Seimbang

Seimbang
Bab 48. Berhasilkah Atmika?


__ADS_3

Atmika memakai bajunya kembali, melihat Anggoro tertelap, wajah yang kini mulai menua akibat usia yang bertambah tak mengurangi ketampanan yang memancar.


" Emuach." Atmika mencium lembut kening suaminya itu dan menepis lembut tangan Anggoro yang memeluk tubuhnya.


" Kriett." Atmika membuka pintu kamar, dan menuruni anak tangga, Ia mendengar suara orang yang sedang berbincang di Dapur. Atmika mengatur langkahnya agar tak terdengar. Melihat siapa yang sedang bergosip.


" Iyah Nek, pokoknya Siska akan dukung Nenek! Jangan kasih restu untuk Riki. Apalagi wanita miskin itu tadi siang berani lawan Nenek kan?" Ucap Siska tak ingin Nani goyah, Siska menunjukkan kata-kata yang akan membuat Nani semakin benci pada Dania,


" Tapi sekarang Atmika telah kembali, Nenek harus bagaimana Siska?" Tanya Nani, semenjak pengakuan Anggoro, Nani mengaku salah dan tak berani melawan Atmika.


" Prok, prok, prok." Atmika bertepuk tangan, menepuk dua badut yang sedang sibuk mengarang cerita dan menimbulkan masalah.


" Eh, Kakak!" Ucap Siska gugup.


Atmika berjalan dengan melipat kedua tangannya.


" Jadi ini semua ulah kamu ya Siska! Kamu sengaja bikin Nenek benci sama Dania, apa salah gadis itu hah! Kamu udah Kakak kasih izin untuk tinggal disini! Jangan-jangan uang bulanan yang kakak kirim kamu pakai sendiri ya?" Ketus Atmika memarahi Siska, Nani berbalik menatap Siska dengan tatapan tajam. " Jadi selama ini Kau berbohong? Kau bilang Atmika tak perduli dan tak pernah mengirim kabar? Nyatanya Dia mengirim uang bulanan?" Tanya Nani.


Siska merasa terpojok kini bersimpuh memohon ampun. " Maafkan aku kak, aku gak akan begini lagi!" Ucap Siska, Atmika tak ingin memberikan kesempatan dia justru malu mengetahui ulah Siska selama ini.


" Kamu sekarang pergi! Ini uang untuk modal! Terserah apa yang akan Kau lakukan, jangan kembali lagi!" Atmika melempar beberapa lembar uang. Dengan tahu malu Siska justru memunguti uang itu. Dan keluar dari dapur. Siska memasukkan baju miliknya kedalam tas.


" Cih, tega sekali kakak!" Ucap Siska. Bukannya sadar dan merasa bersalah Siska kembali menyalahkan Atmika.


Kini tinggallah Atmika dan Nani, Nani ingin melangkah pergi tapi Atmika menarik tangannya.


" Ibu, mari berbicara sebentar!" Ucap Atmika halus. Nani duduk dikursi yang Atmika geser untuknya.


" Ibu, jangan benci gadis itu!" Ucap Atmika.


" Tapi, dia anak miskin tak cocok dengan Riki Atmika!" Ucap Nani.


" Ibu, dengarkan Atmika dulu. Dulu Riki pernah kabur dari rumah, dan Dia tinggal bersama keluarga gadis itu, Riki diberi tempat tinggal dan bahkan Ayah gadis itu memberinya uang saku!"


Atmika mengehela nafas dan melanjutkan ceritanya yang belum selesai.


" Dan lagi, Perusahaan yang Riki buat adalah dedikasinya untuk lebih mandiri, dan lagi-lagi ada peran Dania didalamnya, mengecat ruangan, menata ruang kerja, hingga semuanya. Mereka menjalin hubungan selama hampir sepuluh tahun lamanya Ibu."

__ADS_1


" Apa? Sepuluh tahun?" Tanya Nani ternganga.


" Ya! Lama bukan? Dan Dania sudah menemani Riki sejak belum memiliki apapun. Dia bukan gadis yang materialistis Ibu, percayalah!" Atmika mengusap tangan keriput itu, berharap Nani membuka pintu hatinya.


" Hiks, Ibu tidak tahu! Ibu minta maaf." Isak Nani. " Tapi bagaimana Ibu sudah berkali-kali membuatnya malu bahkan sampai terluka. Apa dia mau memaafkan Ibu?" Tanya Nani putus asa mengingat semua yang telah ia lakukan pada Dania.


" Tidak apa-apa kita akan meminta maaf padanya besok! Oke!" Ucap Atmika menenangkan.


