Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 10


__ADS_3

"Papa berencana untuk melanjutkan sekolahmu, untuk meraih S2. Mungkin tiga atau empat bulan lagi, kau harus sudah mulai kuliah." Ujar Alex. Lelaki itu melihat putranya yang menghela nafas lega.


'Selamat, Marcel, Papa tidak lagi membahas kemana aku semalam.'


Marcel membatin.


"Pekerjaanku?" Tanya Marcel kemudian.


"Kuliah dan bekerja. Aku rasa kau sanggup. Otakmu cerdas, Papa percaya kau akan sanggup bekerja sambil kuliah. Dengar, tak akan lama, jika kau bisa Menguasai semua materi dengan cepat, mungkin hanya satu setengah tahun jika tidak dua tahun. Papa hanya ingin kau meneruskan perusahaan papa di bidang perhotelan dan pariwisata." Ujar Alex.


"Kenapa harus aku? Ada Hesti sebagai anak Papa dan Mama." Marcel menolak. "Diberi pekerjaan saja Marcel sudah sangat senang, Pa. Tidak perlu lah bila sampai harus diwarisi perusahaan."


"Hesti sudah kaya, Marcel. Perusahaan keluargaku sudah banyak. jangan khawatir. Perusahaan yang akan kau pimpin, hanya dua puluh persen besarnya dari kekayaan kami sebagai orang tuamu. Hesti sudah mendapatkan bagian paling banyak. Atau jika kau mau, kau bisa mendapatkan lima puluh persen harta Papamu. Aku akan merealisasikan segera." Aridha menyela. Tentu saja hal itu cukup membuat Alex terkejut.


"Astaga, Ma. Tetapi aku hanyalah anak papa yang baru di temukan." Marcel syok.


"Tetapi tetap saja kau darah dagingnya. Dengar, bagaimana pun, kau juga anakku. Kau harus ingat itu. Jangan menolak." Sahut Aridha. "Anggap saja itu sebagai penebusan kesalahan papamu di masa lalu. Marcel, dengarkan aku. Meski kau tak terlahir dari rahimku, tapi kau sudah aku anggap sebagai putraku."


Marcel tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi. Sejujurnya, ia enggan untuk mendapatkan pembagian harta dari Alex. Namun Aridha yang memaksa, Marcel mendadak gentar karenanya. Berhadapan dengan Aridha, Marcel bahkan pernah adu bela diri dengan Aridha, dan berakhir dirinya yang terkapar di lantai.


"Tetapi antara Papa dan Ibu, tidak ada hubungan apapun, Mama. Tidak ada surat resmi dari lembaga hukum bahwa mereka suami istri. Sebaliknya, mereka hanyalah orang asing. Secara biologis, aku memang anak Papa, tapi tidak di mata hukum, bukan?" Tanya Marcel kemudian. Lelaki itu mencoba berkelit untuk lepas.


"Kalau begitu, anggap saja ini hanya sebagai hadiah dari Papa Alex. Mudah sekali, bukan?" Alex menimpali. "Itu Hesti. Cepat makan."


Marcel lantas makan dalam senyap. Lelaki itu sengaja diam, tak menyahuti karena ia tahu, melawan Alex pun ia tak akan menang. Pada akhirnya, ia adalah calon lelaki kaya.

__ADS_1


**


Di sudut kamar dengan ranjang usang milik Lusi, wanita itu duduk seraya melamun. Ia tengah termenung, memikirkan banyak hal yang telah terjadi pada dirinya sejak semalam.


Melemparkan diri ke ranjang Marcel, nyatanya tak semudah yang ia pikirkan. Yang Lusi pikirkan adalah, ia perlu menyelamatkan hubungan persahabatannya dengan Renata, tanpa memikirkan risiko yang akan ia terima. Lusi terlalu gegabah dan tak berpikir panjang.


"Lusi? Apa yang kau pikirkan? Kenapa tidak menemuiku tadi saat menjemput Shila?" Renata tiba-tiba datang dan menyambangi Lusi.


"Oh, maaf. Sejak kapan kau datang? Kenapa tidak memanggilku?" Tanya Lusi.


"Shila yang membukakan pintu, dan aku sudah memanggilmu berkali-kali. Dia sedang bermain dengan tetangga sebelah. Kau telah fokus dalam lamunan. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Renata lagi. "Astaga, kau pucat. Apa kau sakit?" Tambah Renata lagi.


