
"Tetapi mohon maaf, Tuan Alex Atmadja. Saya, saya merasa tidak pantas jika harus menjadi, i-istri tuan muda Marcel. Saya, oh tidak, maksudnya, ada banyak wanita yang jauh lebih pantas menjadi pendamping hidup tuan muda Marcel," Lusi menjawab dengan gugupnya.
Apalah Lusi bila dibandingkan dengan Renata yang istimewa di mata Marcel, dan juga penampilan yang terjaga? Bahkan Renata yang demikian cantik dan berada itu saja, terlihat seperti berbanding jauh dengan Marcel, apalagi Lusi.
"Sepicik itukah kau menilai Marcel dan keluarga kami berdua, Lusi Asmarani? Apakah semua patokan perbandingan itu hanya terpaku pada satu titik yakni harta dan dunia? Tidak. Itu tidak benar. Bahkan jika boleh aku ceritakan secara gamblang padamu, suamiku dulu juga miskin saat aku merangkulnya dan mencintainya. Lihat sekarang, kami bahagia dengan cara kami. Keluarga kami, tidak ada yang menilai dan melihat seseorang dari kedudukannya di mata masyarakat, melainkan ketulusan dan kebaikan hatinya. Sekarang bukan saatnya kita bicarakan tentang pantas atau tidaknya, melainkan sekarang saatnya kita bicarakan yang terbaik untuk kalian, juga bakal bayi yang kau kandung," Ridha berkata dengan tegas.
Membujuk Lusi, mengapa harus serepot ini?
Lusi kian gemetar di tempatnya, merasakan jantungnya yang luar biasa menghentak liar. Berhadapan dengan Aridha dari marga Praja Bekti, nyatanya tak semudah yang Lusi bayangkan.
Tatapan Mama Marcel itu semakin mengintimidasi pada Lusi, menatap Lusi dengan tatapan tajam yang nyaris membunuh Lusi seketika.
"Tetapi, ba-bagaimana dengan Marcel? Saya, saya takut Marcel tidak menerima saya, Tuan, nyonya," ucap Lusi kemudian.
"Justru Marcel mencarimu selama seminggu ini, Lusi. Kau tidak perlu takut, dan juga kau tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja. Sudah aku katakan sebelumnya, Marcel akan menerima dirimu, tidak ada alasan untuknya tidak menerimamu. Kau calon ibu dari anak-anaknya. Ketahuilah, apa yang menurutmu tak mungkin, tetapi nyatanya Tuhan jauh lebih berkuasa," Alex menimpali dengan tegas.
Lusi tercekat sambil memejamkan mata. Salivanya terasa sepahit empedu. Ia tak berdaya, dan juga tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri lagi.
"Bagaimana, Lusi? Kau bersedia ikut dengan kami dan bersedia dipinang oleh Marcel?" Aridha bertanya kembali.
"Apakah aku memiliki pilihan lain, selain menjawab iya, Nyonya?" lirih Lusi kemudian. Inilah akhirnya, inilah puncaknya, Lusi harus menerima takdirnya, untuk dinikahi oleh Marcel Dinata Atmadja.
**
__ADS_1
Pagi menyapa, ketika marcel dikejutkan oleh gedoran pintu apartemennya oleh Hesti, putri tunggal Aridha. Adik satu ayah dengan Marcel itu dengan lantang berteriak, memanggil Marcel hingga nyaris menjadi pengganggu tetangga unit Marcel.
Beruntung hari masih pagi, dan Marcel terpaksa terjaga, akibat ulah Hesti yang barbar itu.
"Kak Marcel, Cepat buka pintunya dan tolong jangan membuat kekacauan kali ini. Bangun dan segera pulang ke rumah Bibi Nora," teriak Hesti terakhir kali, sebelum Marcel membuka pintunya.
Meski kesal dan cukup terganggu, namun Marcel tidak bisa bila harus marah pada si cantik pemilik mata coklat itu.
"Ada apa? Jangan mengganggu. Aku sedang menikmati tidur dan kau mengganggu dengan sesuka hati. Pulanglah, hari masih pagi," Marcel berkata dengan lirih. Ada banyak hal yang membuat Marcel lelah, Hingga dirinya itu enggan bila harus bangun sepagi ini.
