Seimbang

Seimbang
Bab 42. Hiburan pagi ini!


__ADS_3

Sepertinya bukan perkara mudah bagi kedua Kakak beradik ini untuk melakukan hari yang baik.


Baru saja mereka saling menyemangati, timbulah masalah baru. Bu Jumi berjalan dan berhenti di depan rumah Mereka. Bu Jumi bagai toko perhiasan yang sedang berjalan. Dari tangan, leher, kaki dipenuhi benda berkilau itu.


" Eh ,ada Eric sama Dania lagi ngapain duduk disitu? Merenungi kemiskinan ya? Ah gak bakalan berubah Dek, nikmatin aja." Ucap Bu Jumi dengan nada mengejek, dia juga sengaja memperlihatkan tangannya itu supaya Dania dan Eric melihatnya.


" Oh kok diem aja sih!" Tanya Bu Jumi karena Eric dan Dania justru tak mendengar hinaan itu.


" Nih, lihat dong! calon mantu saya mah baik, saya dibohongin banyak perhiasan. Gak kayak pacar Dania yang kaya tapi pelit." Ucap Bu Jumi semakin parah.


Bu Jumi sepertinya merasa hinaannya belum apa-apa, nyatanya Dania dan Eric belum bereaksi.


" Dan, masuk yuk! Kakak kok merinding ya!" Ucap Eric mengusap tangannya berpura-pura bulu kuduknya berdiri.


" Ho.oh Kak, masuk yuk! Masih pagi gini kok udah horor banget!"


Dania dan Eric kompak tak mau meladeninya. Dan justru Bu Jumi jengkel.


" Sembarangan! Saya ini orang bukan setan! Hey keluar Kalian!"


"Brakk."


Mereka tak perduli dan tetap menutup pintu.


" Dasar orang miskin gak punya sopan santun" umpat Bu Jumi.


Bu Jumi akhirnya pulang dengan perasaan dongkol, lagi-lagi niat untuk menjatuhkan mental gagal lagi.


Ibu Melati sedang memasak, mencuci sayur untuk ditumis.


" Wahahah, lihat Kak Nenek sihir pulang. Kok gak pake sapu terbang?" Seloroh Dania mengintip dari jendela.


" Boro-boro sapu terbang! Sapu lidi yang udah habis lidinya itu Dan, masih pagi juga cari gara-gara aja." Jawab Eric.


" Kalian kenapa sih pagi-pagi udah heboh!" Tanya Bu Melati tertarik melihat kedua anaknya tertawa.


" Hehe, tadi Bu Jumi bikin ulah seperti biasa Bu, " kata Eric.


" Kalian ngapain? Gak sopan lho sama orangtua kayak gitu." Ucap Bu Melati, memang terdengar marah tapi sebenarnya tidak.


" Gak kok Bu, kita gak ngapa-ngapain cuma pura-pura buta sama tuli." Ucap Eric beralasan.


" Oh, gitu ceritanya! Kalo itu sih Ini setuju!" Ucap Bu Melati tak jadi memarahi Mereka.


" Hahaha. Tos!" Eric mengajak Dania untuk tos, Dania pun membalas, tapi timbul fikirannya untuk mengerjai Eric.


" Plakkk." Dania bukan membalas tepukan tangan, tapi justru menepuk kening Eric sangat kencang.


" DANIA!!!"


" Hahaha, ketipu deh!"


Dania dan Eric saling kejar seperti kucing dan tikus. Bu Melati berkacak pinggang melihat tingkah anaknya itu.


" Eh, udah jam enam, Kalian gak mandi?" Tanya Bu Melati.


Eric melihat peluang masuk kamar mandi lebih dekat dengannya, Eric berlari dan masuk.


" Gue mandi duluan, bwekk." Eric mengejek Dania.


" Brak."


" Kakak, cepetan! Udah siang!" Dania berdiri didepan pintu dan mulai panik karena hari mulai siang.

__ADS_1


" Nanti lah!" Balas Eric dari dalam kamar mandi.


" Ibu! Bikin ke kamar mandi dua!" Rengek Dania pada Bu Melati.


" Kenapa emang?" Tanya Pak Burhan yang baru datang selepas berbelanja dari Pasar.


" Gak cukup Yah, kalo cuma satu."


Rengek Dania lagi.


" Noh, kan ada kran di luar. Dulu Kamu seneng banget mandi diluar." Ucap Pak Burhan kembali mengingat kebiasaan buruk Dania sampai masuk SD, kala itu butuh kesabaran yang extra untuk mengajari Dania mandi di dalam.


" Ih, Ayah jahat banget!"


