Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 37


__ADS_3

Seorang pria yang berusia nyaris separuh baya, kini tengah menekuri layar laptopnya, dengan beberapa berkas beberapa tabel keuangan di genggaman tangannya. Lelaki itu adalah Alex Atmadja, pria tampan meski usianya tak bisa di bilang muda lagi.


Lelaki itu demikian takjub, akan prestasi dan pencapaian putranya selama beberapa bulan ini, tepatnya lebih dari tiga bulan terakhir semenjak Marcel menikahi Lusi. Putranya itu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, dan juga mampu menjalani pendidikan dengan sempurna di bawah bimbingan seseorang yang jenius.


Senyum kecil terbit di bibirnya, senyum yang tak sampai hingga ke mata. Ada kebanggan tersendiri, yang kini meletup dalam hati Alex. Lelaki itu bahagia, dengan sempurna putra-putri yang ia miliki demikian cerdas dan membanggakan.


Sayang seribu sayang, lelaki itu tidak menyadari apa yang menjadi cacat cela putranya dalam rumah tangganya.


"Papa .... " Suara lantang Hesti, berhasil membuat Alex terkaget. Fokusnya terlalu dalam, pada sang putra yang menurutnya memiliki kemajuan yang cukup signifikan.


"Hesti, kau mengejutkan Papa. Bagaimana jika papa jantungan?" tanya Alex seraya tersenyum, menutup kembali berkas-berkasnya dan mengalihkan fokus pada Hesti, "kau sudah makan siang, sayang?" tanya Alex kemudian.


"Aku datang untuk membawa Papa makan siang di luar. Aku membawa, bukan mengajak, jadi Hesti tak akan menerima penolakan Papa," jawab Hesti manja.


Beruntung, Alex tak ada acara siang ini, andai pun ada, Alex lebih memilih membatalkan pertemuan apapun dengan rekan bisnis, daripada harus menerima amukan putrinya.


"Baiklah, tunggu Papa. Papa akan bereskan ini dulu," ucap Alex kemudian, seraya merapikan berkas-berkas yang sedikit berantakan.


Ada sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Alex, bila putrinya memaksanya untuk makan siang bersama. Selama ini, Alex memang jarang makan siang bersama Hesti.


"Memangnya mau makan dimana?" tanya Hesti kemudian.


"Sebuah kafe istimewa. Kita ambil ruangan private VVIP nanti," jawab Hesti, tersenyum penuh makna.


"Baiklah. Papa sudah selesai, ayo berangkat," jawab Alex yang lantas bangkit dan berjalan keluar. Tak lupa, Hesti bergelayut manja pada lengan sang Ayah.


Sudah bukan pemandangan yang sing, Hesti memang selalu bergelayut manja pada lengan sang Papa.


"Kau mau apa, Hesti? Papa merasa kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan," ungkap Alex kemudian.

__ADS_1


"Tak ada apapun yang aku sembunyikan dari Papa. Hesti hanya ingin menunjukkan sebuah pertunjukan pada Papa. Papa akan lihat nanti," ungkap Hesti kemudian.


"Apa itu? Jangan main rahasia dengan Papa, sayang. Papa tak suka kau begitu," ungkap Alex lagi.


"Ini kejutan," jawab Hesti terkekeh pelan.


"Pertunjukan apa? Kejutan apa? Papa penasaran," tanya Alex.


"Papa akan tahu nanti," jawab Hesti.


Suasana kembali hening. Keduanya tak banyak bicara hingga mereka tiba di sebuah kafe yang cukup ternama. Entah mengapa, setibanya disana, Hesti sendiri yang menuntun Alex untuk menuju ke sebuah ruangan. Ruangan yang sebelumnya sudah di pesan.


Sebuah rasa penasaran hingga menimbulkan rasa curiga, hinggap di hati Alex. Lelaki itu dibuat bertanya-tanya, dengan acara makan siang yang terlibat istimewa ini.


"Hesti memesan makan siang kesukaan Papa," ungkap Hesti, ketika gadis itu menghampiri Alex yang tengah berdiri, "ayo," ajak Hesti.


Baru beberapa langkah Alex berjalan dengan putrinya yang bergelayut manja di lengannya, sebuah pemandangan mengerikan terjadi.


"Pa ... maaf, inilah yang ingin Hesti beritahu pada Papa," ujar Hesti datar, dengan tatapan mata lurus ke depan.


Sungguh tak tahu malu, Marcel begitu dekat dengan wanita lain, kendati ia telah beristri dan istrinya hampir melahirkan.


Dulu, ketika Marcel tumbuh dalam rahim sang Ibu, Inora, Alex begitu menyesali karena tak dapat memberikan perhatian dan kasih sayang khusus. Andai waktu bisa kembali di restart ulang, Alex ingin sekali memberikan yang terbaik untuk putranya dan Inora, meski harus berpisah dengan Aridha.


Tetapi apa yang terjadi?


Mungkinkah ini karma?


Marcel kini justru menyia-nyiakan istri dengan berselingkuh. Sesuatu yang sangat sulit dipercaya, namun inilah kenyataannya.

__ADS_1


"Kau tahu lebih dulu, Hesti?" tanya Alex kemudian, setelah beberapa saat antara dirinya dan sang putri, terlibat kebisuan.


"Ya. Hesti ingin memberi tahu Papa. Tetapi Hesti pikir, Papa perlu melihat dengan mata kepala Papa sendiri. Mereka terlibat skandal, lebih dari sebulan lalu," jawab Hesti. kemudian.


"Sial! Kenapa Papa kecolongan begini?" tanya Alex, merutuk dirinya sendiri.


"Tak masalah, Hesti mengerti Papa sibuk. Mari makan siang, urusan kak Marcel, kita akan selesaikan nanti," ajak Hesti setengah menarik tangan Papanya.


"Baiklah, ayo," jawab Alex yang lantas mausi ke dalam ruangan yang telah dipesannya.


Hingga makan siang berlangsung, perbincangan masih seputar tentang Marcel.


"Apa Lusi tahu tentang suaminya yang berselingkuh dengan sahabatnya?" tanya Alex kemudian.


"Hesti tak tahu betul jika tentang masalah itu, Pa. Tetapi Hesti tak memberitahu apapun tentang kak Marcel padanya. Hesti tak sampai hati, juga takut bila kak Lusi syok dan menyakiti kandungannya," jawab Hesti, seraya menggelengkan kepala.


"Lantas, apa rencana Papa selanjutnya?"


"Papa akan bicarakan ini Pada Mama dan Ayah Ibu kakakmu. Papa tak akan tinggal diam," jawab Alex seraya menyuapkan makanannya.


"Dengan cara?" tanya Hesti penasaran.


"Mungkin dengan menjauhkan Lusi untuk sementara waktu, dan memancing kejenuhan hubungan Marcel dan Renata. Papa akan lihat, sejauh mana mereka berani melakukan hal kejam begini," jawab Alex.


"Tapi itu baru sebuah kemungkinan, kan? Jika boleh Hesti beritahu, sebaiknya lakukan semua itu secepat mungkin. Hentikan dulu pendidikan dan juga beri kak Marcel pekerjaan berat, agar ia tak memiliki waktu untuk membangun intensitas pertemuan yang cepat," sahut Lusi.


"Papa akan rundingkan dengan Mamamu," jawab Alex, dengan kilat emosi yang rumit. Hesti sendiri meneguk salivanya yang terasa membulat di tenggorokan.


Sungguh menggelikan, baru beberapa waktu lalu marcel begitu dibanggakan oleh Alex, kini harus menunjukkan wajah aslinya secepat ini.

__ADS_1


**


__ADS_2