
Sejurus kemudian Luna mengatur siasat dan strategi terbaiknya. Isi kepalanya sedang merancang sebuah kata yang bisa membuat Atmika akan terpukau dan semakin mendukung dirinya.
"Luna?" Ucap Atmika melihat gadis itu tak juga berbicara.
" Eh. Maaf Tante. Jujur saja Luna agak sungkan."
" Bicaralah Sayang! Gak papa." Atmika mengusap tangan lentik Luna memberi isyarat jika Ia akan mendengarkan segalanya.
" Dulu kan Tante pernah bilang mau jodohin Aku sama Riki. Dan sekarang Kami udah saling kenal bahkan lumayan dekat. Jadi.. kapan Tante mau resmiin hubungan Kami? " Luna mengucapkan kata itu dengan malu malu. Wajahnya memerah dan seperti ingin meledak. Atmika masih termenung dengan berat hati Ia berbicara apa adanya.
" Sayang!! Maafin Tante ya! Kemarin Tante kira Riki udah putus sama pacarnya. Setelah Tante tanya, ternyata Riki masih berhubungan dengan wanita itu. Tante gak bisa nerusin perjodohan ini Sayang. Maafin Tante yaa!"
Bagai petir yang menyambar Luna merasa kecewa dengan pernyataan Atmika.
" Jadi selama ini Tante gak tahu kalo Riki punya pacar?"
" Tidak Sayang. Tante gak tahu!"
" Emangnya Riki gak pernah bawa Dania kerumah?"
Atmika hanya menggeleng. Luna sedikit lega dan mulai berfikir jika Riki tak ada niat untuk mengajak Dania ke hubungan yang lebih serius.
" Ah. Gak papa Tante ist okey! Mungkin Aku dan Riki masih bisa temenan kan?"
" Tentu dong! Jika saja ada yang bisa Tante bantu pasti Tante seneng banget. "
" Tapi Tante. Kok Tante bisa kenal sama Dania kalo Riki belum pernah kenalin dia ke Tante? "
Atmika menceritakan semuanya pada Luna. Dari kisah Riki yang pergi dari rumah dan kembali pulang.
" (Ah ternyata sedalam itu hubungan Mereka berdua. Pantas saja Riki sangat takut jika berhubungan dengan Dania. Mungkin saja bukan perasaan cinta. Hanya sekedar balas budi Riki terhadap wanita itu. Aku akan mencoba menarik perhatian Riki). "
" Sayang! Ini sudah sore Tante pulang dulu ya! "
Atmika kembali mencium pipi kiri dan kanan Luna sebagai simbol perpisahan. Luna melambaikan tangannya dan mulai memikirkan rencana selanjutnya.
"Riki? Kamu mau pulang? "
"Iya! Kamu ngobrol sama Mama?"
"Ya! Sebentar. Mama mu orang yang asik kok."
" Benarkah? Mama gak ngomong yang aneh aneh kan? "
" Aneh aneh? " Tanya Luna berpura-pura tak mengetahui maksud ucapan Riki.
" Eum. Tidak! Lupakan! Silahkan Kamu pulang Luna! Hati hati dijalan."
Riki meninggalkan Luna di sana. Luna tersenyum kecut dan melipat kedua tangannya.
" Riki Riki, dasar dingin sekali sikapmu. Aku kan semakin tertarik. "
*
__ADS_1
*
Selepas Riki meninggalkannya Dania pergi ke Danau masih menggunakan baju hitam putih. Dania lebih membutuhkan udara segar.
Dania sedang menikmati angin ditepi pagar danau. Dan menyenderkan badannya menatap luas air danau yang berwarna bening itu.
" Hah. Besok hari pertama Aku bekerja tolong restui Aku ya Tuhan."
Dania berteriak mengeluarkan segalanya.
" Ahh lega sekali!! "
Dania merasakan sesak dadanya melonggar lega.
" Dania!!"
