
Beberapa bulan kemudian.
Riki menjalani kehidupannya tanpa Dania, hatinya terpaksa mengikuti permintaan Atmika untuk menikahi Luna. Ia tak mau membuat Atmika sedih dan terus menyesal.
Masih kurang satu bulan lagi Riki dan Luna melangsungkan pernikahan.
Riki berharap ada sesuatu yang bisa menggagalkan ini semua meskipun tak ada.
" Tok, tok, tok,"
Emil mengetuk pintu, Riki sedang merapikan meja kerjanya.
" Masuk!" Titah Riki.
" Pak ini ada surat untuk bapak!" Ucap Emil, tangannya menyerah amplop yang Ia maksud.
Riki menerima surat ini, dan Emil pamit undur diri.
Riki membuka bungkus penutup surat, merobeknya halus agar tak terkena isinya. Ternyata itu adalah undangan pernikahan dari seseorang.
" Brakk."
Riki terduduk lemas, saat melihat nama yang tertulis di undangan
" Dania dan Dion."
" Jadi mereka mau nikah?" Guman Riki.
Riki terpaksa mengulas senyuman, meskipun rasanya ingin menangis. Riki tak tahu lagi, meskipun sudah mencoba merelakan tetap saja hatinya merasa sakit.
" Its oke Riki! Lo harus dateng!" Ucap Riki menguatkan dirinya sendiri.
*
*
Dania dan Dion pergi ke sebuah Butik, untuk melihat baju pernikahan yang mereka pesan beberapa waktu lalu.
Dion terlihat bersemangat, dan melihat baju pesanannya telah jadi.
" Woahh. Bagus banget! Lihat deh Dan!" Ucap Dion, tapi Dania justru menitikkan air matanya, saat semuanya sudah berjalan hampir seratus persen, sedikit pun hatinya belum bisa melupakan Riki.
Dania justru sedih ketika melihat baju pengantin ini, jadi teringat tentang cita-citanya yang akan menikah bersama Riki dulu.
" Dania?" Dion mendekati calon istrinya Dania buru-buru menghapus air matanya.
" Eh iya bagus banget! Aku suka kok!" Dania langsung ikut memuji gaun pengantin itu, Dion tahu meskipun beberapa bulan ini mencoba mengisi hati Dania, tapi sepertinya itu belum cukup untuk menggantikan posisi Riki disana.
Dion juga tahu Dania menangis, hanya saja tak ingin memperpanjang masalah ini. Terlebih tiga hari lagi mereka akan menikah, dan Dania akan menjadi miliknya seutuhnya.
" Halo kak,?" Dania mendapatkan telepon dari Eric.
Eric dan Lina lebih dulu menikah, Bahkan Lina sudah mengandung janin anaknya dengan Eric.
" Kenapa?" Tanya Dion mendekat.
" Kak Lina mau kita beliin rujak buah!" Jawab Dania.
" Oke! Ini udah selesai. Kita cari sekarang aja!" Ajak Dion.
__ADS_1
Dania menurut, mereka mencari tukang penjual rujak.
Dania kesulitan memasang seatbeltnya, Dion membantu tanpa di minta. Wajah mereka saling berdekatan, Dion sebenarnya ingin mengecup bibir manis itu. Hanya saja sudah beberapa bulan menjalin hubungan, Dania tak pernah mau merespon dan selalu menghindar.
" Srak."
" Ah kakak!" Jerit Dania ketika Dion memegang kedua bahunya.
" Dan, lihat aku!" Titah Dion,
Dania justru memalingkan wajahnya, Dion kini tak bisa menahan lagi, memutar wajah Dania paksa untuk menatap wajahnya.
Dion bersiap untuk mengecup, tapi justru Dania mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.
" Maaf!" Dion melepaskan Dania, tak mau memaksakan kehendaknya, Dion merasa berubah menjadi jahat, saat melihat Dania justru menangis.
Akhirnya mereka tak saling berbicara sampai di Tukang penjual rujak.
*Beberapa hari kemudian Hari Pernikahan Dania dan Dion*
Riki terpaksa mengajak Luna untuk datang ke acara pernikahan Dania. Riki tak ada pilihan lain karena mulai bulan depan Ia juga harus mengenalkan Luna sebagai istrinya.
Riki keluar mobil, duduk dikursi yang memang disediakan untuk para tamu.
Dania masih sibuk berdandan, dan Dion dengan gagahnya menggunakan setelan jas berwarna abu-abu. Menyapa para Tamu, tak terkecuali Riki.
" Selamat!" Ucap Riki singkat.
Riki sebenarnya ingin mengatakan banyak kata hanya saja bibirnya mendadak kaku tak bisa berucap.
" Terimakasih!" Jawab Dion.
Semua tamu undangan telah datang, dan Mereka menunggu mempelai wanita memasuki aula. Semua yang masih berdiri, ikut duduk agar acara bisa segera dimulai.
Dania tak tahu jika Dion mengirim undangan pernikahan mereka pada Riki, saat Dania melangkahkan kakinya. Riki berdiri di samping jalan yang Ia gunakan.
