Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
BB 49


__ADS_3

Alex menatap putranya dengan perasaan tak karuan. Lelaki itu iba sebenarnya, dengan permohonan Marcel yang dilakukan secara terus menerus. Tak hanya itu, Marcel juga sepertinya benar-benar telah menyesali semuanya secara tulus, bukan sebab sesuatu.


Khilaf, bukankah sudah sering melanda seseorang? Bahkan Alex juga pernah memiliki dosa besar di masaalu. Hanya saja, kali ini lain masalahnya. Jika dulu Alex meninggalkan Inora demi Ridha, sebab dirinya tak tahu Inora dulu mengandung anaknya, maka kini Marcel jelas-jelas berselingkuh saat Lusi hamil.


Lelaki itu lantas bangkit, dan berlalu menuju ke ruang tengah tanpa kata. Ruang tamu yang tak sebegitu luas itu, hanya menyisakan Marcel dan Dion. Inora telah berlalu beberapa menit, sebelum ini, bahkan Hesti mendahului Inora tadi.


Dan setibanya Alex di ruang tengah, lelaki itu hanya mendapati istri dan putrinya yang tengah bersantai disana. Lantas, kemana Lusi? Alex dibuat bertanya-tanya. Tadinya, Lusi bersama Aridha di ruang tengah.


"Dimana Lusi?" tanya Alex ketika di dalam ruang tengah, hanya mendapati istrinya, Aridha dan Hesti, putrinya. Lelaki itu sengaja ingin memanggil sendiri menantunya, agar bicara sejenak dengan Marcel.


"Lusi masuk ke dalam kamar, dia sedang tidak ingin bertemu dengan Marcel. Tanyakan pada Hesti jika tak percaya, baru saja dia masuk ke dalam kamarnya," jawab Aridha kemudian.


Alex mengerutkan kening tak percaya. Pasalnya, ketika Alex baru tiba ke rumah ini, Inora dan Dion sendiri yang berkata jika Lusi sangat merindukan Marcel. Bahkan menurut kesaksian beberapa pelayan, Lusi acap kali mengigaukan nama Marcel dalam tidurnya. Mustahil jika Lusi tak ingin bertemu dengan Marcel.


"Mengapa harus lari ke kamar? Bukankah katanya dia merindukan suaminya?" tanya Alex kemudian dengan herannya.


"Mungkin dia masih marah, atau memang sedang menahan hasrat rindu hanya untuk menghukum Marcel. Aku saja tak bisa membujuknya," jawab Aridha pelan.


Hesti yang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah, tersenyum-senyum sendiri seraya menatap layar ponselnya. Sepertinya gadis itu sedang bercanda dengan seseorang yang entah siapa. Fokusnya tak lagi tertuju pada masalah rumah tangga Marcel.


"Tapi, Marcel sudah menunggunya," bisik Alex pada istrinya itu, biar aku sendiri yang akan mengantar Lusi pada suaminya."

__ADS_1


"Tapi keputusan Lusi, ia tak ingin bertemu dengan Marcel. Kita juga tak memiliki hak untuk memaksanya, bukan? Katakan saja apa adanya, agar Marcel mengerti. Mungkin, istrinya perlu waktu untuk menenangkan hatinya. Marcel pasti mau mengerti," jawab Aridha kemudian.


"Baiklah," sahut Alex, yang lantas kembali ke ruang tamu. Marcel tengah berbincang dengan Dion, Ayah sambungnya yang demikian baik pada pria itu.


"Mana Lusi? Apa masih sibuk melakukan sesuatu?" tanya Dion pada Alex.


Alex tersenyum dan duduk dengan anggun sebelum menjawab pertanyaan Dion, "dia sedang tak ingin bicara dengan Marcel. Kita tak bisa berbuat banyak untuk memaksanya."


Jawaban Alex, tentu berhasil membuat hati Marcel mencelos. Bagaimana mungkin istrinya itu tidak sedia untuk menemuinya? Padahal, Marcel datang jauh-jauh hanya untuk menemui Lusi, mengobati rindu sekaligus ingin memperbaiki hubungan keduanya yang tengah retak.


