
Hari sudah nyaris sore, ketika Lusi merasakan perutnya berteriak protes sejak siang tadi. Bahkan tadi, suaminya tidak memberinya tahu, bagaimana tentang makanan dirinya. Sudah sakit, ditambah lapar yang cukup lama, tentu membuat Lusi sangat pucat dan tubuhnya terasa lemas.
Wanita itu lantas bergegas menuju ke dapur, dan melihat kulkas yang hanya terisi air mineral dan Minuman bersoda. Tak ada sayur, telur, atau apa pun yang bisa Lusi makan. Lusi yakin, dalam satu jam jika Marcel tak datang, ia akan pingsan.
Belum sampai Lusi melangkah menuju dapur, Marcel tiba-tiba datang dengan membawa sebuah kantung kresek berisi roti dan selai kacang.
"Lus, maaf, astaga aku benar-benar lupa jika kau terlambat makan hari ini. Ayo, makan dulu. Wajahmu sudah pucat, kau pasti lapar," ujar lelaki itu kemudian. Ada sesuatu yang membuat Marcel khawatir bukan main saat ini, terutama tentang kesehatan Lusi yang masih tak membaik.
Lusi hanya bisa tersenyum seraya berkata, "tak apa, aku mengerti kau sedang disibukkan oleh pekerjaan. Aku, badanku lemas. Pagi tadi pun, aku hanya makan sedikit."
"Ya sudah, sekarang duduklah, aku akan menyiapkan makan sementara untukmu. Setelah ini, kita akan keluar dan mencari makan, apapun yang kau ingin," ucap Marcel seraya bangkit dan berjalan menuju ke dapur.
Lusi tersenyum, meski Marcel tak mencintainya, namun setidaknya Marcel bersikap baik terhadapnya.
Hingga tak lama kemudian, Marcel datang membawa nampan berisi segelas susu dan dua piring roti yang telah diolesi butter dan selai kacang. Menu sederhana itu cukup membuat mata Lusi berbinar.
"Makan ini dulu. Nanti, kita akan makan di luar. Makan apa saja yang kau suka, dan jangan sungkan untuk meminta apapun yang kau ingin," ucap Marcel kemudian, yang diangguki kepala oleh Lusi.
Pasutri muda itu kemudian makan dalam diam, dengan banyak hal yang mereka pikirkan. Marcel tentang hidupnya yang kini telah terkunci pada Lusi, dan Lusi yang kini tengah menatap Marcel dengan canggung.
"Pelipis dan sudut bibirmu masih tampak sedikit bengkak, Marcel. Boleh tidak, jika sebentar lagi selepas makan, aku kompres dengan air dingin?" Lusi bertanya lirih, sambil mengunyah makanannya dengan pelan.
"Boleh," jawab Marcel sambil tersenyum.
__ADS_1
"Setelah ini kau jangan terlalu lelah-lelah, Lusi. Kau harus perhatikan kondisi kandunganmu. Jika kau menginginkan makan sesuatu, jangan sungkan untuk memintanya padaku. Nanti, aku akan bicarakan dengan orang tuaku untuk mencarikan asisten rumah tangga untuk mengurus kebersihan apartemen. Kau harus banyak istirahat tentunya," tambah Marcel.
"Terima kasih sudah perhatian padaku, Marcel. Maaf, aku sempat berpikiran buruk tentangmu saat itu," ungkap Lusi malu-malu. Wanita muda itu menunduk, sambil mengunyah pelan rotinya.
"Tak apa. Mama dan Ibu berkata, pengaruh hormon ibu hamil memang seringkali membuat perasaan sensitif. Aku mengerti. Ayo habiskan. Kau sudah berjanji untuk mengompres wajahku," ujar Marcel sambil tersenyum.
Mereka lantas makan dalam diam, membiarkan keheningan mereka nikmati selama makan di sore hari ini hingga makanan mereka tandas.
"Mandilah dulu, Lusi. Aku akan istirahat sejenak di sofa sambil menonton televisi. Selepas kau mandi, aku yang akan mandi. Kita keluar jalan-jalan dan membeli makanan apapun yang kau ingin," perintah Marcel sambil mengambil piring Lusi yang sedikit kotor.
"Baiklah, tapi biarkan aku mencuci piring dulu. Istirahatlah segera, aku tahu kau sedang lelah," ucap Lusi kemudian.
