Seimbang

Seimbang
Bab 63. Kantor Polisi?


__ADS_3

" Selamat untuk Pak Riki dan Bu Luna"


Kepala Riki seketika mendidih, melihat tulisan itu terpampang besar dan nyata.


" Siapa yang pasang ini hah!" Sentak Riki tak menyukai tulisan laknat ini.


Emil tentu saja merasa takut, karena dia yang menyuruh untuk memasang tulisan itu disana.


" Maaf Pak, Saya yang pasang!" Ucap Emil ragu-ragu.


" Kenapa!" Tanya Riki ketus.


" Maaf Pak! Kami hanya ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak. Itu saja!" Jawab Emil.


Riki melihat tubuh Emil bergetar hebat, dan merasa bersalah.


Riki sadar,Emil melakukan ini untuk menghormati dirinya, mengucapkan selamat atas pertunangan Atasan adalah hal yang lumrah tapi Emil tak tahu Riki sangat tidak bahagia atas kejadian ini.


" Copot! Atau kalian ku pecat!" Titah Riki kemudian.


Riki melanjutkan langkahnya, masuk ke ruang kerjanya. Baru saja ingin menyemangati diri, justru harus kembali hancur melihat tulisan yang sama sekali tak Ia inginkan.


Emil tak tahu dimana salahnya,


" Pak Riki Kayaknya kesambet deh!" Ucap Emil, tapi bergegas mencopot papan ucapan itu, sebelum Riki akan benar memecatnya.


" Ahh, jangan cari penyakit deh!" Emil mengendurkan banner itu melipatnya dan menyimpan didalam lemari.


Dan terdengar suara langkah kaki kembali terdengar,


" Klotak, klotak, klotak,


" Selamat pagi Emil!" Sapa Luna.


" Pagi Bu Luna!" Jawab Emil.


Berbeda dengan Riki, wajah Luna sangat cerah, dan menebar senyuman manis. Ia menyapa semua orang dan berpapasan dengannya.


" Nah, Bu Luna aja bahagia banget! Kok Pak Riki enggak!" Ucap Emil.


Merapikan meja kerjanya.


Luna berjalan, melenggak lenggokkan badannya, seakan sedang menikmati kemenangan atas rencananya yang berhasil.


" Hahaha, Bagaimana Riki, kau tak bisa lepas dariku sekarang!" Ucapnya dengan bangga.


Luna kini lebih berani untuk bertindak lebih , kali ini ia akan menghampiri Riki di ruang kerjanya.


" Krieet."


Laki-laki tampan itu sedang fokus melihat laptop diatas meja kerjanya.


" Selamat pagi sayang!" Sapa Luna manja.


Riki menatap sinis.


" Kamu ngapain kesini?" Sentaknya.

__ADS_1


" Mau ketemu kamu lah!" Ucap Luna.


Riki masih dengan tatapan yang sama,


" Kamu pergi sekarang!" Sentaknya lagi.


Luna tersenyum kecut, tapi masih diposisi yang sama, menatap Riki lama.


" Kamu sekarang gak bisa lepas dariku Riki!" Ucapnya lagi.


" Gue bukan burung! Jadi gak usah sok!" Ucap Riki. Matanya acuh tak melihat Luna, menganggap wanita itu tidak ada.


Nyali wanita itu memang besar, kini berani mendekati Riki.


" Riki!" Ucap Luna manja, tangannya mengusap bahu kekar itu dengan manja.


" Eh, minggir gak!" Riki menepis kasar tangan Luna, Luna meringis karena ulahnya.


Luna kini muak, bermain dengan cara halus tak mempan dan memutar otaknya memikirkan rencana lain.


" (Oke Riki, ikuti permainanku!"


Luna bersiap, merobek bajunya sendiri.


" Srakkk."


" Eh., Lo gila ya Lun, ngapain?" Riki tersentak dengan tingkah Luna yang merusak pakaiannya sendiri, dan kini tubuh moleknya terlihat menggunakan bra.


" Riki, lihat! Kamu gak mau jamah ini?" Luna menggoyangkan badannya, dan tentu saja itu gerakannya yang sangat erotis, tapi itu tak menggoyahkan iman Riki, karena Dia tak pernah menganggap Luna sebagai wanita.


Riki melepaskan jasnya, dan menutupi bukit kembar Luna,


Luna masih berdiri berharap Riki berubah fikiran, tapi sudah lama Ia berdiri tak ada pergerakan dari Riki.


