
Luna semakin percaya diri dan berani untuk melangkah lebih jauh. Sore ini Ia akan datang kerumah Riki. Tentu saja, pintu akan terbuka lebar untuk dirinya.
Luna juga membeli obat perangsang yang akan dimasukkan ke minuman Riki nanti. Entah bagaimana caranya Luna akan memberikan obat itu dirumah Riki.
" Haha, Riki! hari ini Kau akan menjadi milik ku seutuhnya." Ucap Luna bangga.
Tangannya juga menggenggam obat itu.
Luna langsung memasukkan obat itu kedalam sakunya. Dan menuju rumah Riki sekarang.
Riki masih diperjalanan usai mengantarkan Dania pulang kerumahnya. Riki sebenarnya masih ingin berada disana untuk waktu yang lama. Hanya saja Dania tak mau, Dania takut jika Nani akan semakin membenci dirinya.
*
Luna langsung menuju ke rumah Riki, tak lupa membawa buah tangan untuk Nani dan Siska.
" Riki, Riki sudah ku bilang pacaran saja denganku. Jadi si miskin itu gak perlu sakit hati dan malu seperti sekarang! " Celetuk Luna.
Dirumah Nani sudah bersiap untuk pergi lagi, malam ini ada jadwal arisan Nyonya sosialita di rumah temannya.
Tentu saja Nani akan mengajak Siska karena Anggoro pasti akan mencari cara untuk menolak.
" Ayo Nek, kita berangkat!" Ajak Siska saat melihat Nani sudah siap. Dress yang ber merk, serta perhiasan melekat di tubuh Nani.
" Ayo!" Ucap Nani.
Mereka berdua telah bersiap dan akan keluar dari rumah. Saat membuka pintu.
" Loh Nenek mau kemana?" Tanya Luna yang baru saja sampai melihat Nani dan Siska akan pergi.
"Oh, Nenek mau pergi arisan dulu, Yah! Kamu mau main ya! Riki belum pulang bagaimana jika Kamu menunggunya didalam?" Ucap Nani.
Luna semakin percaya jika rencana akan semakin berhasil.
" Tapi Nek, tidak ada orang dirumah. Nanti kalo ada yang hilang bagaimana?" Tanya Luna yang mencoba mengetes Nani.
" Hahaha, ya ampun sayang. Kamu kan bukan orang miskin. Tentu saja itu tak akan terjadi. Anggoro ada dikamarnya. Kau duduklah dulu! Aku akan menelepon Riki untuk cepat pulang!" Ucap Nani.
" Baik Nek, Aku akan menunggu, jadi Nenek hati-hati ya!" Ucap Luna.
Nani pergi meninggalkan Luna diruang utama. Luna langsung bergerak menuju dapur untuk membuat minuman.
Riki sedang fokus menyetir dan tiba tiba Nani menelepon.
Riki mengecapkan bibirnya sebal.
" Ada apa lagi ini?" Ucap Riki.
" Riki : Haloo ada apa?" Nada cuek sangat terdengar hingga Nani langsung marah mendengarnya.
" Nani: Hey, apakah sopan berbicara seperti itu pada Nenekmu?"
Riki mengehela nafas pendek dan mengulangi kalimat pembuka yang lebih halus.
" Riki : Iya Nek, ada apa? Ada yang bisa Riki bantu?" Ucap Riki dengan nada mengejek.
" Nani : Pulanglah! Luna sudah menunggu mu dirumah!"
Riki membuka matanya lebar, baru saja ingin istirahat tapi sudah ada lalat yang menganggu. Tapi berdebat dengan Nani tidak akan ada habisnya. Riki mulai memikirkan cara untuk membohongi Neneknya.
" Riki : Oke, sebentar lagi Riki sampai! Terimakasih. Dahhh!"
" Nut. Nut..nut."
Riki langsung mematikan telepon itu. Semula Ia melajukan cepat gas mobilnya kini mengurangi injakan gas agar lebih lama sampai dirumah.
*
Luna memasuki dapur membuat minuman yang akan Ia campur. Luna sedang fokus, tanpa menyadari jika Anggoro turun dari tangga.
" Srak."
Luna menyobek kertas isi obat itu dan langsung menuangkan kedalam gelas kemudian mengaduknya.
Luna masih serius saat mengaduk minuman itu agar cepat larut.
"Luna! Sedang apa?" Tanya Anggoro.
Luna kaget dan membalikkan badannya. " Eh gak papa Om, ini lagi bikin minuman buat Riki. Om Kenapa mau sesuatu?" Tanya Luna basa basi menyembunyikan wajah gugupnya agar Anggoro tak merasa curiga.
" Tidak! Om mau pergi sekarang! apa kamu gak papa dirumah sendirian?" Tanya Anggoro.
