
"Bagaimana jika aku katakan, aku lebih dari sekedar mampu untuk membuatmu jatuh cinta padaku?" tandas Lusi, membuat Marcel mengerutkan kening tak percaya.
Lusi yang biasanya pendiam dan krisis dalam kepercayaan dirinya, mendadak percaya diri dan menantang Marcel. Entah bagaimana caranya, Lusi berani mengungkapkan dan mengekspresikan isi hatinya secara terang-terangan.
"Kau yakin? Kau tidak tahu bagaimana kriteria yang aku inginkan," sahut Marcel tenang.
"Meski aku tidak tahu bagaimana kriteria yang kau inginkan, tetapi aku pastikan, yang diinginkan akan kalah dengan yang selalu perhatian. Sudahlah, Marcel. Aku sudah mengambil keputusan sejauh ini, aku harap kau tidak lagi merasa bersalah. Jalani saja momen pernikahan ini," Lusi meletakkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres wajah suaminya.
**
Petang baru saja tiba, ketika sepasang pengantin baru itu keluar dari unit apartemen sang suami. Marcel dan Lusi berjalan beriringan, menuju basemen untuk mengambil mobil.
"Kau mau makan apa malam ini, Lusi?" tanya Marcel datar.
Lelaki itu tak banyak bicara, sejak Luis mengompres wajahnya dengan air hangat. Entah, mungkin Marcel merasa tidak nyaman dengan kalimat terakhir Lusi tadi.
"Terserah kau saja," jawab Lusi sebelum kembali diam. Ada banyak hal yang membuat Marcel berpikir. Termasuk hubungan pernikahan mereka.
Bagi Marcel, Lusi terlalu percaya diri. Dan tentu saja hal itu berhasil membuat Lusi kehilangan poin di mata Marcel. Tak hanya itu, Marcel tidak suka jika dirinya terlalu ditekan untuk jatuh cinta pada Lusi.
Sepanjang perjalanan, Marcel menanyakan pada hatinya, sukakah ia pada Lusi? Bisakah bila seandainya ia hidup bersama Lusi? Marcel merasa, tak ada yang istimewa dari Lusi. Sayangnya, semua yang Marcel pikirkan itu, bertolakbelakang dengan kenyataan yang ada.
Hingga kemudian Marcel mengemudikan mobilnya di halaman sebuah restauran, mereka juga masih bungkam, seolah mereka dua orang asing tak sengaja terjebak dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Usai mereka memesan makanan, Marcel segera duduk, saling diam dan Marcel cuek saja dengan Lusi. Wanita itu kelaparan, dan merasakan sakit seperti saat siang tadi. Harusnya Marcel perhatian, namun sayangnya, yang ada Lusi justru diabaikan begini.
"Makanlah, Lusi," perintah Marcel pada Lusi, yang kini melihat saja pada makanan yang tersaji diatas meja. Menggiurkan memang, namun entah mengapa mual itu kembali datang, dan Lusi menguap hendak muntah.
Baru saja Marcel menyuap satu sendok makanan ke mulutnya, Lusi berlalu begitu saja meninggalkannya, dan menuju ke toilet terdekat. Dengan sangat terpaksa, Marcel menyusul Lusi, yang memuntahkan isi perutnya pada wastafel.
"Lus, kau mual lagi? perlukah kita bungkus saja makanannya dan dibawa pulang?" tanya Marcel sembari memijit tengkuk istrinya itu.
Hingga muntah Lusi sudah reda, wanita itu baru bisa menjawab sambil berkata, "Tidak usah, Marcel. Makan disini saja. Perutku sudah kosong dan aku tak mungkin muntah lagi. Ayo," ajak Lusi kemudian.
Marcel tak ingin terlalu khawatir, dan lebih memilih untuk kembali ke meja mereka. Lelaki itu kasihan pada Lusi sebenarnya. Hanya saja, ia tak mau Lusi besar kepala nanti.
"Baiklah," jawab Marcel sambil berjalan keluar dengan menenteng tas Lusi.
"Lusi? Astaga, kau pucat sekali. Kau belum makan?" tanya Renata yang menatap Marcel dan Lusi bergantian.
"Aku baik-baik saja, Ren," jawab Lusi. Sedang Marcel, lelaki itu memilih diam tanpa berniat menyapa Renata sama sekali. Antara malu bercampur kecewa, seperti itulah perasaan Marcel saat ini saat bertemu dengan Renata.
"Maaf, Lusi. Suamiku ingin pergi ke suatu tempat. Aku pergi dulu," pamit Renata, saat menyadari tatapan Marcel tak nyaman. Terlihat sekali, lebam di wajah Marcel meski nampak sedikit berkurang.
"Pergilah, Renata. Hati-hati di jalan," ungkap Lusi. Wanita itu lantas mendapati Marcel makan dengan cepat.
"Marcel, kau kenapa?" Lusi bertanya dengan suara lembut. "Pelan-pelan saja makannya, apa kau terburu untuk menyelesaikan sesuatu?" tanya Lusi pada suaminya itu.
__ADS_1
"Ya. Tubuhku lelah dan aku ingin istirahat," jawab Marcel kemudian. Mau tak mau, Lusi juga mempercepat makannya.
**
Malam ini, harusnya menjadi malam pertama pengantin Marcel dan Lusi. Sepasang suami istri itu tampak diam semenjak kepulangan mereka dari restoran tadi. Tentunya hal ini membuat Lusi tak nyaman.
Keduanya telah merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, dengan Marcel yang terlentang dan menutup matanya dengan lengan kirinya.
Sepatah katapun, Marcel tak mengajak bicara Lusi sejak pertemuan dengan Renata tadi. Hati siapa yang bisa nyaman?
Ada sebuah kilat tak berdaya yang Lusi tampakkan. Ia tak bisa memaksa suaminya untuk bicara. Namun membiarkan suasana hening begini, juga bukanlah sesuatu yang baik.
"Marcel? Kau sudah tidur?" tanya Lusi kemudian.
"Ada apa?" tanya Marcel tanpa menyingkirkan lengannya dari atas wajahnya.
"Kulihat kau lebih pendiam sejak bertemu dengan Renata. tadi. Apakah, apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Lusi yang dalam posisi duduk di samping kepala Marcel.
"Aku sedang tak mood melakukan apapun, Renata. Sudahlah. Tidur saja, besok kita akan pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Oh ya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. Dua Minggu lagi, aku mulai kuliah sambil bekerja. Jadi maaf jika aku hanya punya waktu di malam hari denganmu. Tak apa, bukan?" tanya Marcel, menatap Lusi dan ikut duduk sejajar dengan istrinya itu.
"Tak masalah. Oh ya, apa diammu sejak tadi, karena ada hubungannya dengan Renata?" tanya Lusi lagi.
"Ya. Aku masih mencintainya," jawab Marcel tanpa basa-basi, tanpa memikirkan perasaan Lusi yang merasa tertampar dengan kalimat Marcel itu.
__ADS_1
**