"Aku diutus Papa dan Mama, untuk membawamu pulang segera ke rumah bibi Inora. Cepatlah kesana, kita harus sampai sebelum tiga puluh menit lagi," Hesti melirik pergelangan tangannya, yang tersemat jam tangan mahal berhias batu permata.
"Jangan mengigau sepagi ini, adikku sayang. Nanti aku kesana sambil berangkat kerja," ujar Marcel yang berbalik dan berlalu ke sofa, untuk melanjutkan tidur.
Hesti tentu saja membulatkan mata, menatap tak suka pada kakaknya itu.
Marcel tak peduli, dan lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas sofa. Memikirkan dan melakukan pencarian Lusi, nyatanya membuat Marcel lelah luar biasa.
"Baiklah, jangan menyalahkan, aku, jika aku memperlakukanmu seperti biaya muara," Hesti tersenyum licik. Gadis itu meniup ujung kepalan tangannya, sebelum meninju keras perut Marcel yang tengah terbaring di sofa.
"Aaaarrrgggghhh .... " Marcel mengerang kesakitan, saat mengetahui bahwa perutnya terasa nyeri. "Ssshhhhhhh ...."
"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhku?" tanya Marcel pada Hesti yang tertawa cekikikan. Lelaki itu mendesis lirih, dengan mata terpejam karena menahan sakit.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, jangan membantahku. Coba, sekali lagi tolak ajakanku untuk Kakak pulang ke rumah Bibi Nora, bukan hal yang sulit untukku untuk meremukkan tulang ekor Kak Marcel," Hesti berkata dengan tetap tertawa cekikikan.
Marcel bangkit dengan langkah tertatih, membiarkan dirinya diajak oleh Hesti daripada dirinya harus menahan kesakitan. Pemuda itu lantas mendudukkan tubuhnya pada sofa, dan meluruskan kakinya.
"Siapa yang menyuruhmu? Astaga, sakit sekali," desis Marcel akibat menahan rasa sakit pada perutnya itu.
"Maaf, kak Marcel. Aku sudah minta izin Mama dan Papa. Bahkan, bibi Mora memintaku untuk menghajarmu jika kau tak bersedia ikut denganku. Sudahlah, jangan membantah. Ada kejutan besar sedang wmnantimu disana," jawab Hesti dengan mudahnya.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu setelah ini. Tunggu disini dulu, aku akan cuci muka sebentar. Biarkan aku istirahat sebentar. Astaga, ini sakit sekali," Marcel bangkit, dan menuju ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.
"Kurasa kau tidak perlu membawa mobil, Kak Marcel. Nanti kau akan diantar pulang oleh paman Dion. Kata Bibi Nora sih, begitu," Seloroh Hesti tiba-tiba.
"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengambil dompetku," Marcel menjawab tanpa menoleh ke arah Hesti. Pagi ini, Marcel ingin marah pada adiknya itu, tetapi ia sadar, ia tak akan pernah mampu melakukannya.
**
Dalam hidup seorang Lusi Asmarani, ia tak pernah membayangkan akan terjebak dalam situasi sulit macam ini. Menikah dengan seorang Marcel Dinata, di sebuah rumah ibadah dekat rumah Inora.
Menunggu Marcel datang dan meminang dirinya di depan empat orang tuanya, tidak pernah Lusi masukkan ke dalam daftar riwayat hidup seorang Lusi Asmarani. Rencana kabur dengan rapi dan rencana yang matang, nyatanya harus kandas akibat keluarga Marcel yang menemukannya lebih dulu.
Betapa terkejut bukan main, dengan perasaan mencelos dalam hati Lusi, ketika Wanita yang bukan gadis lagi itu, mendapati Marcel muncul dengan wajah babak belur, dan balutan perban pada pelipis kiri Marcel.
Bahkan Lusi terdiam dan tidak bicara sama sekali pada marcel. Ia hanya bisa menatap Marcel dengan pandangan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
'Mungkin, kau terpaksa menikahi aku, Marcel. Aku sudah berusaha semampuku untuk tetap diam dan tak menuntut tanggung jawabmu, tetapi orang tuamu sendirilah yang datang padaku dan memaksaku,' Batin Lusi.
**