" Baiklah tolong bantu Nenek ya!" Nani menggenggam tangan Atmika meminta bantuan padanya.


Sebelum pergi Siska mendengar percakapan Atmika dan Nani yang akan menemui Dania untuk meminta maaf.


" CKc, Nenek memang mudah sekali dipengaruhi!" Sungut Siska melihat Nani menurut ucapan Atmika, sama saat Siska dulu mempengaruhi dirinya dulu.


Atmika mengantarkan Nani masuk ke kamar, kemudian kembali ke kamar pribadinya menyusul Anggoro.


Akhirnya Nani ingin membuka hatinya pada Dania gaes! Semoga tidak ada hambatan lagi yaa!


*


*


Luna sudah merasa enakan, bangun dari tidur panjangnya itu. Memakan buah apel yang sengaja dikupas Rossi untuknya.


" Eh, ada apa lagi ni?" Ucap Luna melihat Siska menelepon.


" Luna : Hallo Tante ada apa?" Tanya Luna.


" Siska : Sis, ada kabar buruk. Jadi..."


Luna mendengarkan cerita Siska dengan serius, bahkan apel ditangannya sampai jatuh karena tak menyangka Atmika akan mengusir Siska dari rumah.


" Luna : Tante gak bohong kan? Sekarang Mereka udah bakalan nikah dong! Ih kenapa Tante Atmika malah dukung sih." Cebik Luna kesal. Tapi bukan Siska namanya jika tak memiliki rencana jahat lain


" Siska : jangan khawatir! Besok Nenek akan pergi reuni dengan temannya. Kita akan buat Nenek celaka! Biar Mereka gak bisa ketemu Dania karena sibuk mengurus Nenek." Ucap Siska. Luna langsung cerah, saat mendengar rencana Siska itu. Akhirnya ada cara lagi untuk menjauhkan hubungan Riki dan Dania.


" Luna : Oke Tante, sekarang Tante datang ke Apartemen Luna, Tante bisa tinggal disana dulu! Besok Luna jemput ya!"

__ADS_1


" Siska : oke siap. Nut"


" Yes gak jadi tidur dijalan deh, hihi enak banget sih dapet duit." Siska langsung melihat ponselnya untuk mengetahui letak apartemen Luna.


"Ah, jadi kalian kita akan bahagia? Gak akan aku biarin Riki!" Luna tersenyum licik, tak sabar menunggu hari esok agar bisa melancarkan aksinya itu.


*


Riki sadar jika tubuhnya kini telah tertutup selimut tebal.


Bahkan sinar matahari yang masuk menerpa wajahnya. Hangat! Meskipun cerahnya matahari tak secerah hatinya saat ini. Kalut! Riki masih berharap Dania tak akan memutuskan hubungannya.


" Eh jangan-jangan Mama pergi lagi?" Riki langsung melempar selimutnya tak berarah, berlari menuruni anak tangga.


"Tap, Tap, Tap,"


" Eh!" Riki terkejut melihat pemandangan yang baru Ia lihat seumur hidupnya.


Anggoro, Atmika dan Nani, sedang bergurau di meja makan, senyuman yang terlihat seperti lepas kendali dan tidak dibuat-buat. Riki memiringkan kepalanya dan menepuk pipinya.


"Plak."


" Ah, Sakit!" Rintih Riki, kemudian mengusap pipinya itu akibat ulahnya sendiri.


" Hai, selamat pagi sayang!" Sapa Atmika, Riki menuruni anak tangga itu agak ragu, apakah ini mimpi atau kenyataan Riki masih mencoba memahami.


" Selamat Pagi cucu Nenek!" Sapa ramah Nani juga. Anggoro bahkan tak kalah bahagianya. " Riki, sini! Mama mu masak ayam goreng dan sambal terasi. Mantab!" Ucap Anggoro senang bahkan mengacungkan satu jempolnya.


" Ini Riki mimpi apa bukan sih!" Ucapnya lagi. Atmika menarik tangan Riki diajak duduk bersama, menyiapkan piring sejajar dada Riki ketika duduk.


" Riki! Kenapa?" Anggoro melihat ekspresi Riki yang bingung bahkan terlihat linglung.


" Hehe enggak kok Pa, udah yuk makan!" Ucap Riki.


Setelah yakin ini semua bukanlah mimpi barulah Riki ikut serta acara sarapan bagi yang indah ini. Riki berharap kehangatan ini tak akan berakhir.


Walaupun kenyataannya, Siska dan Luna telah menyiapkan rencana jahat yang lain,

__ADS_1


__ADS_2