
Dania mendekap erat tubuh sang Kakak, sesekali menangis sesenggukan. Sulit untuk membedakan mana air hujan dan mana air matanya.
Dania tak tahu hatinya sekarang masih kuatkah seperti kemarin! Apakah mungkin Nani akan merestuinya, Karena tadi siang Dania berani melawannya..
" Tuhan aku pasrah!" Ucap Dania.
Eric sadar jika Dania masih menangis, Eric melihat dari kaca spion, sesekali Dania mengusap pipinya itu.
Eric merasa tak kuat melihat Dania sampai seperti ini.
" Srashh."
" Glurrr."
Suara angin dan hujan menggema, Eric langsung masuk ke halaman rumahnya. Terlihat Bu Melati dan Pak Burhan sudah menunggu.
" Kok lama banget! Ibu sampai khawatir!" Ucap Bu Melati khawatir Eric dan Dania tak kunjung pulang.
" Iya Bu, tadi pelan-pelan jalan kan licin gak berani kenceng." Kilah Eric.
Padahal tadi Eric berkeliling mencari Dania itulah hal yang membuatnya lama.
Eric masih menunggu Dania untuk menceritakan semuanya dengan mulutnya sendiri. Terlebih menunggu keadaan Dania lebih baik. Eric juga takkan memaksa Dania untuk bercerita sekarang! Tapi untuk melarang Riki itu sudah menjadi keputusan bulat darinya.
" Bu, Dania ganti baju dulu ya!" Ucap Dania melepaskan jas hujannya diluar.
" Ayah bikinin teh hangat ya Dan,"
Ucap Pak Burhan, mengikuti Dania masuk kedalam, disusul dengan Bu Melati.
" Ah, Aku telepon Riki dulu!" Eric memang sedang sebal, tapi tak mau membuat Riki khawatir.
Riki baru saja sampai, dan merasakan ponselnya bergetar. Semula Riki tak semangat, tapi saat melihat Eric yang menelepon langsung diangkat olehnya.
" Riki : Hallo Kak? Dania udah ketemu?"
" Eric : udah! Dan mulai sekarang Lo jangan deketin adik gue lagi. Gue gak pengen hal ini kejadian lagi sama dia."
"Nut!"
Riki tak menyangka Eric akan berkata demikian, hal yang Riki takutkan kini terjadi.
" Aku tahu suatu saat bakalan kayak gini, tapi kenapa rasanya tetep sakit. Arghh." Riki mendengus.
Meskipun hatinya sedang kalut, Riki tak ada pilihan untuk pulang, Ia juga mendengar nada ketus Eric saat tiba-tiba mematikan telepon.
" Brak."
Riki menendang kasar, jika bisa Ia ingin merubuhkan rumah besar ini sekarang.
" Hey! Kenapa kok baru datang udah marah-marah?" Anggoro sampai terkejut saat sedang membaca koran di ruang tengah.
" Riki gak tahu, kenapa semua orang gak ada yang mau lihat Riki bahagia?" Ucap Riki melemparkan vas bunga diatas meja.
" Prankkkk."
__ADS_1
Riki mengambil serpihan keramik itu dan akan mengiris urat nadinya.
" Riki! Stop! Jangan!" Anggoro menarik tangan Riki, mencegah agar tak mengenai tangannya.
" Lepas Pa! Riki gak punya semangat lagi sekarang! Kalian jahat!" Ucap Riki.
Untuk pertama kalinya Anggoro memeluk tubuh anaknya, mendekap erat.
" Maafkan Papa Ky, ini semua salah Papa!" Ucap Anggoro mengakui kesalahannya.
" Tolong, Riki gak mau kehilangan Dania, Riki sayang sama Dia Pa!" Isak Riki lagi.
" Papa akan bantu, gak akan dia ninggalin Kamu!"
Nani langsung kesal dan turun dari tangga,
Tap.. tap.. tap.
" Apa Kamu bilang? Gak akan Mama restui, jangan macam-macam Anggoro!" Ancam Nani tak terima.
" Mama! Anggoro sudah bilang, jangan ikut campur. Dia kebahagiaan Riki biarkan Mereka bersama!"
Saat semua sedang ribut, Atmika pulang.
" Ah, Aku sepertinya ketinggalan banyak cerita disini!" Atmika melipat tangannya. Sedang tersenyum kecut melihat situasi ini.
" Kau, dasar istri macam apa baru pulang! Darimana saja?" Sentak Nani pada Atmika.
" Ibu tanya saja dengan putra tercintamu itu?" Jawab Atmika.
" Sayang, maafkan Mama. Mama akan membantumu sayang!" Atmika masih menatap sengit.
Anggoro tak ingin Atmika pergi lagi, dan berencana untuk mengakui semuanya.