" Riki? Kok Kamu tahu Aku disini? "
" Sekalipun Lo ngumpet di rumah semut Gue juga bakalan tau Dania. "
" Heleh. Palingan Lo nyari Gue ke semua tempat kan? "
Riki berlari mendekati Dania. Air keringaat mengucur dari pelipis dahinya itu.
" Kamu kok gak angkat teleponku sih? "
" Emang kamu telvon aku? "
Dania mengecek ponselnya melihat apakah benar ucapan Riki yang telah menghubungi dirinya.
" Ishh. Sini!" Riki menarik tubuh Dania itu mendekapnya dengan erat.
" Kamu harus dihukum!"
Riki ******* bibir Dania melepaskan rasa emosi dan kesalnya. Buas sekali ciuman Riki kali ini. Dania hanya melenguh menikmati setiap serangan Riki. Beberapa menit mereka habiskan hanya untuk berciuman. Matahari terbenam menjadi saksi bisu Mereka disana. Dania melepaskan dekapan Riki hanya sejengkal jarak wajah Mereka sekarang.
" Riki.."
" Apa? "
" Siapa itu Luna? "
Riki sadar alasannya mencari Dania adalah untuk menjelaskan tentang Luna.
" Ayo duduk dulu! "
Dania mendengar segala penjelasan Riki. Malu rasanya saat itu ternyata Luna orang yang membantu Riki di Kantor.
" Maaf. Seharusnya Gue gak marah sama Lo. Dan Gue malah gak percaya!"
" Gak papa Dan. Gue takut sih Lo marah. Tapi Gue juga seneng. "
" Kok seneng? "
__ADS_1
" Lo lupa ya? Kita pacaran udah delapan tahun. Tapi baru kali ini Gue bisa bikin Lo cemburu! "
Dania langsung sadar dan tertawa.
" Hahaha . Iya ya! Asem.. baru sadar dong Gue. Mau masukin di rekor muri gak? "
" Cih. Gak lucu Dan, gak lucu. Gue hampir kehabisan nafas buat ngejar Lo kesini tau gak? Udah bagus Lo gak usah cemburu ding. "
" Wkwkwk. Dasar manis banget sih pacarku ini. Muachh."
Dania memeluk tubuh Riki dan mengecup pipinya dengan cepat.
" Pulang yuk! Nanti Ibu nyariin Aku."
" Jadi dari tadi Kamu belum pulang? "
" Hehe. Belum."
" Ctakk. " Riki menyentil dahi Dania dan membuatnya meringis.
" Auh.. sakit tahu! "
" Biarin! Lo nakal sih. Ayo pulang sekarang! "
Mereka pulang kerumah Dania. Tentu saja di rumah Bu Melati sudah cemas. Dania meninggalkan rumah sejak pagi tadi dan sampai sekarang belum pulang.
*
" Dania Kamu kemana sih Nak? "
" Belum pulang Dania Bu? "
Pak Burhan datang dari arah gerbang melihat Bu Melati sibuk mondar mandir didepan pintu.
" Belum Pak. Kemana ya Anak itu?"
" Nah itu dia! "
Dania datang bersama Riki. Riki langsung menjewer kuping Dania lagi membawa Dania mendekat pada Bu Melati.
"Nih Bu, anak nakal. Gak pulang dulu malah mampir ke danau. Mana Riki telvon gak diangkat! "
" Astaga Dania. Ibu udah cemas nungguin Kamu di Rumah. Nah bener banget Kamu Riki jewer aja sampai telinganya putus!"
Bu Melati ikut geram dengan sikap Dania yang seenaknya sendiri.
" Maafin Dania Bu, Dania janji gak gitu lagi. "
" Sekarang Kamu mandi. Lihat tuh! Muka sama baju kok sama sama kusut. "
" Iya Bu. Riki, Aku mandi dulu ya! Jangan pulang! "
" Eh ni anak! Kalo Kamu gak mandi Riki bisa pingsan cium bau badan Kamu. " Bu Melati menarik paksa Dania yang enggan pergi mandi meninggalkan Riki.
__ADS_1
" Ibu !! Nanti baju Dani sobek!"