Seimbang

Seimbang
Bab 42. Kecemasan Riki!


__ADS_3

Setelah Rapat berakhir, Riki langsung meninggalkan Kantor. Niatnya untuk memberi pelajaran pada Luna, terpaksa Ia tunda dulu. Tujuannya utamanya sekarang adalah untuk bertemu dengan Dania, Ia tak bisa menahan lebih lama lagi.


" Maafin aku Dan, semua ini gara-gara Aku"


Riki langsung menghidupkan mesin mobilnya, menancap gas dan menyalip semua mobil yang ada didepannya. Matanya juga fokus melihat depan agar tak terjadi kecelakaan.


*


*


Masih satu jam lagi, Dania bingung duduk sendirian di ruang kerjanya, masih melihat ponsel yang Ia pegang. Dania melihat fotonya bersama Riki yang diambil semalam saat berasa di Mall.


" Riki, kenapa cobaan kita seberat ini sih, Aku bingung Ky harus gimana lagi!" Dania mengusap foto itu. Mengajak berbicara meskipun tahu takkan ada jawaban dari segala dilemanya.


Diruang lain, Dion sedang memarahi Tina, Dion mengajak Tina masuk ke ruang kerja milik kakaknya itu.


" Kamu kenapa sih Dy, aneh banget!" Gerutu Tina karena merasakan sakit dari tangannya. Dion memang menariknya sangat kencang tadi.


" Maaf Kak, Aku terpaksa. Kakak sih malah ngomong yang aneh-aneh!" Ucap Dion lagi.


" Emangnya kenapa? Apa yang salah?" Tanya Tina tak tahu letak kesalahannya dimana. Tapi melihat raut wajah Dion yang tak biasa. Tina jadi bisa menebak sesuatu.


" Muka mu kok merah? Sebentar!"


Tina sengaja menggantung ucapannya itu. Dan lihat Dion semakin salah tingkah.


" Jadi itu Dia? " Tanya Tina.


Fikirannya teringat saat Dion SMA, yang setiap hari tak berhenti menceritakan sosok wanita yang mampu menggoyahkan hatinya itu. Dion dulu memang laki-laki yang terbuka, mencurahkan masalahnya pada Tina tanpa rasa malu.


" Hahaha, bodoh sekali! Kenapa sekarang Aku baru sadar yah!"


Tina justru mengecam dirinya sendiri. Bahkan dulu Dion sangat sering menceritakan nama Dania.


" Kakak, jangan seperti itu!" Ucap Dion malu, akhirnya hari ini Tina bisa mengetahui semuanya.


" Sekarang Aku curiga! Kenapa Dania bisa masuk ke Perusahaan ini? Jangan-jangan ini juga rencanamu?"


Tina langsung mendekati Dion,dengan tatapan menyelidik tajam. Tentu saja itu benar.


" Eh, enggak kok, Anu." Ucap Dion gelagapan.


" Astaga Dion, sampai segitunya dirimu? Aku tidak menyesal karena Dania memang berbakat. Tapi haruskah Kau sampai seperti ini? Kau benar-benar masih mencintai cinta monyetmu itu?"


Kali ini Dion tak menjawab hanya anggukan pelan yang Dion lakukan.


Tina memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.


" Hah! Aku bisa apa sekarang! Susah jika harus melawan orang yang lagi buta cinta!" Ucap Tina, sebenarnya Tina tak ingin Dion merasa bersalah, lagipula Dion hanya sedang berusaha mendapatkan cinta pertamanya kembali.


" Kakak tidak marah?" Tanya Dion dengan mata berbinar.

__ADS_1


" Tidak! Tapi satu pesanku jangan paksa Dia, jika Dia tak mau kembali! Itu bukan tindakan yang manusiawi." Tina menepuk bahu sang Adik memberi restu agar bisa membawa Dania menjadi miliknya lagi.


" Kakak, terimakasih!" Dion mencium dahi Tina, dan memeluk manja. Tina tak mengira jika ternyata Dania adalah wanita yang membuat Dion hampir gila. Sebelum berangkat ke Luar Negeri pun Dion sempat menangis karena diputuskan sepihak oleh Dania.


Bahkan Tina merasa tak tega, dan menyuruh Dion agar tak perlu pergi kesana. Tapi saat yang sama Ibu semakin sakit parah, dan Dion tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini demi Keluarganya.


*


*


Dania sudah bersiap untuk pulang, dan Riki juga telah tiba.


"Srakk."


"Riki?" Tanya Dania.


"Lihat mengapa ekspresi Riki seperti itu?" Pandangan mata yang sangat tajam.


Riki berjalan tanpa menoleh, mengarah pada Dania. Dania mulai bergidik.


" Jangan-jangan Riki udah tahu?"


Dania masih berusaha menenangkan diri menghampiri Riki yang masih saja dengan tatapan yang sama.


" Srukkk."


" Cup."


