
Renata mendadak blingsatan, ketika Wanita itu tak mendapati Lusi dan Shila di rumah sewa yang biasa ditempati Lusi. Wanita itu berteriak membabi buta memanggil nama Lusi, serta menanyai setiap orang yang lewat.
Begitu juga dengan Marcel yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi layaknya orang kesetanan, Marcel benar-benar kacau. Menjelang melanjutkan kuliah, mengapa harus ada kendala sebesar ini. Tidak, Marcel tak akan melanjutkan rencana bila Lusi belum juga ditemukan.
"Bagaimana Renata? Apa di rumahnya masih tidak ada?" Marcel menatap Renata penuh harap. Pemuda itu bahkan tidak menyadari, bahwa dirinya baru pertama kali merasakan khawatir yang berlebihan.
"Tidak ada, Marcel. Aku hanya menemukan ini." Renata menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan tangan Lusi.
Jangan pernah mencari diriku, Renata. Aku ingin menenangkan pikiran. Aku perlu berdamai dengan takdir. Mungkin inilah yang terbaik. Marcel tidak mencintaiku, aku tak penting baginya.
Harusnya dari awal aku tidak menjerumuskan diri, tetapi semua sudah terlambat. Aku pasti akan kembali menemui dirimu, tapi nanti, setelah anakku lahir. Maaf, aku banyak menyusahkan.
Lusi Asmarani.
Marcel tertunduk lemas di depan gang dekat rumah sewa Lusi. Ia tak menyangka, Lusi akan salah paham akan perkataannya.
"Ya Tuhan, Renata. Aku harus mencarinya dimana?" Marcel mendesah lirih. "Apakah kau tahu tempat dimana ia sering datang? Maksudku, tempat yang biasa Lusi kunjungi saat dia sedang kacau?" Marcel bertanya.
"Dia kalau kacau selalu tidur di rumahnya, Marcel.Dia tidak pergi menghindari masalah. Biar aku mencarinya dan memastikan jika dia tidak berbuat macam-macam. Ayo kita cari bersama, dia pasti belum jauh dari tempat ini." Renata memberi solusi.
"Baiklah, ayo ikut aku ke mobil." Ajak Marcel.
"Tidak, Marcel. Aku tidak ingin membuat masalah dengan suamiku, bila aku ikut denganmu. Kita bagi tugas saja." Renata berkata tegas.
__ADS_1
Inginnya Renata marah pada Marcel, namun itu tidak bisa ia lakukan mengingat bahwa saat ini keberadaan Lusi lebih penting. Renata yakin, Lusi tidak akan pernah pergi, jika ia tidak tersakiti.
**
Hari terus berganti, waktu terus berlalu, Lusi belum juga ditemukan hingga satu Minggu lamanya. Marcel nyaris putus asa, nyaris bunuh diri. Seminggu lagi dirinya harus masuk ke universitas tanpa menunda-nunda lagi. Tetapi pikirannya masih dipenuhi dengan keberadaan Lusi yang entah menghilang kemana.
Lelaki itu saat ini tengah menelusuri jalanan ibukota yang padat. Setiap tempat, serupa gang-gang sempit, setiap sudut tersembunyi pun, Marcel menjelajahinya, berharap Lusi bisa ditemukan segera, dan Marcel berjanji akan menikahi Lusi.
"Kita sudah mencari ke semua tempat di ibukota ini, Marcel. Aku rasa Lusi sudah pergi jauh dan entah kemana. Apakah ada baiknya kita lapor polisi saja untuk membantu pencarian?" Joseph bertanya khawatir pada Marcel. Jujur saja, Joseph lelah dengan pencarian yang tak menunjukkan keberhasilan. Seminggu terbuang sia-sia, hanya untuk mencari Lusi.
"Mungkin sebentar lagi akan segera ditemukan, Jo. Sabarlah dulu, aku yakin semua akan baik-baik saja, Lusi pasti di temukan." Ungkap Marcel kemudian.
"Aku rasa bila hanya dicari berdua saja, akan sulit menemukan Lusi. Apa, apa sebaiknya kau meminta tolong pada papamu saja, Marcel. Aku yakin, tak akan butuh waktu lama, dia bisa menemukan Lusi." Joseph memberikan saran.
"Daripada kita mencari tanpa hasil, dan justru berkeliling layaknya orang bodoh, bila ada peluang bantuan yang lebih cepat, mengapa tidak?"
