Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 16


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa henti. Bumi terus berputar pada porosnya. Siang dan malam terus berganti seiring dengan waktu. Semua masih sama seperti sebelumnya, namun tidak dengan cuaca yang sudah memasuki musim panas.


Tanpa terasa sudah, Marcel dan Lusi saling menjauh satu sama lain selama dua bulan terakhir. Tepatnya pasca pengusiran Renata pada Marcel ketika Lusi tengah pingsan saat itu di rumahnya. Keduanya seolah semakin jauh, seperti tak pernah memiliki hubungan pertemanan yang dekat.


Pernah satu waktu, Lusi berniat mengganti semua uang yang Marcel berikan padanya, namun Marcel menolak dengan dalih ia tulus menolong. Setelahnya, tak ada obrolan apapun lagi yang menandai kedekatan mereka. Mereka layaknya dua orang asing yang hanya sebatas majikan dan bawahan di kantor.


'Anggap saja itu hanya sebuah bentuk pertolongan dariku, Lusi. Aku berbuat baik tak hanya padamu, pada karyawan lain yang membutuhkan aku pun, aku selalu membantunya. Jadi jangan anggap bahwa aku berbuat baik padamu, karena sesuatu.'


Itulah yang Marcel katakan kala itu. Hingga kini keadaan juga sudah mulai berubah. Renata sudah menikah dengan pujaan hatinya. Tentunya hal itu cukup mengurangi intensitas pertemuan Lusi dan Renata. Terkadang Renata rindu sekali dengan Lusi, dan mereka hanya bisa bertemu, ketika suaminya sedang bekerja. Tentunya harus atas izin suami Renata lebih dulu.


Panas terik matahari seharian ini, ditambah lagi dengan aktivitas kerja yang padat, membuat tenaga Lusi seolah terkuras habis. Wanita itu terus bekerja dan berniat untuk mencari uang agar bisa menyekolahkan Shila.


Hingga hari sudah mulai sore, jam kerja Lusi hampir usai. Rekan kerjanya yang bernama Beny, sedikit khawatir karena Lusi beberapa kali duduk bersandar pada tembok, dengan wajah yang pucat.


"Lusi, mintalah izin pada atasan untuk pulang lebih dulu. Lihat, kau sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Istirahatlah dan jangan banyak bergerak. Sepertinya kau tak enak badan." Beni berkata, seraya ikut duduk di lantai, dengan bahu bersandar pada tembok seperti Lusi.


Lusi melihat ke samping, dimana Beny berada disana. Senyum Lusi merekah meski wajahnya tampak pucat pasi. Ia sudah bertekad untuk tetap bekerja dan pulang hingga jam kerja usai.


"Entahlah, Ben. Tetapi aku merasa bahwa aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Nanti juga aku akan lebih baik. Aku juga tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku merasa sistem imun tubuhku menurun. Padahal tidak sedang turun hujan dan baru masuk musim panas." Lusi menjawab pelan.


"Tetapi wajahmu terlalu pucat. Aku khawatir nanti kau pingsan di tempat kerja, dan berakhir membuat panik banyak orang. Tak apa, aku akan bantu bicara dengan pengawas jika kau mau. Ayo berdiri." Beny mencoba untuk membujuk Lusi.


"Aku sering libur, Ben. Meski jika izin itu tak mengurangi gajiku, tetapi aku segan jika aku izin pulang atau libur terus menerus. Biarkan aku bekerja. Aku takut nanti berimbas pada nilai perusahaan terhadapku. Aku harus tetap bekerja untuk biaya hidup dan sekolah adikku." Lusi berkata jujur.

__ADS_1


"Ya sudah. Jika nanti seandainya kau tak kuat lagi, kau bisa meminta tolong padaku. aku akan bantu kau pulang." Beny menimpali. "Ya sudah, aku akan membersihkan ruang pantry dulu." Ujar Beny lagi.


Beny lantas berjalan menuju ke pantry, meninggalkan Lusi dengan perasaan yang tak bisa ia tahan.


