Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 39


__ADS_3

Sebuah tekad begitu bulat untuk meninggalkan, ketika hati terus menerus disakiti dengan cara yang sangat kejam. Sebuah rasa cinta yang demikian menggebu, kini seolah mati rasa, ketika tahu fakta tentang rasa yang sudah terbagi.


Harusnya Lusi tahu diri sebelumnya, bahwa Marcel sedari awal memang tidak pernah mencintainya. Tetapi sayangnya, semua sudah terlanjur, tak dapat dikembalikan seperti semula.


Dengan hati penuh luka, Lusi mengemasi seluruh pakaian yang ia miliki, pakaian yang bukan pemberian Marcel untuknya. Lusi harus menyadarkan diri sendiri, meski semua sudah terlambat. Menyesali pernikahan yang ia bangun bersama Marcel, nyatanya tak ada gunanya sama sekali. Yang menjadi fokus Lusi, wanita itu harus fokus pada bayinya yang beberapa bulan lagi hendak lahir.


Tangis wanita itu berderai, ketika koper yang berisi pakaian dan kebutuhan perawatannya ia turunkan. Ranjang yang menjadi saksi malam panasnya bersama Marcel berkali-kali selama ia menjadi istri Marcel, mungkin akan membuatnya rindu. Sayang, sebulan terakhir Marcel tak lagi menginginkan dirinya. Menyakitkan sekali.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, terseguk seorang diri dan menumpahkan tangis. Rasanya dadanya sesak, tak dapat menampung semua derita yang selama ini ia rasa.


"Harusnya dari awal, aku menolak saja tawaran orang tuamu untuk menikah denganmu, Marcel. Aku pikir, kau bersungguh untuk belajar mencintai aku. Tetapi nyatanya kau mendustai aku. Aku tak tahu harus bagaimana ke depannya, tetapi yang jelas, aku tak bisa berbuat banyak untuk tetap bertahan di sisimu," tangis Lusi tumpah, berderai membasahi pipi mulusnya.


"Tak banyak yang bisa aku lakukan, selain mendoakan yang terbaik untukmu dan Renata. Semoga kau bahagia, Marcel," tambah Lusi, seraya mengusap ranjang bersprei putih milik Marcel.


Di luar kamar, Marcel duduk menunduk, tak berani menatap Papa Alex barang sebentar saja. Wajah lelaki itu babak belur, bahkan lebih parah dari ketika dirinya di hajar oleh sang Ibu beberapa bulan lalu. Beberapa luka di bibir, juga lebam menghiasi wajah tampannya. Jangan lupa rambutnya yang acak-acakan, membuat Marcel demikian kacau.


Meski Alex selama ini tak memiliki andil dalam membesarkan dan mengasuh Marcel, namun ia terlanjur emosi. Sebangsat-bangsatnya Alex remaja, namun lelaki itu tak pernah berpikir untuk menyakiti istrinya, terlebih tengah mengandung anaknya. Sungguh, kegagalan seorang ayah adalah, ketika ia melihat dan mendengar secara langsung, apa yang di lakukan sang putra dengan tingkah buruk terhadap istrinya.

__ADS_1


Beberapa kali bogem mentah, Alex layangkan pada Marcel yang tak melawan sama sekali. Bahkan Marcel hanya pasrah, dan tak mau membela diri.


Selama menjadi putra Alex, hidup berada di bawah naungan Alex, Marcel tak pernah membantah, terlebih seperti saat ini ketika dirinya bersalah. Yang ada, Marcel lebih berpikir untuk pasrah saja.


"Andai Papa mau membawa Lusi pergi, Marcel mohon jangan jauhkan dia sepenuhnya dari Marcel, Pa. Biar bagaimana pun, Marcel tak pernah memiliki keinginan untuk menceraikan Lusi dan meninggalkannya," ujar Marcel menyampaikan isi hatinya.


Katanya, ia tak mencintai Lusi. Menikahinya hanyalah sebagai formalitas semata sebab Luis hamil, itu saja, tidak lebih.