"Dasar tolol kau, Marcel. Ditemukan atau tidaknya Lusi, kau tetap akan menikahinya suatu saat nanti. Cepat atau lambat, orang tuamu pun pasti akan mengetahui semuanya. Jangan kau pikir dengan diam begini, om Alex tidak tahu. Aku yakin, dia bisa mengetahui tentangmu dan Lusi. Meski sekuat apapun kau menyembunyikan skandalmu malam itu bersama Lusi, tetapi jangan lupa bahwa hotel yang kau pakai itu milik ayahmu. Dasar bodoh!"
Umpat Joseph.
Marcel mengedipkan matanya beberapa kali. Joseph yang tengah mengendarai mobil Marcel, mendadak mengemudi pelan, membelokkan mobil ke sebuah pelataran rumah minimalis yang sudah di renovasi di beberapa bagian.
"Jadi menurutmu bagaimana, Joseph? Apakah aku harus jujur saja pada keempat orang tuaku?" Tanya Marcel.
__ADS_1
"Aku rasa kau perlu mengatakannya jika kau ingin Lusi segera ditemukan, Marcel. Ingat satu hal, perut Lusi semakin lama akan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Tidakkah kau kasihan padanya, karena mengandung tanpa suami? Tidakkah kau ingin menemaninya saat-saat momen kelahiran anakmu?" Joseph berkata, telak menyadarkan marcel.
"Dengar, Marcel. Dengarkan aku kali ini. Kau boleh mengakui tidak mencintainya, tetapi jangan pernah menjadi egois dengan menyakiti hati seorang wanita, terlebih dia mengandung darah dagingmu. Aku harap kau cukup cerdas dalam mengambil langkah. Ayo turun, temui orang tuamu dan jangan menunda waktu lagi." Joseph menepuk bahu Marcel kemudian.
Marcel menatap Joseph kemudian. Apa yang dikatakan Joseph ada benarnya, namun ada sesuatu yang membuat Marcel takut. Jika ia bercerita pada Papa, bisa dipastikan Marcel akan dihajar oleh Ibu.
"Baiklah, aku akan mengatakan pada Ibu dulu. Mungkin nanti aku akan menemui Papa dan Mama." Keputusan Marcel sudah bulat.
"Lusi harus ditemukan segera. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya, terlebih, dia sedang hamil."
"Bagus, Marcel. Hadapi masalahmu secara jantan. Apapun risikonya, kau harus tegas menghadapi, bukan justru melarikan diri." Joseph menasihati.
Selama seminggu ini, Marcel benar-benar kacau. Pekerjaannya kerap kali terabaikan, hingga membuat Alex mencurigainya. Di tempat lain, Alex tengah datang berkunjung, mencari Marcel yang nyaris membuat huru-hara di hotel tempat Alex.
"Harusnya anak itu tidak meremehkan dan mengabaikan pekerjaan. Tetapi lihatlah, pekerjaan begini saja ia tidak mampu menyelesaikan. Katakan, Bayu, kemana dia selama seminggu ini? Apa ada masalah?" Alex menatap Bayu yang tengah menunduk.
Saat ini, Alex tengah mengunjungi hotel tempat Marcel bekerja, tepatnya di ruangan Marcel. Lelaki itu tengah meninjau pekerjaan Marcel yang amburadul selama seminggu ini.
"Jika di kantor, memang tidak sedang ada masalah, Tuan. Tetapi jika saya perhatian, sepertinya Tuan Marcel sedang ada masalah pribadi yang entah itu apa." Bayu tak berani menatap Alex. Ia tahu betul, jika Alex sudah marah saat ini. Hanya saja, nada bicara Alex masih datar, tidak ada bentakan sama sekali.
"Hubungi Marcel dan katakan padanya, aku mengunjunginya siang ini. Suruh dia ke rumahku segera, secepatnya." Tegas Alex.
"Tetapi tadi tuan Marcel berkata, beliau izin mengunjungi ibunya." Bayu menjawab pelan.
__ADS_1
"Baiklah, jangan hubungi dia lagi, aku akan mengunjungi rumah ibunya sekarang." Alex berkata tegas. Lelaki itu lantas berlalu begitu saja, meninggalkan Bayu yang menghembuskan napas lega.
**