"Aku, aku tak apa-apa. Hanya kelelahan dan ingin banyak istirahat." Lusi menjawab pelan. Kepalanya menggeleng.


Renata fokus menatap intens sahabatnya itu. Entah mengapa, Renata merasa ada yang lain dari gelagat Lusi kali ini. Entah apa yang Renata pikirkan, tetapi jelas ada kesedihan yang mendalam yang saat ini tengah menjadi beban Lusi.


"Aku tak apa, Renata. Aku hanya kelelahan. Jangan berpikir yang macam-macam. Besok aku akan ajukan libur sakit." Lusi tetap tak bisa menceritakan.


"Kurasa tidak. Kau tidak hanya sakit, tetapi ada hal lain yang menjadi beban pikiran. Oh ayolah, Lusi. Jangan meminta dirayu agar kau mengatakan ada apa." Renata terus mendesak Lusi.


"Sudah aku katakan bahwa aku tak apa-apa, Renata. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, oke?" Lusi bergerak-gerak tak nyaman. Ini cukup membuat Renata semakin curiga padanya.


"Jika dalam waktu satu menit kau tak mengatakan ada apa, apa yang terjadi, aku pastikan persahabatan kita akan putus malam ini, Lusi." Renata mulai habis kesabaran.


"Apa maksudmu, Ren? Aku mengorbankan semuanya, dan kau mau memutuskan persahabatan kita?" Tanya Lusi yang mulai terpancing emosinya.

__ADS_1


"Kau? Mengorbankan semua? Apa maksudmu?" Renata curiga


"Aku rela melemparkan diriku diatas ranjang tuan Marcel, untuk melindungi mu, Renata. Ketahuilah, minumanmu yang kuteguk semalam, bukan minuman biasa. Kau bisa terjebak diatas ranjang Marcel bila kau yang meminumnya. Aku melakukan semua itu untuk melindungi dirimu, agar kau tetap bisa menikah dengan kekasihmu." Lusi berteriak di depan Renata.


Tak seperti biasanya, Lusi kini kehilangan kendali dirinya. Biasanya, Lusi tak pernah semarah ini pada Renata.


Renata terhenyak di tempatnya. Jadi, inilah alasan Lusi meneguk minumannya? Menggantikan Renata agar selamat?


"Lalu, semalam?" Renata syok. Suaranya mencicit lirih.


"Ya, minuman itu mengandung sesuatu yang mendorong nafsumu akan pria, dan semalam, aku sudah menyerahkan diriku pada marcel, Renata. Dia lelaki yang menginginkanmu, dia lelaki yang aku bilang sangat ingin mendekatimu dan kau menolaknya. Demi tuhan, Renata. Aku, aku melakukan itu agar kau bisa tetap menikah dengan kekasihmu." Suara Lusi semakin pelan. Ia seolah kehabisan tenaga. Air matanya jatuh bercucuran.


"Astaga, Lusi. Aku tidak tahu kau senekat itu demi menyelamatkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku." Ucap Renata kemudian. Keduanya sama-sama menangis dan berpelukan.


Beruntung, Shila tengah bermain dengan tetangga sebelah Lusi, sesama penyewa rumah.


"Aku sudah kotor, Renata. Aku sudah tak lagi murni. Adakah lelaki yang bersedia menerima diriku? Hina dina diriku ini, Ren. Bahkan mungkin aku akan tua tanpa suami. Ya tuhan, apa salahku di masa lalu?" Lusi menangis terisak, menekan dadanya sendiri untuk menghalau sesak yang mendera.


"Maafkan aku, Lus. Kau sahabatku. Aku telah salah menilai mu. Aku berjanji," Renata menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. "Aku berjanji akan membelamu, dan mendapatkan hakmu sebagai wanita. Dia harus bertanggung jawab." Renata menatap Lusi dengan air mata yang terus mengucur.


"Tidak. Jangan, Ren. Kumohon jangan. Aku tak pernah mengharapkan Marcel untuk bertanggung jawab. Dia tidak mencintaiku. Aku tak mau terjebak pernikahan dengannya. Biarkan begini saja. Marcel sudah memberiku banyak uang untuk biaya rumah dan sekolah Shila." Lusi menatap penuh permohonan pada Renata.


"Dalam artian kau menjual dirimu? Kau bodoh, Lusi. Kau bodoh!" Renata memaki Lusi di sela-sela tangisnya.


Lusi bungkam. Nyatanya, apa yang Renata Katakan adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


**


__ADS_2