
" Siapa ya? " Tanya Nani menerima jabatan Luna.
" Saya Luna Nek, teman kerjanya Riki di Kantor. Saya anak dari sahabat Mama Atmika, Mama saya bernama Rossi. "
Nani melihat penampilan Luna yang modis dan terlihat mahal itu bisa menebak jika gadis ini adalah orang berada. Nani juga melihat Luna datang membawa mobil yang ber merk.
" Oh temennya Riki, silahkan masuk Nak! Kebetulan Riki ada di dalam. Siska tolong panggilkan Riki! " Titah Nani pada Siska.
Siska menaiki tangga sesekali menoleh ke arah Luna.
" Cantik sih, kayaknya anak orang kaya." Ucap Siska sama dengan pemikiran Nani.
" Tok. Tok. Tok."
Riki tak menjawab, hanya keheningan yang membalas.
" Riki ada tamu? "
Riki melangkah membuka pintu sedikit.
" Siapa? " Tanya Riki nada ketus.
" Cewek cantik. Tadi kayaknya namanya Luna."
" Suruh pulang! Ngapain Dia kesini."
" Brakk."
Riki menutup pintu tak berniat menemui Luna dibawah.
" Dasar, jadi cowok kok O'on banget. Dikasih yang bening malah milih yang dekil." Ketus Siska.
Luna ingin mencari perhatian pada Nani mengajaknya berbicara.
" Nenek cantik ini siapanya Riki? "
Nani tersipu atas pujian yang Luna beri.
" Ih Luna bisa aja. Nenek ini neneknya Riki dari Ayahnya!"
" Oh gitu. Nenek udah lama ?"
" Belum Sayang! Kamu kenal sama si miskin itu? Tanya Nani merendahkan Dania yang Ia maksud.
" Si miskin? " Luna tak paham mengernyitkan dahinya.
" Pacarnya Riki! Dia gak cocok sama Cucu Nenek. Kenapa gak Kamu aja yang jadi pacarnya! " Ucap Nani semakin membuat Luna besar kepala.
" Hehe Ahh Nenek, Luna kan jadi malu. Riki sama Luna lumayan dekat kok Nek, cuman belum sampai ke hubungan yang seperti itu." Luna menyibakkan rambutnya.
" Nenek pengen banget Riki putus sama gadis miskin itu. Kamu bisa bantu? " Tanya Nani meminta bantuan Luna.
" Eh.. maaf Nek Luna gak berani. Luna gak tega Nek. "
" Ih hati Luna lembut banget yaa, mirip bidadari deh. " Puji Nani lagi.
__ADS_1
Nani semakin kagum dengan sikap Luna yang dianggap rendah hati itu. Padahal itu trik Luna sengaja menarik perhatian Nani.
" Ayahmu kerja apa Luna? " Nani bertanya lagi untuk memastikan status Luna sejajar dengannya atau tidak.
" Ayah lagi di Luar Negri Nek, ada Perusahaan di Singapura." Jawab Luna bangga.
" Wah. Hebat! Kamu gak ikut kesana?" Tanya Nani mulai tertarik.
" Ah enggak Nek, kasian Mama gak ada temannya. Luna kan anak tunggal Nek!" Jawaban Luna yang terakhir semakin membuat Nani ingin sekali menjodohkan Riki dengannya.
Luna bisa melihat jika Nani sangat tertarik dengan dirinya.
"( Haha Nenek tua ini sepertinya menyukaiku. Aku semakin punya banyak peluang) "
Luna sedang asik mengobrol dengan Nani membicarakan kekayaan Mereka yang tidak ada habisnya itu.
Suara langkah Tante Siska menuruni tangga membuat Mereka menghentikan obrolan Mereka.
Siska kembali ke bawah memberi kabar pada Nani dan Luna.
" Maaf Riki bilang Kamu suruh pulang!" Ucap Tante Siska memberitahu.
" Loh kok gitu? " Tanya Nani tak terima Riki mengusir Luna.
" Nenek, Luna pulang dulu ya! " Luna ingin berpamitan tapi Nani melarangnya.
" Jangan Sayang! Sebentar Nenek akan suruh Riki turun!" Nani beranjak pergi mencari Riki dikamarnya.
" Kamu suka sama Riki? " Tanya Siska dengan melipat kedua tangannya.
" Kalo dilihat dari wajah Kamu sih udah bisa ketebak. Kamu ini cinta mati sama Riki! "
Luna tertawa tanpa suara. Mendekati Siska. Siska melirik ketika Luna mengitari dirinya.
" Tante mau uang gak? " Tanya Luna. Dilihat dari wajahnya sudah bisa ditebak jika Tante Siska orang yang matre.
