
Atmika melihat Luna berjalan ke arahnya. Bagaimana dia bisa ada disini sekarang. Padahal keluarganya saja belum datang.
" Kamu ngapain disini Luna?" Tanya Atmika. Luna berjalan sendirian karena Siska sedang bersembunyi.
" Aku lagi antri check up bulanan Tante! Tante kenapa siapa yang sakit?" Tanya Luna berbohong. Padahal Nani sampai begini karena ulahnya.
" Nenek Lun, sekarang bahkan kita lagi butuh donor darah golongan A ini!" Atmika mulai menghubungi Riki dan Anggoro, tapi terhenti karena Luna segera datang.
" Golongan darahku A Tan," ucap Luna, Atmika langsung senang mendengar pangkuan Luna, tapi itulah jebakan dari Luna yang justru akan membuatnya sulit untuk menolak permintaannya.
" Ah, syukurlah! Kamu mau bantu Tante kan Lun?" Pinta Atmika tangannya memegang Luna berharap mau membantu. Atmika bisa saja mencari sayembara, tapi jika ada yang lebih dekat bukankah itu lebih baik?
" Boleh dong! Tapi ada syaratnya!" Ucap Luna langsung.
Atmika langsung membuka matanya lebar,
" Syarat?" Tanyanya.
Luna berjalan beberapa langkah dan sedikit meninggalkan Atmika, melipat kedua tangannya dan memulai apa syarat yang Ia minta.
" Aku mau donorin darahku! Tapi Tante gak boleh restuin hubungan Riki sama Dania. Gimana?" Tanya Luna.
Atmika langsung paham sekarang, kali ini Atmika merasa terpojok tak bisa memutuskan.
" Kamu gila ya Lun! Itu gak mungkin! Mereka udah lama pacaran!" Ucap Atmika menolak. Tapi saat bersamaan Dokter Rehan keluar dan memberikan informasi
" Bu, bagaimana? Apa sudah dapat?kita tak bisa menunda lagi! Nenek kritis sekarang!" Ucapnya.
Atmika tak ada pilihan lain, dengan berat hati menyetujui permintaan Luna.
" Tante bagaimana? Sepertinya nyawa Nenek sedang di ujung tanduk sekarang? Apa Tante lebih memilih Nenek kehilangan nyawanya?" Cerca Luna lagi.
" Baiklah Luna, Tante akan turuti permintaan kamu! Tolong sekarang bantu Ibu dulu." Ucap Atmika memohon, Luna membalikkan badannya, dan langsung masuk kedalam ruangan tindakan.
Perawat telah bersiap dengan alat yang sudah disiapkan, Luna berbaring.
" Silahkan rileks ya Bu, kami akan pasang jarum suntik untuk mengalirkan darah ke kantung yang disiapkan.
" Riki, tunggu saja. Kamu gak akan bisa lari lagi sekarang!" Ucap Luna tersenyum licik.
Atmika langsung memberi kabar pada anak dan suaminya, Ia telah memberi kabar pada Riki dan Anggoro, saat ini mungkin sedang ada diperjalanan.
Kakinya yang lelah memaksa Atmika untuk duduk, Atmika tahu jika hari ini telah melakukan kesalahan, apakah ini termasuk egois? Mementingkan nyawa mertuanya daripada kebahagiaan putranya sendiri.
Atmika memijat pelipis dahinya.
" Riki, maafkan Mama sayang!" Ucap Atmika, wajahnya seharusnya senang tapi justru terlihat semakin sedih.
__ADS_1
" Hahaha, rasain kamu Mbak! Salah sendiri kenapa usir aku dar rumah! Ini kalo Riki tahu bisa rame sih!" Ucap Siska dari jauh, bukannya menghibur sang kakak, Siska justru puas sekali bisa membalas Kakaknya seperti ini.
" Coba saja kamu ikutin apa kataku? Hidupmu gak akan serumit sekarang? Jadi nikmatin aja Mbak!" Celetuk Siska lagi.
Riki datang bersamaan dengan Anggoro. Riki melihat, Atmika sedang duduk sendirian.
" Ma, Nenek gimana?" Tanya Riki.
Atmika memeluk Riki, bagai serdadu yang datang, air mengalir dari pelupuk matanya.
"(Maafkan Mama Riki,)" ucap Atmika,
Riki mengusap pundak Ibunya itu, tanpa tahu jika Ibunya sedang bersedih karenanya juga.
" Sayang! Ibu gimana?" Tanya Anggoro.