" Mama, dengarkan aku!" Ucap Anggoro.
Nani langsung menoleh, mendengar apa yang akan di ucapan Anaknya.
" Jadi sebenarnya ini semua salah Anggoro, Anggoro selingkuh! Dan itu penyebab Atmika pergi dari rumah!"
"Apa! " Nani tak menyangka akan mendapatkan pengakuan seperti ini.
" Maaf Ma, inilah kenyataannya!" Ucap Anggoro.
" Mama tak tahu lagi, mengapa Kau tak pernah jujur? Mama selalu percaya padamu Nak, dan inikah balasannya?" Keluh Nani sedih, Ia merasa benar-benar di khianati anaknya sendiri sekarang.
" Dan tolong! Biarkan Riki bahagia dengan pilihannya sendiri." Ucap Anggoro tulus pada Nani.
Nani masih terdiam, hati kecilnya merasa bersalah pada menantunya itu. Tapi Nani juga tak terima jika Riki harus menikah dengan wanita miskin itu. Tanpa menjawab Nani pergi menuju kamar pribadinya.
" Dasar, anak tak tahu malu, aku sudah menduga jika Anggoro melakukan kesalahan. Aku juga ingat dulu Atmika adalah anak yang lugu dan baik, itulah alasanku dulu menjodohkan Atmika dengan Anggoro. Hah! Sesak rasanya dadaku ini." Nani mulai mengakui kesalahannya terlalu percaya pada Anggoro.
*
*
__ADS_1
Padahal rencana Atmika pulang kerumahnya adalah untuk mengurus perceraiannya dengan Anggoro. Atmika sudah bertekad untuk menyudahi pernikahan yang tak sehat ini lagi.
Tapi melihat situasi rumah yang kacau, Atmika mengurungkan niatnya itu. Terlebih melihat kondisi Riki yang sedang patah hati.
" Aku tunda dulu saja, keadaan sedang runyam seperti ini." Ucap Atmika memijit kedua pelipisnnya.
Atmika juga baru tahu Nani juga ada disini, "Mengapa Siska tak memberikan kabar apapun? Padahal kondisi rumah sekacau ini? Apa yang dilakukan anak itu sekarang?" Sungut Atmika berjalan menuju kamar Riki.
Riki menggenggam erat tangan Ibunya itu, tak mau kehilangan lagi, Riki membawa Atmika masuk kedalam kamarnya masih di iringi isak tangisnya.
*
*
" Hey sayang! Berhentilah menangis! Masak anak cowok udah gede nangis!" Atmika mengusap air mata Riki.
" Nenek jahat Ma, Nenek bikin Riki putus sama Dania. Padahal Mama tahu kan Dania itu sumber semangatnya Riki!" Ucap Riki.
" Nanti, biar Mama yang bilang sama Nenek ya! Kamu tenang! Mama akan bantu kamu Sayang!"
Mata Riki yang sembab, terlihat sedikit cerah, saat Atmika akan membantunya.
" Makasih Ma, cuma Mama yang bisa ngertiin Riki!"
Riki kembali memeluk tubuh Atmika.
Atmika tahu Dania yang membuat Riki menjadi lebih baik lagi. Tak ada yang bisa merubah Riki si anak Badung kecuali Dania.
Riki tertidur di pelukannya ibunya, benar-benar seperti menimang anak bayi besar. Atmika meletakkan kepala Riki dengan hati-hati, mematikan lampu dan memberi selimut pada tubuhnya.
" Mama gak akan kamu kehilangan dia Ky, Mama akan bantu sebisa mungkin."
" Emuachh."
Atmika mengecup kening putranya itu. Dan menutup pintu dengan pelan.
" Kamu sudah pulang Atmika?" Sapa Anggoro seperti sudah menunggunya.
" Ya! Ada apa? Sesak?" Ejek Atmika.
Justru Anggoro memeluk tubuh Atmika mengecupnya dengan manja.
" Maafkan aku!" Ucap Anggoro tulus. Atmika mendorong tubuh kekar itu agar menjauh dari dirinya.
" Tolong, kali ini aku benar-benar akan berubah!" Ucap Anggoro lagi.
" Maaf, aku sudah muak mendengar kata berubah yang tiada habisnya itu. Hingga lebaran monyet pun kau pun tetap sama!" Celetuk Atmika.
Anggoro mengehela nafas kasar. Dan mengambil sesuatu di tas kerjanya.
" Aku minta maaf, mungkin kau takkan percaya, tapi semoga dengan melihat ini kau mau membuka hatimu!"
Anggoro meletakkan secarik kertas ditangan Atmika.
Atmika membuka kertas itu..
__ADS_1
" Apa ini?"