
Sebuah pesta megah, di gelar dengan gemerlap lampu yang menambah kesan meriah di dalam sebuah gedung. Pesta resepsi pernikahan yang di gelar secara Akbar itu, menghadirkan banyak tamu undangan dari berbagai kalangan bisnis.
Pengusaha muda ternama yang namanya baru saja muncul dalam dunia bisnis, Marcel Dinata, duduk bersanding bersama Lusi Asmarani Dinata di atas pelaminan, dengan wajah ceria penuh bahagia.
Senyum terukir dari keduanya, menampakan sebuah bahagia yang tak dapat diungkapkan melalui kata. Setelah penantian panjang yang Lusi lalui, serta sebuah proses yang tentunya tidak mudah, akhirnya Lusi bisa bernapas lega sebab bisa meraih hati Marcel seutuhnya. Meski awalnya, dirinya hanyalah cinta figuran Marcel, namun akhirnya ia bisa menjadi ratu seutuhnya di hati putra Alex dan Inora itu.
Gemerlap cahaya disertai dengan banyak hiasan bunga dekorasi di setiap sudut ruangan, menambah kesan megah dan menyenangkan. Banyak para tamu undangan dari kalangan pebisnis ternama, patah hati sebab tak bisa meraih marcel untuk di jadikan menantu.
Menikah di usia muda sebab sebuah kecelakaan hubungan, menjadikan Marcel kini makin dewasa pemikirannya. Lelaki itu dengan teguh hatinya, menjalani sebuah proses tak mudah, dengan perpisahan beberapa kali dengan Lusi. Hingga puncaknya, kini ia kembali menikah secara megah di mata semua orang.
Dari kejauhan, ada seonggok hati yang patah dan hancur berkeping. Jangan tanya bagaimana letih dan sakitnya, bahkan seonggok hati itu menyesali semua kelakuannya di masa lalu. Cinta yang awalnya ia pikir akan ia miliki seutuhnya, nyatanya harus pergi sebab kesalahannya yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatan dengan baik.
Renata, wanita itu ikut hadir pada acara resepsi pernikahan yang di gelar oleh Marcel dan Lusi. Meski tak mendapat undangan, sebab hubungannya dengan Marcel dan Lusi telah hancur, namun nyatanya ia nekat datang, menyakiti perasaan sendiri dengan menyaksikan Marcel yang ia cinta bersanding dengan Lusi, sang sahabat.
Cinta?
Pada Marcel?
Andai dulu ia tidak naif, tidak munafik, mungkin saat ini dirinya lah yang menyandang gelar Nyonya Dinata, tanpa harus melibatkan Lusi sebagai korbannya.
Ya, Renata menyesali semuanya.
"Renata, kau hadir? Mengapa hanya diam dan berdiri di sini? Ayo, masuk dan beri selamat pada kakakku dan kakak iparku. Tidak baik jika tetap disini," Hesti tiba-tiba muncul, dengan kebaya pres body yang panjangnya hanya selutut. Kebaya brokat dengan banyak hiasan Payet mahal serta batu Swarovski, dipadu dengan celana jeans hitam press kaki, membalut tubuhnya dengan anggun meski terlihat aneh.
__ADS_1
"Eh? Tidak, masih ramai tamu dan aku belum bisa kesana. Nanti, setelah ini aku akan memberikan selamat untuk kedua mempelai, Nona," jawab Renata dengan gugup.
"Ya sudah jika begitu. Oh ya, kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya lupakan saja semua yang sudah terjadi diantara kalian, Renata. Kak Lusi orang baik, pasti dia bisa menerimamu kembali sebagai sahabat. Hanya saja, tolong jaga sikap. Kak Marcel adalah lelaki yang tidak memiliki pendirian. Jadi, tolong, jangan usik dia lagi. Maksudku begini, kau masih bisa menjalin hubungan baik tanpa perselisihan, dan aku yakin kau pasti bisa melepaskan kak Marcel di hatimu, untuk wanita yang dicintainya," ujar Hesti panjang lebar.
Logat yang asalnya gugup, kini berubah seketika menjadi sendu, demikian pun dengan pandangan Renata.