"Aku ingin meminta maaf padanya, Pa. Tolong, kali ini saja, bujuk Lusi agar ia bersedia bicara denganku. Hanya sebentar. Setelahnya, aku akan pulang dan tak akan mengganggu Lusi lagi. Aku janji," pinta marcel dengan mengiba.


Alex tak tega juga. Seburuk dan sesalah apapun Marcel pada seorang wanita, namun, Marcel tetap putranya. Kesalahan memang manusiawi, namun Marcel juga sepertinya telah menyesali perbuatannya di masa lalu. Terbukti dari tatapannya yang terlihat begitu tulus.


"Baiklah, Papa akan coba bicara lagi dengannya," ungkap Alex kemudian.


"Kali ini, izinkan aku yang bicara dengan Lusi. Siapa tahu menantu bisa menerima dan bersedia mengerti," Ujar Dion tiba-tiba. Melihat betapa Marcel sangat memiliki ketulusan, Dion tak tega juga lama-lama di


"Baiklah, aku tunggu disini. Silahkan," jawab Alex seraya tersenyum kecil.


Dion adalah lelaki yang sangat baik, Marcel menyadari hal itu. Sejak Marcel berada dalam kandungan, Dion yang menjaga putra dan ibu dari anaknya itu,

__ADS_1


"Bagaimana jika Lusi tetap tak ingin bertemu denganmu? Apakah kau akan tetap memaksa untuk bertemu dengannya?" tanya Alex, ketika Dion sudah berlalu.


"Aku ingin Papa memaksanya untukku. Aku tak mungkin pulang dengan tangan kosong tanpa maaf darinya, juga membawa rasa bersalah. Aku sadar aku telah menyakitinya, Pa. Tetapi aku juga ingin memperbaiki semuanya," jawab Marcel kemudian.


"Berdoalah, Papa juga sebenarnya berharap kalian akur, Marcel. Kasihan Lusi yang selalu kau buat menangis, bahkan sebelum ia kau nikahi. Sekarang sudah saatnya, kau menebus kesalahanmu dan membahagiakannya. Jika bukan kita, siapa lagi? Keluarga pun Lusi sudah tak punya," ungkap Alex kemudian.


Marcel hanya bisa mengangguk paham, merespon ucapan Papanya.


"Pa, tolong, jangan lama-lama menghukum aku dengan Menjauhkan Lusi dariku. Aku mohon, Pa. Aku tak bisa membiarkan Lusi sendirian tanpaku. Dia dan calon cucu Papa, juga butuh kasih sayangku, bukan? Meski aku tak bisa menjaga Lusi selama dua puluh empat jam, namun setidaknya Lusi tetap ada di tempatku. Papa harus tahu, Renata sudah aku singkirkan dari hidupku," Marcel mengakui semuanya.


Mengingat kembali Renata, Marcel tak menyangka, rupanya wanita yang dulu sempat membuatnya terobsesi itu, memiliki sifat buruk yang tak Marcel ketahui. Puncaknya ketika Marcel bertemu Renata pada pagi menjelang siang tadi.


"Mengapa baru sekarang? Mengapa setelah kau tahu semuanya, kau baru sadar untuk membuatmu membuang racun dalam hidupmu. Lusi memang tak semenarik Renata, Tetapi hatinya sangat luar biasa, Marcel. Wanita yang tulus, jarang sekali datang dua kali untuk kita para lelaki," imbuh Alex kemudian.


"Papa benar. Aku baru menyadari sekarang setelah .... " Marcel tak melanjutkan ucapannya. Napasnya terasa berat ketika harus mengingat pengkhianatan Renata padanya.


"Setelah dia mengkhianatimu, tak jauh berbeda dengan ketika ia mengkhianati Lusi? Percayalah, Marcel. Papa sudah sejak dulu memahami dan bisa membaca karakter wanita berotak dangkal seperti Renata," sambung Alex, ketika Marcel menjeda kalimatnya cukup lama.


"Bodohnya aku," senyum getir Marcel terbitkan, "itulah sebabnya aku merasa, tak ada wanita yang sebaik Lusi,"


**

__ADS_1


__ADS_2