Luna jadi yakin sikap Anggoro seperti sedang khawatir dengannya. "Tidak apa-apa Om, sebentar lagi Riki pasti pulang!" Ucap Luna santai.
Anggoro pergi setelah mendapatkan jawaban Luna, tentu saja Anggoro akan mencari hiburan malam di club langganannya.
"Aduhh! Tadi gelas yang mana ya?"
Gara-gara Anggoro datang, Luna lupa memasukkan obat itu digelas yang mana.
" Oh yang ini."
Luna menunjuk ke arah gelas yang salah. Obat itu tadi Ia letakkan di gelas yang kanan, bukan yang kiri.
" Brakk."
Riki membuka pintu keras, karena Ia sengaja menendang kencang.
Luna langsung membawa gelas itu untuk diberikan ke Riki.
" Riki udah pulang?" Tanya Luna.
Riki masih tak mengerti kenapa Luna tak juga menyerah?
" Lo ngapain kesini?" Tanya Riki tak suka melihat Luna ada dirumahnya.
" Aku? Mainlah! " Jawab Luna asal. Luna langsung memberikan minuman itu, tentu saja Riki langsung menolak.
" Apa ini? Gue bisa ambil sendiri!" Riki menepis minuman itu. Tapi bukan Luna namanya jika harus menyerah.
" Please lah Ky, masak cuma minum aja kamu juga nolak." Ucap Luna dengan mata berkaca-kaca, padahal itu hanyalah taktiknya saja.
" Ah, bawel banget sih. Yaudah sini!" Riki langsung menyerobot gelas itu dan meminumnya sampai habis. Luna tersenyum puas dan ikut meminum digelas yang berbeda padahal gelas itulah yang isinya obat perangsang.
" Nah tinggal kita tunggu Riki, aku akan memberikan kepuasan untukmu!" Riki naik tangga dan masuk kedalam kamar.
Luna mengira jika Riki akan terpengaruh obat itu. Dengan berani Luna naik keatas kamar Riki.
" Aku susulin aja deh, siapa tahu Riki udah klepek-klepek." Ucap Luna.
__ADS_1
Padahal Riki sedang mandi dan tak merasakan apapun.
"Ceklik."
" Riki?" Ucap Luna.
Matanya melihat kamar Riki yang kosong dan suara air di kamar mandi.
" Oh lagi mandi ya? Kenapa Sayangku Riki, gerah ya!" Celetuk Luna semakin tak jelas.
"Kriett." Baru saja membuka pintu Riki sudah dibuat geram melihat Luna ada dikamarnya.
" Luna? Ngapain kamu disini?"
Riki masih menggunakan handuk, dan Luna sudah bersiap diatas tempat tidur. Luna berekspresi dengan wajah menggoda bahkan membuka kancing bajunya yang atas telah dibuka.
" Hey keluar Kamu sekarang!" Sentak Riki masih dengan suara, belum dengan tindakan.
" Gakpapa Ky, Aku rela kok!" Ucap Luna semakin berani.
Riki semakin berang, dan langsung menarik paksa Luna.
" Srekk."
" Ahh, Riki sakit!"
Luna meringis karena Riki benar menyeret dirinya secara kasar.
Tanpa menunggu lama. Riki juga bersiap membuka pintu utama dan melempar Luna keluar.
" Brukk." Luna tersungkur dilantai.
" Kalo Lo masih berani buat nekat lagi, gue gak akan pernah maafin Lo lun!"
" Brakk."
Riki menutup pintu kencang, Luna masih meringis karena Riki melemparkan tubuhnya sangat kencang .
" Sial, kenapa obatnya gak bekerja?" Ucapnya sambil bangkit dan masuk kedalam mobil.
Luna justru yang merasakan tubuhnya panas, dan badannya menggeliat seperti cacing kepanasan.
" Ah, jangan-jangan justru Aku sendiri yang minum."
"Brakk, brakk, brakk."
Luna memukul stir mobil dengan keras.
" Dasar Bodoh banget sih Aku, kenapa bisa salah coba?"
Bukannya pulang kerumahnya, Luna malah pergi ke sebuah club.
" Aku cari hiburan aja lah di club, kalo pulang nanti bakalan dimarahin sama Mama lagi."
Sungguh pilihan yang salah, Luna akan mendapatkan karma atas tindakan hari ini.
" Kak 1 ya!" Ucap Luna memesan satu gelas alkohol pada bartender.
" Ini sayang!" Ucap bartender itu menyerahkan pesanan Luna.
Dari jauh Roy, mantan pacar Luna sudah mengamati mantan pacarnya sedang duduk sendiri.
Roy langsung mendekati Luna duduk disampingnya.
Luna sebenarnya sudah tak sadar, fikirannya sudah dipengaruhi oleh obat perangsang tadi.