"Aku bahkan mengenal Lusi lebih lama dari pada anda, Nona. Tentu aku tahu Lusi adalah orang yang baik. Hanya saja, aku dengan bodohnya tidak bisa menjaga hubungan persahabatan ini. Aku sendiri yang sudah menghancurkannya. Sekarang aku sadar betul, jika cinta Marcel memang hanya untuk Luis seorang. Harusnya aku sadar ini dari awal," ungkap Renata.
"Bagus jika kau sadar jika kak Lusi memang orang baik, karena disini dia adalah korban. Ngomong-ngomong, lupakan saja semua. Sekarang, cobalah untuk meminta maaf. Percayalah, menjalani hari tanpa dendam dan tanpa banyak keruwetan dalam hati, akan membuatmu lebih tenang. Aku doakan, kau bisa menemukan lelaki yang tepat dan pantas untukmu," ujar Hestia dengan tulus.
"Terima kasih, Nona," sahut renata kemudian.
Hesti berlalu, meninggalkan Renata yang tetap berdiri kaku, tak mampu memberikan selamat ada Marcel.
Di tempatnya, Marcel dan Lusi tampak bahagia. Lusi bisa melihat sendiri, bukti kesungguhan cinta Marvel, setelah mereka benar-benar telah kembali bersama.
Tatapan mata Marvel mengedar, dan tepat di pojok ruangan, Renata benar-benar mendekat.
"Biarkan saja, kita terima dia jika dia meminta maaf pada kita," jawab Marcel ringan tanpa beban.
Lusi menatap Marcel lekat-lekat seraya berkata,"kau yakin kau tidak sakit hati setelah dI mengkhianatimu?" tanya Lusi.
"Tak ada cinta lagi untuknya. Meski ia berhubungan dengan siapapun atau lelaki manapun, aku tak lagi merasakan sakit hati, sayang. Sudahlah, jangan aneh-aneh, aku memaafkannya dan tak memiliki dendam, bukan berarti aku masih mencintainya dengan segala kenidohanku, tetapi memang tak ada rasa lagi untuknya," ujar Marcel sebagai jawaban.
__ADS_1
"Marcel, Lusi, selamat? Maaf aku datang tanpa undangan. Tetapi, Papamu lah yang memberikan kabar," ujar Renata kemudian.
"Terima kasih, Renata, silahkan menikmati hidangan, semoga kau suka," Marcel tersenyum, tak lagi memiliki beban dendam di hatinya.
Mungkin, begitulah hatu seseorang jika rasa yang sempat di miliki, telah mati.
"Tentu aku suka, terima kasih. Kau cantik sekali, Lusi," sapa Renata dengan rasa bersalah.
"Terima kasih, Renata. Kau juga semakin cantik. Kau datang sendiri?" tanya Lusi kemudian.
"Ya, aku sendiri," jawab Renata sebelum pamit dan berlalu menuju stand hidangan.
Meski tenggorokannya terasa pahit dan tidak nyaman, namun ia Renata harus tetap menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Begitulah takdir yang terkadang terlihat mempermainkan. Wanita yang dulu hanya menjadi sebuah cinta figuran, nyatanya dia yang bersanding di atas pelaminan.
Kesabaran dalam meluluhkan hati seseorang, pada akhirnya kini membuat Lusi tiba pada titik bahagia.
Zetta yang tengah berada dalam gendongan Inora, anak itu begitu terlihat cerewet dan banyak mengoceh tak jelas. Tentu saja kehadiran Zetta, semakin membuat kebahagiaan Marcel dan Lusi, terasa seperti berkali-kali lipat.
Meski terlahir dari sebuah kesalahan, namun kehadiran Zetta menjadi sebuah bahagia yang tak terukur bagi sepasang pengantin, yang tengah bersanding di atas pelaminan.
Pada akhirnya, kesabaran Lusi, memberikan kebahagiaan yang selama ini, terasa tabu baginya. Buah dari cintanya yang tulus dan tak bersyarat, membuatnya berdiri diatas pelaminan disanding Marcel.
__ADS_1
Begitulah cinta. Terkadang yang terlihat tidak begitu mencintai, nyatanya tumbuh menjadi budak cinta tanpa di duga, seperti Marcel contohnya.
**