"Jangan terlalu lelah, Lus. Aku tak mau kandunganmu kenapa-napa," jawab Marcel.
"Aku hanya hamil, Marcel. Bukan sakit. Lagipula aku juga akan mengompres wajahmu dulu," sahut Lusi kemudian, dengan keras kepala. Satu hal yang baru Marcel ketahui, Lusi adalah wanita yang keras kepala.
"Ayo Marcel, aku akan mengompres lukamu sebentar," ucap Lusi tiba-tiba, ketika Marcel hampir terlelap. Lelaki itu menatap Lusi yang membawa baskom dan handuk kecil.
Tanpa kata, Marcel bangkit untuk duduk, membiarkan Lusi duduk di sebelahnya dan meletakkan baskom kecil tadi, diatas meja.
"Ssshhhhhhh aahhhh ... sakit, pelan-pelan, Lusi," keluh Marcel yang merasakan lebamnya terasa nyeri.
"Maaf, tahan sedikit. Aku pastikan nanti bengkaknya mengempis, meski lebamnya tidak hilang sepenuhnya. Tahanlah dulu, ini tak akan lama," jawab Lusi yang dengan telaten merawat wajah suaminya.
__ADS_1
Marcel menatap lekat Lusi yang saat ini serius memandangi dirinya. Ada rasa hangat yang tiba-tiba datang menyirami hatinya. Sayangnya, Marcel merasa bahwa dirinya masih belum memiliki tanda-tanda menyukai Lusi.
Bila dipandang lebih dekat begini, Lusi tak sebegitu buruk. Warna kulitnya yang cerah, sedikit gelap akibat ia bekerja terlalu keras selama ini, dan juga tidak merawat wajahnya dengan produk perawatan kulit berharga mahal.
Tak hanya itu, kulitnya yang sedikit pucat, membuat Marcel berpikir, sakit Lusi terlihat parah. Padahal umumnya orang mengandung di trimester pertama, seringkali memiliki kondisi lemah.
'Mungkinkah aku bisa mencintaimu, Lus?' tanya Marcel dalam hati.
"Lus?" panggil Marcel pelan. Rasa nyeri tadi, entah menguap kemana.
"Ya, kau butuh sesuatu?" tanya Lusi kemudian.
"Tidak. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tentang ... bagaimana perasaanmu padaku sekarang?" tanya Marcel kemudian.
"Biasa saja. Entahlah, Marcel," Lusi mendesah pelan, meletakkan handuk kecil yang dipakai tadi, ke dalam baskom berisi air es. "Aku tidak mengerti mengapa jadi begini. Kupikir, selepas tragedi malam itu, aku akan baik-baik saja dan tak ada kehamilan. Sayangnya, semua salah besar," jawab Lusi kemudian.
"Setelah anak itu lahir, bagaimana? Apa kau memutuskan untuk kita berpisah?" tanya Marcel lagi.
"Kau maunya bagaimana, Marcel? Aku terserah padamu saja. Jika seandainya kau memintaku untuk bertahan demi anak ini, dan kau ingin aku belajar mencintaimu, akan aku lakukan dengan syarat kau harus melakukan hal serupa. Tetapi jika kau tetap tidak mencintaiku selama kita menikah, aku tak keberatan untuk kau tinggalkan. Dari awal, pernikahan kita karena akibat dari kesalahan, bulan?" ungkap Lusi lagi.
"Jujur saja, ini terlalu cepat untukku, Lus. Jika saja Papa dan Ibu tidak menkanku, aku pikir mungkin kita bisa memikirkan lebih matang untuk pernikahan ini. Ya sudahlah, sua sudah terlanjur terjadi, kita jalani saja pernikahan ini dengan baik. Hanya saja, jika boleh aku meminta, bisakah kau tidak berharap banyak padaku? Aku, aku takut jika nanti aku tidak bisa memberimu kebahagiaan," jelas Marcel panjang lebar.
Lusi tersenyum di depan Marcel. Dengan percaya diri dan demi kandungannya, Lusi berharap Marcel bisa membuka hatinya untuk mempertahankan pernikahan mereka yang terpaksa ini.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku katakan, aku lebih dari sekedar mampu untuk membuatmu jatuh cinta padaku?" tandas Lusi, membuat Marcel mengerutkan kening tak percaya.
**