Betapa kagetnya Dania, tanpa pikir panjang Riki mengecup bibirnya, memanggutnya lama, Dania tak mungkin menolak, menerima serangan Riki yang mendadak itu.


Dari kaca Dion bisa melihat Dania dan Riki sedang berciuman.


" Sial, Kenapa rasanya sesak." Umpat Dion kini memegang dadanya yang sesak. Dion memang cemburu tapi bisa apa dia sekarang! Dion menutup kaca dengan membuka tirai, ia tak mau melihat pemandangan itu lagi.


Setelah merasa puas, Riki melepaskan ciuman itu dan mengusap wajah Dania.


" Dasar anak nakal?" Celetuk Riki.


Dania mengkerutkan bibirnya.


" Kenapa emangnya? Kamu yang nakal lah, cium anak orang sembarangan, dijalan terbuka lagi! " Balas Dania tak terima disebut anak nakal.


" Ahh, Riki!" Dania semakin terkejut ketika Riki memeluk tubuhnya semakin erat. Riki mencium aroma tubuh Dania yang harum. Parfum dari masa SMA, aroma yang selalu sama.


" Kamu kenapa Riki?" Tanya Dania heran melihat sikap Riki seperti ini.


" Aku mencintaimu Dania, jangan tinggalkan Aku." Riki memeluk Dania semakin erat, bahkan kepalanya juga menelangkup di lehernya.


" Aku juga mencintaimu. Dan siapa yang akan meninggalkanmu Ky, tidak ada." Ucap Dania.


Meskipun sekarang Dania mulai ragu. Bukan karena cintanya berkurang. Tetapi karena restu Keluarga Riki yang tidak memberi itu.

__ADS_1


" Pukk, pukk, pukk,"


Dania menepuk punggung Riki, Dia bisa tahu jika Riki mungkin saja tahu kejadian yang menimpa Dirinya.


" Ayo, kita masuk di mobil, gak enak kalo ngobrol dijalan!"


Riki melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Dania.


Riki membukakan pintu mobil untuk wanita tercintanya itu tak lupa menorehkan senyuman dibibir seksinya itu.


*


Riki dan Dania kini berpindah tempat.


Dania terlihat memainkan kuku jarinya. Ia masih bingung mau menceritakan kejadian itu ataukah tidak.


" Aku gak akan tinggal diam Dania, Aku juga gak terima!" Ucap Riki tiba-tiba.


Dania menoleh, kini lebih lega akhirnya Riki tahu dari orang lain, bukan dari mulut sendiri. Barulah Dania berani menceritakan semuanya sekarang.


" Aku gak papa kok." Ucap Dania. Walaupun hatinya merasa hancur. Riki justru marah mendengar Dania berkata seperti itu.


" Gak papa gimana? Kamu tuh boleh marah Dan, jangan kayak gini! Aku justru marah kalo Kamu terus-terusan bilang gak papa!" Ucap Riki dengan nafas memburu. Riki tak mau ada yang membuat Dania terluka lagi.


" Aku bingung Ky, aku gak tahu harus gimana sekarang? Kalo aku marah? Kamu tambah benci sama Mereka? Aku gak bisa lihat itu!"


Air mata jatuh membasahi pipi Dania, Riki membelai tangan mungil itu. Dan menghapus air mata Dania.


" Dan, keluargaku dari dulu udah hancur bahkan sebelum kenal sama Kamu, ini bukan salahmu Dan. Kamu punya harga diri kalo gak bisa jaga, aku yang akan maju!" Ucap Riki yang siap menjadi garda terdepan untuk Dania.


" Dan satu lagi, aku siap kehilangan Keluargaku yang sikap dan tingkahnya gak manusiawi."


Dania menatap tajam, ketika Riki berkata demikian.


" Tolong jangan halangi Aku! Aku akan tetap seperti ini! Mereka udah keterlaluan Dan, ini gak bisa dibiarin!"


Dania kembali tertunduk, benar yang Riki ucapkan. Mungkin saja Nani akan kembali menyerangnya. tapi apakah Dania mampu melawan orang yang lebih tua darinya. Padahal Pak Burhan selalu memberikan nasihat agar menghormati orang yang lebih tua.


" Kita pulang ya! Eh tapi Aku punya kabar bagus!"


Riki mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


" Apa ini!" Tanya Dania ketika Riki menyerahkan kertas itu.


" Ini tiket liburan pergi ke Bali, aku akan ajak kamu sekeluarga untuk kesana. Sebentar lagi kan liburan akhir tahun!"


Dania langsung senang, dan melihat tiket itu.


" Wah, beneran? Aku belum pernah kesana! Tapi apa gak papa? Nanti kalo nenek-----?"


" Muach." Riki langsung mencium bibir Dania lagi, Ia tak memberi ruang pada Dania, dan kembali menyerang dengan sentuhan manja. Dania itu dalam permainan itu. Dan Mereka tak perlu memikirkan Nani yang mengira Mereka akan putus hari ini.

__ADS_1


__ADS_2