Sekadar Cinta Figuran

Sekadar Cinta Figuran
Bab 11


__ADS_3

"Dalam artian kau menjual dirimu? Kau bodoh, Lusi. Kau bodoh!" Renata memaki Lusi di sela-sela tangisnya.


Lusi bungkam. Nyatanya, apa yang Renata Katakan adalah sebuah kebenaran. Lidah wanita itu terasa kelu dan tak mampu untuk berucap. Bila sedikit saja Lusi meminta, bolehkah bila seandainya ia berteriak bahwa ini bukan situasi yang Lusi inginkan?


Lusi terdiam, menatap Renata dan tangisnya reda seketika. Tak hanya itu, bibir Lusi gemetar. Kalimat sahabatnya, seolah menjadi bom yang jatuh diatas kepalanya seketika.


"Bangkit, Lusi. Aku akan menggantikan semua uang Marcel yang telah kau terima. Aku bahkan bisa menunda pernikahanku agar aku bisa menutup hutangmu pada Marcel." Teriak Renata lupa diri.


Suara derasnya hujan, sanggup meredam suara teriakan Renata. Lusi masih setia mematung di tempatnya, menatap Renata dengan tatapan nanar.


"Bangun, Lusi. Bangkit dan ayo kita hampiri Marcel agar bertanggung jawab padamu. Setidaknya, dia memberikan status janda padamu setelah ia memakaimu." Renata mengguncang kasar kedua lengan Lusi. Tatapan matanya tajam menatap Lusi dengan air mata yang mengalir deras. Inilah akhirnya, Lusi tak berdaya dibuatnya.


"Tidak, Ren. Tidak ada cinta antara aku dan dia." Lusi menjawab lirih.


"Cinta? Lalu bagaimana jika seandainya suamimu kelak mempertanyakan kegadisanmu? Apa yang akan kau katakan pada suamimu kelak, Lusi? Katakan padaku!" Renata kembali menyentak Lusi dalam kebodohannya.


"Aku, aku dan dia sudah sepakat untuk tidak menikah." Lusi menjawab pelan.


"Meski kau sudah berbuat sejauh itu, Lus? Bodoh kau, Lusi. Kau bodoh." Renata mengumpat kasar pada sahabatnya itu. Matanya berkilat merah penuh amarah.


"Demi aku, kau rela hidup dalam kebodohan? Ya tuhan, harusnya kau mengatakannya padaku dari awal, bila kau ingin menyelamatkan aku. Aku bisa mencarikan solusi untuk keselamatan kita sebagai wanita bermartabat. Ya tuhan, ada apa dengan dirimu, Lusi? Kau ini kenapa?" Renata bertanya.


"Aku, aku hanya berharap semuanya selesai, Renata." Lusi menjawab kemudian.

__ADS_1


"Lantas, bagaimana jika nanti kau hamil?" Tanya Renata, yang berhasil membungkam Lusi.


"Doakan saja tidak hamil, Renata. Jika aku hamil, aku harus bagaimana juga aku tidak tahu." Jawab Lusi.


"Maka kau harus menikah dengannya. Dengarkan aku, Lusi. Aku tak akan tinggal diam. Jika kau tidak bersedia untuk meminta tanggung jawab Marcel, aku yang akan melakukannya." Renata bangkit dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi kayu yang sudah usang, di dekat jendela.


Ia benci dengan kelemahan Lusi, yang bodoh dan tidak mau mengambil tindakan cepat. Jika dibiarkan begini saja, maka Lusi hanya akan menjadi bulan-bulanan lelaki.


Dunia terkadang memilki sisi kejam yang sulit diterka. Disaat seseorang memiliki suatu tujuan baik, terkadang ada saja keburukan yang datang dari segala arah untuk menjatuhkan. Antara polos, baik dan bodoh, Renata bahkan tidak tahu Lusi ada diantara yang mana.


"Kumohon, Renata." Lusi bangkit dan menghampiri Renata. "Jangan macam-macam. Biarkan begini saja. aku dan Marcel cukup menjadi sahabat." Lusi menambahkan.


"Sahabat? Sahabat katamu? Apa kau tak sadar dengan ucapanmu itu? Kau bisa saja dihindari setelah kau kehilangan sari madunya, Lusi. Dia akan mencampakkan dirimu, lantas akan mencari mangsa yang baru." Renata menatap tajam Lusi. "Dia itu lelaki brengsek!"