" Hehehe, ya kan kamu aneh, mau disumpelin dimana kalo bikin satu lagi?"


Tanya Pak Burhan menyadari rumah mereka yang kecil.


"Kriet." Eric keluar dari kamar mandi, sejak tadi Eric sudah mendengar percakapan Dania dan Ayahnya.


"Nih dijidat Dania aja yah. Plakk."


Karena lengah, Eric bisa membalas Dania sekarang.


" Auhh. Kakak!" Rintih Dania.


" 1-1 sama dong." Ejek Eric.


Dania ingin berlari mengejar Eric. Tapi Ayah langsung menarik bajunya.


" Eist.. mau kemana udah siang! Mandi!" Tegas Pak Burhan.


Dania hanya meringis dan mengepalkan tangannya pada Eric.


*


*


Nani kebetulan juga keluar kamar,


" Masih pagi, udah mau berangkat?" Tanya Nani.


" Iyah, Nek. Riki berangkat dulu!" Ucap Riki terpaksa halus, Riki tak ingin mengajak Nani ribut di waktu sepagi ini. Meskipun mulutnya sudah gatal karena Nani telah menemui Dania.


" Ckc, Kamu mau jemput si ****** itu kan!"


Riki menolehh, matanya memburu Nani dengan tatapan benci.


" Namanya Dania Nek, bukan ******, miskin atau siapapun!"


Riki melanjutkan langkahnya dan tetap pergi.


Baru membuka pintu Riki berpapasan dengan Anggoro yang baru saja pulang entah darimana.


" Riki, Kamu udah berangkat?" Tanya Anggoro basa basi menyapa.


" Hem!" Jawab Riki singkat.


" Bagaimana Luna kemarin? Pulang jam berapa dia?" Tanya Anggoro lagi.


" Gak tahu, Riki gak mau tahu juga."


Jawab Riki acuh, dan membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Brummm."


Riki langsung tancap gas. Anggoro ingin melambaikan tangan, tapi tak jadi.


" Apa masih bisa aku perbaiki semuanya?" Ucap Anggoro sedih.


"Kamu darimana Anggoro? Baru pulang?" Tanya Nani.


Semula Nani ingin mengejar Riki, dan ternyata Anggoro ada disini.


" Iya Ma," ucap Anggoro


Nani justru tak bertanya lebih banyak lagi pada Anggoro. Nani justru menganggap tingkah Anggoro lumrah terjadi, karena Atmika tak ada dirumah.


Padahal jika saja Anggoro tak berulah, Atmika tak akan pergi.


Memang keluarga yang aneh, hidup banyak bergelimang harta tapi tak bisa membeli kerukunan antar keluarga.


Riki sebenarnya tak terima, tapi karena Dania sudah berkata untuk tetep hormat pada Nani. Riki justru merasa bangga memiliki kekasih pengertian seperti Dania.


*


*


Jalanan yang ramai saat semuanya sedang bersiap untuk bekerja. Lalu lintas yang padat adalah pemandangan sehari-hari untuk para karyawan ataupun menjabat sebagai Atasan.


"Tin, tin, tin"


Dari klakson mobil, dan motor saling bersahutan, seakan-akan menjadi pengiring lagu di jalan.


" Cih, macet lagi! " Umpat Riki ketika mobilnya tak bisa bergerak.


Didepan sedang ada pasar mingguan yang biasa ramai pada hari tertentu.


Orang yang berbelanja memadati jalan bahkan memarkirkan motornya seenaknya sendiri, tak jarang mereka hanya meletakkan motor di bahu jalan.


Itu semakin memperparah kemacetan dijalan.


"Itu Dania?"


Riki melihat Dania dibonceng oleh Ojek online padahal rencananya Riki akan menjemput Dania kerumahnya.


" Dania!" Riki berteriak tapi tentu saja Dania tak mendengar, jarak mereka sangat jauh. Riki tak mungkin meninggalkan mobilnya ditengah jalan.


Dengan berat hati Riki akhirnya menyerah.


Dipertigaan jalan Riki putar balik dan berangkat ke Kantornya sendiri.


*


*


Dania menyerahkan helm itu pada Driver, dan membayar sejumlah uang.


"Srashh."


Dania mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin dijalan.


Dan dari pintu utama, Dion berdiri menyenderkan badannya di pinggir pintu.


" Dania, kenapa Aku tak bisa melupakanmu!" Ucap Dion, matanya tak berhenti menatap Dania.


Senyuman manis dari lesung pipi, dan sikap ramahnya itu menjadi nilai lebih untuk Dania Azahra sang Mantan kekasih.

__ADS_1


__ADS_2