Seimbang

Seimbang
Bab 39. Menghibur Eric?


__ADS_3

Eric duduk diteras, masih berharap Nila menghubungi dirinya.


" Nila, Aku harap fikiranku salah." Eric masih berguman.


" Nak, Kamu ada masalah? " Tanya Bu Melati melihat wajah muram anak laki lakinya itu.


" Ibu, gimana kalo tahun ini Eric belum bisa nikah?" Tanya Eric.


" Ya gak papa lah Ric, berarti kan Kamu belum ketemu sama jodoh Kamu!" Ucap Bu Melati santai.


" Ibu gak malu? " Tanya Eric lirih, Bu Melati langsung mengangkat wajah Eric yang tertunduk. Bu Melati dengan halus memberikan Dia pengertian.


" Sayang! Ibu gak papa, Ibu gak malu, Kamu gak melakukan hal negatif kan? Ibu malu kalo Kamu maksa hamilin anak orang biar cepet nikah! " Ucap Bu Melati tak ingin Eric terjerumus ke jalan yang salah.


" Ah, Ibu mana mungkin Eric berani. Ibu tahu sendiri Bu Jumi sering banget nyindir. Eric takut Ibu malu."


Bu Melati terharu, Eric ternyata peduli dengan dirinya.


" Ric, jodoh, rejeki, maut, itu rahasia Tuhan. Kita gak bisa maksa kalo emang belum dikasih kan? Perihal Bu Jumi, gak usah pusing. Tutup aja telingamu sama earphone. Dan jalan saja. Malah bagus tantang sekalian suruh cariin jodoh." Ucap Bu Melati dengan nada berani. Eric menatap Sang Ibu.


" Ahh, Ibu, Eric sayang sama Ibu!" Eric memeluk manja Bu Melati. Ibu dan Anak ini sedang mencurahkan kasih sayang Mereka satu sama lain.


Bu Melati tak mau Eric memikirkan hal yang tidak penting. Dan sebaliknya


Eric merasa lega jika Bu Melati tak menghiraukan ucapan Bu Jumi.


"( Maafkan Eric ya Bu, perkara nikah aja Eric gak bisa penuhi.)"


Ucap Eric dalam hatinya merasa sedih tak bisa menyenangkan hati sang Ibu. Nikah itu akan mudah ketika jodohnya sudah ada.


Eric masih saja memeluk Ibunya. Bu Melati mengusap kening kepalanya.


" Ih, kok Dania gak diajak." Dania baru turun dari mobil tapi langsung iri saat Bu Melati dan Kakaknya sedang berpelukan.


" Apaan sih, Lo gak diajak!" Ucap Eric semakin gencar mempererat pelukannya.


" Ihh, jahat! Bodo amat Dania mau ikut." Dania langsung menyempil duduk ditengah, Eric langsung terpental.


" Dania, rese banget! " Cetus Eric sebal.


" Eh, udah dong ada Riki tuh, malu lah." Ucap Bu Melati.


Riki hanya tergelak melihat dua bersaudara itu, kasih sayang Mereka akan membuat siapapun iri jika melihatnya.


" Kakak, ni Dania beliin makanan kesukaanmu!" Dania langsung menyerahkan kantung plastik dengan tangannya.


Eric langsung membuka kantung plastik itu melihat apa isinya.


" Widih pisang keju, eh tapi kan Lo belum gajian?" Tanya Eric mengingat Dania belum menerima gaji.


" Hehe, Dania utang dulu sama Riki!" Ucap Dania malu malu. Riki hanya melirik, Ia seakan menyetujui ucapan Dania. Perkara membeli pisang keju harus berhutang padanya.


" Ya ampun, utang? Ah jadi terharu Aku. Makasih adikku sayang! Muachh."


Eric memeluk Dania dan mencium pipinya.


" Eh tapi kok bauk asem." Celetuk Eric setelah mencium Dania.

__ADS_1


" Ih, Sini pisang kejunya!" Ucap Dania. Tangannya ingin menarik kantung plastik itu.


" Heheh, gitu aja ngambek, Gue nih jujur loh. Kalo bohong dosa tauk! Lo mau?" Tanya Eric berkilah. Dania langsung termakan omongan Eric yang ngawur itu.


" Ogah! Dosa kok di bagi-bagi. Aku mau mandi dulu. Riki! Kamu mau pulang atau gimana?" Dania masih berdiri didepan pintu menunggu keputusan Riki.


" Aku pulang aja ya! Udah malem!" Ucap Riki.


" Yaudah hati hati ya! Da dah! Bye bye pangeran arang. Ilove u." Ucap Dania dengan wajah imutnya.


" Hoekkk." Ucap Eric mengejek tingkah Adiknya itu.


" Bugh." Dania langsung melayangkan bogemnya.


" Auhh. Sakit Dania!" Eric mengusap bahunya itu. Dania justru memeletkan lidahnya.