Entah sejak kapan pastinya, Beny merasakan ada hal lain di hatinya untuk Lusi. Gadis sederhana dan bersahaja, serta memiliki sikap santun dan lembut itu, mampu menawan hati Beny.


Tak hanya itu, rupanya Beny juga mengetahui tentang keseharian Lusi. Tentang Lusi yang tinggal hanya berdua dengan sang adik, juga banyak biaya yang harus terpenuhi hingga membuat Lusi harus bekerja keras banting tulang, Beny tahu semuanya.


Tak lama, setelah Lusi merasa lebih baik, wanita itu berdiri, mencoba menghalau pusing saat setelah duduk dan berdiri tiba-tiba.


Inilah perjuangan hidup yang sesungguhnya. Saat seseorang merasa bahwa dirinya sangat butuh istirahat karena kelelahan, namun dipaksa keadaan untuk tetap bekerja menantang dunia.


Menyedihkan sekali, bukan?


Selama ini, Lusi terkenal baik terhadap semua orang. Wanita itu juga tidak pernah sombong. Bahkan beberapa orang yang tak sengaja menghina kondisi Lusi, selalu dibalas baik dan berakhir Lusi memaafkan. Jelas sekali, Lusi tak pernah memiliki musuh.


"Lusi, astaga, kau kenapa?" Beny menepuk-nepuk pipi Lusi pelan, berharap Lusi segera bangun. Sayangnya, Lusi tetap tak sadar dengan mata terpejam.


**


Di ruangannya, Marcel mendengar dari Bayu, bahwa office girl yang biasa melayaninya dan bernama Lusi, tengah pingsan di lorong menuju ke pantry. Bahkan Marcel pun tidak pernah tahu, dimana letak pantry dan bagaimana bentuknya.


Ada rasa tak nyaman yang menyelimuti hati Marcel. Hingga lantas Bayu memutuskan untuk menyudahi bicara empat mata dengan Marcel.

__ADS_1


"Ya sudah, tuan. Saya pamit keluar." Bayu berkata seraya menunduk sebentar pada Marcel.


"Bayu, tunggu. Boleh aku meminta tolong padamu?" Marcel bertanya pelan.


"Kemari, mendekatlah. Aku ingin bicara rahasia denganmu."


"Ada apa, tuan?" Bayu mendekat, tak jadi untuk keluar ruangan majikannya.


"Boleh aku meminta tolong? Tetapi aku minta agar tidak diketahui orang lain selain dirimu dan aku." Pinta Marcel.


"Baiklah, tuan. Bantuan apa itu?" Bayu bertanya.


"Carikan amplop coklat dan berikan ini pada Lusi. Aku tahu dia sedang butuh uang untuk kesehatannya. Adiknya baru mendaftar ke sekolah menengah pertama dan sedang butuh banyak uang juga. Mungkin ini bisa sedikit membantu Lusi. Katakan ini bantuan dari kantor, bukan dariku pribadi." Marcel berkata, seraya menyerahkan dua puluh lembar uang berwarna merah.


Bayu mengerutkan kening di tempatnya. Kenapa bosnya itu tiba-tiba ingin membantu orang lain? Biasanya Marcel tidak begitu peduli akan hal-hal di sekitarnya.


"Ini serius, Tuan?" Tanya Bayu kemudian.


"Aku serius, Bayu. Ayo, berikan ini jika nanti dia mau pulang. Jika perlu, bawa dia ke dokter dan tanggung semua biayanya. Aku dan dia berteman baik beberapa waktu lalu. Dia juga pernah membantuku. Hanya saja, sekarang aku tak begitu dekat dengannya. Jadi akan canggung kalau datang tiba-tiba padanya, dengan mengulurkan bantuan." Ujar Marcel.


"Baiklah, tuan. Aku akan mencoba untuk menemuinya sebentar lagi." Sahut Bayu yang terkejut, jika Marcel dan Lusi pernah menjadi sahabat.


Bayu berlalu begitu saja dari sana, meninggalkan Marcel yang heran sendiri atas sikapnya. Memangnya, sejak kapan Marcel berubah peduli pada orang lain? Apalagi ini terhadap Lusi.

__ADS_1


**


__ADS_2