Seimbang

Seimbang
Bab 67. Semoga bahagia


__ADS_3

" Jadi Anak Ibu mau nikah beneran? Seriusan?" Tanya Bu Melati tak percaya.


Eric mengangguk cepat.


" Ya ampun! Senengnya!" Bu Melati memeluk tubuh Eric.


Eric juga tak menyangka jika Lina akan menerimanya secepat ini.


" Ibu, kita kapan lamarannya?" Tanya Eric melepaskan pelukan itu.


Kini mereka berdua saling bertukar pandang, belum bisa menentukan waktu yang tepat.


" Kita pikir sambil jalan ya Ric, kan Ayah belum dikasih tau juga." Ucap Bu Melati, tentu Eric setuju.


Bu Melati, ingin melihat kondisi putri kecilnya itu, memegang dahinya.


" Em, udah turun! Syukurlah!" Ucapnya lega.


Dania masih tertidur pulas, Bu Melati melihat perubahan suhu badannya bisa bernafas lega dan hari semakin larut kini mereka istirahat.


*


" Jadi karena Luna donorin darahnya, Dia mau Riki tunangan sama dia gitu?" Tanya Nani setelah mendengarkan semua penjelasan Atmika dirumah.


Anggoro dan Nani memegang dahinya yang berdenyut, serumit ini permasalahan keluarga Mereka saat ini.


" Maaf Mas, aku gak ada pilihan lain!" Ujar Atmika,


" Coba aja kalo Mama hati-hati dan gak sampai ketabrak, pasti semua bakal gak terjadi, dan Riki bisa bahagia sama pilihan nya!" Nani merasa dia biang keladinya, tapi Anggoro tak ingin Nani berfikir seperti itu.


" Mama, ini semua udah takdir, kita sebagai manusia cuma bisa merencanakan tapi kan hasil akhirnya tetap Tuhan yang nentuin Ma," ucapnya.


" Yaudah kita sekarang harus terima, meskipun konsekuensinya Riki harus benci sama kita." Ucap Atmika berlapang dada.


Kini keluarga ini saling mengerti, dan pasrah jika Riki masih tak ingin pulang, tapi harapan mereka semoga Riki bisa membuka hatinya untuk Luna.


Riki ingin kembali ke rumah Dani, tapi karena Nani pulang dari Rumah Sakit, akhirnya Ia pulang kerumahnya. Riki harus bisa mengesampingkan egonya sedikit untuk Nani.


" Riki!" Ucap Atmika senang.


Riki menghampiri Nani yang sedang duduk dikursi roda, mencium tangan Nani sebagai tanda sayangnya.


" Udah pulang sayang!" Tanya Nani.


" Iya Nek!" Maaf ya Nek! Selama di Rumah Sakit, Riki gak jenguk!" Ucap Riki sibuk mencari pelaku tabrakan dan Nani tahu itu.


" Gak papa sayang! Kamu udah makan?" Tanya Nani perhatian.


Riki menggeleng.


" Ayo kita makan!" Ajak Nani,


Mereka sekeluarga makan di tempat biasanya, Riki membantu Nani mendorong kursi roda.


Atmika, Anggoro dan Nani saling lempar pandangan, mereka bergantian melirik kearah Riki.


" Kalian mau sampai kapan lihatin aku?" Tanya Riki acuh. Saat menyadari keluarganya tak henti melihat kearahnya.


" Hehe gak papa Ky, maaf!" Ucap Anggoro salah tingkah, tak mungkin Riki tak tahu, sikap canggung mereka sungguh kentara.


Saat sedang makan malam, ada tamu yang tak diundang datang mengetuk pintu.


"Tok, tok, tok,."


" Bentar ya Mama cek dulu." Ucap Atmika berdiri,


"Eh kalian!" Ujar Atmika terkejut ketika Rossi dan Dodi datang.


" Selamat Malam Atmika, kita ganggu gak?" Tanya Rossi ketika datang tak memberi kabar padanya dahulu.


Atmika menggeleng ragu, karena jujur saja bagaimana jika Riki tahu, akan marah dan pergi lagi.