Luna mengira jika yang datang adalah Riki, Roy agak aneh melihat Luna menatapnya seperti itu.
Tapi Luna langsung mencium bibir Roy sangat mesra.
" Emh." Luna bahkan melenguh.
" Hey, sabar dong! Masak disini!" Ucap Roy.
Roy menghindari tapi Luna semakin buas, Luna bahkan melucuti pakaiannya sendiri ditempat ini.
" Wow, wow, wow, Luna are you okay?"
Untunglah Roy masih baik hati dan melepaskan jaketnya untuk menutupi badan Luna.
Roy langsung membawa Luna ke sebuah Hotel.
" Lun?" Tanya Roy.
" Srakk."
Luna justru semakin liar, ketika melihat Roy membawanya ke hotel. Luna tanpa dipaksa melepaskan semua bajunya. Roy tak tahu harus bagaimana lagi. Luna terlalu aktif melakukan hal ini tanpa memberinya kesempatan untuk menyerang.
Akhirnya mereka melanjutkan hubungan intim itu sampai pagi.
" Ah, dimana ini? " Luna memegang kepalanya yang pusing. Dan betapa kagetnya saat Dia berada dikamar yang asing.
" Akkhhhhhh." Luna menjerit kencang saat menyadari dirinya tak menggunakan baju. Roy langsung terbangun mendengar Luna menjerit.
" Kenapa Lun?" Ucap Roy berusaha membuka matanya yang masih lengket. Semalam Roy harus mengimbangi permainan Luna yang buas meskipun tak dipungkiri Roy sangat menikmati.
" Kamu? Kenapa Aku disini?" Tanya Luna. Roy justru mengernyitkan dahinya itu.
" Kamu lupa? Atau gimana? Kamu sendiri yang seret aku kesini. Bahkan kalo diperjelas, Kamu yang udah nidurin aku tahu!" Ucap Roy.
Luna langsung sadar jika dirinya sedang dipengaruhi obat itu.
" (Gila Luna, kenapa Kamu bodoh banget!)' ucap Luna mengumpati dirinya.
Roy justru kembali menyerang Luna. Roy sangat terpesona dengan keindahan tubuh Luna.
" Hey! Jangan dekati Aku!" Luna berusaha mendorong tubuh kekar itu. Tapi tenaganya tak sebanding jika harus melawan.
Roy kembali menjamah tubuh Luna, selimut yang menutupi ditarik paksa hingga jatuh ke lantai. Luna memang tak menginginkan hal ini. Tapi hati kecilnya sangat menikmati.
" Eumh.. Ahh."
******* Luna berbalik memenuhi kamar hotel itu.
Tanpa disadari hubungan intim itu adalah awal kehancuran Luna,
*
*
__ADS_1
Hari sudah pagi Rossi sudah berkali-kali menelepon Luna putrinya tapi tak membutuhkan hasil.
" Kamu kemana sih Lun?" Ucap Rossi cemas.
Sejak semalam Luna pergi hingg sekarang sudah pagi Luna belum juga pulang kerumah.
" Dasar anak bandel." Sungut Rossi.
" Kriett." Luna membuka pintu dengan langkah terhuyung. Luna berusaha berjalan meskipun kakinya terasa lemas .
"Dari mana Kamu Luna?" Rossi langsung menjewer telinga Luna. Rossi semakin marah, saat mencium tubuh Luna juga tercium bau Alkohol.
" Aduh Ma, sakit!" Rintih Luna.
" Biarin aja, biar copot sekalian!" Ucap Rossi marah.
" Ma, ampun, lain kali Luna gak gini lagi, janji Ma!" Ucap Luna memohon ampun. Rossi melepaskan tangannya.
" Janji bener ya? Awas kalo diulangi. Bakal Mama cabut semua fasilitas dan Kamu juga gak usah kerja lagi." Ancam Rossi.
Luna mengangguk kencang.
Tapi badannya yang remuk itu minta direbahkan segera.
" Luna boleh tidur Ma?" Tanya Luna penuh harap.
" Kenapa? Habis dugem capek? Pulang gak capek?" Sentak Rosii lagi. Hatinya masih geram pada sang putri.
" Hehe. Ilove u Mama." Luna langsung berlari dan meninggalkan Mamanya dibawah.
"Brakk."
Luna menutup pintu kamarnya. Hatinya sebenarnya sudah berpindah pada Roy, tapi karena sifat serakahnya Luna tetap saja ingin memiliki Riki.
" Gimana nanti kalo Aku hamil?" Luna mengusap perutnya itu. Akibat bencana cinta satu malam bagaimana jika Dia sampai mengandung anak Roy.
Meskipun Luna sangat suka dengan permainan Roy.
*
*
Atmika masih merenung di sebuah Negara dingin. Menikmati hujan salju disana.
