dijadikan Dania sebagai pelipur lara.
" Kak, apa gak papa?" Tanyanya pada Dion.
" Gak papa. Aku serius!" Ucap Dion yakin.
__ADS_1
" Baiklah. Kita coba ya kak!" Jawab Dania. Akhirnya Dania kembali menerima Dion, dan kini mereka resmi menjadi pasangan.
" Terimakasih Dania!" Dion memeluk erat tubuh Dania, tak perduli dengan bajunya yang basah. Dania mencoba merespon mengusap tubuh kekar itu dengan kaku, tak ingin egois dia harus membalas kebaikan Dion padanya.