
"Dimana Lusi, Bayu? Kau tidak melihatnya?" Marcel bertanya pada Bayu, ketika Renata telah keluar dari ruangannya. Entah mengapa, Marcel sangat ingin bertemu dan bicara dengan Lusi saat ini.
"Lusi sedang izin sakit hari ini, tuan. Anda bisa meminta office girl lain untuk membuatkan anda kopi." Bayu menjawab datar. Perasaan Bayu, belakangan majikannya menjalin kedekatan yang intens dengan seorang office girl yang bernama Lusi.
'Mungkinlah tuan Marcel tengah menjalin hubungan dengan Lusi?'
Batin Bayu.
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin meminum kopi buatan Lusi." Tegas Marcel kemudian. "Ya sudah kalau begitu, hari ini aku libur dulu mengonsumsi kopi." Tambah Marcel kemudian.
"Baik, tuan." Bayu pamit dan berlalu pergi, meninggalkan Marcel yang masih terfokus menyelesaikan pekerjaan. Tersirat banyak tanya yang ingin Marcel tanyakan pada temannya itu.
Hingga tanpa sengaja sore datang, Marcel juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Lelaki itu lantas memutuskan untuk pulang, menemui Lusi dan berniat untuk membicarakan tentang masalah kedatangan Renata pagi tadi.
Marcel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang tak pernah sepi. Lelaki itu memutuskan untuk mengunjungi rumah sewa Lusi yang bisa dikatakan ... kumuh.
Mungkin bagi sebagian besar orang, akan sangat risih bila memandang rumah Lusi dari luar. Tetapi bagi Marcel, Itu biasa saja. Toh dirinya berasal dari keluarga kelas rendah. Dibesarkan oleh Inora dengan banyak cinta tentunya.
Marcel turun dari mobil, menatap rumah dengan pintu terbuka, dan seorang gadis kecil tengah menggambar di teras rumah. Marcel hapal betul, bahwa itu adalah Shila, adik Lusi.
"Hai, Shila. Dimana kakakmu?" Marcel bertanya, menatap Shila yang terkejut karena sejak tadi hanya fokus menggambar.
"Kak Lusi sedang tak enak badan, kak. Dia ada di dalam kamar. Ayo masuk, duduk di dalam dan aku panggilkan kak Lusi." Shila menjawab.
"Baiklah, Katakan pada kakakmu, kak Marcel datang berkunjung." Marcel berkata dengan suara lembut. Segera saja Shila beranjak dan menuju ke kamar Lusi. Oh tidak, tepatnya kamar mereka berdua.
__ADS_1
Marcel menunggu sebentar, hingga kemudian Lusi muncul dengan pakaian rumahan yang begitu kusut.
"Kau sudah sejak tadi, Marcel?" Tanya Lusi, mendudukkan dirinya di kursi usang miliknya.
"Tidak juga. Kau sakit apa?" Marcel bertanya datar. Tidak marah, juga tidak ada nada kasar meski hatinya sedikit membenci Lusi.
"Hanya demam biasa." Lusi menjawab pelan.
"Mau ke dokter?" Tanya Marcel lagi.
"Tidak perlu. Mungkin aku hanya butuh istirahat." Lusi menjawab dengan mengusap kening dan pelipisnya yang berkeringat.
Kebisuan panjang tiba-tiba menyelimuti keduanya. Marcel hanya diam, bingung hendak membuka pembicaraan dari mana. Sedangkan Lusi, wanita itu tengah menunggu apa yang hendak Marcel katakan.
"Kau menceritakan semuanya pada Renata, termasuk tentang minuman yang kau teguk itu, Lusi?" Tanya Marcel tiba-tiba.
Lusi mengangkat wajahnya, menatap Marcel yang cepat atau lambat akan tahu semuanya. Hanya saja, Lusi tidak menyangka bahwa Marcel akan tahu secepat itu.
"Ya. Dia mendesakku." Lusi menjawab singkat.
"Harusnya kau tak perlu menceritakan semuanya, termasuk tentang skandal kita. Bukankah itu aib bagimu? Dan lagi, kau membuatnya marah padaku, meminta tanggung jawabku agar aku menikahimu sesegera mungkin." Ungkap Marcel.
Tentu saja hal ini cukup membuat Lusi terkejut. Lusi tidak mengira, kejadiannya akan secepat ini. Andai Lusi tahu dari awal sebelum Renata menemui Marcel, mungkin Lusi bisa mencegah langkah Renata.
