
Dania masih saja terdiam, Ia masih belum memberitahu hal ini pada Riki.
" Aku harus gimana ya? Kalo aku ngomong sama Riki dikira ngadu, kalo gak ngomong terus gimana?"
Dania masih belum bisa memutuskan apa yang akan Ia lakukan saat ini.
" Ahh, kepalaku pusing."
Dania malah semakin menepuk kepalanya yang tak kunjung memberinya solusi.
*
*
Tante Siska puas sekali bisa membuat Dania terlihat menyedihkan ditempat umum.
"(Ah aku harus kasih tau kabar bagus ini sama Luna.)" Ucap Tante Siska si kaki tangan Luna.
" Sis, Nenek mau beli sesuatu di Toko itu, tolong Kamu berhenti dulu!" Ucap Nani ingin mampir ke toko buah.
Siska langsung menepikan mobilnya dan Nani turun dari mobil tanpa ditemani olehnya.
" Aku mau cari uang dulu dong, hihihi."
Siska langsung menelepon Luna, memberikan informasi ini padanya, tentu saja semua ini tidak gratis dan ada sebuah harga untuk kabar ini.
" Drtt."
" Drtt."
" Drtt."
" Kenapa nih Tante Siska telvon?" Ucap Luna melihat kontak Siska memanggil.
" Luna: Hallo Tante?"
" Siska : Lun, ada berita bagus tauk, Kamu mau denger gak?"
" Luna : Apa Tan?" Tanya Luna datar.
" Siska : Eh, kok langsung gitu, ada fulusnya lah."
Luna sebenarnya malas sekali harus meladeni Siska. Tapi dirumah itu Luna hanya bisa mengetahui kabar terbaru darinya. Luna memutar kedua bola matanya malas tapi tak ada pilihan lain sekarang.
" Luna : Kirim nomer rekening Tante!
" Siska : Siap!"
Siska langsung mengirim nomor rekeningnya. Luna tanpa berlama-lama langsung mengirim sejumlah uang demi mendapatkan informasi itu.
Setelah mendapatkan apa yang Dia mau, Tante Siska menceritakan semua yang terjadi pada Luna.
Tepat saat Luna sedang asik berbicara,Riki keluar dari ruang kerjanya dan akan pergi meeting bersama client.
" Luna : Hahaha, jadi Nenek nglabrak Dania, terus nyiram dia pakai air? Hahaha masih ditampar juga. Duh Tante tadi videoin gak? Luna jadi penasaran."
Riki langsung bisa mendengar ucapan Luna itu. Bagaimana tidak suara Luna sangat keras dan bisa sampai ke telinganya.
" APA!! Nenek nampar Dania?"
Tentu saja Riki tak terima, amarahnya memuncak dan ingin pergi menemui Luna.
Saat Riki ingin mendekati Luna.
Emil datang untuk memberi kabar jika Client sudah datang dan menunggunya sekarang. " Pak, mohon segera ke ruang meeting, semua orang sudah menunggu kehadiran Bapak."
Riki menghela nafas kasar menoleh sengit ke arah Luna.
" Awas saja! Gue gak akan tinggal diam!"
Riki akan membalas perbuatan Nani dan untuk Luna akan akan mendapatkan jatah juga darinya.
__ADS_1
*
*
Eric sengaja menunggu kehadiran Nila. Tapi ternyata saat di cek, Nila tak datang ke Kantor.
" Ric, nunggu Nila ya?" Tanya Ramli teman sekantornya juga.
" Iyah nih," ucap Eric singkat.
" Lo gak tahu, Nila kan ajuin resign mendadak, ini Gue baru mau tanya sama Lo?" Ucap Ramli mengungkap alasannya menemui Eric.
Eric semakin tak paham, mendengar kenyataan yang lebih aneh ini. Kenapa Nila sampai mengajukan Resign.
" Nila resign? Kapan? "
Tanyanya berbalik.
" Loh, baru hari ini, itupun surat resign nya dikirim pakai kurir. Lah, Lo kan pacarnya masak gak tahu?"
Ucap Ramli heran.
" Gue beneran gak tahu! Ini aja tahu dari mulut Lo, " ucap Eric.
" Kok aneh sih. Yaudah Gue mau lanjut kerja dulu ya!" Ramli pergi dengan perasaan heran, Padahal Eric tak kalah heran juga dengan Ramli. Nila pergi menghilang tanpa meninggalkan jejak.
*
*
"Pak Riki, bagaimana kalo sistem kerjasama kali ini Kita beri pajak 10% untuk penjualan produksi diatas lima ratus barang?" Tanya Seorang Client salah satu anggota rapat.
Riki memang tak fokus sejak masuk di ruangan itu. Ia ingin segera menemui Dania, mengetahui bagaimana kondisinya saat ini.
" Pak Riki? Pak? "
Tanya Client itu lagi karena Riki tak juga merespon.
" Ah, Bapak sedang tidak fokus ternyata! Sedang memikirkan apa Pak? "
" Haha tidak, Saya hanya sedang tak enak badan." Ucap Riki beralasan.
Walaupun sering mengulangi pertanyaan, Rapat tetap berjalan lancar. Riki juga menandatangani beberapa berkas. Riki tak sabar ingin mengakhiri rapat ini, tapi Riki tetap harus profesional sebagai pimpinan.