" Ayo kita masuk dulu! " Ajak Atmika,


Rossi dan Dodi duduk diruang tamu, melihat Riki dan keluarganya sedang makan bersama.

__ADS_1


" Wah kayaknya kita datang di waktu yang gak pas nih Mah!" Ucap Dodi, Rossi agak sungkan. Tapi karena sudah sampai tak mungkin juga untuk pulang.


Anggoro, Nani dan Riki tetap menyelesaikan makan malam mereka, Atmika membuat minuman di dapur.


" Ini silahkan diminum! " Ujar Atmika.


" Iya makasih ya Mika," ucap Rossi, kini Dodi ingin mengutarakan niatnya tentang tujuannya datang kemari.


" Begini, kita kesini mau rundingan perihal kapan mau adain resepsi pernikahan ini!" Tanya Dodi, Atmika gemetar takut Riki mendengar akan langsung marah, tapi nyatanya Riki masih terlihat tenang.


" Oh, iya ya. Em, gimana ya! Kita nurut aja deh Dod!" Ucap Atmika tak ingin ambil pusing, karena memang percuma berunding dengan Riki.


" Kalo aku sih maunya secepatnya Mika! gimana kalo bulan depan!"


" Uhuk uhuk. Uhuk." Riki sampai tersedak saat mendengar kata itu.


" Iya deh, Boleh kita kapan aja bisa!" Ucap Atmika,


" Brakk"


Riki mendorong kursinya, dan matanya membuka lebar, tatapan seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Jujur saja Atmika sampai bergidik.


" Iya, gak papa kok!" Ucap Atmika pasrah dan memalingkan wajahnya dari Riki.


Riki mengganti baju dikamarnya. Dadanya seperti akan meledak, hal yang tak akan pernah menjadi mimpinya justru akan menjadi kenyataan.


" Gue harus ngomong sama Luna. Gue pengen dia batalin pertunangan ini! Titik!"


Riki ingin menemui Luna sekarang.


" Riki mau kemana?" Tanya Atmika.


" Brakk."


Hanya dentuman pintu yang menjawab pertanyaan Atmika. Dan suara mesin mobil yang menyala.


Riki segera menghubungi Luna, mangajaknya untuk bertemu sekarang juga.


" Nut."


" Luna : Hallo sayang! Ada apa?"


" Luna : Boleh dong, mau dimana?"


" Riki : Di Cafe sport!"


" Nut."


Riki langsung mematikan telepon itu, tak memberi kesempatan Luna untuk menjawab.


" Haha, Riki mau apa sayang!" Ucapnya dengan senyuman licik. Luna mengambil tasnya dan pergi menuju Cafe, tempat dimana Riki mengajaknya bertemu.


Riki tak ingin membuang waktu. Berharap Luna mau memutuskan pertunangannya.


" Gue bakal ngomong baik-baik. Semoga Luna bisa ngerti!" Ucapnya penuh harap.


Riki lebih dulu sampai, mencari kursi kosong. Beberapa menit kemudian Luna datang menghampiri dirinya.


" Udah lama Ky?" Tanya Luna, ingin mencium, tapi Riki menepis bibir seksi nya itu.


" Lun, gue gak mau berbelit, tolong batalin pertunangan ini sekarang!" Ucap Riki, sulit rasanya untuk mengatakan hal ini secara halus dan hanya inilah usaha terbaik Riki memohon Luna.


Luna tersenyum masam, percuma berdandan cantik, tapi telinganya harus panas mendengar permintaan Riki ini.


" Udah itu aja?" Tanyanya.


Riki menoleh, mengangkat dagunya.


" Lo setuju?" Tanyanya penuh harap.


" Hahaha, maaf ya Ky, gue gak bisa!" Jawab Luna.


Riki mengkerutkam hidungnya, memandang Luna remeh.


" Kenapa Lo harus kayak gini Lun? Lo pasti udah ngancem Mama kan?" Tuduh Riki, Luna membelai wajah rupawan itu dengan lembut, meskipun Riki terus menepis tangannya.

