
"Marcel menghamili seorang gadis, Ridha. Gadis itu menghilang karena marah pada Marcel," Alex memberi tahu istrinya itu.
"Apa? Ya tuhan, lalu, dimana gadis itu sekarang?" Aridha bertanya pelan. Matanya membulat dengan sempurna, ketika sang suami menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Kini, suami istri itu baru tiba di rumah. Alex sengaja meminta istrinya untuk pulang cepat, untuk menyampaikan kabar buruk ini. Alex butuh bantuan istrinya untuk mencari keberadaan Lusi.
"Aku tidak tahu, itulah mengapa aku memintamu untuk menolongku, bantu aku mencari gadis yang bernama Lusi," jawab Alex kemudian. Lelaki itu melangkah, mendekati istrinya yang tampan syok.
Pasalnya, menurut Aridha, Marcel adalah anak yang baik dan juga tak mudah membantah nasihat empat orang tuanya. Siapa yang menduga, akhirnya Marcel bisa melakukan hal sebodoh ini?
"Katakan padaku, sejak kapan wanita itu menghilang, dan dimana terakhir kali Marcel menemuinya? Oh tidak, begini saja, hubungi Marcel dan suruh dia menghadap padaku, aku mau bicara," Ujar Ridha kemudian.
Alex mengangguk, segara meraih ponselnya dalam saku celana, dan menghubungi Marcel segera.
**
Marcel berjalan tergesa, dengan penampilan yang sedikit berantakan. Ketampanan pemuda itu sedikit terganggu, ketika balutan perban pada pelipis kanannya dan lebam di sudut bibir kirinya, menghiasi wajah.
Panggilan Aridha kali ini, sebenarnya enggan Marcel penuhi. Tetapi ketika Alex berkata bahwa Mama Aridha bersedia membantu mencari keberadaan Lusi, maka saat itulah Marcel memutuskan untuk datang.
Tak banyak yang bisa Marcel lakukan untuk segera bisa menemukan Lusi, selain meminta bantuan orang tuanya. Meski berkali-kali Marcel mengajari seluruh sudut ibukota, dan menyisir ke seluruh gang-gang sempit sekalipun, Lusi seperti hilang ditelan alam, tak ada jejak keberadaannya terlihat.
Memasuki ruang kerja Aridha di perusahaan utama keluarga Praja Bekti, Marcel begitu kacau. Banyak pasang mata menatapnya penuh tanya. Namun Marcel mana peduli? Lelaki itu terus melangkah tanpa berniat untuk berhenti.
"Masuk," jawab Aridha dari dalam, ketika Marcel mengetuk pintu ruang kerja wanita itu. Pintu yang berbahan kaca itu, memudahkan Aridha tahu, siapa yang datang.
"Duduk, Nak. Kau ... kenapa kau babak belur begini?" tanya Aridha yang menatap Marcel penuh tanya. "Sepertinya kau sedang tak baik-baik saja. Papa yang memukulmu?" tanya Aridha lagi.
__ADS_1
"Ayah dan Papa tidak melakukan kekerasanku, ini ... karya tangan Ibu Inora," jawab Marcel.
"Astaga, aku tak menyangka, Inora bisa menghajarmu," ucap Aridha yang berdiri, lantas menghampiri Alex dan memeriksa kondisinya.
"Baiklah, Marcel, bagaimana? Ceritakan, awal mula kau bisa melakukan hal itu pada wanita yang tidak kau cintai? Apakah itu sebuah ketidaksengajaan?" tanya ridah kemudian.
"Bagaimana aku harus menjelaskan, Ma?" lirih Marcel.
"Jelaskan yang mudah-mudah saja. Mulai dari yang paling simpel," jawaban Ridha.
"Aku menyukai seseorang yang bernama Renata, sahabat dekat Lusi." Marcel menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya, "Saat aku mendengar Renata akan menikah, aku merasa tak rela, dan berniat menjebaknya agar ia menikah denganku, dan meninggalkan calon suaminya. Naasnya, Lusi yang menghancurkan semua, datang menandaskan minuman Renata yang sudah diberi obat, dan berakhir Lusi menggila saat itu. Maka tak ada pilihan lain untukku, selain mengobati Lusi dari efek obat itu, dengan menyeretnya ke ranjang," jawab Marcel panjang lebar.