*
*
Setelah merasa tenang dan mampu menutupi mata sembabnya. Dania ingin menemui Bu Tina. Melaporkan hasil kerjanya hari ini.
" Kriett." Dania membuka pintu seharusnya, jika saja Dion bersabar lebih lama lagi maka tatapan Mereka akan bertemu saat Dania membuka pintu. Sayangnya Dion mulai lapar dan pergi mencari makan siang.
" Selamat siang Bu!" Sapa Dania pada Bu Tina.
" Siang, Dania! Bagaimana lancar?" Tanya Bu Tina.
" Lancar Bu, bahkan kita bisa menjual tiga unit, dan Mereka akan datang besok!" ucap Dania percaya diri. Menyerahkan sejumlah berkas dan foto yang laku terjual.
Bu Tina langsung takjub mendengar hal itu dan langsung memuji Dania.
" Dania, Kamu benar-benar hebat!"
Dania tersenyum dan pamit untuk pergi.
" Kalo begitu, Saya kembali dulu Bu, "
Saat Dania ingin menutup pintu Bu Tina setengah berlari mengejarnya.
" Dan, Kamu sudah bertemu dengan adik Saya?"
Dania mengangkat kedua alisnya itu.
__ADS_1
" Belum Bu, kenapa?" Tanya Dania.
" Ah, tadi semua sudah bertemu, hanya saja tak tahu mengapa Dia ingin sekali bertemu denganmu?"
" Dengan saya?" Dania menunjuk dirinya sendiri.
" Iya, tapi tak apa semoga kalian cepat bertemu ya!"
Kali ini Bu Tina yang menutup pintu. Dania berjalan dan masih saja tak paham, mengapa CEO harus bertemu dengan karyawan baru seperti dirinya.
" Apa karena kinerjaku Bagus ya? Ah apa Bos itu akan memberiku hadiah? " Guman Dania sambil berjalan.
Dion melihat dari arah berlawanan, gadis yang dulu Dia cintai ada didepannya sekarang. Berjalan sendirian sambil bergumam.
" Hah, dasar Kau semakin cantik saja Dania. Dan lihat! Kebiasaanmu berbicara sendiri masih saja Kau lakukan!"
Rambut panjang yang terurai serta baju formal berwarna pink, membuat Dania terlihat anggun dan menawan. Dion sampai tak berkedip.
Dania langsung sadar dan berjalan lurus, jalan Dania dan Dion sama garisnya, mata Dania langsung tertuju pada Dion.
" Klak."
" Klak."
" Klak."
Dion berjalan dengan tangannya yang satu Ia masukkan kedalam saku. Menatap Dania tajam padahal itu adalah tatapan tumpukan rindu yang tertahan bertahun-tahun lamanya.
Angin yang masuk dari celah pintu terbuka membuat rambut Dania terhempas. Matanya masih fokus melihat Dion.
" Aku gak salah lihat kan?" ucap Dania. Dania juga tak berkedip, bahkan Dia juga mencubit tangannya sendiri.
" Auwhh." Pekik Dania.
Dion berlari ketika tahu Dania mencubit tangannya.
" Hey! Kenapa Kamu menyakiti tanganmu sendiri?" Dengan lembut Dion mengusap tangan Dania, Ia juga meniup bekas merah yang sebenarnya perihnya tak seberapa.
" Kak Dion, ini beneran Kakak?" Ucap Dania lagi. Dania langsung menarik tangannya. Dion tersentak, namun tetap menjawab pertanyaan Dania.
" Ya! Ini Aku, Apa kabarmu?" Tanya Dion lagi.
" Ah, Aku baik Kak, kapan Kakak pulang?" Tanya Dania basa basi. Dania memang terkejut tapi jantungnya biasa saja, padahal sudah lama Mereka tak bertemu. Berbeda dengan Dion yang detak jantungnya tak beraturan itu.
" ( Aku ingin memelukmu Dania)" batin Dion menahan dirinya.
" Wah kalian udah ketemu akhirnya!"
Bu Tina melihat Dania dan Dion sedang berbincang.
" Maksud Ibu, dia Adik Ibu Tina? " Tanya Dania lagi takut salah mengerti ucapan Bu Tina.
" Iya, kenalkan Dania, ini Dion Adik kandungku, sekaligus Pemilik dari Perusahaan tempatmu bekerja!"
" Deg."
Kali ini jantungnya berdegup kencang. Dania ternyata telah bekerja di Perusahaan mantan kekasihnya tanpa Ia sadari.
"( Mati Aku!)" ucap Dania dalam hati.
Dania menyipitkan kedua matanya. Tapi langsung sadar, tak ingin menimbulkan suasana yang canggung.
" Wah, Bu Tina tahu tidak Kak Dion adalah kakak kelas saya loh." Ucap Dania tanpa pikir panjang, toh Dia suatu saat akan terbongkar juga.
" Ya ampun, jadi maksudnya Dion ini! Dia bahkan menunggumu dari pagi dan...." Ucap Bu Tina terputus karena Dion membekap mulutnya.
" Kami permisi dulu ya Dan, selamat bekerja!"
Dion menggandeng tangan Bu Tina, meninggalkan Dania sendiri.
Lina si sangat peka itu sudah melihat dari tadi tentu saja sudah bisa menebak apa yang pernah terjadi.
__ADS_1
" Aw, aw , Aku mencium aroma cinta yang lain ini."