" Eh.. mau lah." Jawab Tante Siska tanpa ragu. Luna mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. Mata Siska berubah menjadi hijau.
" Eist. Tunggu dulu!" Luna menarik uang itu ketika Tante Siska ingin mengambilnya. " Sabar Tante ada syaratnya lah!"
" Apa Lun? Nanti bakalan Tante turutin deh." Janji Siska.
" Tante harus bantuin Luna biar Riki putus sama Dania. Gimana? "
" Hahahah. Tenang! Itu gampang Tante juga gak suka sama cewek miskin itu. Gak ada untungnya Dia. Masih cantikan Kamu kemana mana lah Lun, " ujar Siska senagaja agar Luna segera menyerahkan uang itu.
" Oke deal."
" Deal." Jawab Siska setuju. Luna menyerahkan uang itu pada Siska. Siska langsung menyembunyikan di sakunya.
" ( Yes ada untungnya juga ni Cewek. Ternyata royal dan tajir. Bisa aku manfaatin hihihi. Dasar bodoh banget!)"
Siska mempunyai rencana dibalik rencana. Dia tak tulus untuk membantu Luna sepenuhnya.
" (Haha sekarang Aku menang banyak ya Dania) " ucap Luna bangga dalam hatinya itu.
__ADS_1
Nani mengetuk pintu kamar Riki, Ia akan memaksa Riki untuk turun menemui Luna dibawah.
" Tok. Tok. Tok."
" Riki buka pintunya! Kasian Luna nungguin Kamu dibawah."
" Gak mau Nek, suruh pulang aja." Ucap Riki dari dalam kamar.
" Hey! Kalo Kamu gak mau keluar, Nenek akan buat perhitungan sama Pacarmu yang miskin itu!" Nina mulai mengancam Riki menggunakan Dania.
Riki langsung keluar kamar .
" Maksud Nenek apa? Jangan sakiti Dania!" Riki tak terima jika Nina berkata seperti itu.
" Cih, Kamu mulai berani sekarang! Wanita itu benar benar sudah mencuci otakmu Riki!" Nina semakin membenci Dania menuduhnya sebagai penyebab perubahan Riki.
" Turun sekarang! Kalo Kamu mau hal itu tak terjadi!" Nina mendahului Riki turun kebawah. Riki tak mau jika Nina sampai mencelakai Dania.
" Hai Riki! Apa kabar!" Luna menayapa Riki dengan wajah berseri, tapi Riki hanya menatapnya datar.
" Aku lagi gak pengen kerja. Kamu ngapain kesini?" Tanya Riki berharap Luna segera pergi.
" Aku khawatir sama Kamu! Masak Aku gak boleh main kesini!" Ucap Luna tanpa merasa bersalah. Luna tahu Riki tak senang atas kehadirannya. Tapi itu tak penting lagi. Bagi Luna mendapatkan restu dari Nina lebih menguntungkan dirinya sekarang.
" Hah! Kamu lebih baik pulang sekarang! Aku mau istirahat! " Riki ingin pergi tapi Luna mengatakan hal yang membuat langkah Riki terhenti.
" Kemarin Mama mu telvon." Ucapan Luna sukses menarik perhatian Riki.
" Jangan bohong!" Ancam Riki padanya.
" Aku gak bohong! Tante Atmika suruh aku ambil mobilnya di Bandara! Bahkan sekarang mobilnya ada dirumahku! " Ujar Luna semakin sengaja membuat Riki tertarik.
" Apa? Sekarang Mama dimana? "
Tanya Riki masih posisi berdiri.
" Duduk dulu dong! Biar lebih enak ngobrolnya." Luna mulai menggunakan caranya itu menarik Riki secara paksa tapi dengan cara yang halus.
" Luna!" Ujar Riki dengan nada datar tapi terdengar menekan.
" Ya?" Jawab Luna.
" Gue memang butuh informasi tentang Mama. Tapi Elo gak bisa seenaknya permainan perasaan Gue! Gue gak butuh bantuan dari Lo. Gue bisa cari informasi tentang Mama sendiri, jadi mendingan Lo sekarang pulang dari sini." Riki menarik tubuh Luna secara paksa membawanya keluar dari rumah.
Nina sedang pergi mandi tak mengetahui jika Luna diperlakukan Riki seperti itu.
" Riki, tunggu! " Riki tak menggubris tetap menyeret Luna dan menutup pintu.
" Brakk."
" Riki! Awas ya bakal Gue buat Lo bertekuk lutut dihadapan Gue!"
Riki mendengar ucapan Luna tetap berjalan tak menghiraukan.
" I don't care Luna. Whatever."
__ADS_1