"Tapi aku tak menyuruhnya, Marcel. Aku hanya menceritakan semuanya, karena dia mendesakku. Jika dia tak mendesak, aku tak akan tiba-tiba cerita padanya. Dia teman baikku. Aku tak mungkin berbohong darinya. Lagipula aku sudah katakan padanya, bahwa kau dan aku sudah sepakat untuk tidak menikah. Tak ada cinta diantara kita." Lusi menjawab, dengan bibir bawahnya yang ia gigit pelan.
__ADS_1
"Tidakkah kau berpikir dampak dari ceritamu itu terhadap Renata? Renata marah padaku, bahkan sempat berkata kasar padaku. Lalu, aku harus bagaimana?" Marcel bertanya dengan menatap Lusi penuh tanya. Nadanya sedikit tak nyaman.
"Aku tidak tahu jika Renata akan melangkah sejauh itu, Marcel. Kau tidak tahu bagaimana aku sudah membujuknya agar ia berhenti menjalankan langkahnya. Aku sudah menekannya, agar ia tak menemuimu dan tidak ikut campur urusanku denganmu di malam itu. Aku harus bagaimana lagi? Kenapa kau menyalahkan aku? Lagipula biarkan saja Renata mau berkata apa. Toh yang menjalaninya aku dan kau, dan kita sudah sepakat untuk tidak memperbesar masalah. Kenapa kau jadi marah padaku?" Tanya Lusi.
Lusi menatap Marcel dengan sorot mata Terlukanya. Ada banyak hal yang Lusi rasakan saat ini. Lusi tersinggung dengan ucapan Marcel yang seolah dirinya membuka aib mereka berdua.
Jika boleh Lusi memilih, Lusi rasanya sangat ingin sekali mengembalikan waktu, menghentikan niatnya menyelamatkan Renata, dengan membawa Renata kabur dari acara peresmian beberapa malam lalu.
"Tapi Renata datang dan marahnya padaku, Lusi. Dia menghakimi aku." Tukas Marcel kemudian.
"Biarkan saja. Tak ada gunanya mendebat Renata. Lebih baik kau diam dan hindari dia mulai dari sekarang." Lusi menatap Marcel. Nada bicaranya pun tak sekeras tadi.
"Apa kau sengaja menceritakan kejadian malam itu, pada Renata untuk suatu tujuan tertentu?" Tanya Marcel.
Hal itu tentu membuat Lusi tak berdaya. Ada apa dengan Marcel yang kini mencurigainya? Bahkan Lusi sudah menjelaskan dengan gamblang mengenai apa yang sudah terjadi. Tidak adakah sedikit rasa kasihan Marcel pada Lusi? Lama-lama Lusi merasa tertekan.
"Tujuan tertentu apa maksudmu?"Lusi bertanya.
"Kau sengaja meneguk minuman itu, karena kau memiliki perasaan khusus terhadapku? Dan kau menceritakan skandal malam itu, agar Renata semakin sulit aku jangkau?" Rentetan pertanyaan dari Marcel, cukup membuat Lusi syok.
"Sepicik itukah kau menilaiku, Marcel? Bahkan setelah aku menunjukkan bahwa aku tak memiliki tujuan apapun terhadap dirimu. Dengarkan aku kali ini. Seburuk apapun kau menilaiku, aku tidak peduli. Bahkan setelah semua yang aku korbankan, kau tetap mencurigai ku." Mata Lusi sudah mulai berlinang air mata.
"Jika memang benar aku memiliki tujuan khusus, contohnya aku menginginkanmu, menyukaimu, atau mengharapkan kau jadi milikku, aku pastikan aku akan mendatangi empat orang tuamu untuk menuntut tangung jawabmu atas diriku. Alih-alih meminta tanggung jawab, aku lebih memilih diam dan menikmati kehancuran ku seorang diri. Susah payah aku menjaga diriku, dan kau menuduhku yang tidak-tidak. Katakan padaku, Marcel, Harus bagaimana aku agar kau tidak mencurigai diriku?" Tanya Lusi kemudian.
Lusi menangis, menatap Marcel dengan hati yang sudah tak karuan. Hancur tak tersisa. Nafas Lusi mulai memburu, Dia tidak mampu menahan emosinya. Wajah Lusi yang semula sudah mulai merona, kini kembali memucat. Perlahan, keringat dingin mulai muncul dari kening dan pelipis Lusi, menjadi saksi dari keterpurukan yang Lusi rasakan.
__ADS_1
Hingga tanpa di duga, pandangan Lusi mengabur, seiring dengan kesadaran nya yang hilang secara tiba-tiba. Lusi pingsan.
**