Seketika air matanya jatuh tak terbendung, Dania belum mengucapkan janji manisnya tapi melihat Riki tak kuat lagi melangkah.
" Dania!" Ucap Pak Burhan melihat Dania terlungkai lemas.
" Gak papa Ayah!" Jawab Dania masih bisa berdiri kembali.
Semua yang melihat merasa khawatir, apalagi Dion tahu penyebab itu semua.
Riki terkejut, saat melihat Atmika, Nani dan Anggoro ikut hadir. Dania yang mengundang mereka untuk datang.
" Mama!" Ucap Riki.
" Iya sayang! (Kuat ya!)" Ucap Atmika berbisik.
Saat semua sedang khitmat berdoa, dan akan memulai acara. Tiba-tiba.
" Selamat Pagi! Maaf menganggu acara Kalian. Kami sedang mencari Saudara yang bernama Luna." Ucap Seorang Polisi. Luna sadar jika mereka mencari dirinya. Luna ingin bersembunyi tapi terlanjur ditangkap.
" Eh, ada apa ini?" Tanya Luna panik.
" Maaf! Anda harus Kami tangkap karena sebagai dalang kasus tabrak lari yang menyebabkan Ibu Nani koma dan masuk rumah sakit!" Jelas Pak Polisi itu.
" Apaa maksudnya ini?" Sangkal Luna memberontak saat tangannya ingin diborgol.
__ADS_1
" Anda jangan berkelit!" Sentaknya.
" Nah, apakah anda mengenali kedua orang ini?" Pak Polisi membawa orang yang menjadi suruhan Luna, dan juga Tante Siska yang ikut tertangkap.
" Apakah benar Nona ini yang menyuruh anda?" Tanya Pak Polisi pada kedua laki-laki itu.
" Iya Pak, benar Ibu Luna yang memberikan kami upah dan menyuruh kami untuk menabrak Ibu Nani!" Jelas mereka.
" Eh, tidak! Tolong! Lepaskan! Riki jelasin sama Mereka aku gak kayak gitu?" Ucap Luna meminta pertolongan pada Riki.
Riki menepis kasar tangan Luna, dan tatapan Atmika dan keluarganya juga tajam mengarah Luna.
Seketika Luna menciut, antara merasa malu dan percuma saja meminta pertolongan pada Mereka.
" Maaf kami telah mengganggu acara kalian, silahkan dilanjutkan!" Ucap Pak Polisi itu pergi membawa Luna.
Meskipun pernikahan Riki dan Luna tak jadi dilangsungkan, tak ada yang bisa merubah kenyataan.
Dion dan Dania sudah berdiri, saling berhadapan satu sama lain.
Tangan Dion memegang cincin pernikahan. Dion tegas memandang Dania, tapi Dania tertunduk memalingkan wajahnya.
Serangkaian acara dilakukan.
Dania lebih dulu memakaikan cincin itu, air matanya semakin deras mengalir.
Kini giliran Dion memakaikan cincin itu pada Dania. Riki tak sanggup melihat, membalikkan badannya untuk pergi.
Dion tak melanjutkan tukar cincin itu justru berjalan menuruni tangga dibawah panggung, Dion menarik jas Riki.
" Apa ini?" Tanya Riki heran ketika Dion menyerahkan Cincin itu ditangannya.
" Gue nyerah! Gue gak bisa gantiin posisi Lo di hati Dania! Meskipun kalo masalah cinta gue berani adu lebih gede daripada Lo!" Ucap Dion pada Riki.
" Cih, itu sih gak mungkin! Punya gue lebih gede!" Protes Riki dengan senyuman masam.
" Sekarang Lo gantiin posisi Gue disana! Jangan lupa besok tuker biaya resepsi nya" Ucap Dion menarik Riki naik keatas panggung.
Riki tak ragu, karena kesempatan yang Dion beri untuknya, meskipun ini bukan acaranya.
Riki Melangkah dengan percaya diri. Dania berdiri, melirik Dion, dan Dion tersenyum menganggukkan kepalanya. Arti dari sebuah kata
" tidak apa-apa, Aku baik-baik saja" .
Riki berjalan, Pendeta mengulangi janjinya. Riki dan Dania saling bertatapan. Dania kini menangis haru. Tangisan yang berbeda arti bahagia.
Tina merangkul tubuh adiknya itu, meskipun sedih, Tina harus bangga dan mensupport adik nya yang berjiwa besar itu.
" Prok. Prok, prok."
Tepuk tangan yang riuh, saat Riki dan Dania resmi menjadi suami istri sekarang.
Riki mengecup bibir Dania manja dan akhirnya mereka hidup bahagia.
Atmika tak kalah bahagianya, melihat putranya bisa menikah dengan wanita yang sangat Ia cintai. Pak Burhan dan Bu Melati saling berpelukan, yang terpenting bagi Mereka adalah kebahagiaan untuk putri kecil Dania Azahra.
TAMAT!!
Maaf jika masih banyak kekurangan dalam menulis. Semoga kalian suka dan tunggu ceritaku selanjutnya. Terimakasih banyak!!!
__ADS_1