" (Cih, Riki seriusan. Diemin Aku kayak gini) " Luna kini malah merasa malu sendiri, tak ada respon dari Riki membuatnya mati gaya.


" Srakk." Luna membuang jas Riki, dan keluar dari ruang kerja itu.


" Haha! Emang enak! Dasar Nenek sihir!" Umpat Riki.


Bagi Riki menjamah wanita yang bukan tipenya adalah hal yang mudah, baginya menikah dengan wanita yang tidak ia cintai adalah pantangannya.


Luna kini susah sendiri, mencoba menutup belahan dadanya yang terbuka,


" Sial, apa kurang gede kali ya?" Luna melihat bukit kembarnya itu, merasa kurang dengan ukurannya. Luna fikir Riki tak tertarik karena hal ini.


" Apa aku suntik silicon aja yah!" Ucapnya melantur, Luna memang payah. Tak bisa melihat Riki tak ada cinta untuk dirinya itu.


Atmika datang, setelah tadi pagi ia juga ke Kantor. Tapi karena Riki belum datang, Atmika pulang.


Atmika memberi pesan pada Emil untuk segera menghubunginya dirinya ketika Riki datang.


Dan sesuai permintaan Atmika, Emil langsung menghubungi Ibu dari atasannya itu.


" Krieett."


Riki menoleh, mengira Luna kembali dengan jurus yang baru, tapi ternyata yang datang adalah Atmika sang Mama.

__ADS_1


" Riki! Kamu dari mana saja Nak?" Tanyanya penuh rasa khawatir.


Riki tak menjawab,


" Sayang!" Ucapnya lagi.


" Mama ngapain kesini? Riki lagi sibuk!" Ucap Riki ketus.


Atmika masih berusaha untuk meminta maaf, dan merayunya.


" Riki, maafkan Mama!" Ucap Atmika tulus.


" Riki gak ada waktu Ma! Tolong!" Ucap Riki tegas, secara halus ucapannya adalah untuk mengusir Atmika.


Riki tak perduli, menganggap wanita yang telah melahirkannya itu sebagai patung. Itu lebih baik bagi Riki daripada harus marah dan berkata kasar padanya.


Atmika duduk di sofa , menatap sendu wajah putranya itu.


"( Riki, sakit sekali rasanya!)" Atmika sedih baru pertama kali Riki marah padanya hingga seperti ini.


" Riki, kamu boleh marah sama Mama! Tapi tolong jangan diemin Mama kayak gini!" Ucap Atmika tersiksa. Hal yang lebih baik Ia dimaki, daripada Riki tak berucap sedikitpun.


Riki hanya melirik sesaat dan kembali menatap Laptopnya, Ia tak mau menyakiti surganya meskipun dia sendiri sudah dikhianati. Saat ingin memfokuskan fikirannya, ponselnya bergetar.


" Eh, siapa ini?" Riki melihat nomer resmi yang sedang menghubungi nya, untuk lebih tahu Riki mengangkat panggilan itu.


" Riki : Hallo selamat Pagi!" Sapanya.


" Polisi: Selamat Pagi Bapak Riki! Ini kami dari pihak kepolisian ingin memberitahu perihal pelaku tabrak lari yang menyebabkan Ibu Nani terluka."


" Riki : Oh ya Pak, lalu bagaimana?" Riki mengubah posisi duduknya lebih serius mendengarkan penjelasan Polisi.


" Polisi: Bisakah Bapak datang kesini? Agar kami bisa menjelaskannya secara detail."


" Riki : Baiklah. Saya kesan sekarang!"


" Nut."


Riki menutup panggilan telepon itu, dan segala menuju Kantor Polisi. Atmika melihat putranya hendak pergi lagi,.


" Riki, mau kemana?" Tanyanya.


Riki tak menjawab


Riki berjalan cepat, bahkan seperti berlari.


" Sial, gue gak bawa mobil lagi!" Riki baru sadar, hari ini dia jadi miskin sesaat teringat saat kemarin dia membuang mobilnya di jalan.


" Riki kamu mau kemana?" Tanya Atmika.


" Ayo Mama antar!" Ajaknya lagi.


Riki tak ada pilihan lain, meskipun Ia sedang tak ingin. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain.


" Mobil Mama dimana?" Tanyanya.


" Ah, disana Sayang! Ayo!" Atmika senang akhirnya Riki menerima ajakannya, meskipun masih dengan nada yang datar.

__ADS_1


Riki membawa mobil Atmika menuju Kantor Polisi.


__ADS_2