" Masih di Operasi Pa, kita tunggu Dokter Rehan dulu!" Ucap Atmika.
Anggoro melihat kaca kecil yang terletak didepan pintu. Mengintip ruangan serba putih itu, tentu saja Anggoro tak bisa melihat apapun karena masih ada pintu yang lain didepan.
Luna sudah pergi sebelum Riki dan Anggoro datang. Luna sengaja menghindari Riki, sudah jelas jika Riki tahu, Ia akan menolak permintaan. Bahkan mungkin Riki akan memilih kehilangan nyawa Neneknya.
*Flashback beberapa menit yang lalu*
Luna keluar dari ruang tindakan, tangannya masih ditempel dengan plaster. Pengambilan darah berjalan lancar.
" Baiklah Luna! Tante akan penuhi permintaan Kamu, terimakasih sudah mau membantu!" Ucap Atmika.
Luma memang licik, Ia tak mau kehilangan peluang untuk memiliki Riki secepatnya.
Atmika kini harus memiliki rencana lain, walaupun Riki akan bergantian membenci dirinya.
Matahari mulai menanjak di posisi tengah, Mereka masih menunggu hasil Operasi yang memakan waktu lama.
" Krieet."
Dokter Rehan masih menggunakan baju steril, kepalanya juga masih tertutup topi berwarna hijau.
" Syukurlah operasi berjalan lancar, tinggal menunggu pasien untuk siuman. Silahkan jika ingin menjenguk, tapi tolong secara bergantian ya! Jangan ramai-ramai." Ucap Dokter Rehan.
Dokter Rehan hanya memberi kabar baik itu dan pergi.
" Ahh, akhirnya!" Ucap Mereka bertiga secara bersamaan.
" Papa yang jenguk dulu ya! Kalian tunggu disini!" Anggoro lebih dulu masuk ke ruang ICU. Atmika dan Riki masih diluar.
" Ma, makan dulu!" Ucap Riki.
__ADS_1
Atmika hanya menggeleng, bagaimana bisa Ia makan dengan keadaan runyam yang sedang melanda hatinya ini.
Atmika memandang wajah Riki dalam, mengusap lembut, Riki membalasnya dengan mengecup tangan sang Mama.
" Gak papa Ma, Nenek udah melewati masa Krisisnya kan?" Ucap Riki mengira Atmika masih khawatir dengan Nani.
" Iya sayang." Jawab Atmika sendu.
" Mah, ketemu sama Dania kapan-kapan aja. Atau tunggu Nenek sembuh."
Ucap Riki semakin membuat Atmika merasa bersalah dan bingung.
Atmika masih diam tak menjawab.
" Ah.. maafkan Riki Ma, harusnya Riki jangan bahas ini dulu ya!" Ucap Riki.
Atmika tak tahu hatinya sedang linglung sekarang.
" Gak papa sayang." Ucap Atmika lembut, mengelus pipi mulus Riki.
"( Maafkan Mama sayang!)" Ucap Atmika lagi.
*
*
Luna dan Siska sedang pesta di sebuah club, dan memesan beberapa minuman alkohol. Luna sadar dalam hatinya, bagaimana jika ternyata Ia sedang mengandung janin.
"(Bodo amat! Biarin gugur sekalian!)" Ucap Luna kembali menenggak minuman itu.
Siska juga tak berhenti berjoget, di iringi musik keras yang bisa membuat gendang telinga pecah, tapi untuk anak yang hobby dugem justru semakin membuat suasana meriah.
" Hahaha good job Luna! Kamu pinter, trabas terus jangan kasih amponn!" Ucap Siska memuji hasil kerja kerasnya.
" Hehe, ini semua juga berkat Tante dong! Kita puasin pestanya!"
Mereka mungkin sedang menikmati kejayaan dari perbuatan jahatnya.
*
*
Dania sedang sibuk melamun, bukan hanya sibuk mengerjakan pekerjaannya.
Dania masih bimbang, apa yang akan ia lakukan pada hubungannya dengan Riki sekarang.
" Tapi Tante Atmika kan gak benci sama Aku, apa mungkin aku lanjutin aja ya? Tapi nanti Nenek gimana? Ahh pusing! Kesel banget!" Keluh Dania, pulpen ditangan Ia pukulkan ke Kepalanya itu.
__ADS_1
Dania jika saja Ia tahu Atmika juga akan menentang hubungan ini. Akankah Ia masih mampu bertahan???