"Baiklah. Aku akan membantu mencarinya untukmu. Hanya saja, Ada syarat yang harus kau penuhi dariku," ujar Ridha kemudian.
Marcel mengangkat kepalanya, menatap Ridha dengan penuh ingin tahu.
"Apapun syaratnya, Ma, asalkan Lusi ditemukan, aku bisa merasa lega. Lusi sedang mengandung, aku harus menikahinya segera."
"Baiklah, Ma," kata Marcel menimpali.
Marcel berlalu pergi, dan Ridha segera bergerak cepat mencari keberadaan wanita itu. Tak hanya itu, Aridha juga menggunakan banyak pengawal handal dalam pencarian ini. Yang Aridha mau, ia hanya ingin Lusi ditemukan segera, tanpa melewati batas waktu dua puluh empat jam.
Tepat delapan jam selama pencarian berlangsung, Lusi ditemukan dengan mudah oleh Aridha dan Alex. Tentunya dengan banyak informasi yang keduanya gali, dan menyuap beberapa orang untuk berbicara jujur.
Dengan sebuah keyakinan kuat, Alex mengetuk pintu kamar sewa yang ditempati oleh Lusi. waktu menunjukkan nyaris dinihari ketika itu.
"Lusi Asmarani?" Alex bertanya datar, sambil mengamati wajah Lusi, dan menatap foto di ponselnya sabar bergantian.
__ADS_1
'Benar, dia orangnya.'
Batin Alex.
Ditempatnya, Lusi tertegun saat mendapati Alex berdiri berdampingan dengan istrinya. Siapa yang tidak mengenal Alex? Pemilik perusahaan tempat Lusi bekerja sebelum ini, dan juga bersama istrinya yang cantik dan kaya raya itu.
"An-Anda, tuan Alex?" tanya Lusi mencicit lirih, Wanita itu demikian sangat syok, saat mendapati Alex ada disini. Perasaan Lusi tak karuan.
"Ya. Aku dan istriku datang untuk bicara denganmu," ucap Alex.
"Tap, tapi ... " belum sempat Lusi melanjutkan kalimatnya, Aridha sudah menimpalinya.
"Mari ikut kami, Lusi. Jangan membantah karena kau tak memiliki pilihan lain. Jangan khawatir, aku tak akan mencelakaimu. Kamu datang baik-baik, dan kuharap kau cukup cerdas untuk tidak menolakku," ujar Aridha kemudian.
"Adikku .... "
"Jangan khawatir, tidak jauh. Aku ingin bicara di ruangan depan. Ayo," Aridha berbalik bersama Alex, dengan Lusi yang mengekor di belakang, dan masih belum bis menghilangkan syoknya.
Di dalam ruang kamar yang hanya ada satu meja dan tiga kursi, Aridha dan Alex, duduk dengan Lusi yang duduk berseberangan dengan keduanya. Tampak sekali, kegugupan tercetak pada wajah Lusi. Bila dilihat lebi seksama, Aridha bisa merasakan bahwa Lusi mulai memucat.
"Kau sedang mengandung darah daging Marcel, tapi kau pergi menghilang. Apa sebenarnya yang membuatmu ingin merawat anakmu seorang diri saja, Lusi?" tanya Aridha datar. Ia masih memantau, dan meneliti raut wajah Lusi yang mulai berubah tegang.
"Marcel tidak mencintaiku, Nyonya. Aku tak ingin anakku tumbuh dalam keluarga kecil yang berantakan, orang tua yang tidak saling mencintai. Marcel, Marcel lebih mencintai orang lain," jawab Lusi mantap.
Lusi menatap berani Alex dan Aridha bergantian, Ia tak mau bila sampai tertindas, meski sejatinya Alex dan Aridha datang tidak untuk menindasnya.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Nak. Aku datang sebagai Papa Marcel. Menikahlah dengan Marcel, aku melamar dirimu untuk putraku. Kuharap, kau menerimanya dengan baik demi kandunganmu. Tak hanya itu, akan aku pastikan kau mendapat perlakuan baik dari Marcel," ucap Alex kemudian. Aridha tersenyum lembut, tidak lagi menampakkan raut datar seperti tadi.
__ADS_1
Lusi menegang di tempatnya. Wanita miskin sepertinya, dilamar oleh Alex untuk putranya, yang notabennya sebagai pemilik perusahaan tempatnya bekerja selama ini.
**