"Terserah kau saja, Lusi. Aku sudah lelah meyakinkanmu." Ucap Renata.


Terbersit sebuah rencana yang ada dalam kepala Renata. Ia tak akan pernah tinggal diam, untuk membuat Marcel menikahi Lusi secepatnya.


**


Malam telah larut. Suasana apartemen Marcel juga sudah mulai sepi. Beberapa lampu-lampu unit tetangga Marcel juga tampak sudah mati, pertanda waktu telah tiba pada jam istirahat.


Marcel duduk berdua dengan salah satu teman baiknya sewaktu di asrama dulu, Joseph namanya, lelaki berusia dua puluh dua tahun berdarah Indo-Australia. Lelaki blesteran itu hidup hanya berdua dengan ayahnya, tanpa ibu karena telah meninggal, juga tanpa saudara.

__ADS_1


Hanya pada Joseph, Marcel menceritakan kegundahannya, bahkan kejadian panas semalam ketika bersama Lusi, sang sahabat yang menjadi partner **** Marcel. Entah bagaimana caranya, Marcel merasa nyaman saat menceritakannya pada Joseph.


"Lalu, bagaimana? Kau sudah resmi kehilangan segel perjakamu, Marcel?" Joseph tertawa lepas, meledek Marcel dengan suaranya yang dalam. "Lalu, darimana kau tahu bahwa sahabatmu yang bernama Lusi itu masih gadis?"


"Aku yang merobek selaput darah milik gadis itu, oh bukan, dia bahkan sudah bukan gadis lagi Sekarang." Jawab Marcel sambil menatap tajam pada Joseph. "Aku memang baru pertama kali menyentuh wanita semalam, tetapi aku juga bukanlah lelaki bodoh yang tidak pernah tahu mana yang masih gadis, juga mana yang bukan gadis. Aku sering melihatnya melalui situs yang berkaitan. Dan itu kau yang selalu meracuni otakku untuk melihatnya." Tambah Marcel.


Dan tawa menggema semakin menjadi, terdengar keras di dalam unit apartemen Marcel. Joseph bukan tidak tahu, bahkan ia dan Marcel sering menghabiskan waktu berdua untuk melihat film "itu" sejak keduanya masih dalam satu asrama.


Disitulah kedekatan mereka mulai terjalin. Marcel dengan senangnya berteman dengan Joseph, yang selalu bisa menjadi apa saja seperti yang Marcel ingin. Baik kakak, saudara, orang tua, kakak, dan juga sebagai teman sebaya. Joseph sangat piawai membawa diri.


Tak hanya itu. Joseph merupakan partner belajar yang baik untuk Marcel. Rambutnya yang pirang, dengan bolamata berwarna silver dan berkulit putih, membuat Joseph sangat tampan. Tingginya pun nyaris sama, dengan Marcel, hanya selisih dua sentimeter lebih tinggi Joseph dibanding Marcel.


"Kau tidak takut sahabatmu yang bernama Lusi itu hamil?" Tanya Joseph serius.


"Itulah yang aku takutkan, Jo, Aku takut dia hamil. Usiaku masih terlalu muda jika untuk menikah. Tadinya aku berpikir Renata lah yang akan menjadi pendamping hidupku, hingga aku berani mengambil risiko menikah muda. Nyatanya, Lusi yang justru menyerahkan diri. Aku lelaki normal, mana mungkin aku akan menolak." Jawab Marcel dengan jujur.


"Lagipula, papaku akan memasukkan aku ke sebuah universitas untuk mendapatkan gelar S2. Aku tak mungkin menikah, apalagi dengan Lusi."


"Aku hanya khawatir kau nanti terkena getahnya, Marcel. Kau juga memiliki dua adik. Yasmin memang sudah menikah, tetapi ada Hesti, anak papamu juga yang bisa saja harus menerima karmanya." Tandas Joseph.


"Ya, mau bagaimana lagi, Jo? Aku pun tak mungkin menikahi Lusi. Kau tahu sendiri aku tak mencintainya, aku juga masih muda. Semoga saja, Lusi tidak sampai hamil." Tandas Marcel.


"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik, Marcel. Aku hanya tidak menyangka, kau bisa sebrengsek itu rupanya. Ya, tetapi juga itu semua ada pada keputusanmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Timpal Joseph kemudian

__ADS_1


**


__ADS_2