Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 50


__ADS_3

Di dalam kamar yang cukup luas bagi Lusi, Lusi duduk di sofa bed. Kamar yang sejatinya sangat sederhana bagi keluarga Marcel, nyatanya cukup membuat Lusi betah berlama-lama di sana. Kata Lusi, ini kamar sangat mewah dan menyenangkan, bila dibandingkan dengan kamar di rumah kontrakannya terdahulu.


Lusi duduk sendiri, dengan napas yang tak beraturan. Tak hanya itu, calon ibu muda itu masih meredam detak jantungnya yang terasa bertalu kencang tak karuan. Bahkan hanya sekadar mendengar suara Marcel, yang menyatakan bahwa ia ingin bicara dengan Lusi, cukup membuat dada Lusi berdebar-debar.


Ya tuhan, Lusi sangat rindu, ingin merengkuh tubuh jenjang tinggi dengan tegap menawan itu. Tetapi sayang, Lusi tak ingin mengulang kebodohannya, dengan cara segera memaafkan Marcel. Kehangatan dari Marcel, biarlah hanya menjadi bayang-bayang saja.


Tidak, tidak.


Lusi tak sebodoh itu. Istri Marcel itu hanya ingin, jika Marcel benar-benar menyesali semua khilafnya di masa lalu. Bila Lusi lengah dan mempermudah Marcel meraih maafnya, bukan tidak mungkin pasti Marcel akan mengulang hal serupa setelah ini. Enak saja, Lusi bukan boneka yang bisa diperdaya, lantas direngkuh kembali semudah mengedipkan mata.


Pintu di ketuk dari luar. Suara Dion memanggilnya dengan lembut. Ah, Ayah yang satu itu benar-benar membuat Lusi hanyut dan merasa nyaman..


"Lusi, buka pintunya, Nak. Ayah ingin bicara sebentar. Boleh, kan?" tanya Dion setelah mengetuk pintu tiga kali.


"Iya, Yah. Sebentar," sahut Lusi dari dalam. Wanita itu bangkit seraya memegangi perut bawahnya. Belakangan, Lusi sering merasa tak seleluasa dulu setelah memasukinya fase hamil tua.


"Ayah, ada apa?" tanya Lusi kemudian.


"Boleh Ayah bicara? Mari ke teras belakang. Ibu dan Ayah ingin bicara," ungkap Dion. Lusi tersenyum tentunya, merasa tak nyaman bila menolak.


"Bisa. Tapi ... tidak ada Marcel, kan?" tanya Lusi. Inilah yang Lusi khawatirkan, ia tak ingin bertatap muka dulu dengan Marcel.

__ADS_1


"Tidak. Marcel ada di depan dengan Papa. Ibu, Ayah dan juga Mama ingin bicara denganmu. Ayo," ajak Dion.


Lusi tersenyum, mengekor di belakang Dion dengan menunduk. Kiranya, ada hal apa yang ingin dibicarakan tiga orang ini? Lusi berharap, tak ada hal buruk yang harus Lusi dengar.


Di teras belakang, Inora dan juga Aridha sudah menunggu. Dua wanita itu menatap Lusi, seraya tersenyum penuh arti.


"Sayang, duduklah disini. Ayo," pinta Aridha, seraya menepuk-nepuk kursi yang ada di sebelahnya.


"Ada apa, Ma? Ibu?" tanya Lusi pada Aridha dan Inora.


Tak ada yang menjawab, Dion duduk di kursi yang berhadapan dengan Lusi persis


"Aku ingin kembali dengan Marcel, jika Marcel benar-benar berubah dan tak akan mengulangnya lagi bersama Renata, Yah. Hanya saja, sepertinya tidak sekarang," jawab lusi pelan.


Tatapan wanita itu kosong, mengingat kembali ungkapan Marcel yang telah berselingkuh terang-terangan, pada Lusi.


"Mengapa? Alasannya? Marcel sudah meninggalkan Renata demi rumah tangganya," ujar Inora jujur.


"Aku ingin melihat, seberapa jeranya dia, Bu. Lusi juga ingin, Marcel lebih menghargai ketulusan dan sebuah perjuangan. Jika Lusi kembali pada Marcel semudah yang ia ingin, bukan hal tak mungkin jika nanti, ia pasti akan mengulangi hal serupa lagi. Lusi ingin lihat, sekuat apa dia berjuang untuk mendapat Lusi," jawab Lusi.


"Lantas, kau maunya bagaimana sekarang, Lusi? Apakah artinya, kau tidak ingin ikut dengan Marcel?" tanya Aridha, yang sejak tadi menjadi pendengar.

__ADS_1


"Untuk saat ini, tidak dulu, Ma. Lusi hanya ingin ikut Marcel, bersedia ia jemput, jika waktunya telah tiba," jawab Lusi.


"Ya, mungkin memberi hukuman pada Marcel agar benar-benar sadar, adalah keputusan yang tepat. Apapun keputusanmu, Ibu akan selalu mendukungmu, sayang. Kami tak menyalahkan dirimu, Marcel lah yang memang bersalah di sini," timpal Inora kemudian.


"Terima kasih, Bu," Lusi tersenyum. Semenjak ada mertuanya, Lusi merasa lebih kuat.


"Tetapi, sampai kapan kiranya, kau akan menghukum Marcel?" tanya Dion mencari kepastian. Sebagai seorang ayah, Dion hanya ingin yang terbaik untuk anak menantunya, "kalau bisa, jangan terlalu lama. Anak kalian yang masih berada di dalam kandungan itu, juga butuh sosok Ayah. Semakin lama, ia akan semakin besar dan mengerti tentang silsilah keluarga," tambah Dion.


"Mungkin, hingga nanti Marcel benar-benar sadar, dan berhasil menyelesaikan pendidikannya. Lusi pikir, Lusi tak ingin membuatnya terbebani lagi dengan kehadiran Lusi, selama ia menjalani pendidikannya," jawab Lusi dengan mantap.


Rasakan kau, Marcel. Kau dihukum dengan waktu yang cukup lama. Mungkin setelah anak kalian lahir, kau masih belum bisa mendapatkan Lusi. Tetapi jika dipikir lagi, kasihan Lusi dan calon cucuku.


Aridha bermonolog dalam hati.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Ayah berharap, Marcel benar-benar bersedia berubah demi dirimu, juga demi anak kalian," Dion menyuarakan isi hatinya.


Baik Dion, Inora maupun Aridha, mereka sama-sama tersenyum, merasa telah menemukan titik terang dari permasalahan rumah tangga anak mereka. Sebagai mertua yang tahu betul kondisi Lusi yang tanpa orang tua, dan hanya memiliki Shila, tentunya mereka ingin membuat Lusi bahagia.


"Baiklah, Ayah akan sampaikan pada Marcel, tentang keputusanmu," Dion tersenyum, bangkit dan segera berlalu.


**

__ADS_1


__ADS_2