__ADS_1


" Riki, Lo tau gak ? Tante Atmika udah hutang budi sama Gue! Asal Lo tau! Waktu Nenek Lo kecelakaan. Gue udah donorin darah Gue yang banyak ini buat dia! Jadi Lo sekarang terima aja dan gak usah protes! Okey!" Ujar Luna bangga, berdiri dan membelai bahu Riki.


" Deg." Riki seperti tertampar kenyataan hal yang tak pernah ia ketahui. Ternyata alasan ini yang membuat Atmika menentang hubungannya dengan Dania.


Luna kembali mengusap kerah bajunya, wajah Riki dan wajahnya mendekat,


" Sayang! Terima aja ya! Kita akan resmi sebentar lagi! I love u Riki Agung Wiguna. Emuacchh!" Luna mengecup mesra pipi Riki, dan


" Srakk."


" Minggir Lo, najis gue!" Sentak Riki, beranjak dan pergi meninggalkan Luna.


Luna tak merasa pusing, meskipun hampir terjatuh. Kali ini Riki memang menolaknya mentah-mentah tapi sebentar lagi Riki akan menjadi miliknya seutuhnya.


"Ahhhh. Bangsat!!!" Umpat Riki.


Harapannya sudah buntu, tak ada yang bisa Ia lakukan, menyalahkan Atmika yang ternyata terhimpit keadaan darurat Neneknya.


" Gue gak tahu lagi, Tuhan! Kenapa?" Riki berteriak. " Kenapa bukan Dania?" Imbuhnya lagi.


" Hiks, hiks.hiks."


Riki kembali, tak ada yang bisa Ia lakukan, Setelah tahu alasan Atmika, Riki jadi memaafkan Mamanya.


" Riki, kamu udah pulang?" Tanya Atmika.


" Udah Ma.Mama!" Ucap Riki sendu.


" Iya sayang!" Jawab Atmika.


Riki memeluk Atmika erat,


" Kenapa Mama gak cerita? Kenapa Mama harus bohong sama Riki? Hiks?" Riki jadi durhaka kan sama Mama!"


Atmika terdiam, kini Riki tahu cerita yang sebenarnya.


" Sayang! Maafin Mama! Hiks!" Ucapnya lega. Atmika lega akhirnya Riki kembali memeluknya.


" Jangan kayak gitu Ma, kalo posisi Riki kayak Mamak, Riki juga bakal ngelakuin hal yang sama." Jelasnya.


" Iya Sayang terimakasih!" Ucap Atmika lega.


Kini kesalahpahaman itu berakhir, Riki tak ingin menyalahkan Atmika, Nani sekarang juga bisa sehat berkat bantuan Luna.


" Jadi kamu mau nikahin Luna?" Tanya Atmika.


Riki mengangguk pelan. Tak ada yang bisa Ia lakukan kecuali menuruti permintaan Luna, bagi Riki kini dirinya telah berhutang nyawa pada Luna.


Beberapa hari kemudian, Riki berangkat ke Kantor seperti biasa. Menguatkan hatinya, mencoba melupakan Dania sebisa mungkin.


Dan disisi Lain, Dion sedang menyiapkan acara lamaran untuk dirinya. Dania yang izin karena sakit kini telah sembuh dan kembali bekerja.


" Lina, doain ya!" Ucap Dion pada Lina.


" Tentu dong Pak!" Ucap Lina.


Semua karyawan kecuali Dania bersiap, menunggu Dania datang. Mereka bersembunyi dan pintu yang selalu dibuka kini sengaja ditutup.


Dania datang, semua terdiam.


" Kok pintunya ditutup ya?" Ucap Dania heran.


Saat membuka pintu.


Dania terkejut, mendapatkan kejutan, ditambah Dion bersimpuh didepannya.


" Dania Will you marry me! ( Dania maukah kau menikah denganku?)"


Dania menutup mulutnya tak menyangka.


" Terima! terima!terima!"


Sorakan dari karyawan yang lain, juga menambah riuh suasana.


Dania agak ragu, hatinya sebenarnya belum merasa siap tapi siapa yang bisa menolak ketulusan sebesar ini.

__ADS_1


" Iya Kak, aku mau!" Ucap Dania bersedia,


" Yeeay!!" Semua bersorak, dan kini Dion resmi melamar Dania...


__ADS_2