Karena merasa jengah dengan tingkah Anggoro. Justru Atmika memilih jalan salah mengikuti jejak Anggoro memiliki hubungan terlarang dengan teman laki-lakinya sesama pecinta traveling.
Dia adalah Choky.
Laki-laki yang lebih muda dari Atmika.
Berbeda dengan Anggoro, Choky sangat bisa mengerti perasaan Atmika.
Choky juga pintar membuat Atmika luluh ketika marah.
" Selamat pagi Sayang!"
Choky memeluk tubuh Atmika manja dan mengecup leher Atmika yang jenjang itu.
" Pagi Sayang! Kau sudah bangun?" Tanya Atmika membalikan badannya.
" Emuacchh." Choky mengecup bibir Atmika manja.
" Masih pagi Sayang!" Atmika berusaha menepis pelukan Choky. Tapi sepertinya Choky tak setuju dengan sikapnya.
" Choky maafkan Aku, aku sedang tak ingin." Ucap Atmika terpaksa agar Choky bisa berhenti sekarang. Tentu saj Choky berhenti dan tak melanjutkan hal itu lagi. Nah karena sikap pengertian seperti ini yang bisa membuat Atmika goyah, hal yang tak pernah Atmika dapatkan dari Anggoro.
" Kenapa Sayang? Kau merindukan anakmu atau suamimu yang brengsek itu?" Tanya Choky kembali memeluk Atmika.
" Aku hanya rindu dengan Riki pasti Dia sedang mengalami kesulitan sekarang!" Atmika tahu watak Anggoro yang keras, terlebih Nani mertuanya yang tak kalah sama. Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya. Meskipun selama ini Atmika tak pernah beradu argumen dengan Nani.
" Ayo kita pulang ke Negara mu? Kau bisa menemuinya kan?" Ucap Choky.
" Lalu kau bagaimana?" Tanya Atmika.
" Aku akan mencari tempat juga di Negara mu?" Ucap Choky santai.
" Pekerjaanmu?" Tanya Atmika lagi.
" Tak perlu khawatir, Aku punya tangan kanan yang terpercaya." Kata Choky kembali mengecup dada Atmika.
Atmika sangar terpana mendengar Choky sampai berkorban untuknya. Atmika mendorong Choky hingga ke atas tempat tidur.
Atmika melepaskan kimono ya, dan terlihat dua bukit indah itu, membuat Choky menelan silvanya.
Akhirnya mereka melakukan hubungan panas itu.
*
*
Dania melihat Eric duduk melamun. Dania ingin tahu apa lagi yang sedang difikirkan oleh Eric.
"Kak?"
Eric menoleh,dan langsung mengubah ekspresi wajahnya.
" Gak usah sok imut gitu, Dania tahu tadi Kakak lagi sedih kan?" Kata Dania.
" Kamu ini beneran gak bisa ya pura-pura gak tahu aja!" Ucap Eric kembali ke wajah sedihnya.
Dania menyenggol tubuh Eric dengan badannya." Kakak jangan sedih terus dong, semangat!" Ucap Dania dan juga mengepalkan tangannya.
" Sekarang sih udah gak terlalu Kakak fikirin Dan, tapi ada yang aneh. Masak Nila ajuin resign mendadak hari ini!"
Dania menatap serius wajah Eric, Ia juga kaget mendengar kabar itu.
" Resign dadakan? Udah macem tahu bulat aja Kak mantanmu tuh." Kata Dania yang sudah menganggap Nila sebagai mantan.
" Apa udah bisa dianggep putus Dan, kalo kayak gini?" Tanya Eric.
Eric sadar belum ada kata putus diantara Mereka berdua, bisakah Eric menganggapnya demikian?
" Ya hubungan itu kan ada komunikasi Kak, kalo gak ada apa dong namanya? Yang katanya LDR aja masih ada komunikasi walaupun jauh. Masak ini udah pergi sama cowok lain, terus gak ada kabar. Emangnya Kakak mau nungguin? sampai kapan? Sampai tu cewek punya anak cucu? Dan Kakak disini masih aja sedih mikirin Dia? Ih kalo aku sih ogah kak." Ucap Dania.
Dania berharap Eric bisa membuka fikirannya atas ucapannya ini. Tapi tentu saja masih butuh waktu bukan? Seharusnya Eric lagi mengalami hubungan yang hangat dan mesra tapi nyatanya Ia mendapatkan penghianatan seperti ini.
" Pokoknya Dania mau, Kakak tetep bahagia. Jangan sedih terus!"
" Puk, puk, puk,"
__ADS_1
Dania menyenderkan kepalanya di bahu Eric. Menatap langit yang mulai petang dan gelap.
Kakak beradik itu sedang menikmati pemandangan sore hari.