" Bwelkk."


" Eh sini Kamu! " Eric langsung berdiri ingin mengejar Dania. Dania lari meninggalkan Eric.


Riki kembali tergelak, dan akhirnya pulang kerumah.


Eric masih menonton acara TV, pandangan matanya kosong dan fikirannya justru kembali teringat pada Nila.


Dania keluar kamar ingin mengambil air minum di dapur. Melihat Sang Kakak sedang duduk sendirian disana.


" Kak Eric ngapain? " Tanya Dania tapi karena Eric sedang melamun, Dia tak mendengar panggilan Dania.


" Hem, mau Aku kagetin tapi lagi sedih, jadi gak tega Aku."


Dania akhirnya ikut duduk di sebelah Eric.


" Kakak, yang tadi itu pacarnya?" Tanya Dania.


" Hem, iya Dan," ucap Eric.


Eric menyandarkan kepalanya di sofa, dan menepuk kepalanya yang sedang panas bukan karena demam itu.


" Kakak, udah coba telefon belum?"


" Udah, tapi nomer Kakak diblokir." Ucap Eric sedih.


" Astaga! Jahat banget, udah selingkuh langsung blokir lagi." Ucap Dania tak terima. Dania mulai berfikir untuk menghibur Eric.


" Kakak!" Panggil Dania tangannya di rentangkan. " Jangan ditahan! Peluk Aku! Dan lepaskan semua!" Ucap Dania lagi. Dania akan bersedia mendengar semuanya.


" Hiks, hiks, hiks, "


Eric langsung menyikap tubuh adiknya itu, air matanya yang Ia tahan keluar saat Dania bersedia mendengarkan semua penderitaanya.


" Sabar ya Kak, sedihnya jangan lama-lama. Kakak terlalu berharga untuk orang macem kayak Dia."


Dania kembali mengusap punggung Eric.


" Aku sedih aja. Salahku Apa? Dia sendiri yang minta mau jadi pacarku, Aku berusaha buat penuhin semua maunya. Tapi kenapa Dia bales Aku kayak gini." Ucap Eric dengan suara serak.


" Kakak, Aku jadi nyesel waktu nyuruh Kakak nembak Dia. Tau gini sih mendingan Kakak polos terus aja." Ucap Dania sebal.

__ADS_1


" Pokoknya jangan lama-lama sedihnya. Kakak terlalu berharga."


Dania melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Eric.


"Makasih ya Dan, Aku udah lega sekarang!"


Dania masih duduk, tak tega jika harus meninggalkannya sendiri.


" Kakak, tidur sana! Besok kerja kan."


Ucap Dania.


" Iya. Kamu juga tidur ya! "


Eric dan Dania berpisah masuk kekamar masing-masing.


*


*


Lampu rumah mewah Riki menyala membuat pancaran kemegahan rumah itu semakin bersinar.


" Kriett."


" Dari mana Kamu Riki?" Ucap Nani melipat keduanya tangannya.


" Kerjalah Nek! emang apalagi!" Ucap Riki tak suka mendengar Nani berkata demikian.


Riki tak mau berdebat dengan Neneknya. Tapi Nenek langsung melempar beberapa foto ke arahnya.


" Srakk."


Riki seklibat melihat wajah Dania, dan tertarik memungut foto itu.


" Kamu jangan bohong! Kamu habis pergi ketemu sama Wanita miskin itu kan?" Ucap Nani dengan nada marah.


" Hahaha, jadi Nenek suruh orang buat ikutin Aku?" Riki justru tergelak dan berbalik menyerang Nani.


" Kamu! Jangan kurang ajar sama Nenek ya!"


" Nenek, Riki sayang sama Nenek! Tolong jangan buat Riki jadi benci sama Nenek. Dan satu lagi, Riki capek mau istirahat."


Riki meninggalkan Nani, gagal rencana Nani untuk membuat Riki tunduk dan segera meninggalkan Dania. Riki bahkan semakin berani padanya.


" Susah Nek, gak akan mempan." Ucap Siska keluar dari arah dapur.


" Iya, kenapa Riki tak mau menuruti perintahku Siska!" Ucap Nani sedih.


" Ya, karena wanita miskin itu sudah pakai pelet Nek, jadi Riki sudah hilang akalnya." Ucap Siska mulai membuat cerita bohong lagi.


Nani setuju dengan ucapan Siska. Jelas ini akan menjadi awal yang buruk.


" Cih, dasar wanita murahan ternyata Dia pakai dukun untuk memikat Cucuku!" Nani mengepalkan tangannya, giginya juga mengrutuk karena saking menahan emosi.


"Lebih baik Nenek langsung saja memberi pelajaran pada Wanita itu Nek, biar Dia tahu rasa."


" Ah, benar katamu! Nenek akan temui si ****** itu!" Nina akan berencana menemui Dania dan memberinya pelajaran.

__ADS_1


To be continued......


__ADS_2