"Dan kau dengan tamaknya menginginkan keduanya tetap berada di sisimu?" tanya Alex seraya menaikkan sebelah alisnya. Nada bicaranya datar dan ringan, seolah tak ada masalah apapun diantara dirinya dengan putranya.


"Ya, Marcel tak bisa kehilangan keduanya," jawab Marcel.


Tatapan matanya tajam, menatap Marcel yang perlahan mengangkat wajahnya.


"Dua puluh dua tahun, Pa," jawab Marcel kemudian.


"Usiamu bukan lagi masuk dalam kategori remaja, Marcel. Harusnya kau bisa berpikir jernih. Kau juga adalah putraku yang cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan. Tetapi mengapa, kau justru tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar untuk masa depanmu? Apa memiliki dua wanita adalah sesuatu yang dibenarkan? Apakah kau bangga karena memiliki dua wanita? Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaan satu sama lain diantara dua istrimu nanti? Baiklah, kau tidak mencintai Lusi, tetapi jelaskan padaku, bagaimana perasaanmu saat Lusi pergi darimu beberapa bulan lalu, dengan membawa kandungannya seorang diri?" ujar Alex dengan panjang lebar.

__ADS_1


Suasana yang sepi, ditambah lagi kebungkaman mereka yang panjang, berhasil membuat suasana terasa mencekam. Ditambah lagi tadi Alex memanggil Aridha, meminta istrinya untuk membawa Lusi pergi untuk diamankan sementara waktu. Mungkin, saat ini istri Alex itu masih berada di dalam perjalanan.


Jantung Marcel tak hentinya bertalu tanpa aturan. Rasanya seperti genderang perang bersaudara Mahabharata dalam sebuah sejarah yang pernah di jelaskan.


Andai kehilangan Lusi, dan Marcel tetap bersama Renata, Marcel tak dapat membayangkan, bagaimana marahnya sang Ibu kelak. Membayangkan saja Marcel serasa tak mampu. Sungguh, skandalnya bersama Renata, adalah sebuah petaka yang jelas-jelas tak akan mungkin bisa mengembalikan semuanya, Termasuk kepercayaan orang tuanya.


"Marcel mohon, Pa. Biarkan Marcel dan Lusi membesarkan bayi kami bersama. Marcel tak mau anak Marcel besar tanpa ayah, seperti Marcel," lirih Marcel dengan nada mengiba.


"Kau sudah tahu besar tanpa Ayah, di bawah kasih sayang Dion yang baiknya luar biasa bak malaikat, tetapi kau tetap melakukan sesuatu yang berdampak buruk terhadap dirimu sendiri. Aku heran, terbuat dari apa otak cerdasmu itu," Alex menatap tajam Marcel, dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada.


"Marcel mohon, Pa," lirih Marcel sekali lagi.


"Jika yang kau katakan tadi adalah sebuah masalah, jangan khawatir, Marcel, cucuku tak akan kurang kasih sayang dari seorang ayah. Akan aku katakan, ia akan besar dan tumbuh di bawah pengasuhan diriku. Akan aku didik dia dengan baik, agar tak sama denganmu yang bangsat, bajingan, pengecut lagi pecundang. Dasar banci!" umpat Alex yang mulai nyaris kehilangan kontrol dirinya.


"Aku memberimu kebebasan, memberikanmu hak waris sebab kau keturunanku, memberimu sebuah kasih sayang sebab aku dulu tak dapat memberikannya. Namun apa yang terjadi? Kau menyalahgunakan semuanya, hanya karena jerat wanita. Andai Inora tahu tentang hal ini, apakah mungkin ia akan tinggal diam?" tanya Alex.


Sebuah ketakutan tersendiri muncul pada diri Marcel. Bila ia saat ini gentar akan kemarahan Alex, maka dengan Inora, andai Inora memang berniat menghabisi dirinya hingga menjadi mayat dan tinggal nama, Marcel tak akan melawan. Ketakutan yang sesungguhnya menjadi kelemahan Marcel, adalah Inora, sang Ibu yang melahirkan.

__ADS_1


"Marcel pasrah," jawab Marcel kemudian, dengan perasaan yang tak sanggup ditahan lagi.


**


__ADS_2